Perihal Kehilangan

Hilang adalah tiada. Dan tiada adalah lawan kata dari ada. Kehilangan oleh karenanya dikaitkan dengan sesuatu  yang sebelumnya  ada, yang sebelumnya dimiliki, yang kemudian tak lagi ada dan dimiliki entah karena berpindah kepemilikan, musnah, pergi, atau alasan lainnya. Kehilangan biasanya akan mendatangkan duka, walau tak  selalunya begitu. Ada kalanya orang kehilangan sesuatu hal akan tetapi tak digayuti kesedihan. Kehilangan beberapa keping uang ratusan rupiah di masa kini tak akan mendatangkan kesedihan berkepanjangan karena nilainya yang remeh. Kehilangan pensil atau pena yang digunakan sehari-hari tak akan membuat orang dirundung duka berkepanjangan. Kehilangan sebotol air mineral dalam perjalanan tak  akan membuat orang merana bersedih hati. Semakin tak berarti suatu hal, semakin mudah ia tergantikan, maka kehilangan tak akan mendatangkan duka. Sebaliknya, semakin berarti seusuatu hal maka rasa duka yang ditimbulkannya akan semakin besar, semakin menyayat.

Sebagaimana umumnya manusia, kehilangan telah berkali kurasa dan alami dalam hidup. Sepanjang dan sejauh ingatan, kehilangan pertama terbesar yang begitu menyedihkan hatiku adalah  kehilangan sebuah peraut berbentuk kuda-kudaan. Ini terjadi  ketika aku masih kanak di awal 1980-an dahulu. Kami sekeluarga sedang dalam perjalanan yang telah aku lupa dari dan hendak kemana. Hari masih terang, bisa jadi pagi atau siang hari. Mobil kami berhenti di sebuah warung kelontong yang menjual aneka kebutuhan harian. Masih kuingat betul bayangan  warung itu; tidak besar hanya selebar sekira tiga meter saja. Barang-barang dagangan diletakkan di etalase kaca. Di samping kanan dan kiri warung adalah kebun. Umurku pada saat itu  baru sekira lima atau enam tahun, dan oleh karenanya terlalu kecil untuk mampu mengingat dimana letak warung itu dan bagaimana penjualnya. Dan peraut pensil kuda-kudaan itu sudah barang tentu bukan tujuan utama kami berhenti di warung itu. Mungkin Bapak hendak membeli rokok  Gudang Garam merah kesukaannya, atau keperluan lain. Dan  aku yang turut turun dari mobil melihat peraut dalam lemari kaca itu dan segera berkeinginan untuk memilikinya, keinginan yang diketahui Bapak.

Dibelikanlah aku oleh Bapak peraut itu, peraut yang begitu menggetarkan hati kanakku. Dari dalam etalase warung, sekejap ia berpindah di hadapanku, di atas kaca etalase. Seingatku sempatlah aku menyentuhnya, menggoyang-goyangkannya mundur dan maju, kuda-kudaan kecil milikku itu yang sudah tentu menerbitkan gembira di hati. Dan sepanjang aku masih dapat mengingat itulah terakhir kalinya kumelihatnya; peraut pinsil baru milikku yang setidaknya mengandung dua warna yang masih dapat kuingat; hijau dan putih.  Di perjalanan barulah aku tersadar bahwa peraut yang dalam perbendaharaan kataku kala itu kukenal sebagai ongotan itu terlupa dibawa. Aku mencarinya dimana-mana di dalam mobil yang telah melaju kencang melanjutkan perjalanan. Pada akhirnya harus kuterima kenyataan; aku lupa membawanya. Entah siapa yang mesti dipersalahkan atas kenyataan ini; aku si kanak yang tak segera mengambilnya begitu dibayar, ataukah Bapak atau Ibuku yang lupa membawanya untukku, atau tukang warung yang seharusnya mengingatkan dan menyerahkan setelah benda kecil itu terbayar.  Yang pasti, dalam mobil yang terus melaju itu aku menangis berurai air mata dalam hancur hati, begitu sedih dan kehilangan. Menyesali sejadinya. Ia, peraut itu, baru saja kumiliki, dan hanya dalam beberapa saat aku tak lagi memilikinya. Mobil kami telah berjalan semakin jauh, dan tak mungkin kembali. Aku lupa apa yang dikatakan oleh Ibu dan Bapak untuk membuatku berhenti dari bersedih. Kurasa mereka menenangkanku seperti aku pula akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada anakku; nanti beli lagi. Peristiwa dan rasa kehilangan  itu begitu membekas, hingga usiaku yang ke empatpuluh satu ketika tulisan ini kubuat.

Setelah kehilangan itu begitu banyak kehilangan lain kualami. Kehilangan dompet warna hitam yang kutaruh dengan bodohnya di atas telpon umum ketika menelpon stasiun radio meminta lagu. Mengapa pula dompet harus aku letakkan di atas kotak biru telepon umum itu? Kehilangan sepeda BMX ku yang dicuri ketika tengah membeli buku di malam hari sekiara jam delapan, yang membuatku berdoa malam itu dan beberapa hari selanjutnya berharap sepeda itu tiba-tiba ada di samping rumah. Doa yang tak pernah terkabul. Kehilangan jam tanganku merek Titus yang kuletakkan begitu saja di taman sekolah tempat Bapakku bekerja. Kecerobohan yang kusesali mengingat jam itu dibeli dari uang limapuluh ribu pemberian kakakku. Dan limapuluh ribu di sekira tahun 1985 sudah barang tentu bukanlah jumlah yang tak kecil. Di negeri Belanda pernah pula aku kehilagan sepeda Gazelle tua, dicuri dalam perjalananku dari Amsterdam menuju Nijmegen. Sepeda yang baru kubeli pagi hari seharga 70 Euro, hilang dan baru kusadari ketika keretaku memasuki Stasiun Utrecht Centraal. Ada kemungkinan sepeda itu dibawa turun oleh sang pencuri ketika di Stasiun Amsterdam Sloterdijk, hanya sekitar 15 menit setelah meninggalkan Amsterdam Schiphol. Bersama kawanku Anglita, aku mencari-cari siapa tahu sepeda itu ada kulihat di Stasiun Utrecht dan kemudian kami kembali ke Sloterdijk. Tak ada lagi sepeda itu ditemukan.  Mungkin tak sesingkat peraut kuda-kudaan yang kukisahkan di atas, akan tetapi sepeda itu hanya kumiliki dalam beberapa jam saja. Apaboleh buat, Belanda memang bukan surga dimana kejahatan tidak terjadi dan aku terlalu ceroboh tidak menguncinya.

Kehilangan tak selalu terkait dengan kebendaan seperti yang kukisahkan dalam kuda-kudaanku di atas.  Ini ternyata dalam kehilangan kebersamaan bersama orang dekat, mereka yang dikasihi dan kita merasa memilikinya. Tak lama setelah kakakku perempuan lulus kuliah, ia diterima bekerja di Jakarta. Dia satu-satunya anak perempuan di keluarga kami. Dengan demikian, ialah yang paling rajin mengepel, mencuci piring dan lain-lain pekerjaan. Dan hari ketika ia pergi, rumah menjadi lebih sunyi dan sepi. Pagi, siang, dan senja tak ada lagi. Piring kotor menjadi sering menumpuk, rumah tak lagi sebersih seperti sewaktu ia ada, dan dengan sendirinya hal yang sebelumnya terlihat sebagai kelumrahan, barulah terasakan bedanya.  Hal sama ketika kakakku laki-laki harus pergi meninggalkan rumah  karena bekerja di Yogyakarta. Perasaan sendiri, di tempat yang ditinggalkan pergi. Hilang, karena tanpa kusadari sebelumnya sebenarnya aku ada yang menemani. Ada yang bersama-sama di rumah dan menjalani hari, walau belum tentu saling bercakap dan berbagi, walau mungkin tak pernah disadari. Kesadaran itu baru timbul, baru ada ketika aku harus sendiri, dan hari-hari tak pernah sama lagi. Rasa sedih menggayuti. Mungkin benar kata sebagian orang, lebih sedih yang ditinggalkan daripada yang meninggalkan.

Kehilangan memberi petunjuk seberapa berarti  sesuatu hal dalam hidup. Ketika seseorang pergi dari hidup kita, bisa jadi kita akan merasa biasa saja atau sebaliknya, sangat berduka.  Ketika nenekku pergi pulang kembali ke Surabaya setelah mengunjungi rumahku di Purwokerto beberapa hari lamanya, aku begitu merasa kehilangan. Helai rambut putih nenek yang tertinggal di bantalku tak kubiarkan hilang, dan kukenangi terus hingga berhari-hari. Kubiarkan di sana, di atas bantalku itu. Sisa-sisa pembakaran sampah yang dibakar Nenek yang sempat membersihkan gudang kami kupandangi lekat-lekat. Setiap remahan kenangan akannya berusaha aku punguti dan kusimpan di hati. Tak ada yang tahu hal itu, aku dan perasaanku yang sedih. Aku adalah seorang anak kecil yang ingin dekat dengan Neneknya, sebagaimana idealita dalam buku-buku ceritera, dan Nenek terlalu jauh tinggal di Surabaya, sekira 12 jam bermobil di tahun 1980an yang tak pernah macet. Dan 1980-an bukanlah masa sekarang ketika orang dengan mudah berhubungan dengan sambungan telpon dan berkirim gambar, ucapan, dan apapun media lainnya.

Kehilangan mereka yang dicintai adalah pula hal yang menyiksa dan menyedihkan, terutama jika perpisahan yang menyebabkan kehilangan itu bukan sesuatu yang dikehendaki, karena keterpaksaan. Dan sebagai darah dan daging biasa, kehilangan seperti ini pula pernah aku alami. Begitu mencinta dan tak bisa merelakan pergi, sampai akhirnya baru bisa menerima dalam waktu yang begitu lama. Sukar melupakan rasa yang pernah ada yang selalu muncul dan membayang. Semua yang ada terasa tak menyenangkan, mengiritasi. Tak ada makanan yang menarik hati, dan tak ada hiburan yang mampu menjadi penawar. Segala fikiran hanya tertuju kepada siapa kita merasa kehilangan. Dan kalau sudah begitu, akan tenggelamlah kita dalam nestapa. Kehilangan yang amat sangat.

Manusia tak bisa lepas dari waktu, maka kehilangan adalah sesuatu yang niscaya. Dalam keadaan normal, anak akan lebih dahulu kehilangan orang tuanya, karena usia. Dan karena yang dicintai ingin dimiliki selamanya, maka kehilangan seperti itu akan terasa menyiksa. Tapi ini pun tak selalu mendatangkan duka. Salah satu kisah ibuku yang kukenang adalah betapa Nenek tetap tegar ketika anaknya yang masih kanak, adik ibuku, meninggal dunia. Nenek tetap biasa dan melayani tamu, menerima ucapan sementara kakekku yang menurut banyak kisah dan amatanku sendiri berperasaan halus, dikatakan sebagai gulung koming, sebuah istilah dalam Jawa untuk menyatakan kesedihan dan nelangsa yang mendalam.

to be continued

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s