Category Archives: Review

If

Manunggal K. Wardaya : Six Strings

ADK : Vox

——–

If a man could be two places at one time
I’d be with you
Tomorrow and today
Beside you all the way

If the world should stop revolving
Spinning slowly down to die
I’d spend the end with you

——–

Resep Mie Goreng Seafood MKW

Mie goreng. Bakmi Goreng. Sama sajalah. Keduanya adalah penganan dengan bahan dasar mie yang disajikan tanpa kuah dan dimasak dengan minyak. Campurannya bisa apa saja, sayur atau aneka daging dan bakso. Pembuatannya sangat mudah, akan tetapi justeru itu masalahnya; terlalu banyak diantara kita terlalu malas memasaknya dan lebih memilih membuat mie goreng instan dari aneka macam produsen mie lekas saji. Memang lebih praktis; mie direbus air panas, kemudian setelah beberapa saat meniriskan air dan mencampurkan bumbu-bumbu instant ke dalamnya, dan aduk. Tapi apakah sehat? Saya tak hendak membahasnya di sini, karena sudah terlalu banyak artikel yang membahas. Saya hendak mengajak membuat mie goreng sendiri yang murah dan mudah; mie goreng Seafood.

Sebenarnyalah mie goreng seafood adalah satu  dari sekian banyak varian mie yang bisa dibuat. Sebagaimana nasi goreng, tidak ada resep pakem dalam membuat mie goreng. Resep yang saya tulis ini adalah apa yang biasa saya lakukan untuk membuat mie goreng seafood. Bahan yang diperlukan tentu adalah mie kering. Ada banyak merek untuk membuat mie goreng ini, silakan dibeli di aneka toko. Bahan lainnya adalah bawang putih, juga merica serta kecap dan garam. Untuk sayurannya bisa dipersiapkan brokoli ataupun kubis. Bisa pula caisim. Sedangkan untuk seafood nya bisa berupa kerang atau udang. Jika tak punya kerang maupun udang, bolehlah diganti dengan butiran bakso. Yang terakhir ini bisa dirajang halus ataupun dibiarkan utuh sesuai selera. Sosis juga bisa jadi alternatif pengganti. Continue reading Resep Mie Goreng Seafood MKW

CD dan Piringan Hitam Bekas di Melbourne

Apakah anda seorang kolektor CD dan piringan hitam (PH) terutama dari grup-grup rock legendaris? Jika ya, maka Australia adalah surga bagi anda untuk berburu CD dan PH tersebut. Hal ini karena hampir di seluruh penjuru Australia mudah dijumpai toko yang menjual CD bekas maupun baru dengan koleksi yang lengkap dan dengan harga murah. Kota Melbourne misalnya dikenal sebagai kota yang memiliki apresiasi seni tinggi. Seolah tiada henti, hampir setiap hari selalu saja ada pagelaran seni diselenggarakan di kota yang terletak di sebelah tenggara benua Australia ini.

Tidaklah sukar untuk mendapatkan CD dengan harga murah di Melbourne. Ada berbagai alternatif yang bisa dipilih. Yang termurah adalah mendatangi Sunday Market. Sunday Market adalah semacam pasar murah yang dikoordinir oleh organisasi bernama Rotary, dimana setiap hari minggu, di suatu tempat tertentu diselenggarakan pasar murah. Tujuannya adalah menyediakan barang barang murah bagi mereka yang membutuhkan kepada mereka yang tentu saja lebih membutuhkan. Continue reading CD dan Piringan Hitam Bekas di Melbourne

Relief Dara Puspita

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2015

Surabaya, Pantai Pattaya, Mari-mari,  A Go Go. Itulah beberapa judul lagu yang pada umumnya akan secara spontan disebutkan orang manakala diingatkan akan nama Dara Puspita. Tak salah karena kesemuanya memang lagu-lagu milik  Darpus yang direkam dan pula populer di tahun 1960-an silam. Dalam sejarahnya, empat album penuh dihasilkan oleh band perempuan ini masing-masing Jang Pertama (1965), disusul kemudian Volume II, Green Green Grass (1967) dan A Go Go (1968). Kecuali A Go Go yang diambilkan dari album yang bertajuk sama, kesemua lagu di atas berada dalam debut Jang Pertama. Lagu A Go Go yang berbeat riang itu belakangan hari kembali dikenal di  kalangan anak muda terutama setelah dicover oleh Empat Lima, band asal Melbourne Australia yang sebagaimana Darpus, keseluruhan personilnya juga perempuan. Sementara itu lagu Mari-Mari gubahan Titiek Puspa itu beberapa tahun terakhir sempat kembali muncul ke permukaan manakala dibawakan oleh David Naif. Di luar lagu-lagu itu, orang terutama generasi kini dapat dikatakan tak mengenal lagu-lagu Darpus. Mengapa demikian?

12087436_10204748802220262_25713346_nTak seperti band Indonesia lama seperti Koes Plus, Panbers, maupun Mercys, album-album Darpus yang aslinya kesemuanya dirilis dalam format piringan hitam itu tak mengalami rilis ulang seperti dalam berbagai album kompilasi. Memang pada 1970-an beberapa label seperti Disco Records maupun Akurama Records sempat merilis album campuran lagu-lagu Darpus dalam format kaset. Namun seiring dengan berlalunya waktu rilisan itu hanya menjadi barang yang dimiliki kolektor. Sementara itu rilis ulang beberapa tahun terakhir dilakukan oleh label luar negeri seperti Sublime Frequencies (Amerika) maupun Groovie Records (Portugal) yang selain diedarkan dalam jumlah yang amat terbatas juga lebih menyasar audiens di luar Indonesia. Manakala sampai di Indonesia, dapat ditebak, harga jual album-album itu cukup tinggi.   Tutup bukunya label  yang menaunginya seperti Dimita dan Elshinta membuat rilis ulang album-album Darpus menjadi persoalan tersendiri. Darpus bukan Koes Plus yang lagu-lagunya, setidaknya di era Remaco, masih dirilis dan dapat dinikmati generasi kini walau di tengah penjualan rekaman fisik yang semakin lesu. Tak heran, walau pernah begitu jaya pada masanya di paruh akhir 1960an, lagu-lagu Darpus seakan tenggelam seiring dengan berjalannya waktu. Satu-satunya hal yang membuat Darpus masih dapat terlacak oleh mereka yang meminatinya adalah teknologi internet yang memungkinkan orang berbagi file, termasuk lagu-lagu Darpus melalui kanal Youtube misalnya. Continue reading Relief Dara Puspita

Invasi Global Dara Puspita

12071867_10204748802140260_1217515385_nTulisan ini dimuat di Majalah ROLLING STONE INDONESIA Edisi Oktober 2015

Terhitung 16 Oktober 2015,  Tropen Museum Amsterdam, Belanda menyelenggarakan pameran bertajuk  Global Sixties. Gelaran yang berlangsung hingga 13 Maret 2016 ini bertujuan untuk mendekatkan pengunjung pada kehidupan budaya 1960-an, sebuah periode dimana terjadi perubahan budaya dan politik nan revousioner. Yang membanggakan dari event tersebut adalah adanya booth dikhususkan untuk menampilkan segala hal mengenai Dara Puspita mulai dari kostum, foto, alat musik hingga audio live performance mereka. Liza Swaving, asisten kurator Museum Tropen mengatakan bahwa keberadaan Darpus diketahuinya manakala melakukan riset terhadap band rock tahun 60-an dari seluruh dunia. “Their swinging music, dynamic performance and striking appearance are very captivating, dan saya rasa kisah perjalanan Darpus sangat berkesesuaian dengan konsep pameran kami”, paparnya. Continue reading Invasi Global Dara Puspita

Siksakubur VII: Orkestrasi Metal Kematian Sempurna

siksa-kubur-2014Deathmetal yang dihantamkan tak saja dengan sepenuh rasa namun amplifikasi kemampuan musikal maksimal. Inilah kesan umum yang saya tangkap dan  semakin mengkristal sebagai jatidiri Siksakubur dalam albumnya yang ke tujuh dengan tajuk yang sama, VII. Sebelas kebisingan yang terangkum di dalamnya adalah eksposisi kegaharan sekaligus atraksi distortif nan keren dan berkwalitas baik dari penyuara (bosan dengan terma vokalis) maupun para instrumentalist-nya. Mengikuti satu persatu, teridentifikasi betapa setiap nomor disusun dan diekspresikan begitu teknikal dan bertenaga, meningkahi syair-syair nan puitik. Album ini memberi pesan tak terbantahkan;  ini adalah kumpulan karya yang dibikin secara terencana pula terkonsep secara cerdas, rapi, matang,   dan bukan asal jadi terbikin semata demi kejar setoran produktifitas. Pendeknya, tak ada alasan untuk tak memuji kehadiran album ini.

Pukulan-pukulan Aditya Perkasa pada piranti drum dalam album ini kerap kali tak lazim dan mencengangkan. Drumming pada setiap lagu begitu variatif memberi intonasi setiap bait yang dilantangkan. Keras, begitu sulit ditebak ‘larinya’,  kencang namun rapi mengiringi. Terkadang, bahkan seakan instrumen lain-lah yang mengiringi drums! Simak misalnya dalam garukan gitar yang lambat, pukulan drums melaju kencang seperti terdengar dalam Seringai Tipis Hedonis. Fill in-nya begitu cepat dan rapih, tak pernah kedodoran, tak ada kelabakan. Permainannya di album ini tak pelak mengukuhkan Aditya sebagai perkusionis metal terkemuka di negeri ini. Sementara itu acung jempol pula kepada dua kapak perang Andre Tiranda dan Baken Nainggolan. Solo gitar yang menyiram nuansa pahit dan pekat melesat di dataran ritem yang menggerung liar  pada setiap lagu menegaskan suasana kelam dan suram yang dibangun.

Lirik yang ditulis dalam bahasa Indonesia hampir keseluruhannya (kecuali satu cover song yakni Choose Your Death) bagi saya menjadi salah satu nilai istimewa album ini. Musik adalah musik dan manakala ia mampu menghantarkan pesan dengan sempurna terlebih dalam metal dimana emosi memegang peranan penting, lirik dalam bahasa sendiri menjadi keunggulan. Sementara itu tema-tema yang diangkat selain persoalan universal juga kental nuansa lokal, yang mana bagi saya merupakan sesuatu yang excellent, layak untuk mendapat segala puji binti apresiasi.  Lagu Honay, sebuah lagu bersyair pedih nan miris,  ditulis dan dikomposisi sebagai keprihatinan atas genosida baik maknanya yang ekologis maupun etnis yang  terus terjadi di bumi Papua. Sementara itu Tahan Banting yang merupakan ekspresi sepakterjang Siksakubur dikemas dalam ritme yang thrashy dan fun dengan garukan gitar yang mengingatkan orang pada nomor klasik  Metal Militia dari Metallica. Deathmetal memang menegangkan, dan di Tahan Banting inilah voltase sedikit diturunkan dan orang bisa sedikit ber-headbang dengan riang.

Artwork album ini adalah foto black and white para personilnya sebagaimana klasik telah dimulai oleh The Beatles melalui With The Beatles (1963) atau di tanah air oleh Koes Bersaudara melalui cover album To The So Called The Guilties (1967). Saya sebenarnya agak menyayangkan cover yang hanya bermodalkan foto seperti ini mengingat model seperti ini sudah amat terlalu lazim. Lagipun, penampakan para personil sudah lebih dari cukup ditampilkan pada back cover dan pula dalam booklet . Saya berandai album ini dibungkus oleh lukisan yang mewakili isi di dalamnya, pastilah akan menambah pekatnya dan fenomenalnya bagi album ini.  Namun begitu tetap saja, VII tak pelak adalah orkestrasi metal kematian yang agung yang pernah dihasilkan oleh Indonesia.