Kompilasi Thrash Generation: Sebuah Catatan Tentang Penanda Jaman

Dari negeri Belanda kusaksikan juga gelaran itu melalui aneka dokumentasi gambar maupun video di timeline Facebook dan kanal Youtube: pesta rakyat metal dalam gelaran Rock In Solo 2014. Berbagai nama besar kelompok musik tanah air turut meramaikan, antaranya; Warkvlt, Siksakubur, Revenge, Death Vomit, dan Edane. Headlinernya? Carcass, biang goregrind dari Britania Raya. Carcass yang begitu legendarik akhirnya menyambangi negeri yang telah sekian lama merindukannya. Kerinduan setelah sekian tahun, bahkan berpuluh tahun, karena nyatanya band ini mulai dikenal lebih dari duapuluh tahun silam melalui kompilasi Grindcrusher (1991) yang di Indonesia oleh label pemegang lisensi dikeluarkan dengan judul Thrash Generation. Carcass bukan artis pertama  album kompilasi ini yang berkunjung ke Indonesia. Sebelumnya setidaknya dua band lain tercatat pernah pula menyapa skena metal nusantara; Morbid Angel dalam gelaran Hammersonic 2014 dan Extreme Noise Terror dalam sebuah event di Bandung dan Jakarta pada 2008.

Kaset Thrash Generation, koleksi Sofyan Hadi (Death Vomit)
Kaset Thrash Generation, koleksi Sofyan Hadi (Death Vomit)

Grindcrusher atau Thrash Generation keluaran label Earache yang berbasis di Nottingham Inggris ini memang fenomenal. Inilah rekaman ‘campursari’ berbagai atraksi metal ekstrim yang begitu berpengaruh dalam memperkenalkan puak-puak musik ekstrim seperti Morbid Angel, Napalm Death, Entombed, hingga band seperti Cadaver, Repulsion, Bolt Thrower dan Nocturnus kepada publik musik keras dunia, tak terkecuali Indonesia.

Mengapa kompilasi  ini  sampai perlu harus dirubah namanya  menjadi Thrash Generation? tak jelas betul. Dugaanku, terma thrash (dari thrashmetal) kala itu dirasa telah lebih established, populer dan menjual. Istilah itu sudah begitu menancap di benak  dibanding grindcore yang dalam konteks masa itu, setidaknya di tanah air, baru mulai mengemuka. Majalah-majalah remaja yang menyinggung soal musik sejak akhir 80-an sudah turut menyebut terma thrashmetal. Kompilasi musik keras terbitan Roadrunner Records juga menggunakan terma sama; Stars on Thrash. Kini kedua istilah itu, thrashmetal dan grindcore malah seakan telah terganti oleh istilah yang lebih generik: extreme metal. Terkait ini, Jeff Walker dalam show Carcass di Nijmegen yang kusaksikan akhir Juni lalu di Goffert Park sempat mengingatkan penonton akan istilah ini ketika hendak memainkan nomor klasik mereka . Continue reading “Kompilasi Thrash Generation: Sebuah Catatan Tentang Penanda Jaman”

Sepultura: Morbid Vision

SEPULTURA “Morbid Visions”. Gitarisnja mingsi Jairo, belum Andreas Kisser. Sebagaimana format kaset, ini album djuga dibundel dengan EP “Bestial Devastation” [1985]. Ini adalah SEPULTURA pada awal karirnja, dengan sound pating kemlontang, dengan kapasitas studio seadanja. Kasar, mentah, dan bising jang dimainkan empat remadja berdjaket kulit dan beratribut aneka peluru. Mendengarkan album ini saja selalu terbajang-bajang itu adegan perang dalam pentas pertundjukan wajang kulit. Sebelum punja ini tjakram, tentulah dulu membeli kasetnja jang setiap pembeliannja berhadiah gambar tempel alias stiker. Ini tjakram buwatan Korea.380883_10150434753948823_938308188_n

Asphyxiate: Anatomy of Perfect Bestiality

Tjakram padet ASPHYXIATE “Anatomy of Perfect Bestiality”. Brutal-kedjam dengan musikalitas jang tinggi, technical, walau porsi sinkopisasinja agak kurang banjak. Satu lagi: liriknja jang ditulis dalam bahasa Inggris mengingatkan orang akan aneka kosa kata jang selama ini telah dipakai sebagai lirik/ djudul album band metal luwar, en diperparah dengan banjak grammatical error. Bagus sebenernja, dengan tema-tema senada dengan Carcass atawa Disastrous Murmur. Peladjaran jang bisa diambil: tidak sadja mixing instrumen en musik setjara umum, tapi lirik djuga perlu editing sehingga ini produk bisa bener-bener djadi “perfect bestiality”. Tapi artworknja bisa diatjungi djempol, menarik.

Guns N Roses: Appetite For Destruction

Guns N Roses dikenal begitu luas lewat ini tjakram “Appetite for Destruction“. Lagu andalannja apalagi kalau bukan Welcome to The Jungle dan Sweet Child O Mine. Walau begitu, kala itu di akhir 80-an (saja mingsi SMP) seingat saja, tetep hanja mereka jang suka musik keras sadja jang tau dan lebih-lebih beli album ini. Di Album ini GNR mingsi murni band gitar, bass en drums. Lagu-nja dibilang semuanja keras. Rock dalam takaran semestinja. Sukses bikin ini album djutaan copies, GNR bikin album Use Your Illusion I dan II jang didjual terpisah. Nah di Indonesia album ini membikin GNR tambah populer, karena lagunja lebih pas di kuping melaju seperti “Dont Cry”, “November Rain” dan itu lagu jang djadi tema film Terminator “You Could Be Mine”. Sudah gitu dia djuga nambah pemain papan kuntji. Saja mingsi ingat punja kenalan pendjuwal Mi Ajam di daerah Karang Putjung, Purwokerto. Warung Mi Ajam-nja penuh dengan poster GNR, menandakan dia penggemar GNR tingkat tak tersembuhkan. Ini tjakram saja beli 22.500 sekitar taun 1996, ketika toko kaset dan CD DELTA (di Purwokerto) kelebihan stock in album. Sebenernja saja sudah punja kaset pita-nja, jang dipunja sedjak SMP tapi tergoda beli djuga. Harga CD normal kala itu 30 ribu, djadi lebih murah 7500. Potongan harga jang lumajan, membuat saja lari sana sini tjari pindjaman supaja dapet ini CD harga murah.

Testament: Practice What You Preach

Madjalah HAI mengulas setjara amat singkat mengenai TestamenT di kolom Mini Metal ketika mereka merilis album thrashmetal standar ini “Practice What You Preach”. Pada awal 90an, mini metal mendjadi referensi berpengaruh buat saja dan mungkin banjak remadja Indonesia, untuk membeli rekaman band-band metal dunia. Kaset “Practice…” saja pindjam dari adik kelas, jang kebetulan tetangga belakang rumah, dan tembok rumah kami berdampingan bernama Romi. Setelah memindjam dari dia [dan dikembalikan tentu sadja] saja memutuskan untuk membeli kasetnja dan menjatakan diri sebagai penggemar TestamenT tingkat akut. Album ini nampaknja sukses djualannja di tanah air, dan kemudian Aquarius Indonesia rilis album TestamenT terdahulu : The Legacy dan The New Order, dua kaset jang djuga saja beli. Ini adalah tjakram padat bekas Testament buatan USA, saja dapetkan lebih kurang dua tahun lalu atas djasa baik Heron Sugeng Aryadhi. Harganja lupa, kalok ndak salah 50 ribu sadja, ma’lum kondisi sampul sudah kurang baik, djuga keping tak terlalu mulus. tapi masih mantap diputer, dan terutama sekali first pressing alias tjetakan pertama.

Joe Satriani Unstoppable Momentum World Tour 2014; Laporan dari Utrecht

Mengenakan kaos berwarna hitam polos dipadu dengan celana jeans hitam dan sepatu boot kulit berwarna gelap, Satriani menggebrak dengan lagu Jumpin’In yang diambil dari album terbarunya Unstoppable Momentum (2013).

Bercorak bluesy lagu ini berhasil membuat penonton bergoyang setelah sebelumnya setengah terbakar dengan penampilan trio  Raven Eye yang juga tampil memukau.

Nomor baru ini kemudian disambung dengan Devil’s Slide dari album Engines of Creation(2000). Duel gitar Joe dengan Mike Keneally sang second guitarist dan keyboardis menjadi atraksi yang memiliki daya tarik tersendiri. Keneally yang tercatat pernah membantu Steve Vai dan Frank Zappa ini cukup memukau, memberi pondasi pada jerit dan lengking gitar Joe. Continue reading “Joe Satriani Unstoppable Momentum World Tour 2014; Laporan dari Utrecht”

Sofyan Hadi (Guitar, Vox DEATH VOMIT): Tentang Proses Pengerjaan Forging A Legacy dan Jungkir Baliknya Seorang Anak Band

Photo: Manunggal K. Wardaya
Photo: Manunggal K. Wardaya

Sekira sepekan sebelum tanggal rilis resminya pada 25 Agustus 2014, saya berkesempatan mendengar beberapa materi album terbaru Death Vomit, Forging A Legacy. Track pertama yang saya uji dengar adalah Decadence of Life yang kebetulan adalah nomor pembuka album ini. Mencekam, pekat, mistikal, merangsek perlahan, dan menghabisi dengan dingin  tanpa harus membabibuta. Ibarat pembunuh berdarah dingin, Devo, demikian band ini biasa disebut, seakan tak hendak terburu-buru mencincang dan menghabisi. Tempo lagu ini mengingatkan saya akan pola-pola oldschool deathmetal. Kuping saya menangkap ketidaklaziman nan sedap di lagu ini; adanya solo gitar yang melodik menyayat tajam di penghujung lagu. Lead maut tersebut  ternyata adalah petikan Dennis Munoz (Solstice/US) yang didaulat Devo sebagai gitaris tamu. Munoz yang juga berkontribusi pada satu nomor lainnya bertajuk Imposing Decade Remains tak pelak menjadi nilai plus rangkuman karya yang sekian lama ditagih-tagih publik metal pada Devo ini.

Flyer rilis Forging A Legacy 25 Agustus 2014
Flyer rilis Forging A Legacy 25 Agustus 2014

Dua nomor lain yang saya klethak (Jawa: menggigit sesuatu yang keras) Evil Rise dan Murder  mengkonfirmasi; rilisan terbaru band yang telah menghasilkan dua full studio album(masing-masing Eternally Deprecated, 1999 dan The Prophecy, 2006) serta satu DVD (Flames of Hate , 2009) ini memang mematikan. Sembilan (9) lagu didalamnya begitu keras beringas, dikemas secara matang dan terkonsep-terencana. Emosi terartikulasi vokal yang menghantar lirik, berkisah nuansa kejam dalam manifestasi musik yang menghajar terabadi dalam performa sound mantap berjatidiri. Simplisiti tiga piranti yang dirudapaksa dengan kekuatan maksi: bass menggendor, dram yang memberondong hiper ‘dugudugtastas’ serta gitar dan vokal yang saling menggerung dan menggeram. Forging A Legacy, rapsodi muntah kematian! Continue reading “Sofyan Hadi (Guitar, Vox DEATH VOMIT): Tentang Proses Pengerjaan Forging A Legacy dan Jungkir Baliknya Seorang Anak Band”

Edane Tetap Edan

Tidak banyak biduan negeri ini yang bisa melantunkan lirik berbahasa Inggris dengan tak meninggalkan cengkok melayu. Edane, band yang dilahirkan oleh nama besar  gitaris Eet Sjahranie ini beruntung menemukan Ervin Nanzabakrie dan menggamitnya untuk mengisi vokal di album terbaru bertajuk “Edan”. Tak saja baik dalam pronounciation, vokal Ervin yang mampu melantunkan nada-nada tinggi a-la band-band power metal dengan teknik vibrasi dan growl sekaligus terasa amat pas mengisi musik Edane yang masih bertahan dengan corak nu metal. Continue reading “Edane Tetap Edan”

Testament: The Formation of Damnation

Tak berlebihan untuk menobatkan album ini sebagai album metal terbaik tahun 2008. Dirilis oleh Nuclear Blast, The Formation of Damnation adalah formula yang menggelorakan kembali semangat ke seluruh jagad metal yang tengah mengalami lesu darah. Inilah rilisan paling mutakhir Testament, band yang semakin gahar menggempur scene metal justeru dalam seperempat abad rentang karirnya (dibentuk 1983). Bisa jadi anda belum terlahir saat debut The Legacy (1987) dirilis, namun duapuluh satu tahun setelahnya band asal San Fransisco ini justeru semakin keras, semakin dahsyat. Siapapun yang mengikuti betul perjalanan karir Testament sebagai salah satu aktor penting peletak pondasi thrashmetal tentu akan terkagum, terlebih mengingat band-band yang segenerasi dan sekampung dengannya kini justeru lebih banyak kehilangan wibawa daripada decak kagum.

Berisi 10 track, The Formation…bukanlah album yang tercurah dari ide khayali belaka. Menurut Eric Peterson, seperti halnya warga Amerika yang lain mereka hidup dalam alam politik, eksploitasi terhadap alam, keresahan akibat perang. Semuanya mendatangkan ide dalam penulisan lagu dan lirik, meluncur dengan penuh kejujuran. Orang tak perlu mengerti apa makna lirik yang mereka maksud, namun komposisi musik dalam tiap lagu mempunyai bahasa tersendiri yang bisa dipahami apa yang menjadi pesan dalam setiap nomor.

Killing Season misalnya, didedikasikan untuk para prajurit muda yang mesti berperang dan tak ada pilihan lain kecuali membunuh sesama manusia. Testament memang kerap mendapatkan surat elektronik dari serdadu Amerika yang diterjunkan dalam medan perang. Sementara The Evil Has Landed berkisah mengenai menara kembar WTC yang hancur karena serangan terroris, yang hingga sekarang tak sepenuhnya dipercaya sebagai hasil karya Al Qaeda. Continue reading “Testament: The Formation of Damnation”

Interview: Benny Soebardja (The Peels, Sharkmove, Giant Step)

Salah satu dari tiga sampul Piringan Hitam Benny Soebardja terbitan Strawberry Rain, Canada
Sampul Piringan Hitam “Gimme A Piece of Gut Rock” milik Benny Soebardja; Satu dari tiga terbitan ulang album lawas Benny oleh label Strawberry Rain, Canada

Membicarakan dunia musik rock pribumi terkhusus genre progressive rock, orang tak bisa melepaskan diri dari membicarakan dua band fenomenal tanah air Sharkmove dan Giant Step. Keduanya dikenal sebagai pengusung ‘musik rock yang bukan sehari-hari’. Kendati hanya menghasilkan satu album, rilisan Sharkmove Ghede Chokra’s  mendapat pengakuan internasional dengan dirilis kembali dalam format CD dan Piringan Hitam (PH) oleh Shadok, sebuah label berbasis di Jerman.  Sementara Giant Step adalah nama besar dalam musik hingar bingar yang disegani di panggung musik rock 70-an di tanah air.  Tanpa mengecilkan arti dan peran musisi  lain yang pula terlibat di kedua band tadi, Benny Soebardja adalah figur yang memiliki peran sentral sebagai gitaris, vokalis, sekaligus konseptor di balik nama besar keduanya. Lelaki kelahiran Tasikmalaya 1949 ini memang fenomenal. Dalam bermusik, Ia dikenal keras, melaju dengan konsep yang tidak mudah dicerna oleh awam, yang tak komersil. Paruh awal 2012, saya sempat menjumpainya di Den Haag, Belanda tengah sibuk di belakang meja kasir Warung Sate Betawi miliknya yang turut berpartisipasi di ajang Tong Tong Fair, sebuah festival budaya indisch tahunan di negeri kincir itu. Pada awal November 2012 silam saya mewawancarai gitaris veteran ini.  Kurang dari 24 jam setelah wawancara ini berakhir, Benny harus menjalani operasi jantung dan dirawat beberapa hari Rumah Sakit. Berikut petikannya:

Karya anda diapresiasi oleh label Canada Strawberry Rain yang merilis album-album anda dalam format CD dan PH dengan kemasan yang sangat eksklusif. Padahal selama ini karya-karya itu telah lama terkubur dan hanya menjadi rawatan kolektor. Apa komentar anda?

Alhamdulillah ini suatu karunia dari Allah yang patut saya syukuri di saat seluruh hasil karya kami di masa lalu yang nyaris dilupakan tiba tiba ada pemerhati yang notabene bukan berkebangsaan Indonesia memberikan apreasi yang bukan main.  Sungguh saya bangga dan merasa ini adalah pencapaian yang maksimal selama saya menjalani perjalanan musik Continue reading “Interview: Benny Soebardja (The Peels, Sharkmove, Giant Step)”