Category Archives: Kisah

Sedikit Kisah Tentang Bangkok

Kawan, Bangkok adalah kota yang teramat besar dan luas. Namun begitu, ia adalah kota yang nyaman untuk dihuni. Sepanjang pengamatanku tak ada jalan yang berlubang diu Bangkok. Meskipun jalan kecil sekalipun, semua dalam keadaan beraspal rapi tanpa lubang yang mengganggu. Suasana di sepanjang jalan juga sekilas nampak sama dengan kota-kota di Indonesia. Hanya saja bisa kukatakan Bangkok lebih rapi dan tertata. Warung milik penduduk misalnya tidak kita lihat. Yang ada hanyalah toko-toko seperti 7 Eleven. Transportasi sungai juga masih amat hidup di Bangkok. Orang dapat menaiki perahu menyusuri sungai Chao Praya dengan tariff flat yang relatif murah; 14 Baht. Dari perahu pemandangan sepanjang tepi sungai terlihat indah. Walau sungai Chao Praya berair kecoklatan namun amat bersih dan tak berbau. Bagi orang asing, menempuh perjalanan lewat sungai tentu menjadi kesenangan hati tersendiri. Penghormatan masyarakat terhadap pemuka agama ditunjukkan dengan adanya tempat khusus bagi biksu. Bagi muslim yang ta’at, eating out di Bangkok bisa menjadi masalah. Hal ini karena pada umumnya warga Bangkok mengkonsumsi Babi. Kalaupun kita memesan non-Babi, bisa jadi alat makan yang digunakan digunakan pula untuk mengolah babi. Juga pemotongan ayam dipertanyakan kehalalannya. Bahkan untuk membeli mie instan sekalipun kita harus hati-hati karena bisa jadi mie yang kita pilih adalah mie dengan rasa babi. Kesukaran untuk menjumpai makanan halal seperti ini tak urung mengingatkanku akan hal yang sama waktu di Australia.  Seorang kawan di Bangkok mengatakan bahwa jika kita menemukan masjid di Bangkok maka biasanya di sekitaran ada toko maupun tempat makan yang menyediakan makanan halal. Continue reading Sedikit Kisah Tentang Bangkok

CD dan Piringan Hitam Bekas di Melbourne

Apakah anda seorang kolektor CD dan piringan hitam (PH) terutama dari grup-grup rock legendaris? Jika ya, maka Australia adalah surga bagi anda untuk berburu CD dan PH tersebut. Hal ini karena hampir di seluruh penjuru Australia mudah dijumpai toko yang menjual CD bekas maupun baru dengan koleksi yang lengkap dan dengan harga murah. Kota Melbourne misalnya dikenal sebagai kota yang memiliki apresiasi seni tinggi. Seolah tiada henti, hampir setiap hari selalu saja ada pagelaran seni diselenggarakan di kota yang terletak di sebelah tenggara benua Australia ini.

Tidaklah sukar untuk mendapatkan CD dengan harga murah di Melbourne. Ada berbagai alternatif yang bisa dipilih. Yang termurah adalah mendatangi Sunday Market. Sunday Market adalah semacam pasar murah yang dikoordinir oleh organisasi bernama Rotary, dimana setiap hari minggu, di suatu tempat tertentu diselenggarakan pasar murah. Tujuannya adalah menyediakan barang barang murah bagi mereka yang membutuhkan kepada mereka yang tentu saja lebih membutuhkan. Continue reading CD dan Piringan Hitam Bekas di Melbourne

Surat Untuk Mbah Kung

Beste, Mbah Kung Soekandar Wignjosoebroto

Mbah Kung, apa kabar? Alles goed?

Sudah lama betul tak  berkirim kabar. Semoga Mbah Kung baik-baik.

1979568_10152992844823823_3283356648241616017_nMbah Kung, sekarang ini aku berada di Nijmegen, Belanda. Belanda,  negeri kecil yang seumur-umur tak pernah Mbah Kung  dan Mbah Putri kunjungi. Walau begitu, aku pula mengerti Mbah Kung dan Mbah Putri bisa menulis dan berbicara bahasa negeri yang kecil ini dengan baik. Mbah Kung dan Mbah Putri lahir dan besar ketika negeri kita masih menjadi koloni Kerajaan Belanda. Mbah Kung lahir di 1902 dan Mbah Putri pada 1913. Mbah Kung adalah pegawai Nederlands Indie Spoorweg Maatschappij yang  sudah barang tentu komunikasi resmi diantara para medewerker-nya dilakukan dalam Belanda. Ada aku baca nama Mbah Kung di De Indische Courant 26 Juni 1935, berita tentang pemindahtugasan Mbah Kung dari Madiun ke Surabaya. Dituliskan di sana, Overgeplats van het Inspectiekantoor te Madiun naar het gecentraliseerd kantor van de chef Exploitatie van de Oosterlijnen en de inspectiebeheerders VI te Surabaja.  Kepala kantor Mbah Kung adalah H.F.A.G Hommes dan komisaris J.F Snitker. Dengan mereka tentulah Kung yang kala itu masih klerk, harus bercakap dalam Belanda.  Demikian juga mbah Putri Siti Nardijah. Walau  ia tak bekerja, ia adalah anak seorang Tumenggung, abdi pada kraton Surakarta. Mengingat hubungan keraton dan pemerintah kolonial yang mesra,  penggunaan bahasa Belanda dengan sendirinya adalah niscaya. Dengan kedudukannya itu wajarlah jika Mbah Putri dulunya dapat bersekolah di Koningin Emma School  (K.E.S) sebuah sekolah yang menurut bacaanku disebut sebagai  een school voor Javaanse meisjes uit de hogere stan, sekolah bagi para gadis Jawa yang berkedudukan tinggi.   Dan nantinya sebagai isteri Mbah Kung, seorang ambtenaar, ia pasti dituntut mampu berbahasa Belanda dengan baik. Pernah Ibu bercerita bahwa ketika ia masih kanak, Mbah Kung dan Mbah Putri akan berbicara dalam Belanda  kalau ada pembicaraan yang  tak ingin dimengerti oleh anak-anak.  Continue reading Surat Untuk Mbah Kung

Perihal Halte Secang dan Kisah Tentang Seorang Tukang Roti Yang Malang

11879235_10153197367093823_2062074233230319364_o
Photo: Manunggal K Wardaya 2012

Ia adalah stasiun kereta api kecil. Resminya, ia bahkan hanyalah sebuah halte dan bukannya stasiun. Disebut halte, sebuah kata serapan dari bahasa Belanda yang artinya pemberhentian,  karena di situlah kereta api berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang dan bukannya tempat pemberangkatan maupun tujuan akhir. Ia berada di wilayah Secang,  yang merupakan bagian dari Kabupaten Magelang. Secang sendiri adalah sebuah kecamatan yang dilintasi jalan raya Semarang-Yogyakarta. Kendaraan dari arah Yogyakarta maupun Jakarta akan melewatinya jika menggunakan jalur pantai utara Jawa melalui Parakan, Temanggung. Continue reading Perihal Halte Secang dan Kisah Tentang Seorang Tukang Roti Yang Malang

Musim Gugur 2015: Sebuah Catatan

Minggu pertama bulan November. Beberapa hari ini, sekira dua tiga minggu berjalan telah terasa benar perubahan musim Negeri ini. Pepohonan mulai kehilangan daunnya, berguguran satu persatu. Berbagai tempat yang tadinya teduh, rindang dan sedikit gelap, menjadi terang dikarenakan dedaunan tak menghalangi cahaya matahari. Ketika untuk kesekian kalinya aku kembali ke negeri ini tepat di awal Oktober lalu, pepohonan masih berdaun hijau utuh. Rindang dan lebat. Kini, sebulan lewat nyaris seminggu, aneka pohon yang kujumpai di jalanan, telah nyaris habis daunnya. Dan manakala melintasi jalanan, pohon yang tertiup angin akan menaburi mereka yang melintas di bawahnya dengan daun-daunnya.

Dan daun-daun itu berwarna cokelat. Dengan gerimis hujan, ia akan semakin melembek dan membusuk memenuhi jalan. Oktober, November memang musim di mana hujan kerap turun. Ada kubaca orang di media sosial menasihatkan agar kita berhati-hati dengan dedaunan itu, karena bisa menjadikan jatuh terpeleset dikarenakan roda sepeda tergelincir manakala melintasinya. Continue reading Musim Gugur 2015: Sebuah Catatan

Perihal Hari Kemerdekaan

images“Selamat Hari Kemerdekaan”, demikian kawanku Teun Eikenaar sambil menjabat tangan dengan sinar mata yang berbinar. Kalimat itu diucapkannya kemarin hari, Senin pagi menjelang siang 17 Agustus 2015, hari di mana Bangsa Indonesia memperingati pernyataan kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke-70. Olehku yang berkewarganegaraan Indonesia, negeri yang pernah menjadi koloni Belanda dan Teun yang warga Belanda, Hari Kemerdekaan kemudian kami kenang dan bincangkan sambil minum kopi di lantai tiga Grotiusgebouw, gedung di mana kami sehari-hari mengerjakan penelitian. Perjumpaan singkat yang terjadi beberapa kali dalam sepekannya setelah sekian jam jenuh dengan tulisan kali itu  terjadi dalam  rintik hujan yang sesekali kami pandangi dari dalam gedung.

Tujuhbelasan, begitu orang biasa merujuk perayaan hari kemerdekaan baik yang resmi seperti upacara di berbagai kantor dan pula lembaga negara, maupun yang tak resmi berupa peringatan-peringatan yang dilakukan oleh masyarakat. Yang terakhir ini biasanya diisi dengan aneka kegiatan seperti tirakatan dan pula aneka perlombaan dengan bendera merah putih dalam segala macam format yang mewarnai. Perayaan seperti itu  tak asing bagi Teun. Ia pernah mengalami sendiri semarak peringatan hari kemerdekaan seperti itu setahun lalu di Yogyakarta. Kala itu ia dan Michelle kekasihnya berada di Indonesia dalam rangka vakansi selama beberapa pekan  di Jawa, Sulawesi dan Maluku. Tak seperti bangsa Indonesia, Teun dan Michelle (yang kemudian kutahu bernenek orang Indonesia bernama Painem) tak pernah merayakan hari kemerdekaan. Dalam Perang Dunia II, Belanda diduduki oleh Jerman, dan negeri kecil ini dibebaskan oleh Pasukan Sekutu. Oleh karenanya, hari sejenis hari kemerdekaan di Belanda adalah Hari Pembebasan, yang diperingati setiap tanggal 5 Mei setiap tahunya dan menjadi hari libur nasional. Dalam bahasa Belanda, Hari Pembebasan ini disebut sebagai Bevrijdingsdag. Ini adalah hari mengenang negeri ini bebas dari cengkeraman Jerman setelah dibebaskan oleh Pasukan Sekutu. Continue reading Perihal Hari Kemerdekaan

Museum Sepedha Velorama, Nijmegen Belanda

Tulisan ini adalah versi unedited artikel yang saya tulis untuk majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat, dan dimuat di Edisi 8, tanggal 21 Februari 2015. 

cover majalah PS paling grezzzzz.....Museum Sepedha Velorama Nijmegen BelandaBelanda ora mung kawentar merga kembang tulip, kincir angin, utawa keju-ne. Negeri sing luas wilayah-e ora nganti separone Pulau Jawa iki uga kondang merga masyarakat-e gemar bersepeda. Sepeda, utawa basa Landa-ne ‘fiets’ (diserap nang Basa Jawa dadi ‘pit’) dinggo kegiatan sehari-hari; mangkat mulih nyambut gawe, sekolah, belanja, nganti nggo ater-ater barang kaya Pizza lan Burger. Tukang Pos nang Belanda uga isih nganggo sepeda, kaya nang Indonesia tahun 1980-an.  Cacahe sepeda nang negara sing tau njajah Indonesia iki dipercaya luwih akeh tinimbang jumlah penduduke dhewe. Ora  gumun, Negara Kerajaan iki nyandang julukan the World’s Bike Capital, utawa Ibukota Sepeda Sedunia.

Merek-merek sepeda nang Belanda macem-macem kaya Gazelle, Fongers, Simplex lan Batavus. Merek-merek kuwi nang Indonesia dadi inceran kolektor. Samsaya tua sepeda samsaya larang regane. Ning Negeri Belanda dhewe merek-merek sing kasebat  mau ana sing isih bertahan, ananging akeh uga sing wis suwe ora produksi, utawane tutup usaha. Merek Gazelle lan Batavus misale, isih diproduksi lan dadi tumpakane uwong nganti saiki. Fongers, Junckers, Simplex wis ora diproduksi.

Dasar negara sepeda, nang Negeri Belanda uga ditemoni museum sing khusus nyimpen aneka kendaraan sing dikenal bebas polusi lan agawe sehat sing nganggo iki. Museum kuwi diwenehi jeneng Velorama. Panggone? nang Nijmegen, kota ora patia gede nang Provinsi Gelderland, Belanda sisih wetan. Saka Amsterdam, kutha sing ora patia dikenal nang Indonesia iki isa ditempuh numpak kereta api cepat kira-kira 1,5 jam perjalanan. Continue reading Museum Sepedha Velorama, Nijmegen Belanda