Category Archives: Film

Refleksi The Act Of Killing

Acara itu terselenggara pulalah dengan lancar: Nonton bareng film The Act of Killing (TAoK), arahan sutradara Joshua Oppenheimer. Bertempat di Studenkerk Radboud Universiteit, Comeniuslaan, pemutaran film berlangsung pada 1 Juni 2013 sekira pukul 15:00 hingga 17:00. Tak kurang dari 40 orang menghadiri pemutaran film yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Nijmegen ini. Tak hanya mahasiswa Indonesia, beberapa mahasiswa asing yang tengah studi di Radboud Universiteit juga hadir dan menonton tertarik dan mengikuti film yang ketika tulisan ini kubuat memenangi aneka festival film di berbagai belahan dunia.

TAoK, bukanlah film yang dapat dinikmati dalam arti membawa kepada kesenangan, membawa penonton ke dalam alam khayali yang membahagiakan atau menggembirakan. Ini adalah suatu film yang menampilkan bagaimana warga sebuah bangsa yang didirikan untuk kemanusiaan menjadi pelaku kebengisan, sebuah lembaran kelam yang selalu ditutupi oleh negara dari pengetahuan warganya. Joshua dalam pengantar yang ia kirimkan melalui surat elektronik padaku dan kubacakan pada mereka yang hadir sebelum film diputar mengatakan bahwa ia tidak hendak mengucapkan “enjoy the movie” karena disadari bahwa film ini bukanlah film yang enjoyable. Apa yang coba disuguhkan sebenarnyalah fragmen kengerian dari sebuah nasion bernama Indonesia yang terjadi di Sumatera Utara paska Gerakan Tigapuluh September (G 30 S). Continue reading Refleksi The Act Of Killing

18++ Forever Love (2012)

Kara (Adipati Dolken) dan Mila (Kimberly Ryder). Perempuan di belakang keduanya adalah Scarlet.
Kara (Adipati Dolken) dan Mila (Kimberly Ryder). Perempuan di belakang keduanya adalah Scarlet.

Ingin tahu bagaimana seseorang dari latar belakang ekonomi supermapan,  yang terbiasa berbelanja dengan kartu kredit dan memakai aneka asesoris mahal  bisa  terampil bekerja sebagai buruh bangunan? Ingin tahu bagaimana orang yang digambarkan  terbiasa menggantungkan segalanya dengan uang dapat bekerja  sebagai security di tempat hiburan malam, tiba-tiba pandai dalam urusan membuat kandang, mengecat pagar bahkan jago berantem dan ditakuti preman? Semua keanehan bin kewaguan itu bisa dijumpai dalam film Forever Love yang disutradarai Nayato Fio Nuala ini.

Kara (diperankan Adipati Dolken) berada dalam situasi terjepit ketika sang kakek (diperankan oleh Roy Marten) yang mengasuhnya memutus segala support ketika ia memasuki umur 18, momen mana digambarkan di awal film dengan tidur bersama sang kekasih yang bernama Scarlet.  Ketiadaan support dari sang kakek membuat Kara tak lagi mempunyai sumber keuangan untuk menopang gaya hidupnya. Iapun mengambil keputusan yang amat radikal, sebuah tindakan yang rasanya di luar kewajaran yang bisa diprediksi akan dilakukan mereka kaum the haves. Ia meninggalkan kekasihnya, bersandal japit dan pergi, entah kemana dengan angkutan kota dan pula dengan bus ekonomi.

Sampai di sini, kisah dalam film ini  mulai kehilangan kewajarannya. Masa iya sampai sebegitunya orang memutuskan ketika upaya lain belum ditempuh? Ia toh bisa membantah dan mencoba dengan berbagai cara agar tetap menikmati fasilitas sang kakek. Atau dengan cara lain misalnya mengadu pada saudara dan teman dekat alih-alih memutuskan untuk hidup sendiri. Opsi-opsi yang wajar itu tiada sama sekali ditampilkan. Konyol, generasi sekarang barangkali akan mengatakan hal ini sebagai  lebay. Tapi yang pasti di sebuah terminal bus ia kemudian menjadi sasaran penjambretan, dan setelah berkelahi cukup seru dengan orang yang merampas gadgetnya, ia dikisahkan babak belur akibat perlawanan geng penjambret itu.

Saat itulah Mila (Kimberly Ryder), seorang gadis ayu bertubuh sintal bertampang indo, penjual kue dari kawasan padat penduduk  menolong dan membawanya ke rumah untuk dirawat. Suasana rumah yang sederhana namun hangat dan  kasih sayang serta perhatian sang gadis membuat Kara kerasan dan akhirnya tinggal bersama di rumah itu. Kara yang sejak kecil telah kehilangan orang tua dan haus akan kasih sayang digambarkan begitu akrab dan dekat pula dengan adik Mila, gadis kecil bernama Sasi. Perasaan kedua muda mudi berbeda latar belakang sosial yang tengah saling jatuh hati digambarkan dengan beberapa kali adegan tatapan mata penuh arti dan saling senyum. Satu kali bahkan Kara mencium kening Mila, yang tanpa mereka ketahui disaksikan oleh Ibu Mila yang tak memperlihatkan ekspresi khawatir atau terkejut. Aneh? Ini memang persoalan budaya. Setiap kepala penonton  dengan latar belakang budaya berbeda, akan punya jawaban berbeda untuk menilai jaanggal tidaknya sikap sang ibu yang permisif ini. Tapi mengingat keluarga Mila digambarkan cukup taat beragama (setidaknya dari adegan do’a sebelum makan, salam sebelum pergi) dan digambarkan dalam kelompok sosial yang masih tinggi kohesivitasnya, momen itu bagi saya terasa aneh dengan sendirinya. Continue reading 18++ Forever Love (2012)

Malaikat Tanpa Sayap (2012)

230px-MALAIKATTANPASAYAPFilm ini saya pilih untuk membunuh waktu selama penerbangan dengan pesawat Garuda dari Jakarta menuju Bangkok, minggu ke-tiga November 2012 silam. Tidak ada alasan pasti mengapa saya memilih film ini, tapi sebagai orang yang tidak lagi remaja, saya pikir menarik juga melihat film bergenre remaja seperti ini.

Malaikat Tanpa Sayap (MTS) dalam amatan saya bukanlah film berbiaya besar. Ia tak memerlukan banyak lokasi syuting. Kebanyakan hanya di seputar rumah, rumah sakit, dan tempat terbuka seperti di taman. Properti yang digunakan juga tidak ada yang wah. Ini adalah drama layar lebar. Ceritanya? Seorang remaja pria yang diperankan Adipati Dolken yang sejak awal dikisahkan bermasalah dengan sekolah, bukan karena kenakalannya, tapi karena nunggak bayar SPP. Keluarganya sendiri tergolong broken home. Si bapak (diperankan Surya Saputra) harus mengajak keluarganya pindah ke rumah sederhana karena hutang bank. Sang ibu meninggalkan rumah dan bahkan kemudian digambarkan dekat dengan lekaki lain. Singkat cerita, Vino, tokoh remaja tadi harus berada di rumah sakit karena sang adik terluka dan dirawat di sana. Bertemulah ia dengan seorang gadis manis dan keduanya menjadi akrab. Di rumah sakit itu pula, Vino yang mulai tak masuk sekolah bertemu dengan seorang yang biasa menjadi perantara donor organ.  Atas pengaruh sang perantara tersebut dan demi biaya pengobatan sang adik, Vino rela untuk menyatakan deal dengan sang makelar untuk mendonorkan jantungnya. Continue reading Malaikat Tanpa Sayap (2012)

Surat Kecil Untuk Tuhan

Seorang gadis SMP bernama Gita Sesa Wanda Cantika (Keke) menderita kanker otot di pipinya. Ditemani sang ayah (Alex Komang) yang begitu tabah, berbagai upaya menyembuhkan ditempuh mulai medis hingga pengobatan alternatif. Wajahnya yang semula manis berubah menjadi mengerikan ketika separuh wajahnya (sebelah kiri) menjadi bengkak tak keruan karena penyakit yang konon baru pertama kali dijumpai di Indonesia itu. Keke pada akhirnya bisa disembuhkan dengan kemoterapi, kembali beraktifitas dengan teman-teman sekolahnya, kesembuhan mana cukup membuatpenonton bernafas lega. Maklum sejak awal kisah, tak hentinya kesedihan ditampilkan, membuat tegang saraf haru. Konflik pertama ditampilkan cukup apik ketika sang ayah bertekad untuk makan segala obat baik medis maupun non medis agar si anak tidak merasa sendiri. Kisah cinta yang dijalinnya dengan teman sekolah juga menjadi hal yang menarik, menunjukkan kesetiaan sang kekasih walau si gadis telah buruk rupa karena sakitnya. Sementara itu pertengkaran sang ayah dengan mantan isteri yang terpaksa harus berjumpa karena merawat sang anak juga menjadi konflik tersendiri walau tidak cukup mengungkap mengapa mereka berpisah. Pada akhirnya, Keke kembali sakit dan akhirnya meninggal. Diangkat dari kisah nyata yang juga telah diangkat dari novel, film ini adalah film keluarga yang apik untuk ditonton. Ada pesan moral yang kuat di sini mengenai keutuhan keluarga, kesetiaan terhadap kekasih dalam keadaan yang teramat sulit, dan rasa sayang saudara dan orang tua. Ditampilkan secara apik pula dalam film ini adalah hubungan amat erat antara Keke dengan kawan-kawannya. Saya ada mendengar isak tangis penonton menyaksikan ending film ini yang ditutup dengan adegan meninggalnya Keke di Rumah Sakit yang diiringi tangis pilu keluarga dan segenap kawan-kawannya. Film ini menurut saya tidaklah mengecewakan untuk ditonton. Namun karena diangkat dari sebuah novel, adalah menjadi hal biasa manakala orang kecewa karena kesenjangan antara alam ide imajinasi yang terkonstruksi dari bacaan dan konkretisasi dalam rupa adegan film. Saya sendiri menonton film ini tanpa terlebih dahulu membaca novelnya, sehingga buat saya film ini tiada mengandung keberatan dan protes apapun karena saya memang tak punya ekspektasi apapun ketika berangkat menyaksikannya.

Renungan China Blue

Sore 8 Mei 2009, sebagai penutup kuliah diadakan pemutaran film semi dokumenter, China Blue. Ini film berkisah mengenai seorang gadis China muda bernama Jasmine. Kemiskinan memaksanya untuk menjadi buruh di pabrik konveksi yang memproduksi celana jeans untuk kepentingan ekspor. Dua hari dua malam ia menempuh perjalanan meninggalkan desa, keluarga, ayah dan ibunya dari suatu kawasan pertanian, menuju sebuah kota industri. Segera sampai di sana ia menjadi pemotong benang pada celana celana jeans yang telah jadi.Kerja dengan kondisi yang amat buruk, belasan jam sehari. Kalau ada permintaan order dari buyer yang harus segera dipenuhi, maka bisa dipastikan akan membuat para buruh kembali pada situasi kerja yang buruk, dengan kerja yang tak kunjung henti.

Digambarkan di sana betapa keterlambatan semenit saja, akan berakibat pada pemotongan gaji buruh. Kondisi kerja juga sedemikian buruk. Pekerja harus segera menyelesaikan makan yang diberikan pabrik dengan segera. Semua dilakukan dengan tergesa gesa. Makanan digambarkan sebagai “tidak ada rasanya”.

Tidak saja itu, pembayaran gaji biasanya terlambat. Dan untuk ini, manajemen perusahaan punya bermacam alasan. Ketika waktu pembayaran tiba, kerapkali buruh tak mendapatkan hasil yang diperkirakan. Pemotongan gaji misalnya, lebih besar yang diperkirakan. Aku melihat film itu menjadi teringat akan peternakan ayam petelur. Ayam, dalam kurungan yang sempit kehilangan kebebasannya. Tak ada mungkin baginya untuk bermandi sinar matahari dan bermain pasir. Yang bisa ia lakukan hanyalah menghadap ke satu arah dengan takzim. Melihat ke pantatnya pun ia tak mampu. Dan di depannya, tersedia tempat voor, makanan yang harus ia makan setiap harinya. Jika ia bertelur, maka telur itu tak akan pernah menjadi anak ayam, karena tak pernah dibuahi, dan telur itu memang untuk dikonsumsi. Ia diberi makan bukan karena rasa kasih dari sang pemilik peternakan, karena dari makanan itu ia diharapkan memproduksi penghasilan. Dan jika ia tak lagi produktif menghasilkan telur, ia akan dijual murah sebagai ayam potong.

Jasmine dan kawan-kawannya pun begitu. Ia masih begitu muda ketika berangkat menjadi buruh, Kawan-kawannya seperti Orchid, juga tak kalah muda. Banyak yang meninggalkan desa dan mulai bekerja di pabrik ketika berusia 14 tahun. Sebagaimana manusia mereka membutuhkan hiburan dan sukacita. Apalah yang bisa didapat dari kaum pekerja rendahan seperti mereka? hiburan-hiburan yang murah di pinggir jalan. Dan tak lama mereka dapat menikmatinya, karena mereka harus segera kembali ke tempat bekerja.

Jasmine, dan kawan-kawan, bekerja untuk buyer Internasional yang akan menjual kembali produk yang dihasilkannya senilai 4 dollar itu kepada merek-merek internasional di Amerika, dan Eropa. Di negara-negara utara. 4 dollar adalah harga yang diterima oleh pemilik pabrik atas sebuah celana jeans. Tentu 4 dollar bukanlah keuntungan bersih. Sang pemilik akan mengurangkannya dengan biaya modal. Dan biaya untuk mengupah Jasmine dan kawan-kawannya amat rendah mencekik. Dan terus mereka harus bekerja, lembur hingga dinihari terlebih jika ada pesanan yang harus segera dipenuhi.

Mengharukan ketika pada akhir film, Jasmine menebak nebak dan mengangan angan siapakah yang akan memakai celana jeans yang dia dan kawan-kawannya hasilkan. Ia hanya menduga, orang itu pastilah berbadan besar dan tinggi, suatu tebakan yang ia dapat dari ukuran jeans yang dihasilkannya. Akan tetapi siapapun yang memakai celana jeans itu ia meyakini, pastilah nasibnya lebih beruntung darinya.

Melihat film itu, aku teringat akan kakak iparku sendiri. Ia juga bekerja sebagai buruh pabrik sepatu di Ungaran, Jawa Tengah. Demi mendapatkan 15 ribu, ia harus bekerja lembur beberapa jam. Sepatu yang dihasilkannya bukan untuk pasar dalam negeri, tapi pasar Internasional, terutama Eropa. Ia, kaum buruh, adalah kaum yang paling ditindas dalam proses produksi dan perdagangan global, serta pertukaran nilai global.

Kerap kali ketika kita memakai suatu produk, jarang terlintas di benak kita, akan keringat dan darah mereka yang menghasilkannya. Celana, sendok, handuk, sepatu dan semua saja yang kita pakai kini, bisa jadi adalah buatan mereka yang menderita, dan didera kondisi kerja yang buruk. Mereka yang bekerja, tanpa mendapatkan perlindungan dari negara. Mereka yang bekerja memutar roda keuntungan para buyer internasional.Mereka kaum pekerja industri dunia ketiga, adalah mereka yang sesungguhnya memberi nafas kehidupan kapitalis di belahan bumi utara.

Den Haag, 10 Mei 2009