Category Archives: Sejarah Musik Indonesia

Relief Dara Puspita

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2015

Surabaya, Pantai Pattaya, Mari-mari,  A Go Go. Itulah beberapa judul lagu yang pada umumnya akan secara spontan disebutkan orang manakala diingatkan akan nama Dara Puspita. Tak salah karena kesemuanya memang lagu-lagu milik  Darpus yang direkam dan pula populer di tahun 1960-an silam. Dalam sejarahnya, empat album penuh dihasilkan oleh band perempuan ini masing-masing Jang Pertama (1965), disusul kemudian Volume II, Green Green Grass (1967) dan A Go Go (1968). Kecuali A Go Go yang diambilkan dari album yang bertajuk sama, kesemua lagu di atas berada dalam debut Jang Pertama. Lagu A Go Go yang berbeat riang itu belakangan hari kembali dikenal di  kalangan anak muda terutama setelah dicover oleh Empat Lima, band asal Melbourne Australia yang sebagaimana Darpus, keseluruhan personilnya juga perempuan. Sementara itu lagu Mari-Mari gubahan Titiek Puspa itu beberapa tahun terakhir sempat kembali muncul ke permukaan manakala dibawakan oleh David Naif. Di luar lagu-lagu itu, orang terutama generasi kini dapat dikatakan tak mengenal lagu-lagu Darpus. Mengapa demikian?

12087436_10204748802220262_25713346_nTak seperti band Indonesia lama seperti Koes Plus, Panbers, maupun Mercys, album-album Darpus yang aslinya kesemuanya dirilis dalam format piringan hitam itu tak mengalami rilis ulang seperti dalam berbagai album kompilasi. Memang pada 1970-an beberapa label seperti Disco Records maupun Akurama Records sempat merilis album campuran lagu-lagu Darpus dalam format kaset. Namun seiring dengan berlalunya waktu rilisan itu hanya menjadi barang yang dimiliki kolektor. Sementara itu rilis ulang beberapa tahun terakhir dilakukan oleh label luar negeri seperti Sublime Frequencies (Amerika) maupun Groovie Records (Portugal) yang selain diedarkan dalam jumlah yang amat terbatas juga lebih menyasar audiens di luar Indonesia. Manakala sampai di Indonesia, dapat ditebak, harga jual album-album itu cukup tinggi.   Tutup bukunya label  yang menaunginya seperti Dimita dan Elshinta membuat rilis ulang album-album Darpus menjadi persoalan tersendiri. Darpus bukan Koes Plus yang lagu-lagunya, setidaknya di era Remaco, masih dirilis dan dapat dinikmati generasi kini walau di tengah penjualan rekaman fisik yang semakin lesu. Tak heran, walau pernah begitu jaya pada masanya di paruh akhir 1960an, lagu-lagu Darpus seakan tenggelam seiring dengan berjalannya waktu. Satu-satunya hal yang membuat Darpus masih dapat terlacak oleh mereka yang meminatinya adalah teknologi internet yang memungkinkan orang berbagi file, termasuk lagu-lagu Darpus melalui kanal Youtube misalnya. Continue reading Relief Dara Puspita