Si Roh

Pengantar:  Cerita Pendek ini pernah dimuat di situs Cybersastra.net pada tahun 2002.  Kisah ini walau diambil dari berbagai amatan empirik, bukanlah kisah pribadi, semata dari daya khayali.

Orang desa memanggilnya dengan Si Roh. Siapa nama lengkapnya aku sendiri tak tahu pasti. Barangkali Rohayah, Rohmah atau Rohani? Entahlah. Aku benar-benar tak tahu.

Memang benar ia adalah kawan sepermainanku di kala kecil, dan aku memanggilnya sama dengan orang tuanya memanggil : Roh, Si Roh. Kami sering bermain di pematang sawah, mencari keong-keong emas. Roh kecil sering kubuat menangis karena kenakalanku merebut keong emas yang telah dikumpulkannya.

Pertemanan kami tak berlangsung lama. Sejak usia enam tahun, ia telah mengikuti pamannya di Jakarta. Yang kuingat, saat berpisah dengannya, aku begitu kecewa dan sedih. Bisa dikatakan Roh adalah satu-satunya teman permainanku. Tidak seperti para orangtua lainnya di desa, Emak dan Bapak melarangku bermain terlalu jauh dari rumah.

Bermain dengan Roh aku tak pernah dilarang. Mungkin karena rumahnya tak berapa jauh dari rumahku, hanya terpisah kandang sapi Pak Muslim. Continue reading “Si Roh”

Advertisements

Suatu Sore di Sebuah Setasiun

Pengantar:  

Suatu Sore di Sebuah Setasiun adalah salah satu dari beberapa karya cerita pendek  saya yang dimuat di majalah OZIP, Melbourne, Australia pada Desember 2004. Saya telah kehilangan soft copy cerpen ini dalam format MS Word. Di bawah ini adalah scan document dalam format JPG. Untuk membacanya, silakan klik pada masing masing halaman di bawah untuk mendapatkan tampilan yang lebih besar . Download cerpen ini dalam format PDF.


Suatu Sore Di Sebuah Setasiun Part 1

Suatu Sore Di Sebuah Setasiun Part 2

Selamat Jalan Purnomo

Pengantar: Cerpen ini adalah karya yang saya buat di awal-awal tahun percobaan menulis sastra bergenre Cerita Pendek. Saya mengirimkan karya ini untuk diikutkan dalam kompetisi menulis Cerpen yang diadakan Yayasan Citra Kasih. Cerpen ini terpilih sebagai salah satu pemenangnya dan kemudian dibukukan bersama cerpen terpilih lainnya dalam kompilasi cerpen: Metamorfosa Cicak di Atas Peta (2003)

 

Hari ini tepat satu bulan aku tinggal di rumah kost yang baru, sebuah rumah kecil tipe 21. Aku terpaksa mengontrak kamar, karena perusahaan farmasi tempatku bekerja, menempatkanku di kota kabupaten ini untuk memasarkan obat-obatan. Teman dan famili di kota ini aku samasekali tak punya. Mengontrak kamar kos oleh karenanya adalah satu-satunya pilihan.

Ibu pemilik rumah yang baik dan anak-anaknya yang lucu membuatku cepat kerasan tinggal di sini. Aku seperti merasa di rumah sendiri, seolah bersama ayah, ibu dan adik kecilku yang nakal. Sedikit banyak kerinduanku pada keluarga terobati dengan bercanda ria bersama mereka.

Aku pun menganggap rumah itu seperti rumah sendiri. Tak jarang aku ikut mengepel, membersihkan perabot rumah. Pendeknya aku sangat merasa nyaman tinggal di rumah yang sangat kecil akan tetapi menyenangkan ini.

Akan tetapi ada satu hal yang pada awalnya membuatku merasa risih dan terganggu. Pagi hari, tepatnya pagi di hari kedua aku menempati kamar kost, saat hendak berangkat bekerja aku dikejutkan oleh suara seorang lelaki.

Ia bukan penghuni rumah, bukan pula warga sekitar perumahan. Ia adalah orang gila. Kukatakan gila karena dari penampilannya, lelaki itu memang tampak seperti orang tidak waras. Dilihat dari pakaiannya yang berlubang di sana sini dan kulit yang nampak jarang tersentuh air serta pandangannya yang kosong, tak salah lagi kalau dia memang orang gila.

Pertama kali ia menyapaku di hari kedua itu, aku baru saja hendak menstarter sepedamotor untuk berangkat bekerja. Saat itulah ia memanggilku : Continue reading “Selamat Jalan Purnomo”

Senjahari di Jembatan Wiramandiri

Pengantar: Cerita Pendek ini pernah dimuat di majalah OZIP, sebuah majalah berbahasa Indonesia berbasis di Melbourne, Australia


Jembatan itu berdiri kokoh, membentang di atas aliran irigasi desa Wira Mandiri. Tenang dan gagah , setenang air yang mengalir dibawahnya. Dan air yang mengalir di bawahnya itu bukan sungai, hanya saluran irigasi. Dikarenakan hanya saluran irigasi itulah ada kalanya air mengalir deras, dan sering pula saluran kering tak berair. Semua tergantung dari petugas pengatur air, sang penguasa saluran. Dan jika air mengalir deras, semua yang tadinya terdampar di dasar sungai menjadi terhanyutkan: batang pohon pisang, daun-daun tua nan coklat dari pohon-pohon sepanjang saluran itu, tas plastik bekas, pembalut wanita, dan kotoran manusia. Dan jika air irigasi mengalir, maka senanglah para ibu di desa, karena itu berarti saat membuang sampah telah tiba. Jika sungai itu kering tak terairi, akan terlihatlah batu-batu besar kecil, pecahan kaca, botol-botol kecap bekas, pecahan ember dan banyak lagi di dasarnya. Dan di situ pulalah, dekat jembatan itu, kerbau-kerbau biasa mandi berkubang di waktu sore. Dan dekat jembatan itu pulalah pantat-pantat bayi desa biasa direndamkan dan dibasuh orang tua mereka jika kencing atau berhajat besar. Dan seperti nasib kebanyakan warga Wiramandiri, terkadang air irigasi yang mengalir keruh, terkadang sedikit bening, namun tak pernah sekali-kali benar-benar jernih.

Continue reading “Senjahari di Jembatan Wiramandiri”