Surat Untuk Mbah Kung

Beste, Mbah Kung Soekandar Wignjosoebroto

Mbah Kung, apa kabar? Alles goed?

Sudah lama betul tak  berkirim kabar. Semoga Mbah Kung baik-baik.

1979568_10152992844823823_3283356648241616017_nMbah Kung, sekarang ini aku berada di Nijmegen, Belanda. Belanda,  negeri kecil yang seumur-umur tak pernah Mbah Kung  dan Mbah Putri kunjungi. Walau begitu, aku pula mengerti Mbah Kung dan Mbah Putri bisa menulis dan berbicara bahasa negeri yang kecil ini dengan baik. Mbah Kung dan Mbah Putri lahir dan besar ketika negeri kita masih menjadi koloni Kerajaan Belanda. Mbah Kung lahir di 1902 dan Mbah Putri pada 1913. Mbah Kung adalah pegawai Nederlands Indie Spoorweg Maatschappij yang  sudah barang tentu komunikasi resmi diantara para medewerker-nya dilakukan dalam Belanda. Ada aku baca nama Mbah Kung di De Indische Courant 26 Juni 1935, berita tentang pemindahtugasan Mbah Kung dari Madiun ke Surabaya. Dituliskan di sana, Overgeplats van het Inspectiekantoor te Madiun naar het gecentraliseerd kantor van de chef Exploitatie van de Oosterlijnen en de inspectiebeheerders VI te Surabaja.  Kepala kantor Mbah Kung adalah H.F.A.G Hommes dan komisaris J.F Snitker. Dengan mereka tentulah Kung yang kala itu masih klerk, harus bercakap dalam Belanda.  Demikian juga mbah Putri Siti Nardijah. Walau  ia tak bekerja, ia adalah anak seorang Tumenggung, abdi pada kraton Surakarta. Mengingat hubungan keraton dan pemerintah kolonial yang mesra,  penggunaan bahasa Belanda dengan sendirinya adalah niscaya. Dengan kedudukannya itu wajarlah jika Mbah Putri dulunya dapat bersekolah di Koningin Emma School  (K.E.S) sebuah sekolah yang menurut bacaanku disebut sebagai  een school voor Javaanse meisjes uit de hogere stan, sekolah bagi para gadis Jawa yang berkedudukan tinggi.   Dan nantinya sebagai isteri Mbah Kung, seorang ambtenaar, ia pasti dituntut mampu berbahasa Belanda dengan baik. Pernah Ibu bercerita bahwa ketika ia masih kanak, Mbah Kung dan Mbah Putri akan berbicara dalam Belanda  kalau ada pembicaraan yang  tak ingin dimengerti oleh anak-anak. 

Soal kemampuan berbahasa Belanda Mbah Putri, Aku masih ingat, di tahun 90-an dulu ia mengajariku lagu Als een orchideie bloeien, lagu yang sebelumnya aku kenal sebagai lagu Bunga Anggrek. Walau sudah lama tak bercakap Belanda, pengucapan Mbah Putri masih begitu baik. Pun ketika ia menyanyikan Wilhelmus, ingatan dan pengucapannya begitu sempurna. Fasih,  walau kuhitung-hitung saat itu, mungkin sudah sekitar setengah abad  sebelumnya bahasa itu tak lagi ia pergunakan, setidaknya  sejak 1942 ketika Jepang masuk ke Indonesia. Yang  kudapat dari pembacaanku adalah ketika kekuasaan Jepang menyingkirkan kekuasaan kerajaan Belanda di Nusantara, segala yang berbau Belanda terutama penggunaan bahasa-nya digusur. Mengenai hal ini Ibu pernah bercerita tentang perjalanan berkereta api bersama Mbah Kung dan Mbah Putri di masa pendudukan Jepang. Kala itu di gerbong yang sama ada terdapat beberapa tentara Jepang. Dan karena Jepang tak suka dengan apapun yang berbau Belanda, sejak saat itulah Ibu harus memanggil Mbah Kung dengan panggilan ‘Bapak’, setelah sebelumnya menggunakan panggilan ‘Papi’. Mestinya itu terjadi sebelum tengah Agustus 1945, ketika Jepang belum lagi menyerah pada Sekutu.

Mbah Kung, surat-surat yang dikirimkan Mbah Kung padaku dari Surabaya tahun 1980-an dulu masih kusimpan. Dan dalam surat-surat Mbah Kung yang kebanyakan berperangko gambar foto Presiden Soeharto berkupiah itu banyak istilah-istilah dalam Bahasa Belanda yang Mbah Kung gunakan. Waktu Mbah Kung bercerita  soal pamanku Sritomo yang pergi ke Perancis, Mbah Kung menuliskan negeri itu sebagai Frankrijk. Belakangan ketika di sini aku tahu bahwa Frankrijk adalah kata dalam Belanda untuk Perancis. Juga ketika aku berulang tahun dan Mbah Kung kirim ucapan selamat, Mbah Kung tanyakan apakah aku mendapat cadeu. Aku bingung dengan istilah itu, namun aku liwati saja. Lebih duapuluh tahun  kemudian di 2009 aku lihat sebuah toko  kado di seberang kampusku di Den Haag bertulisan yang sama, cadeu. Barulah aku menyadari, kalau cadeu adalah kado. Kata Fita temanku, di Perancis juga dituliskan cadeu. Belanda pernah diduduki Perancis. Kalaupun itu adalah pengaruh Perancis, maka hal itu bukanlah hal yang membuat heran.

Mbah Kung, tahun 1970-an dan 1980-an keluarga yang kaya, kaum berpunya di aneka film Indonesia digambarkan melalui percakapan dalam bahasa Belanda.  Usia mereka yang berperan sebagai orang tua  ataupun kakek nenek dalam film jika dihitung-hitung dari periode 70-80an memanglah adalah mereka yang telah hidup di masa kolonial. Seandainya tokoh-tokoh dalam film tahun itu berusia 50 atau 60 tahun, maka mereka dilahirkan pada 1920 atau 1930-an dimana memang Belanda masih memerintah di negeri kita.  Penggambaran seperti itu wajar karena  hanya mereka yang dari kalangan mampu dan atas saja mengecap bahasa Belanda dengan baik. Bahasa Belanda, bukan bahasa untuk rakyat banyak. Imperialisme Belanda adalah untuk menghisap, sehingga tak berkepentingan untuk mengajarkan pengetahuan termasuk pengetahuan berbahasa pada rakyat. Kalaupun rakyat kala itu sedikit banyak memakai peristilahan Belanda, mereka hanya mengerti  hal yang remah-remah dan remeh, aneka istilah yang dipakai sehari-hari seperti onderdeel, rem, ataupun versnelling.  Namun sekali-kali tak pernah beruntung mempeladjari dan menggunakannya untuk kepentingan-kepentingan resmi kalau memang bukan dari kalangan yang berkedudukan dan bekerja pada administrasi kolonial. Hidup di jaman Belanda memang tak selalu mengenal bahasa Belanda.

Sekarang tahun 2015 Mbah Kung, mereka yang  seusia Mbah Kung rasa-rasanya sudah  tak ada lagi. Mungkin ada, dan hanya satu dua manusia berusia hingga lebih dari seratus sepuluh tahun. Pak Dhe Tandyo anak Mbah Kung ke-dua lahir di awal 1930-an, dan ia meninggal 2013, dua tahun lalu di usia delapanpuluhan. Lebih setahun lalu. Pak Dhe Tandyo masih bisa berbahasa Belanda dengan baik karena studinya di awal 1950-an masih menggunakan aneka literatur dalam Bahasa Belanda. Ibu juga bercerita, tahun-tahun itu kuliah kedokteran di Universitas Airlangga masih dalam bahasa Belanda. Kini generasi mereka yang diharapkan masih jadi penutur Bahasa Belanda sudah tak lagi ada. Sahabatku baru-baru ini kembali dari Indonesia dan katanya ia tak lagi menjumpai orang yang bisa berbahasa Belanda. Waktu berganti, generasi baru datang. Mereka yang tahun-tahun ini sudah menjadi kakek nenek-pun sudah bukan generasi yang berbahasa Belanda, karena dilahirkan pada 1950-an atau 1960-an ketika pemerintahan sudah beralih pada pemerintahan republik, lahir di alam merdeka.

Mbah Kung, aku lahir di masa Orde Baru di tengah tahun 70-an, lebih dari 70 tahun setelah Mbah Kung dilahirkan. Aku lahir  di masa negeri kita telah  diperintah bangsa sendiri. Orde Baru Soeharto belum lagi genap sepuluh tahun memerintah, setelah Soeharto dilantik sebagai pejabat sementara Presiden pada 1967.  Bahasa resmi negara kita adalah bahasa Indonesia, dus bahasa itulah yang aku pakai dalam keseharian.  Akan tetapi, bahasa Belanda aku pelajari juga di tahun 1993 , di tahun pertama belajar di Fakultas Hukum. Pelajaran Bahasa Belanda diberikan oleh kampus, aku dengar dan konon demikian adanya, dilandasi oleh pemikiran bahwa hukum perundangan Indonesia dan juga teori-teori hukum yang ada begitu kuat terpengaruh hukum dan literatur Belanda. Perundangan kita  memang sedikit banyak merupakan adopsi saja dari hukum pada masa Hindia Belanda, pada saat kita masih dalam kekuasaan Kerajaan Belanda.  KUHP kita tadinya  adalah Wetboek van Strafrecht voor Nederlands Indie. Kitab itu sedikit banyak sebenarnyalah modifikasi hukum pidana yang berlaku di Belanda masa itu, dengan tentu saja modifikasi untuk negeri jajahan; Hindia Belanda.  Literatur hukum juga banyak bersumberkan pendapat dan kitab-kitab yang ditulis para sarjana para guru besar Belanda seperti dari  Universitas Leiden dan Utrecht. Begitu banyak literatur hukum maupun perundangan menggunakan peristilahan Belanda seperti poging, deelneming, overmacht, misbruik van recht, ataupun prinsip-prinsip hukum seperti geen straf zonder schuld, dan aneka macam istilah lainnya menjadi pembenar diajarkannya Bahasa Belanda di kampus kami.

Akan tetapi, bahasa Belanda yang aku dan kawan-kawan sekelas pelajari kala itu adalah bahasa Belanda percakapan dan untuk kepentingan praktis sehari-hari, seperti Ik heb honger, Jij bent dom dan juga  Waar ga jij naartoe, dan lain-lain itu. Bahasa yang kami pelajari itu nyatanya sama sekali tak berhubungan dengan bahasa Belanda untuk pemahaman ilmu hukum. Sudah tentu, pengetahuan bahasa seperti itu menjadi tak banyak  gunanya untuk ilmu yang aku pelajari. Bahasa Belanda yang aku pelajari sepotong-sepotong itu  justeru terpakai olehku ketika pertama kali tinggal di negeri ini pada 2009 dahulu.  Lepas dari itu, aku berpendapat dan tak merasa penting lagi untuk mahasiswa hukum Indonesia mempelajari itu, karena seharusnya kita semakin menuju hukum nasional, yang beridentitas nasional atau setidaknya berkesesuaian dengan apa yang diterima dalam dunia hukum internasional.  Aneka literatur yang mengandung peristilahan Belanda sudah saatnya diperbaharui oleh sarjana-sarjana baru dengan mencari aneka padanan atas peristilahan Belanda itu dengan terma-terma yang nasional atau global.

Demikianlah Mbah Kung, latar belakang penguasaan bahasa Belanda kita berbeda. Juga latar belakang sosial politik dimana aku hidup kini dan ketika Mbah Kung menjalani hidup sampai seusiaku ini adalah amat berbeda.  Mbah Kung memang lahir dan besar di masa kolonial dalam suasana perikehidupan bangsa yang begitu kuat akan budaya dan tradisi Belanda. Mbah Kung sama dengan warga Oost-Indie lainnya; harus takluk tunduk pada titah  ratu di Negeri Belanda. Mbah Kung juga  mesti menghormat pada sang tri warna; merah putih biru. Mbah Kung hidup dan mengalami peradaban negeri koloni dimana aneka teknologi yang membantu memudahkan perikehidupan manusia kala itu juga didatangkan dari Belanda, dari Eropa. Sepeda, kereta api, tram dan mesin-mesin pabrik dan juga alat-alat rumah tangga. Para pejabat negeri sudah tentu pula didatangkan dari Belanda. Bahasa, sudah barang tentu bahasa Belanda. Dan dari dokumenter mengenai Hindia Belanda yang aku saksikan di Youtube atau koleksi online Topen Museum Amsterdam, suasana kota-kota besar di Jawa kala itu hampir sama dengan yang kulihat di sini, aneka toko dan reklame menggunakan bahasa Belanda.

Semua kini sudah hampir punah Mbah Kung,  terganti dengan aneka bahasa dan peristilahan Inggris yang menggantikannya.  Kebudayaan kita perlahan semakin menengok ke Amerika. Generasi remaja 60 hingga 70-an masih mengenal band-band Belanda seperti Ekseption, Shocking Blue, Golden Earring, The Cats. Anak-anak era 70-an masih dibelikan orang tuanya lagu-lagu anak-anak yang dibawakan Heintje, dan bahkan Heintje ini pernah show di Jakarta. Pattie Bersaudara, duet vokal itu masih menyanyikan lagu berlirik bahasa Belanda seperti Ik Vraag Het Aan De Sterren ataupun Bloemen voor Moeder. Waktu aku dan saudara-saudaraku kecil, kami masih memutar lagu De Four Tak, group musik Belanda yang dibeli Bapak.  Kini rasanya tak ada band Belanda yang dikenal di tanah air. Ada, Within Temptation, itu juga hanya beberapa orang saja yang mengerti.

Demikian pula sekalipun orang tinggal di Belanda kini, belum tentu ia bisa berbahasa Belanda dengan baik. Banyak mahasiswa dari Indonesia belajar di sini. Pak Bambang Hari Wibisono, Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda dalam suatu kesempatan mengatakan padaku bahwa jumlah mahasiswa Indonesia di Belanda ada ribuan jumlahnya. Kalaulah tak salah, jumlah terbanyak ada di Groningen. Akan tetapi dari jumlah yang banyak itu belum tentu mereka mengenal dan bisa berbahasa Belanda dengan baik atau paling sederhana sekalipun. Berbagai universitas di Belanda yang telah membuka kelas internasional menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar, dan oleh karenanya mahasiswa Indonesia lebih banyak berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Perkuliahan yang membuka kelas Internasional biasanya dihantarkan dengan bahasa Inggris. Menulis scriptie dan juga tesis dikerjakan dalam bahasa Inggris. Ditambah lagi umumnya orang Belanda, terutama generasi mudanya, mampu berbicara dalam bahasa Inggris sebagaimana  orang Indonesia kini berpindah dari bahasa daerah ke Bahasa Indonesia. Jadi kalau tak belajar bahasa Belanda sendiri, orang akan hidup di sini bertahun-tahun tanpa bisa berbahasa Belanda biar paling sederhana sekalipun. Kini semua orang hidup terhubung internet. Orang membaca koran negerinya masing-masing. Menonton televisi negerinya masing-masing. Praktis, hanya tubuh kita saja yang di Belanda, akan tetapi benak dan kesadaran kita ada di Indonesia.

Tak saja Bahasa Belanda yang sudah mulai tak dikenal di Indonesia Mbah Kung, banyak peninggalan pada masa kolonial lainnya yang bisa jadi dulunya amat vital dan lekat dalam kehidupan sehari-hari di masa Mbah Kung  kini sudah tak lagi dipergunakan. Rumah-rumah tua, gedung tua banyak yang lapuk dan hancur. Sebagian diganti atau dirombak oleh pemiliknya, sebagian lagi karena tak kuasa melawan alam, atau keduanya. Pemerintah tak bisa berbuat banyak. Untuk melestarikan sejarah, tak ada anggaran untuk pemeliharaan . Hanya sebagian kecil bangunan masih beruntung dipertahankan dan dirawat, karena menjadi objek wisata. Salah satu yang beruntung terawat adalah Gedung Lawang Sewu Semarang, yang kini menjadi objek wisata lengkap dengan kisah-kisah mistiknya. Gedung itu dulunya adalah kantor pusat NIS. Mestinya Mbah Kung pernah berdinas dan mengunjungi gedung itu sebagai kantor pusat NIS dahulunya? Aku belum pernah menengok kantor Mbah Kung di Surabaya, kantor Djawatan Kereta Api dulunya. Tapi dari penelusuranku kini kantor itu sudah dihancurkan dan diganti pertokoan? Bahkan bangunan asli Stasiun Semut Surabaya pun sudah tinggal puing-puing. Padahal bangunan pada masa Belanda biasanya sangat kokoh dan baik. Aku amati rupa Setasiun Semut dalam dokumentasi foto sama rupanya dengan rupa Stasiun Zwolle yang sempat kusinggahi setidaknya dua kali di Negeri Belanda ini. Seringkali bangunan tua itu dihancurkan bukan karena ia sudah tak baik lagi, akan tetapi hasrat untuk mengejar proyek. Dengan dalih sudah tua atau karena memenuhi kebutuhan, maka perlu diremajakan, diperbaharui. Hanya karena ada orang yang ingin mengambill untung dari proyek yang dikerjakan dan bukan karena kebutuhan.

Di dekat rumah isteriku di pinggiran Temanggung masih berdiri Halte Kereta  Api Secang dengan dinding yang kokoh. Bangkunya yang dari kayu jati masih tertancap  kuat di tembok setasiun. Juga lantainya yang teraso berwarna kuning itu masih terpasang dengan kuat. Aku lihat bangunan itu dipakai sebagai markas Legiun Veteran. Akan tetapi apakah sampai sekarang masih dipakai? Berapa usia veteran yang masih bertahan setelah 70 tahunan Perang Kemerdekaan? Entahlah. Tapi beberapa rumah yang dulunya dipakai sebagai perumahan karyawan kereta api  juga masih berdiri. Semuanya kini jadi aset PT Kereta Api Indonesia (KAI). Kalau kuamati genteng dan bangunan utamanya masih asli. Hanya saja, para penghuni yang menempatinya telah merubah bentuk bangunan sedemikian rupa. Ada yang menambahkan teras, dan ada yang menyambungnya dengan bangunan yang sama sekali baru. Juga aneka warung yang dibangun permanen di pelatarannya membuat keindahan perumahan itu tak lagi ternampak sempurna.

Mbah  Kung, sudah tentu Belanda di masa Mbah Kung dan di masa kini sudah banyak perbedaan. Pada masa Mbah Kung dahulu, taun-tahun 1930an, di Belanda bertahta Ratu Wilhelmina. Bahkan sebelum Mbah Kung lahir, Wilhelmina sudah menjadi ratu Belanda, untuk kemudian digantikan anaknya, Juliana. Ibu dari Wilhelmina adalah Emma.Emma inilah yang kemudian jadi nama sekolah Mbah Putri dulu di Banjarsari, Solo. Aku pernah berbincang perihal  nama-nama ratu Belanda ini dengan seorang kawan Belanda, dan ia heran aku bisa mengerti nama-nama tadi. Aku katakan dengan bangga padanya bahwa nenekku bersekolah di K.E.S. Tahun berapakah itu, aku tak mengerti. Mungkin sekitar  tahun 20-an awal dan atau tengah, ketika Mbah Putri dalam usia-usia sekolah dasar. Sekarang ini Kerajaan Belanda tidak diperintah oleh Ratu, namun oleh Raja. Namanya Raja Willem-Alexander dengan isterinya Ratu Maxima. Raja Alexander menggantikan Ibunya Ratu Beatrix anak Juliana tertua yang meletakkan tahtanya. Waktu penobatan April 2013, Belanda begitu ramai menyambut sukacita raja baru. Dari banyak bincangku dengan orang Belanda, tak semua warga menyukai atau setuju dengan adanya monarki. Pajak orang dipakai untuk membiayai keluarga kerajaan dan sebagian orang menilai itu sebagai hal yang tak bisa diterima. Tapi aku baca juga Mbah Kung, bahwa raja atau ratu yang merupakan pemimpin monarki diperlukan sebagai simbol pemersatu.

Tapi Mbah Kung, biar bagaimanapun, hari Koninginnedag atau hari ratu dan kini Koningdag atau Hari Raja tetap mampu menyalakan sukacita rakyat Belanda. Mbah Kung dahulu pernah merayakan juga hari perayaan ulang tahun sang kepala negara? Aku lihat dokumentasi foto Koninginedag itu dirayakan juga di alun-alun Temanggung di masa penjajahan maupun banyak kota dan daerah di Hindia Belanda. Bendera triwarna berkibar di mana-mana. Di sini demikian pula halnya.  Itulah hari ketika orang berbondong keluar rumah dan mengenakan pakaian warna oranye, dan beratribut serba oranye atau bendera tri warna; merah putih biru. Hari Ratu, dan karena kini diperintah Raja oleh karenanya Hari Raja adalah saat ketika bersuka cita. orang berkumpul di kafe dan minum bir bersama. Paling menarik dan menyenangkan bagiku dan kawan-kawanku di sini adalah di hari ini warga Belanda menjual aneka barang miliknya yang telah tak terpakai. Di Nijmegen ini, Hari Raja dirayakan masyarakat dengan berjualan barang barang murah yang dipusatkan di Goffert Park. Tahun ini aku mendapatkan sepatu, sepatu roda untuk anakku Nanda, beanie Ajax Amsterdam. Di tahun lalu banyak pula barang kudapatkan dari boneka, piringan hitam, hingga CD.

Mbah Kung, hal lain yang selalu mengingatkanku pada Mbah Kung adalah mengenai kereta api di Belanda. Mbah Kung dahulu pernah jadi karyawan NIS,  Nederlands Indie Spoorweg, perusahaan kereta api Hindia Belanda, bukan? Juga ayah Mbah Kung, kakek buyutku Wongsoredjo yang tak pernah aku jumpai adalah Kepala Halte Klari, di Jawa Barat. Seperti apakah rupa kereta api dan perkeretaapian pada waktu Mbah Kung bertugas di tahun duapuluhan sampai limapuluhan dulu? tentunya teknologi kereta api masih belum berkembang seperti sekarang dan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada dimiliki manusia masa kini banyak yang belum diterapkan  dalam perkeretaapian masa lalu. Kereta api masih berbahan bakar kayu dan atau batu bara.

Kalau Mbah Kung  sekarang  berkunjung ke Belanda aku yakin Mbah Kung pasti senang dengan perkeretaapian di sini yang begitu modern. Jadwal kereta api selalu bisa kita lihat melalui perangkat yang terhubung internet. Ah internet, mungkin Mbah Kung bingung karena tak pernah mengalaminya. Tapi pada intinya,  jika kita hendak bepergian ke suatu tempat, kita tinggal memasukkan data nama stasiun keberangkatan dan stasiun tujuan yang kita kehendaki, dan situs Nederlandse Spoorweg (NS) akan memberikan informasi keberangkatan kereta api kita lengkap dengan keterangan tentang di spoor nomor berapa  kita harus menaiki atau menuruni kereta serta tarif yang harus dibayarkan. Di situs internet itu juga kita bisa dapatkan informasi apakah perjalanan kita akan terhambat karena ada gangguan ataukah tidak. Tapi kalaupun ada, maka biasanya pihak NS akan menyediakan angkutan pengganti, misalnya dengan bis NS. Pernah aku dan kawan-kawan pergi ke Kinderdijk, situs dimana terdapat kincir angin yang dilindungi UNESCO. Sebelum berangkat, kami sudah mengetahui bahwa akan ada perbaikan di jalur antara Nijmegen dan Utrecht, jalur normal yang harus kami tempuh untuk sampai ke sana. Akan tetapi karena ada perbaikan, maka kami mendapatkan informasi jalur alternatif lain dengan berkereta api ke arah s’Hertogenbosch  untuk kemudian berhenti di Stasiun Dordrecht dan melanjutkan perjalanan. Jalur itupun juga ada perbaikan yang yang tak memungkinkan kereta api untuk melewatinya. Akan tetapi NS sudah sigap dengan menyediakan armada bus yang membawa kami dari s’Hertogenbosch  ke sebuah stasiun lain, darimana kemudian kami bisa melanjutkan perjalanan berkereta api lagi ke Dordrecht.

Selain Nederlandse Spoorweg juga ada beberapa perusahaan seperti Veolia, Syntus, maupun Breng. Didasarkan pada kecepatannya, ada intercity atau sneltrein dan stoptrein. Intercity biasanya melalui kota-kota tertentu saja, terbatas, dan oleh karenanya berjalan cepat. Sedangkan stoptrein adalah kereta api yang biasanya melalui jalur-jalur atau kota-kota kecil. Tiket kereta api sangat mahal Mbah Kung, walau dengan tiket mahal itu kita mendapatkan pelayanan yang baik. Sekedar gambaran untuk sampai ke Amsterdam, aku harus membayar sekitar 20 euro lebih sekali jalannya.  Tiket sebesar itu bagi orang Belanda sekalipun terasa mahal, dan mereka juga berfikir beberapa kali kalau hendak bepergian.Kalau sehari pulang pergi maka tak kurang 40 euro harus dikeluarkan untuk perjalanan yang hanya total 3 jam itu. Ada kawan yang pindah studi dari Jerman ke Belanda, dan ia sangat kaget karena di Jerman, pelajar bisa bepergian berkereta api asal dalam satu provinsi secara gratis.

Tapi sebagaimana aku tadi katakan, bepergian dengan kereta api di sini sangat nyaman. Setiap rangkaian gerbong kereta biasanya terdapat gerbong dengan area tempat duduk stilte yang diperuntukkan bagi mereka yang ingin ketenangan entah untuk tidur maupun membaca, dan ada yang diperuntukkan bagi mereka yang bisa bercakap-cakap biasa. Jika kita duduk di area yang diperuntukkan untuk stilte, maka kita juga tak boleh membikin kegaduhan atau bercakap, orang akan terganggu. Juga gerbong dibedakan antara kelas satu dan dua. Kelas satu sudah tentu mereka yang membayar lebih mahal dari mereka yang kelas dua. Kita juga bisa membawa sepeda lipat tanpa harus membayar tiket untuk sepeda kita. Kalau kita membawa sepeda yang besar, kita harus membelikan tiket untuk sepeda itu sebesar 6 Euro.

Mbah Kung, mahalnya tiket kereta api ini bukannya tak disadari oleh NS, maka mereka memberikan aneka tawaran korting alias potongan harga dan aneka tawaran fasilitas. Aku termasuk jarang berkereta api, akan tetapi aku mengikuti program korting 40 prosen. Dengan kartu ini, aku bisa bepergian dengan biaya yang lebih murah. Untuk itu, aku mesti membayar 50 Euro dalam setahun. Jadi kita memang harus menghitung-hitung apakahg penghematan kita dengan kartu itu lebih besar daripada 50 Euro. Oiya, potongan ini tak berlaku kalau aku bepergian dari jam enam hingga sembilan pagi. Saat itu kita mesti membayar penuh. Karena mahalnya tiket ini maka orang harus benar-benar merencanakan perjalanan dengan baik. Aku dan teman-teman sangat jarang bepergian dengan kereta api kecuali kalau memang tidak bisa tidak harus dilakukan. NS juga memberikan tawaran tiket kereta api yang bisa dipakai seharian, orang mengatakannya dengan istilkah dagkaart, tiket seharian. Ada dua dagkaart yang bisa dipakai di hari-hari kerja maupun hanya di hari-hari akhir pekan saja; Sabtu atau minggu. Dagkaart yang hari kerja  biasanya lebih mahal, tapi tidak berselisih sebanyak dengan Dagkaart weekend. Jika perjalanan yang ditempuh cukup jauh, maka akan sangat menghemat biaya. Pernah aku pergi ke Leeuwarden di propinsi Belanda utara untuk mengambil sepeda tua yang aku beli dari seorang penjual di sana. Hampir tiga jam perjalanan antara kedua kota ini dan tarif penuh sekitar 48 Euro sendiri pergi pulangnya. Dengan Dagkart weekend yang seharga 14  Euro, aku sudah menghemat 34 Euro. Untuk mengakali kartu itu agar lebih hemat, aku patungan dengan kawanku Rofiq. masing-masing kami memakai kartu itu setengah hari. Aku pakai dahulu dan Rofiq menungguku di jam yang sudah kami tentukan, dan ia bepergian dengan tiket itu. Jadi tiket seharga 14 Euro itu kami pikul berdua, masing-masing cukup membayar 7 Euro. Ini cara kami mensiasati tiket kereta api yang mahal. Tentu kami harus banyak berkomunikasi dengan teman, mencari yang sekiranya memerlukan tiket dagkaart dan tak hendak berlama-lama bepergian. Semakin banyak yang bisa memakai, maka semakin banyak harga tiket bisa dibagi.

Di Belanda, kereta api memang sangat utama Mbah Kung, tidak seperti di Jawa dan lain-lain daerah di Indonesia yang pada umumnya orang menggantungkan pada bis. Selain cepat karena bebas hambatan itu, kereta api juga tepat waktu. Lebih menyenangkan lagi, kereta api ke segala arah tujuan di Belanda tersedia dalam jarak waktu yang relatif berdekatan. Dari Nijmegen misalnya, terutama di hari kerja, ada kereta api ke Amsterdam dalam setiap 15 menitnya. Juga kereta api jurusan Zwolle yang berhenti di kota-kota seperti Dieren, Deventer, Zuthpen.  Ini tidak seperti di Perancis , di sana, jurusan ke kota tertentu mungkin hanya satu atau dua kali dalam sehari. Mungkin karena Perancis terlalu luas, dan angkutan kereta api di sana lebih kepada memang penumpang yang benar-benar melakukan perjalanan jauh. Belanda ini negeri kecil, dan seiring dengan modern nya kereta api yang begitu cepat dan berpenggerak listerik, jarak dan waktu tempuh yang jauh dan lama itu bisa dipersingkat. Praktis di Belanda, orang hampir-hamnpir tak perlu menginap ketika  melakukan perjalanan pergi pulang ke seluruh negeri. Bepergian ke  Leeuwarden yang aku ceriterakan di atas itu kalau aku periksa di Google Map berjarak tak kurang dari 195 kilometer bermobil dari Nijmegen dimana aku tinggal. Dengan berkereta api aku berangkat sekitar pukul setengah delapan pagi, dan sekitar jam 1 siang aku sudah kembali berada di Stasiun Nijmegen. Jarak itu hampir sama dengan jarak antara Jakarta dan Garut yang 215 kilometer. Dapatkah ditempuh dalam sekitar 6 jam pergi pulang dengan badan dalam keadaan masih segar? Sepertinya tidak Mbah Kung.

Selain kereta api, beberapa kota di Belanda juga memiliki tram. Di masa kolonial dulu, kita pernah punya tram juga kan di Jakarta dan Surabaya setidaknya. Mbah Kung pasti pernah menaikinya, karena ibu bercerita, ia pernah menggunakan tram di Surabaya. Amsterdam dan Den Haag adalah dua kota dimana tram masih digunakan dan jalan raya penuh dengan lintasan tram. Kota Nijmegen dimana aku tinggal ini ada pernah memiliki tram, tapi kini tidak lagi. Juga Leiden dalam pembacaanku pernah ada jalur tram, tapi barangkali dengan adanya bus kota, tram menjadi kalah saing. Semua tram kini menggunakan tenaga listerik. Terkadang aku berfikir, mengapa Jakarta tidak menggunakan tram dan memakai bus kota yang dinamai busway itu.

Cukup sekian dulu Mbah Kung suratku ini. Tak tahu harus berkisah apa lagi dan lagipun aku sudah lelah. Pada awalnya aku hanya teringat pada Mbah Kung ketika aku sedang dalam perjalanan berkereta api, dan membayangkan pastilah Mbah Kung akan senang melihat perkembangan kereta api yang begitu pesat seperti sekarang. Lepas dari itu, aku memang  ingin berkirim surat kembali kepada Mbah Kung seperti di masa lalu sewaktu kecil, sebelum Mbah Kung selamanya pergi hampir tigapuluh tahun lalu. Harap dan doaku, mudah-mudahan Mbah Kung selalu tenang adanya selalu di sana.

Nijmegen, 8 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s