Musim Gugur 2015: Sebuah Catatan

Minggu pertama bulan November. Beberapa hari ini, sekira dua tiga minggu berjalan telah terasa benar perubahan musim Negeri ini. Pepohonan mulai kehilangan daunnya, berguguran satu persatu. Berbagai tempat yang tadinya teduh, rindang dan sedikit gelap, menjadi terang dikarenakan dedaunan tak menghalangi cahaya matahari. Ketika untuk kesekian kalinya aku kembali ke negeri ini tepat di awal Oktober lalu, pepohonan masih berdaun hijau utuh. Rindang dan lebat. Kini, sebulan lewat nyaris seminggu, aneka pohon yang kujumpai di jalanan, telah nyaris habis daunnya. Dan manakala melintasi jalanan, pohon yang tertiup angin akan menaburi mereka yang melintas di bawahnya dengan daun-daunnya.

Dan daun-daun itu berwarna cokelat. Dengan gerimis hujan, ia akan semakin melembek dan membusuk memenuhi jalan. Oktober, November memang musim di mana hujan kerap turun. Ada kubaca orang di media sosial menasihatkan agar kita berhati-hati dengan dedaunan itu, karena bisa menjadikan jatuh terpeleset dikarenakan roda sepeda tergelincir manakala melintasinya.

12185228_10153313805858823_7282380110058046713_oMusim gugur yang dalam bahasa Belanda disebut Herfst, adalah musim yang tak terasa menyenangkan bagiku. Tanah air seakan semakin jauh. Hal ini karena 25 Oktober, jarum jam harus dimundurkan satu jam ke belakang. Sebelumnya, Belanda dan Indonesia hanya berjarak lima jam saja, dan kini di musim gugur enam jam terbentang. Satu jam yang amat berarti, karena apa yang dilakukan di sini menjadi semakin tak sama dengan di Indonesia, tempat orang-orang terkasih. Ketika bangun pagi, mereka di Indonesia tengah makan siang, ketika di Belanda tengah makan siang, di Indonesia tengah makan malam. Dan ketika makan malam, di Indonesia telah lelap dalam tidurnya.

Musim gugur, dan nantinya musim salju adalah musim dimana matahari semakin sebentar menyinari, dan itupun kalau sinarnya ada terlihat. Pagi begitu lambat datang, dan petang semakin lekas menghampiri. Pukul sembilan malam seperti manakala tulisan ini aku buat hari telah sempurna menggelap, bahkan sejak sebelum jam enam petang tadi. Dan esok hari, matahari baru bersinar. Yahoo Weather menyatakan, matahari ini hari muncul pukul 7:35 dan terbenam beberapa menit setelah jam lima.

Dingin musim gugur memang masih tertahankan. Ada kalanya matahari masih cukup bersahabat dengan suhu di kisaran limabelas derajat. Akan tetapi bisa jadi pula seperti dua minggu lalu, ketika suhu nyaris menyentuh nol. Dan dengan demikian, musim gugur membuat warga Belanda kembali harus berpakaian tebal. Kaum perempuan terutama yang dewasa, akan bersepatu boot demi membentengi dari dingin di kaki. Selesai sudah masa warga negeri ini bercelana pendek dan berkaus kutang mengenakan kacamata hitam dan tidur-tidur bermandi matahari sepanjang pagi hingga petang. Dan kalau sudah begitu, semakin dingin, semakin menuju penghujung tahun orang akan semakin pandai menggerutu dan menyumpahi karena cuaca.

Nijmegen 4 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s