Museum Sepedha Velorama, Nijmegen Belanda

Tulisan ini adalah versi unedited artikel yang saya tulis untuk majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat, dan dimuat di Edisi 8, tanggal 21 Februari 2015. 

cover majalah PS paling grezzzzz.....Museum Sepedha Velorama Nijmegen BelandaBelanda ora mung kawentar merga kembang tulip, kincir angin, utawa keju-ne. Negeri sing luas wilayah-e ora nganti separone Pulau Jawa iki uga kondang merga masyarakat-e gemar bersepeda. Sepeda, utawa basa Landa-ne ‘fiets’ (diserap nang Basa Jawa dadi ‘pit’) dinggo kegiatan sehari-hari; mangkat mulih nyambut gawe, sekolah, belanja, nganti nggo ater-ater barang kaya Pizza lan Burger. Tukang Pos nang Belanda uga isih nganggo sepeda, kaya nang Indonesia tahun 1980-an.  Cacahe sepeda nang negara sing tau njajah Indonesia iki dipercaya luwih akeh tinimbang jumlah penduduke dhewe. Ora  gumun, Negara Kerajaan iki nyandang julukan the World’s Bike Capital, utawa Ibukota Sepeda Sedunia.

Merek-merek sepeda nang Belanda macem-macem kaya Gazelle, Fongers, Simplex lan Batavus. Merek-merek kuwi nang Indonesia dadi inceran kolektor. Samsaya tua sepeda samsaya larang regane. Ning Negeri Belanda dhewe merek-merek sing kasebat  mau ana sing isih bertahan, ananging akeh uga sing wis suwe ora produksi, utawane tutup usaha. Merek Gazelle lan Batavus misale, isih diproduksi lan dadi tumpakane uwong nganti saiki. Fongers, Junckers, Simplex wis ora diproduksi.

Dasar negara sepeda, nang Negeri Belanda uga ditemoni museum sing khusus nyimpen aneka kendaraan sing dikenal bebas polusi lan agawe sehat sing nganggo iki. Museum kuwi diwenehi jeneng Velorama. Panggone? nang Nijmegen, kota ora patia gede nang Provinsi Gelderland, Belanda sisih wetan. Saka Amsterdam, kutha sing ora patia dikenal nang Indonesia iki isa ditempuh numpak kereta api cepat kira-kira 1,5 jam perjalanan. Continue reading “Museum Sepedha Velorama, Nijmegen Belanda”

Advertisements

Singa Emas dari Eindhoven; Gouden Leeuw

1501313_10152761465158823_386424664235458323_oEntah mengapa begitu pertama kali melihat penampakannya, hati menjadi asih dan dengan segera ingin memilikinya.  Sebuah kereta angin berwarna hitam, zwartefiets yang dari penampilan fisiknya saja menunjukkan bahwa ini sepeda bukan keluaran kemarin hari. Tanpa negosiasi yang berbelit  sepeda ini akhirnya jatuh ke tanganku dari seorang pecinta sepeda di Rijswijk. Mara Dona, kawan dosen Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang tengah menempuh studi di Erasmus University berbaik hati menjemputnya untukku di Rijswijk, dalam perjalanannya    berkereta api  dari Rotterdam ke kota tinggalku, Nijmegen.

Gouden Leeuw merek sepeda ini, merek yang asing lagi aneh di telinga dan benak yang sebelumnya terjejali berbagai merek sepeda keluaran Belanda seperti Gazelle, Fongers, Simplex maupun Batavus. Gouden Leeuw  dalam bahasa Belanda bermakna Singa Emas, atau Golden Lion dalam bahasa Inggris. Menilik dari namanya, dapat diduga bahwa Gouden Leeuw mengambil nama  binatang Singa yang menjadi lambang Kerajaan Belanda. Dan sebagaimana perawakan singa, penampilan sepeda pria (herenfiets) ini memanglah gagah, tegap dan kokoh.

glmetHasil penelusuran menunjukkan bahwa sepeda ini adalah keluaran pabrikan sepeda Eindhoven, kota industri yang menjadi headquarter Philips, sebuah bran elektronika terkemuka di Belanda. Dibandingkan dengan merek-merek yang telah disebut di atas, Gouden Leeuw memang tidak terdengar. Aku menduga hal ini karena dahulunya merek ini tak diekspor ke Hindia Belanda seperti halnya Fongers maupun Gazelle. Sang penjual mengatakan padaku bahwa perusahaan sepeda ini telah tutup usaha pada tengah 60-an. Sekira satu dasawarsa kemudian, merek Gouden Leeuw dibeli oleh bekas karyawannya yang membuka usaha sepeda. Merek ini hingga kini masih eksis.

Continue reading “Singa Emas dari Eindhoven; Gouden Leeuw”

Dedikasi Pekerja Seni

Menjadi artist dalam maknanja sebagai orang seni itu panggilan kemanusiaan. ia bisa mewudjud dalam banjak hal : tulis, rupa, suara, kata, bebunjian, imadji en lain lain bentuk. ia menjala dan berarti dengan dedikasi dan keinginan memberi. seni, sebagaimana dikatakan guruh soekarno putra, memperhalus rasaFoto: WIdarno, peniup seruling Dusun Klebakan, Desa Soropadan, Kec. Pringsurat, Kab. Temanggung
Menjadi artist dalam maknanja sebagai orang seni itu panggilan kemanusiaan. ia bisa mewudjud dalam banjak hal : tulis, rupa, suara, kata, bebunjian, imadji en lain lain bentuk. ia menjala dan berarti dengan dedikasi dan keinginan memberi. seni, sebagaimana dikatakan guruh soekarno putra, memperhalus rasa
Foto: WIdarno, peniup seruling Dusun Klebakan, Desa Soropadan, Kec. Pringsurat, Kab. Temanggung

Koningin Emma School

Koningin Emma School Surabaya. Sumber Foto: Tropen Museum Amsterdam
Koningin Emma School Surabaya. Sumber Foto: Tropen Museum Amsterdam

Salah satu ratu Belanda yang aku hapal betul namanya adalah ratu Emma. Ini karena namanya diabadikan menjadi nama sekolah di Hindia Belanda alias Indonesia pada masa penjajahan. Dan nenekku, Siti Nardijah, adalah salah satu muridnya. Ini kuketahui dari kakekku, Soekandar Wignjosoebroto yang pernah kutanyai apakah Nenekku itu bisa baca tulis. Kakekkku menjawab bahwa ia, nenekku itu, tentu bisa baca tulis, karena ia alumni K.E.S. singkatan dari Koningin Ema School, alias Sekolah Ratu Emma. Pertanyaan dalam surat di tengah 80-an itu kuajukan karena nenekku tak pernah berkirim surat padaku.

Di negeri Belanda, aku berkesempatan menemukan salah satu foto KES di Surabaya. Di Facebook aku post dengan narasi berikut:

Wektu ku ketjil, hobiku berkirim surat pada Kakekku, Soekandar Wignjosoebroto (1902-1988), seorang pensiunan tata usaha Djawatan Kereta Api, jang telah merintis karir sedjak era Staatpoorwegen. Surat-suratnja hingga kini mingsi kusimpan. Padanja pernah kubertanja, kenapa Nenekku (Nardijah Wignjosoebroto) tak pernah berkirim surat padaku? Apakah dia tak bisa batja tulis? Kakekku mendjawab lewat surat: tentu bisa, dia dulu sekolah di Koiningin Emma School (KES), Solo. Dan ini kutemukan djuga arsip di Tropen Museum Amsterdam, sekolah KES itu, tapi di Surabaja (KES Solo sajangnja tidak ada dokumentasinja). Ini foto bertahun 1939, saat dia, Nenekku itu sudah pasti tak lagi djadi murid KES. Continue reading “Koningin Emma School”