Invasi Global Dara Puspita

12071867_10204748802140260_1217515385_nTulisan ini dimuat di Majalah ROLLING STONE INDONESIA Edisi Oktober 2015

Terhitung 16 Oktober 2015,  Tropen Museum Amsterdam, Belanda menyelenggarakan pameran bertajuk  Global Sixties. Gelaran yang berlangsung hingga 13 Maret 2016 ini bertujuan untuk mendekatkan pengunjung pada kehidupan budaya 1960-an, sebuah periode dimana terjadi perubahan budaya dan politik nan revousioner. Yang membanggakan dari event tersebut adalah adanya booth dikhususkan untuk menampilkan segala hal mengenai Dara Puspita mulai dari kostum, foto, alat musik hingga audio live performance mereka. Liza Swaving, asisten kurator Museum Tropen mengatakan bahwa keberadaan Darpus diketahuinya manakala melakukan riset terhadap band rock tahun 60-an dari seluruh dunia. “Their swinging music, dynamic performance and striking appearance are very captivating, dan saya rasa kisah perjalanan Darpus sangat berkesesuaian dengan konsep pameran kami”, paparnya.

Tropen Museum Amsterdam
Tropen Museum Amsterdam

Liza menjelaskan bahwa Global Sixties adalah upaya museum untuk mengangkat kembali fenomena budaya kaum muda global 60-an dimana musik dan fashion kala itu kerap menjadi sarana ekspresi budaya tandingan. Dara Puspita adalah salah satu representasi kultur 1960-an dan kenyataan bahwa band ini berasal dari kawasan Asia Tenggara yang kemudian menjelajah Eropa adalah keunikan tersendiri. “Tahun 1960-an adalah dasawarsa dimana The Beatles amat memengaruhi budaya pop dunia dan Darpus tak terkecuali adalah salah satu kelompok musik yang amat terpengaruh oleh The Beatles. Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia adalah suatu tempat yang interconnected. Hal inilah yang hendak disampaikan oleh museum”, tambahnya.

Liza tak salah. Berbagai lagu yang dibawakan oleh Darpus maupun penampilan mereka di atas panggung mencerminkan budaya kaum muda pada masanya yang tak bisa dilepaskan dari fenomena Beatlemania. Berbagai lagu Darpus diolah dengan nada yang berkemiripan dengan lagu-lagu The Beatles. Lagu Rudy dalam album kedua mereka misalnya, mengambil intro yang mirip dengan She’s a Woman. Aroma the Beatles juga kuat tercium dalam lagu A Go Go yang mengambil semangat lagu I Saw Her Standing There dan sukar untuk tidak mengatakan bahwa lagu Ibu tidak mengambil nada-nada She Said She Said. Beatles tidak saja memengaruhi Darpus dari sisi musikalitas. Kostum jas dan celana ketat yang menjadi citra awal band terbesar dunia ini pun menjadi imej Darpus antara 1965 hingga 1968. Rambut mereka pun sengaja dipotong poni, berkemiripan dengan Beatles. Setidaknya dua dokumentasi foto menunjukkan mereka berkostum sablonan wajah John Lennon, Ringo Starr, Paul McCartney, dan George Harrison. Kelak kemudian manakala mendapatkan kontrak di Britania Raya, Darpus berkesempatan tampil di Liverpool, kota asal The Beatles yang menjadi pujaan mereka.

Gitar dan Kostum Dara Puspita
Gitar dan Kostum Dara Puspita

Museum Tropen mengetahui bahwa dua mantan personil Dara Puspita yakni Lies dan Titiek bermukim di Belanda, dan hal ini tentu memudahkan untuk mendapatkan materi yang diperlukan guna kepentingan pameran. Pihak museum mendatangi kediaman Lies AR di kota Alphen aan de Rijn dan mendapatkan segepok arsip foto yang kemudian segera didigitalisasi untuk kepentingan pameran. Kostum Darpus milik Lies AR yang telah robek pula menarik perhatian museum karena dinilai memiliki nilai sejarah yang tersendiri.  Bersama kostum tersebut  dipamerkan pula gitar Fender Stratocaster yang telah digunakan Titiek AR sejak 1965 hingga bubarnya Darpus di 1972. Gitar itu pulalah yang dipakai pendiri Darpus itu manakala membentuk Dara Puspita Min Plus dan ketika bergabung dengan band Daughter of Zeus bersama gadis-gadis Australia setelah Min Plus bubar. Tidak mudah bagi Tropen untuk meyakinkan Titiek AR agar mau mengijinkan gitarnya dipajang di museum. Titiek merasa berat berpisah dengan gitarnya yang telah limapuluh tahun mendampinginya. “Tadinya kakak saya tidak mau gitarnya dipamerkan, tapi setelah orang-orang dari museum datang ke rumahnya di Groningen dan meyakinkan pentingnya pameran itu, hatinya luluh” jelas Lies AR.

Belanda, negeri dimana Tropen Museum terletak sudah tentu tak asing dengan Dara Puspita. Band yang di Eropa dikenal sebagai Tikki, Takki, Suzie, and Leez ini pernah bermarkas sekian lama di Kota Zwolle, dan tampil dalam berbagai show di berbagai panggung di nyaris seluruh kota di seantero Belanda. Namun jika dahulu Darpus pernah begitu terpengaruh oleh band 60-an seperti the Beatles maupun the Rolling Stones (simak misalnya intro lagu Mari Mari yang berkemiripan dengan Satisfaction), sepak terjang Darpus kini menjadi pengaruh dan inspirasi bagi banyak band di berbagai belahan dunia. Carl Hamm, seorang DJ dan filmmaker dari Richmond, Amerika mengatakan bahwa pengaruh Darpus kian terasa dalam skena musik garage rock di Amerika Serikat. Kendati sepanjang karirnya tidak pernah merambah Amerika, Carl menuturkan bahwa penggemar Dara Puspita kini semakin growing di negara itu. Ia megatakan bahwa kebanyakan fans Darpus mengetahui band ini dari rilisan Sublime Frequencies serta Facebook Page Dara Puspita. “Fashion yang dikenakan oleh Darpus dan musik yang mereka mainkan selalu mengesankan bagi audiens di Amerika. Orang senang dengan band yang keseluruhannya terdiri dari perempuan yang semuanya berbakat dan sukses”. Lebih lanjut Carl menuturkan bahwa belum lama ini ia menjumpai band dari Philadelphia bernama Louie Louie yang mengaku amat terinspirasi oleh Darpus. “Saya menyaksikan show mereka di Richmond, dan membawakan beberapa nomor tahun 1960-an yang segera mengingatkan saya akan Darpus. Setelah show usai saya bertanya pada mereka, apakah mereka mengerti Darpus, dan Louie Louie menjawab “They are the inspiration for this group!”

Carl mengaku memiliki piringan hitam Jang Pertama. “Kondisinya vinyl-nya sudah sangat tergores walaupun masih bisa dimainkan. Kalau tak salah, saya membayar 100 dollar untuk mendapatkannya. Vinyl itu tidak saya mainkan lagi, saya frame dan pasang di dinding kamar saya.” Carl yang mengasuh program If Music Could Talk sangat senang ketika Lies AR bersedia menyumbang Station ID untuk radionya yang bisa diakses secara online di wrir.org. “Ini hal yang amat istimewa buat radio saya,” tutur peminat world music terutama dari kawasan Asia ini sumringah.

Penullis bersama Lies AR (kiri) dan Titiek AR (kanan)
Penullis bersama Lies AR (kiri) dan Titiek AR (kanan)

Penggila Darpus lainnya di Amerika adalah Lenny Smith. Pria yang tinggal di Portland, Maine ini bahkan mempunyai semua rilisan studio Darpus termasuk single-single langka mereka yang dirilis di Inggris, Belanda, dan Spanyol. Menurut Lenny yang sehari-hari memberi bimbingan terhadap para pecandu alcohol dan narkoba ini, ketertarikannya akan Darpus berawal dari ia mendengarkan Bertamasja. Lagu berirama rock n roll yang dibawakan oleh sang drummer Susy Nander tersebut menurutnya amat menggairahkan. “Fuzz yang liar dan energi rock n roll yang mengagumkan dari lagu itu benar-benar blew me away,” tuturnya bersemangat. Bagaimana ia sampai mengenal Darpus? Lenny menjawab, “Kawan saya Mark Owen yang meyakinkan saya untuk membeli rilisan Sublime Frequencies. Mark sendiri mengetahui keberadaan rilisan itu dari majalah Ugly Things dan Shindig, dua majalah yang berorientasi pada segala hal yang berbau garage rock.” Pada awalnya Lenny menganggap Darpus sebagai another unknown band yang tak begitu popular. “Akan tetapi semakin saya mengerti rilisan-rilisan mereka, semakin saya sadar, mereka adalah Beatles bagi Indonesia, sebagaimana Beatles berdampak pada kehidupan manusia di Eropa maupun Amerika.” Lenny menambahkan bahwa ada band perempuan Amerika bernama Tiger Bomb yang tengah mengcover Believe Me dengan harapan bisa masuk kompilasi tribute Dara Puspita.

Mengetahui band yang pernah dipimpinnya menjadi sumber inspirasi bagi banyak band dan bahkan generasi yang terlahir jauh setelah bubarnya Darpus tak urung membuat Titiek AR sang mantan pimpinan band heran sekaligus terharu. Ia mengaku baru menyaksikan rekaman live Empat Lima, sebuah kelompok musik yang mengambil nama band dari lagu Surabaya, tatkala membawakan A Go Go di Jaya Pub, Jakarta melalui kanal Youtube. Crowd yang begitu riuh manakala Empat Lima membawakan lagu yang ia gubah pada 1967 menarik perhatiannya. “Kok mereka tahu dan mau membawakan karya kita ya?” tuturnya senang. [Manunggal K. Wardaya]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s