Sofyan Hadi (Guitar, Vox DEATH VOMIT): Tentang Proses Pengerjaan Forging A Legacy dan Jungkir Baliknya Seorang Anak Band

Photo: Manunggal K. Wardaya
Photo: Manunggal K. Wardaya

Sekira sepekan sebelum tanggal rilis resminya pada 25 Agustus 2014, saya berkesempatan mendengar beberapa materi album terbaru Death Vomit, Forging A Legacy. Track pertama yang saya uji dengar adalah Decadence of Life yang kebetulan adalah nomor pembuka album ini. Mencekam, pekat, mistikal, merangsek perlahan, dan menghabisi dengan dingin  tanpa harus membabibuta. Ibarat pembunuh berdarah dingin, Devo, demikian band ini biasa disebut, seakan tak hendak terburu-buru mencincang dan menghabisi. Tempo lagu ini mengingatkan saya akan pola-pola oldschool deathmetal. Kuping saya menangkap ketidaklaziman nan sedap di lagu ini; adanya solo gitar yang melodik menyayat tajam di penghujung lagu. Lead maut tersebut  ternyata adalah petikan Dennis Munoz (Solstice/US) yang didaulat Devo sebagai gitaris tamu. Munoz yang juga berkontribusi pada satu nomor lainnya bertajuk Imposing Decade Remains tak pelak menjadi nilai plus rangkuman karya yang sekian lama ditagih-tagih publik metal pada Devo ini.

Flyer rilis Forging A Legacy 25 Agustus 2014
Flyer rilis Forging A Legacy 25 Agustus 2014

Dua nomor lain yang saya klethak (Jawa: menggigit sesuatu yang keras) Evil Rise dan Murder  mengkonfirmasi; rilisan terbaru band yang telah menghasilkan dua full studio album(masing-masing Eternally Deprecated, 1999 dan The Prophecy, 2006) serta satu DVD (Flames of Hate , 2009) ini memang mematikan. Sembilan (9) lagu didalamnya begitu keras beringas, dikemas secara matang dan terkonsep-terencana. Emosi terartikulasi vokal yang menghantar lirik, berkisah nuansa kejam dalam manifestasi musik yang menghajar terabadi dalam performa sound mantap berjatidiri. Simplisiti tiga piranti yang dirudapaksa dengan kekuatan maksi: bass menggendor, dram yang memberondong hiper ‘dugudugtastas’ serta gitar dan vokal yang saling menggerung dan menggeram. Forging A Legacy, rapsodi muntah kematian! Continue reading “Sofyan Hadi (Guitar, Vox DEATH VOMIT): Tentang Proses Pengerjaan Forging A Legacy dan Jungkir Baliknya Seorang Anak Band”

Advertisements

Interview: Benny Soebardja (The Peels, Sharkmove, Giant Step)

Salah satu dari tiga sampul Piringan Hitam Benny Soebardja terbitan Strawberry Rain, Canada
Sampul Piringan Hitam “Gimme A Piece of Gut Rock” milik Benny Soebardja; Satu dari tiga terbitan ulang album lawas Benny oleh label Strawberry Rain, Canada

Membicarakan dunia musik rock pribumi terkhusus genre progressive rock, orang tak bisa melepaskan diri dari membicarakan dua band fenomenal tanah air Sharkmove dan Giant Step. Keduanya dikenal sebagai pengusung ‘musik rock yang bukan sehari-hari’. Kendati hanya menghasilkan satu album, rilisan Sharkmove Ghede Chokra’s  mendapat pengakuan internasional dengan dirilis kembali dalam format CD dan Piringan Hitam (PH) oleh Shadok, sebuah label berbasis di Jerman.  Sementara Giant Step adalah nama besar dalam musik hingar bingar yang disegani di panggung musik rock 70-an di tanah air.  Tanpa mengecilkan arti dan peran musisi  lain yang pula terlibat di kedua band tadi, Benny Soebardja adalah figur yang memiliki peran sentral sebagai gitaris, vokalis, sekaligus konseptor di balik nama besar keduanya. Lelaki kelahiran Tasikmalaya 1949 ini memang fenomenal. Dalam bermusik, Ia dikenal keras, melaju dengan konsep yang tidak mudah dicerna oleh awam, yang tak komersil. Paruh awal 2012, saya sempat menjumpainya di Den Haag, Belanda tengah sibuk di belakang meja kasir Warung Sate Betawi miliknya yang turut berpartisipasi di ajang Tong Tong Fair, sebuah festival budaya indisch tahunan di negeri kincir itu. Pada awal November 2012 silam saya mewawancarai gitaris veteran ini.  Kurang dari 24 jam setelah wawancara ini berakhir, Benny harus menjalani operasi jantung dan dirawat beberapa hari Rumah Sakit. Berikut petikannya:

Karya anda diapresiasi oleh label Canada Strawberry Rain yang merilis album-album anda dalam format CD dan PH dengan kemasan yang sangat eksklusif. Padahal selama ini karya-karya itu telah lama terkubur dan hanya menjadi rawatan kolektor. Apa komentar anda?

Alhamdulillah ini suatu karunia dari Allah yang patut saya syukuri di saat seluruh hasil karya kami di masa lalu yang nyaris dilupakan tiba tiba ada pemerhati yang notabene bukan berkebangsaan Indonesia memberikan apreasi yang bukan main.  Sungguh saya bangga dan merasa ini adalah pencapaian yang maksimal selama saya menjalani perjalanan musik Continue reading “Interview: Benny Soebardja (The Peels, Sharkmove, Giant Step)”

Berkarya Seolah Tiada Hari Esok: Interview Halim Budiono (Cranial Incisored)

Halim Budiono Photo: Dok. Pribadi
Halim Budiono
Photo: Dok. Pribadi

Mungkin saya saja yang miskin wawasan bin kurang piknik dalam referensi, tapi sebelum mendengar debut mereka Rebuild.. belum pernah saya dengar permainan gitar metal yang penuh konslet nan distortif seperti yang dihasilkannya, setidaknya dari band domestik. Halim Budiono, ialah figur yang bertanggungjawab atas gerung-gerung gahar musik Cranial Incisored, sebuah kelompok musik progressive metal yang berbasis di Yogyakarta. Progresif. Terma itu saya gunakan karena metal ekstrim yang dimainkan band ini bukan metal sehari-hari: seakan  melampaui kesiapan benak dan telinga audiens untuk menerima. Lompatan yang tidak saja jauh, tapi amat jauh mendahului zaman. Berkelainan, tidak sama dengan yang sudah ada. Suara gitar yang liar meliuk marah ke sana  kemari dengan kecepatan tinggi, dan tiba tiba berhenti  meledak dan ujug-ujug bersenandung jazzy, clear tanpa distorsi, setelah itu merangsek lagi sebagai serombongan lebah mengamuk, ditingkahi drumming yang pekak memberi tunggangan baik bas maupun vokal yang berteriak parau meledak di saat yang sulit ditebak, bersamaan maupun berpencaran.

Plak!! Cranial Incisored memang menampar, tidak saja dari kebisingan ganjil yang dihasilkannya, tapi juga dari konsep bermusik yang mendesak orang untuk berfikir ulang dalam memaknai musik ekstrim. Beberapa orang bangun dan menggerutu, namun tak kurang pula yang kemudian  mengucek mata dan berkata “Oh iya ya…”.

Berbincang ringan tapi sungguh-sungguh perihal insiden di panggung Testament dalam event Kutai Kartanegara Rock Festival 2014 beberapa waktu silam, saya berhasil membajak gitaris asal Purwokerto ini untuk menceriterakan sedikit mengenai  band-nya yang sejauh ini telah merilis dua album penuh: Rebuild: The Unfinished Interpretation of Irrational Behavior dan Lipan’s Kinetic. Berikut petikannya:

Kapan rilis ulang Rebuild..?

Rebuild (sementara ini) gak dirilis ulang, soalnya masih banyak. Ini sedang diusahakan diimpor, karena sayang barangnya ntar nganggur, sementara disini ndadak (harus) buat lagi sapa yang mau beli? lagian dulu melimpah pada gak mau beli, katanya musik apaan. Ada teman yang jual empat keping CD Rebuild saja lakunya bertahun-tahun. (Orang) maunya everyday music…jadi dikasih musik Cranial dulu pada gitu deh… jadi saya sadar diri dengan musik saya.  udah gak gitu ngarep buyer Indonesia Continue reading “Berkarya Seolah Tiada Hari Esok: Interview Halim Budiono (Cranial Incisored)”

Sejenak Bersama Andri Lemes “Rumahsakit”

Andri Lemes
Andri Lemes
Photo: Muhammad Asranur

Jelang akhir 2012, Britpop band yang berbasis di Jakarta Rumahsakit meluncurkan album penuh mereka yang ke-tiga bertajuk 1+2. Rumahsakit bukanlah band  besar jika terma ‘besar’  dikonotasi sebagai kelompok musik yang aneka lagunya diputar sepanjang waktu di radio maupun pusat keramaian, menjadi lagu tema sinetron dan para personil yang menjadi bintang iklan segala merek plus dihafal namanya oleh masyarakat dengan penjualan album ratusan ribu atau jutaan copy. Rumahsakit bukanlah band ‘berjuta umat’ namun memiliki penggemar, baru maupun lama, yang begitu militan dan setia. Walau album-album lampaunya, setidaknya hingga ketika tulisan ini dibuat, tak lagi dapat diperoleh di toko musik, rekaman fisiknya menjadi entitas yang melegenda dan dicari-cari. Inilah regu musik yang setelah sekian lama mati suri kembali hadir di kancah musik tanah air dan disambut dengan sukacita, bahkan derai air mata. Kalimat barusan mungkin terkesan lebay, namun Jimi Multhazam (The Upstairs, Morfem) dalam blog-nya  dengan sempurna melukiskan betapa launching album 1+2 di Cilandak Town Square pada 12 Desember 2012 benar-benar disesaki kerumunan ‘pasien’ yang menyemut, sebuah penampakan nyata rasa rindu pada band ini.

Melalui komunikasi jarak jauh Jakarta-Nijmegen, Belanda, saya, Manunggal K Wardaya (MKW), sempat melakukan interview dengan Andri Lemes (AL) juru suara Rumahsakit seputar album 1+2 pada awal 2013. Karena kesibukan studi, file wawancara itu terbengkalai dan baru sempat diolah dan disajikan di bulan ke-dua February 2014 ini. Berikut bincang-bincang dengan Andri yang juga ditimpali oleh Mark Ricardo Najoan, six stringer Rumahsakit. Continue reading “Sejenak Bersama Andri Lemes “Rumahsakit””

The Forgotten “Plus” : Totok A.R

Koes Plus Vol. 1 Produksi Dimita Moulding Industries.
Sampul CD Koes Plus Vol. 1 yang sempat beredar di minimarket Indomaret.  Sampul ini adalah replika Piringan Hitam Koes Plus vol. 1 yang dikeluarkan oleh Dimita Moulding Industries pada 1969. Paling bawah berambut agak panjang itulah Adji Kartono alias Totok AR, bassplayer pertama Koes Plus. Ia digantikan oleh Koesroyo alias Yok Koeswoyo

Membicarakan sejarah berdirinya Koes Plus, media dan sejarah musik Indonesia pada umumnya akan menyebut hengkangnya Koesnomo (Nomo) dan masuknya drummer group Patas bernama Kasmuri (dikenal sebagai Murry) sebagai  faktor tunggal berdirinya kelompok musik legendaris tersebut. Fakta tersebut sebenarnya hanya satu fragmen dari sejarah berdirinya band yang boleh dikatakan sebagai yang terbesar di Indonesia. Murry bukanlah satu-satunya Plus dalam tubuh Koes, Selain dia, ada figur lain yang bukan bagian dari dinasti Koeswoyo akan tetapi pula turut menghiasi sampul album Dheg Dheg Plas (1969) rekaman awal sekaligus dokumentasi karya formasi Koes Plus paling awal yang pernah ada. Figur itu adalah  Adji Kartono, pemudah berusia duapuluh tahunan yang ada pada lineup pertama Koes Plus bersama dua bersaudara Koeswoyo yakni  Koestono (Tonny) dan Koesyono (Yon).

Bergabungnya Adji Kartono yang akrab dipanggil dengan nama Totok AR ke dalam Koes Plus terjadi karena lowongnya posisi bassplayer setelah Nomo dan Yok Koeswoyo hengkang dari Koes Bersaudara. Sebuah sumber menyebut terhalangnya keinginan untuk unjuk suara dalam Koes Bersaudara  sebagai sebab yang sebenarnya di balik hengkangnya Nomo, walau keinginan berbisnis adalah  satu-satunya alasan yang selalu disebut dan dikutip serta diketahui oleh publik.  Yok berhenti karena tak mau main band dengan personil di luar Koeswoyo. Totok bukanlah orang baru di kalangan personil Koes Bersaudara karena sejak akhir 60-an ia turut tinggal bersama band itu di markas mereka, Jalan Sungai Pawan No. 1. Sebelumnya, ia bermusik bersama band  Phillon yang berbasis di Bandung, memainkan musik-musik rock asing . “Jaman dulu, kalau main musik nggak lagu Barat nggak akan diterima. Bimbo aja dilemparin”, tuturnya. Continue reading “The Forgotten “Plus” : Totok A.R”