Perihal Memaafkan

Pukul 10 pagi lewat hari ini, dan deru sepedamotor matic terdengar datang dan tak lama kemudian pergi menjauh meninggalkan rumah.  Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki kecil bersepatu yang berlari memasuki rumah terdengar, memasuki pintu samping rumah rumah.  Ia berseragam hijau, lengan panjang putih dengan celana panjang hijau. Ia adalah anakku yang tiap hari diantar jemput oleh seorang warga desa. Namanya Deva, dan usianya baru berjalan lima tahun dua bulan. Hijau, warna seragam yang dipakainya identik dengan warna keagamaan Islam. Dan memanglah ia bersekolah di taman kanak-kanak Islam di dusun sebelah.

Sambil melepaskan bajunya satu persatu dan mengganti pakaiannya, padanya kubertanya hal yang dipelajarinya di sekolah hari  ini. Sudah tentu pertanyaan yang kesekian kali kusampaikan padanya di saat pulang sekolah seperti ini. Dan pertanyaan itupun tak kutunggu jawab darinya, karena aku segera menanyakan jawabnya: “Menyanyi?” dan Deva mengangguk demi mendengar pertanyaanku itu.Aku sendiri merenung singkat kemudian, bukankah tiada hari di taman kanak tanpa menyanyi? Setidaknya tiga lagu di sekolahnya tiap hari yang kutahu benar; Sayonara, Anak Ayam, Rasa Sayange, kesemuanya dinyanyikan secara bersambungan tatkala hendak pulang sekolah. Selain menyanyi, jawaban lain yang sering kudapati adalah mewarnai, atau menggambar dan melatih menulis huruf maupun angka. Kusadari aku memang tak ingin benar-benar bertanya, dan hanya ingin menjaga kedekatan dengannya mengingat sangat kurangnya waktu bersamanya setiap harinya.

Setelah menjawab pertanyaanku itu, Deva tanpa diminta menceriterakan mengenai temannya bernama Huda. Nama ini tak asing baguku. Seingatku, nama inilah yang disebut-sebut, dan oleh karenanya kurasa Huda adalah teman yang ia sayangi. Nada suara dan wajahnya nampak sedikit murung dengan mengatakan padaku bahwa Huda melakukan hal yang tak menyenangkan padanya. “Huda nakal”, ia berkata. Kutanya kemudian mengapa ia mengatakan seperti itu dan apa yang telah diperbuat Huda padanya. Dalam bahasa Jawa ia berceritera bahwa Huda meminta bekal darinya namun karena sesuatu hal, makanan itu tidak dimakannya melainkan dibuang. Aku ingat tadi pagi isteriku menyiapkan beberapa wafer ke dalam kotak bekalnya, dan dengan demikian terbayang potongan wafer berwarna kuning itu tercampakkan. Menyakitkan tentu bagi hati seorang kanak seperti Deva. “Kamu sedih?”, demikian aku bertanya, dan Deva menjawab dengan anggukan.

Tanpa aku mendapatkan jawaban darinyapun aku bisa merasa, bahwa hal itu pastilah hal yang menyedihkan baginya. Dari wajahnya yang murung, ia nampak lebih sebagai tengah sedih daripada marah. Namun ada pernah kubaca artikel yang ditulis sahabatku sendiri seorang psikolog yang menyoal perihal belajar memaafkan, bahwa bahwa persoalan seperti ini sebaiknya membawa kita orang tua untuk mengajak  anak untuk mencoba mengerti penyebab perilaku buruk sang kawan. Pemahaman ini akan menimbulkan rasa iba (compassion) dan membuat anak akan mudah untuk memaafkan. Kukatakan pada Deva oleh karenanya, mungkin Huda sedang memiliki masalah sehingga marah. Aku meminta Deva untuk tidak marah dan jengkel pada Huda, karena kemungkinan-kemungkinan itu, dan agar ia memaafkan Huda. “Jangan marah pada Huda ya?!” pintaku pada bungsuku ini.Dan Deva mengangguk dengan wajahnya yang lugu. Untuk mengiyakan dan menidakkan sesuatu hal yang disampaikan padanya ia memang masih sering menggunakan bahasa tubuh dengan menggeleng, mengangguk dan lain-lain ungkapan tubuh dan wajah kanaknya nan lugu, dan membuatku seringkali merasa gemas karenanya.

Memahami mengapa orang lain yang berbuat atau tidak berbuat yang di luar kita harapkan memang tak mudah. Biasanya orang bereaksi dengan kemarahan dan ketidakpuasan baik fisik maupun verbal. Tulisan sahabatku yang beberapa hari ini kubaca sebenarnya berkesesuaian dengan yang aku terapkan dalam kehidupanku. Memahami mengapa begini dan begitu-nya perbuatan mereka terutama yang kurang menyenangkan atau bahkan menyakitkan akan membuat kita bisa lebih mengerti dan bahkan membawa kita kepada rasa iba daripada marah pada orang tersebut. Oleh karnanya, rasa marah dan murka tak akan bersemayam di hati dan benak kita, rasa yang sama sekali tak berguna untuk kita pertahankan berlama-lama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s