Es Krim Toko Oen, Malang

Toko Oen, demikian toko ini mengambil nama. Bisa diambil kesimpulan: pemiliknya atau setidaknya sang pendiri adalah seorang Tionghoa. Bangunan toko terlihat sederhana, bukan bangunan baru melainkan peninggalan masa Belanda. Begitu memasuki toko, sebuah spanduk besar berbahasa Belanda menyambut, sembari menginformasikan bahwa toko ini telah buka sejak tahun 1930. Letak toko ini sendiri ada di tengah kota Malang, kota terbesar kedua di Provinsi Jawa Timur. Berada di sebelah kanan Toko Buku Gramedia, Toko Oen dikenal dengan menu-menu es krim-nya yang menawan dengan beraneka rupa dan tentu saja harga. Ada es krim banana split, es krim coklat, dan lain-lainnya. Saya memesan es krim spesial Oen seharga lebih kurang tigapuluh ribu rupiah, dan rasanya memang sedap sekali. Terasa sekali bahwa es krim yang disajikan terbuat dari bahan-bahan dengan kwalitas baik. Tidak sekedar menjual es krim, restoran yang terletak tak jauh dari alun-alun Kota Malang ini juga menyediakan aneka roti dan snack seperti risoles. Cerutu dari berbagai merek juga dijual. Yang menarik adalah suasana toko yang mengajak pengunjung kembali ke Malang pada masa silam. Kursi yang digunakan adalah kursi santai keluarga era 50-an.Pada dinding toko terpampang beberapa foto hitam putih bangunan-bangunan tua di Malang. Ketika saya mengutarakan keinginan untuk mencoba es krim di sini, beberapa kawan muslim sempat mempertanyakan soal kehalalan menu yang disajikan, yang tentulah saya tidak mengetahui persis jawabnya. Dari perbincangan-perbincangan yang saya dengar dan ikuti, nampaknya isu seputar kehalalan menu yang disajikan di toko ini telah menjadi perhatian banyak orang penggemar wisata kuliner. Toko Oen bukannya tak mengetahui hal ini saya kira. Namun lepas dari persoalan itu, jika anda penggemar es krim dan suka untuk merasakan nuansa masa silam, es krim Toko Oen bolehlah dikunjungi jika anda berkesempatan berada di Malang. Harganya? Rata-rata 25 hingga 35 ribu rupiah (Juli 2011). Tidak bisa dibilang murah menurut ukuran saya, akan tetapi untuk sebuah rasa yang lezat dengan kwalitas mutu hidangan yang baik plus suasana santai masa lalu yang tercipta, persoalan harga bolehlah sejenak dilupakan. Tentu saya harus berterimakasih pada seorang kawan yang tak mau disebutkan namanya yang mentraktir saya mencicipi kelezatan es krim legendaris kota apel ini.

Soto Mata Sapi Bangkalan Madura

Saya pernah melihat tayangan soto mata sapi ini di televisi. Agak bagaimana juga dalam bayangan saya memakan bola mata dari mamalia bertubuh besar ini, tapi karena didorong rasa penasaran, saya dan kawan-kawan pun pergilah ke sebuah kampung di daerah Bangkalan. Letak warung makan ini bukan di tepi jalan raya, namun masuk ke dalam desa, Jalan Pancar Selatan, Burneh, Madura. Bukan restoran berdinding tapi memang semacam warung. Sepi tanpa riuh rendah kendaraan. Setelah memesan soto, kita bisa duduk di amben terbuat dari bambu sambil menunggu soto dibuat. Kata kawan dari Madura yang menemani, kalau mau makan soto ini kita harus pesan dulu, supaya tidak kehabisan. Maklumlah, bahan bakunya terbatas, dan peminatnya juga banyak, barangkali demikian. Tak berapa lama, soto pun akhirnya terhidanglah di depan saya. Cukup panas, walau kata teman-teman panasnya soto saat itu kurang. Soto dihidangkan bersama dengan kupat, yang disajikan dalam piring terpisah. Sambal bikinan warung juga disediakan, dan tentu saja kecap. Ketika pertama kali mencobanya, saya agak kecewa juga karena bumbu soto tidak berasa. Bagi saya, soto seharusnya spicy, hot, dan kalau bisa membikin berkeringat. Tapi soto mata sapi ini tidak. Dagingnya terlihat masih kemerahan sehingga membuat saya agak setengah hati memakannya. Oh ya, diluar bayangan saya, soto ini tidak murni menghidangkan bola mata sapi, namun nampaknya daging sekitar mata pula, terbukti dari daging yang berongga yang saya duga bekas rongga mata. Namun ya itu tadi, olah bumbu-nya tidaklah merasuk kepada dagingnya, terasa hambar, bahkan lebih kepada rasa daging yang kenyal, sehingga saya harus katakan ini soto tidaklah terlalu sedap. Buat saya cukuplah sekali ini makan soto sapi dan rasanya kalau ada kesempatan ke Madura lagi, saya rasa saya tak akan terlalu tertarik untuk mencobanya kembali.

Batavia Resto, Malang

di Jalan Jakarta, sebuah jalan dalam kota yang tak terlalu ramai di Kota Malang nan sejuk. Waktu saya ke sana dalam rangka makan siang, halaman parkir di depan resto berderetan mobil memenuhi. Laris juga, pikir saya kala itu. Memasuki resto, suasana tradisi nampak hendak diciptakan, dengan meja kursi dan mebeler Jawa. Atap tempat saya dan kawan-kawan duduk untuk menikmati hidangan bahkan diguyur air yang dialirkan secara khusus sehingga suasana yang tercipta terkesan alami dengan gemericik air. Seorang pemain organ tunggal memainkan lagu-lagu dari keroncong Bandar Jakarta hingga I Feel Fine dari The Beatles, menghiringi hadirin menyantap makan siang. Saya sempat memesan es campur di sana. Juga bersama kawan-kawan memesan bebek peking (lihat gambar), ikan gurame, sebagai lauk makan siang. Rasanya? Semua sedap, mantap dan memang nikmat. Bebek peking adalah menu yang sya rekomendasikan. Acung jempol untuk juru masak resto ini. Sayangnya, suasana yang diciptakan tidak konsisten. Ada guci-guci Cina, dan hiasan-hiasan Cina yang menurut saya tidak matching dengan nuansa Jawa yang hendak diciptakan. Restoran ini kendati masakannya nikmat, tapi suasananya kurang dapat, tanggung. Soal harga, saya tidak bisa menilai apakah murah atau mahal. Akan tetapi untuk ukuran resto, seingat saya daftar menu mencantumkan harga yang tidaklah terlalu fantastis. Pas dengan layanan dan sedapnya menu yang didapat.

Bebek Sinjay, Madura

Ada rasa penasaran ketika kawan yang tinggal di Madura menceriterakan bebek goreng yang konon kelezatannya telah dikenal hingga ke penjuru tanah air ini. Jam tujuh pagi kira-kira ketika saya pada akhirnya sampai di sana pada suatu hari di bulan Juli 2011, sebuah rumah makan di tepi jalan raya Bangkalan, areal parkirnya telah dipenuhi oleh mobil pengunjung. Kawan dari Bangkalan memesankan bebek goreng untuk saya dan kawan yang lain, dan agak lama juga hingga di meja kami terhidang masing-masing sepiring nasi bebek dan segelas teh manis. Maklum, antriannya cukup panjang pagi itu. OK, mulai dari teh. Untuk mereka yang diet diabetes maupun tak gemar teh manis, lebih baik sedari awal memesan teh dengan gula yang tak terlalu banyak, karena dalam perasaan saya, teh yang dihidangkan tak terlalu kental itu amat manis sekali rasanya. Penilaian yang sama dikatakan teman-teman seperjalanan yang turut sarapan bebek goreng pagi itu. Barangkali memang demikian kegemaran orang Madura dalam menikmati teh?
Nah sekarang soal bebek goreng Sinjay ini sendiri. Ia dihidangkan dalam satu piring berisi nasi yang cukup banyak. Tidak terlalu munjung (Jawa: penuh), tapi juga tak bisa terbilang sedikit. Irisan ketimun dan daun kemangi menyertai. Melihat potongan bebek yang kecil segera saja hati menjadi putus asa, karena teramat kecil dibandingkan dengan porsi nasinya. Maka, kami pun memesan sepiring bebek goreng tambahan yang sudah dipotong-potong. Rasanya? Pertama harus dikatakan, bahwa daging bebek ya begitu saja. Namun merasakan racikan bebek Sinjay ini memang mau tak mau saya harus mengakui bahwa bebek goreng ini terbilang sedap. Dibandingkan dengan bebek goreng khas Solo yang banyak membuka cabang di berbagai kota, bebek Sinjay tidak digoreng hingga mengering. Dagingnya yang berwarna semu kuning kunyit selain empuk juga tidak terlalu asin seperti sering dijumpai dalam bebek goreng lainnya. Amis daging bebek juga tidak tercium karena bumbu kunyit-bawang.
Untuk anda yang mencari suasana, rumah makan ini memang tidak menjanjikan apa-apa kecuali meja dan kursi plastik. Tapi kelezatan rasa bebek ini jujur saja: membuat saya ingin kembali lagi jikalah ada kesempatan mengunjungi Madura kembali. Entah kapan…

Menyantap Sejarah di Inggil Resto, Malang

Inggil Resto. Foto by MKW
Inggil Resto. Foto by MKW

Makan bukan semata urusan perut, tapi juga mata dan suasana. Maka, tempat makan yang enak adalah yang memberikan atmosfir menyenangkan buat pelanggannya. Begitu banyak rumah makan, restoran memilih tema alam untuk menarik konsumen, namun rumah makan yang satu ini memilih tema yang berbeda. Ini adalah Museum Resto, yang tak saja menyajikan makanan dan minuman penghilang lapar dan dahaga,namun juga suasana masa lalu dan pengetahuan sejarah bagi pengunjungnya.
Terletak di dalam kota Malang yang sejuk, Restoran Inggil (Jawa: Tinggi) adalah mengambil tempat sebuah rumah tua jaman Belanda yang penuh dengan hiasan panel masa lalu. Di berbagai sudut ruangan nampak dipajang foto-foto tua kota Malang dalam bahasa Belanda, foto-foto tokoh politik dan perjuangan Indonesia seperti Bung Tomo, Bung Hatta, Jenderal Soedirman. Bendera merah putih kecil yang pernah dipasang di mobil Presiden Soekarno manakala mengunjungi Malang juga dipamerkan. Ada pula peta kota yang dibuat dalam masa penjajahan, Kaart van Malang. Di lorong masuk kita bisa menyaksikan dokumentasi foto alun-alun Malang, jembatan yang dirancang oleh Thomas Kaarsten, peresmian tugu Malang pada awal dekade 50-an oleh Presiden Soekarno, dan beberapa dokumentasi menggambarkan sidang KNIP, sebuah badan yang diberi mandat oleh Pasal IV Aturan Peralihan UUD 1945, sebuah badan yang merupakan cikal bakal DPR sekarang. Untuk diketahui, Sidang Pleno ke-5 KNIP memang diselenggarakan di Malang, di sebuah tempat bernama Gedung Concordia yang sayangnya kini telah tiada lagi, dan kini menjadi pertokoan Sarinah. Continue reading “Menyantap Sejarah di Inggil Resto, Malang”

Bakso Arif

Saya (paling kiri) bersama rekan-rekan dosen Fakultas Hukum dari berbagai Universitas di Indonesia kala berkunjung ke Bakso Arif, 2011
Saya (paling kiri) bersama rekan-rekan dosen Fakultas Hukum dari berbagai Universitas di Indonesia kala berkunjung ke Bakso Arif, 2011

Konon, ini adalah bakso yang termasuk paling enak di Batu, kota wisata di pegunungan dekat dengan Malang, Jawa Timur. Tempatnya tidak luas, hanya selebar kira kira dua meter memanjang ke dalam beberapa meter. Dengan tempat yang sempit itu, bakso Arif tidak bisa menampung pembeli dalam jumlah yang banyak, walau ia dikenal sebagai bakso yang laris di kota Batu nan sejuk.
Diajak oleh kolega dari Malang, bakso ini disajikan dengan bongkahan bakso besar, yang biasa disebut bakso bogem. Saya memesan bakso komplit, dan isinya adalah bakso besar, tahu bakso, lantas ada pula semacam bakwan. Rasanya? bumbu masak alias penyedap rasa amat kental terasa di kuah yang disajikan. Buat saya ini amat disayangkan karena kekuatan utama Bakso sebenarnya adalah kuahnya, dan kuah bagi saya lebih sedap jika dibuat dengan bumbu-bumbu yang ‘berani’. Sambal yang disediakan juga terkesan bukan sambal murni yang dibuat sendiri, melainkan sambal botolan, sehingga saya merasa tidak aman mengkonsumsinya. Saosnya berwarna merah darah yang membuat takut pula mengkonsumsinya. Terpaksalah tidak memakai sambal, yang artinya tidak membuat bakso jadi pedas, dan buat saya bakso tidak pedas ,jadi tidak nikmat. Continue reading “Bakso Arif”

Kafe Ngopdoel Dipati Ukur Bandung

Ngop-Dul, alias ngopi dulu. Inilah cafe yang terletak di kawasan Universitas Padjadjaran, Bandung. Memfungsikan sebuah rumah tua nan luas dan rindang sebagai cafe, tempat ini terbilang nyaman untuk sekedar duduk duduk, membunuh waktu, maupun untuk istirahat siang. Menu utamanya tentu berbagai macam kopi, juga makanan seperti roti bakar. Berlama-lama di kafe ini tak perlu khawatir ketinggalan ibadah wajib bagi mereka yang muslim. Kafe Ngopdul menyediakan tempat shalat yang amat unik, rumah kecil berdinding kayu. Kita bisa memilih untuk duduk duduk di kursi sofa maupun kursi kayu. Namun begitu, memasuki kafe ini cukup lumayan pula kocek yang musti dikeluarkan. Rata-rata kopi dibandrol limabelas ribu rupiah atau lebih (paruh awal 2011). Sesekali bolehlah habiskan waktu di sini, apalagi kafe ini juga menyediakan hotspot bagi pengunjungnya, sehingga pekerjaan yang mesti diselesaikan bisa disambi ngopi. Tapi untuk yang terbiasa minum segelas kopi seharga 2-3 ribu seperti saya, lebih baik jangan pernah masuk cafe ini kalau tak ingin ngopi sambil terbayang deret angka rupiah..

Rumah Makan Harmoni Kledung

Melintas jalur Purwokerto-Semarang via Wonosobo, pastilah akan melewati sebuah daerah bernama Kledung. Inilah daerah perbatasan antara Wonosobo dan Temanggung, sebuah dataran tinggi yang terletak diantara dua gunung : Sindoro dan Sumbing. Dari arah Purwokerto, jalan akan mulai menanjak sejak dari Kertek, Reco hingga kemudian Kledung. Dari arah Semarang, jalan yang ditempuh pula akan mulai berjalan menanjak terutama sejak Parakan. Oleh karenanya, Kledung amat pas sebagai tempat pemberhentian, untuk sekedar beristirahat dari perjalanan jauh. Selain hawa pegunungan yang segar, lokasi Kledung yang indah karena ia berada di dua gunung raksasa non-aktif menjadi daya tarik lain. Kalau cuaca cerah, kita bisa berhenti sejenak menikmati pesona indah kedua gunung. Karena ketinggiannya, Kledung tak jarang diselimuti kabut, dengan jarak pandang hanya 5-10 meter. Salah satu tempat makan yang menarik untuk disinggahi adalah Rumah Makan Harmoni. Menawarkan menu khas Lombok yakni ayam taliwang dan plecing kangkung, desain rumah makan ini dibuat sederhana, dengan dominasi bahan bambu petung. Pengunjung dapat memilih untuk duduk di balai bambu, maupun di meja kursi yang juga terbuat dari bambu. Menu lainnya selain ayam adalah bebek goreng, soto, dan bakso. Mencoba ayam bakar taliwang dan ayam goreng sekaligus kesan saya adalah “dua jempol”. Seporsi ayam bakar dan ayam goreng kampung dijual seharga sembilanribu rupiah. Lebih murah, dibanding menu serupa di rumah makan lain di kawasan sekitar. Ayam goreng maupun ayam bakar yang disajikan tak terlalu besar, kecil saja, namun cukup menjadi lauk jika perut lapar. Ayam ini masing-masing hadir dengan lalapan ketimun, daun kemangi, dan kubis serta sambalnya. Khusus ayam bakar, sambal terasi disajikan tersendiri dalam sebuah wadah kecil, sambal yang beda dengan sambal untuk ayam goreng yang disajikan bersama ayamnya. Adapun untuk nasinya, kita akan dijatah, dalam ukuran mangkokan. Namun begitu, jatah nasi ini tidak terlalu sedikit. Kalau perut tidak dalam kondisi yang amat sangat kelaparan, maka jatah satu nasi cukuplah membikin kenyang. Berlama-lama di sini tak perlu khawatir ketinggalan ibadah shalat, karena RM Harmoni juga sediakan tempat shalat yang cukup lega. Sayangnya waktu berkesempatan ke sana, soal estetika kurang diperhatikan oleh pengelola dan karyawan. Terbukti, ada beberapa jemuran yang disampirkan begitu saja di atas atap asbes, yang terlihat dari tempat makan lesehan. Ini tentu saja mengganggu selera dan mood makan customer. Selain itu, taman di dalam juga kurang tergarap dengan baik, membuat kita seolah makan di tengah belukar.
[Catatan: Sejak paruh akhir 2012, RM Harmoni Kledung ini telah tutup. Adapun RM Harmoni di Jalan Raya Wonosobo-Kertek masih buka]

Bakso Lapangan Tembak Senayan Depok Town Square

Bakso Lapangan Tembak: Foto: MKW
Bakso Lapangan Tembak: Foto: MKW

Makan di mall atau pusat perbelanjaan hampir bisa dipastikan membuat kita mengeluarkan kocek lebih daripada jika makan di tempat umum. Bisa dimengerti, karena membuka usaha di mall mestilah membayar biaya sewa yang tidak murah yang pada buntutnya dibebankan pada barang atau jasa yang dipasarkan. Saya biasa membeli bakso dengan harga di bawah sepuluh ribu di kios-kios atau warung pinggir jalan. Maka membaca menu bakso di Bakso Lapangan Tembak Senayan saat pertama kali mencoba di sebuah pusat perbelanjaan di Simpang Lima, Semarang, agak mengerut juga dahi ini. ‘Untunglah’ status saya saat itu sebagai pihak yang ditraktir (terimakasih pada Andari Yurikosari, Univ. Trisakti) sehingga no need to think about price. Kesempatan kedua makan Bakso Lapangan Tembak Senayan yang cabangnya rupanya sudah tersebar di seluruh penjuru tanah air ini terjadi pada Februari 2011 silam. Saat itu, menghabiskan waktu di Depok Town Square (biasa disebut Detos), Bakso Lapangan Tembak Senayan menjadi pilihan untuk membuat hangat perut. Sudah barang tentu kalau pengalaman pertama tak berkesan, maka tak mungkin saya mendatangi bakso ini lagi. Dan justeru untuk itu saya akan tuliskan di sini: Continue reading “Bakso Lapangan Tembak Senayan Depok Town Square”

Sate Bebek, Tambak, Banyumas

Disajikan dengan bumbu kacang: Sate Bebek alias Sate Enthog. Photo: MKW
Disajikan dengan bumbu kacang: Sate Bebek alias Sate Enthog. Photo: MKW

Menuju Yogya dari arah Bandung melalui jalur selatan, kita akan melintas sebuah kota kecamatan bernama Tambak. Kecamatan yang masih termasuk wilayah Kabupaten Banyumas ini berbatasan dengan Kecamatan Gombong di sebelah timurnya dan Kecamatan Sumpiuh di sebelah barat. Kuliner khas daerah ini tak lain tak bukan adalah Sate Bebek. Kalau berbagai kota besar sedang dilanda trend bebek goreng, maka menu andalan Tambak adalah Sate Bebek ini. Memasuki Tambak, sepanjang kanan kiri jalan kita akan melihat puluhan warung maupun rumah makan memasang plang maupun papan bertulisan Sate Bebek. Continue reading “Sate Bebek, Tambak, Banyumas”