Sepeda Tua Original?

$_85 (2)
Gazelle 1939 koleksi pribadi. Sepeda ini aku beli di kawasan Utrecht, Belanda. Kondisinya relatif apa adanya dengan sadel Lepper yang berkarat pada besi-besi rangkanya dan cat frame yang aseli dan masih nyaris utuh kesemuanya. Lampu yang ada di depan oleh pemilik sebelumnya dipasang/diletakkan di samping bersebelahan dengan dinamo. Orisinalkah?

Pada 9 Februari 2015 dalam group FB Oude Fiets Indonesia dilontarkan wacana mengenai apa yang dimaksud dengan sepeda yang original itu. Aku termasuk salah satu member group yang  menjawab sebagai berikut

Translasi harfiah original (Inggris) ke dalam bahasa Indonesia adalah asli. Dalam bahasa Belanda ia diserap sebagai origineel, yang juga kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia sebagai orisinil. The Free Dictionary menyebut original sebagai A first form or model from which others are made or develope . Beranjak dari situ, sebuah onthel bisa dimaknai secara sempit sebagai sebuah sepeda yang asli/orisinil jika ia dalam keadaan utuh dari pembuatan dan perakitannya, tanpa pernah diganti apapun bagian tubuhnya, sekalipun dengan suku cadang dari model yang sama. Juga dikatakan asli dalam pemahaman ini adalah kondisi sepeda yang tak pernah mengalami modifikasi pada fisik semisal dilubangi, ditambahi aksesoris, ataupun dilakukan restorasi seperti pengecatan ulang. Pemahaman seperti ini menghendaki bahwa sekalipun sebuah sepeda memakai suku cadang yang dikanibalkan dari sepeda lain atau telah mengalami pengecatan ulang, sepeda itu tak akan dapat terbilang sebagai sepeda yang original. Continue reading “Sepeda Tua Original?”

Advertisements

Mengapa Koes Plus Tetap Digemari?

Akun FB Wina untung pada 29 Agustus menulis pada Group FB Obrolan Seputar Koes Plus (OSK) sebagai berikut:

Kita dulu mengenal penyanyi cilik a.n Chica Koeswojo, adi Bing Slamet, Joan tanama, Fitria elvy suksesi, Joshua,Agnes Monica dll, TETAPI setelah mereka besar menjadi dewasa seolah olah tenggelam/ hilang begitu saja ( kecuali Agnes Monica ), TETAPI mengapa Koes plus/ bersaudara kok masih eksis dan lagu2 nya masih digandrungi oleh masyarakat sampai saat ini. Adakah teman tahu alasannya?

Terhadap posting tersebut, beragam komentar muncul. Saya  sendiri menulis :

Agak sukar djuga sih pak membandingkan penjanji tjilik dengan Koes Bers/Plus jang notabene bukan penjanji tjilik. Hemat saja sih, pembandingnja band sedjenis semisal The Mercys atau Pandjaitan Bersaudara atau The Rollies. Tapi tak mengapa. Nah mengapa masih digandrungi. Alasan jang banjak terdengar adalah: lirik sederhana, lagu sederhana, sehingga mudah ditjerna masjarakat. Saja tak selalu sepenuhnja setudju dengan alasan classic ini. Buwat saja: kesederhanaan Koes Plus itu rumit lho. Djangan lupa ‘tantangan’ Koestono aka Tonny Koeswojo ketika ditjibir sebagai musik tiga djurus oleh media. Ia berkata: “Tjoba anda buwat musik tiga djurus, en lihat apakah masjarakat akan menggemari musik anda”. Djawaban/reactie jang dahsjat, membuwat orang berfikir ulang: “Ija ja, apa bener sederhana?” aneka band tjoba muntjul : Hasta Nada, Dedelan, Elastha, Manfills, dll jang mentjoba resep itu: tiga djurus ‘sederhana’. En tapi toch tidak ada jang melegenda en abadi seabadi Koes. They were all left and forgotten! Saja inget Ahmad Dhani pernah berkomentar tentang musik2 Dewa gubahannja. Dia mengatakan, bahwa musik2 Dewa di masa lalu jang dipudji kritikus (karena jazzy, rumit dsb) itu sebenernja musik ‘gampangan’. Musik mainan! Nah, musik Dewa/Dhani jang kini dibilang katjangan, gampangan itu djusteru jang dikatakannja rumit dan susah. Tingkat tinggi. Saja pertjaja omongan Ahmad Dhani mengingat kapasitasnja sebagai composer hebat. Saja kira, ini djuga jang saja rasakan di lagu2 Koes: bukan sederhana, tapi tingkat tinggi! Alasan lain jang dikemukakan untuk mendjawab mengapa musik Koes abadi adalah bahwa setjara objektief, lirik KBP njambung, komunikatif dengan masjarakat. Mereka misalnja menggunakan bahasa Ibu (bahasa Djawa) dalam menjampaikan pesan. Simak “Djamane Aku, Djaman Sikil ‘ra Njepatu. Djamane Kowe, Djaman sikil ‘ra tau Mlaku”. Lugu, lugas, lutju, tapi memang begitu! Pesan begitu mudah tertangkap. Apa jang mereka tuang dalam musik sebagai thema adalah realiteit: kenjataan sehari-hari di masjarakat. Masjarakat seolah melihat diri sendiri dalam lagu Koes: Pendeknja: Koes membuwat masjarakat menjanjikan kehidupannja sendiri: baik pahit, manis maupun getir. Ini tak semua band mampu membikin tema jang membumi. Terachir, saja melihat ada faktor X jang tak bisa didjelaskan dengan rasio. Ada daja tarik, ada pesona dalam segenap aksi en performa Koes en para awaknja. Ambil tjontoh figur Koestono. Ia amat ikonik, charming, bahkan foto dirinja sudah bitjara banjak, sebagaimana kita melihat icon Bob Marley atau Che Guevara. Subjektief memang, akan tetapi subjektifitas jang anehnja menghinggapi begitu banjak kepala warga bangsa ini, bahkan dunia. En kalau sudah begini, rasanja tak berlebihan untuk mengatakan bahwa Koes en segenap karja musiknja adalah pemberian Jang Maha Kuwasa untuk tak sadja peradaban bangsa ini, tapi pula untuk peradaban dunia.

Totok A.R. dan Kasmuri: Lebih Dahulu Siapa?

Akun FB Muhammad Rofiq (MR) pada 17 Agustus 2013 mengupload potongan foto Tabloid Bintang Indonesia di Group Facebook Obrolan Seputar Koes Plus (OSK). Menurutnya, artikel tersebut mengindikasikan bahwa Kasmuri alias Murry Koes Plus lebih dahulu ada daripada Totok AR. Potongan berita/artikel di tabloid itu adalah antitesis yang ditawarkan MR atas  argumen saya  bahwa Totok AR tidak saja Plus di tubuh Koes Plus, bahkan ia lebih dahulu ada di Koes Plus daripada Kasmuri. Ia menulis:
Murry gabung duluan kan? Tabloid Bintang 1993

Akun FB Ade Tejanegara (AT) menimpali:
Dengan demikian menguatkan dugaan kalau Murry adalah Plusnya Koes Plus. Bukan yang lain.

Terhadap posting ini dan terutama pada AT, saya memberi respon sebagai berikut:

Ini soal duluan mana di KOES PLUS, bukan soal satu satunja di PLUS atau bukan broer Ade Tejanegara. Dari tabloid BI di atas Muhammad Rofiq menjimpulkan bahwa Kasmuri masuk duluan. Hna, kalo saja korek dari Totok AR sih Kasmuri belakangan. Klaim Totok AR: doski jang rekomendasi Kasmuri ke Koestono! Saja koreknja tanja langsung ke Totok AR, pake interview, bukan ngigau, gak ngarang-ngarang, bukan denger denger, bukan batja batja darimana lupa. Kalau ngarang, jang ngarang ja Totok AR, en berarti dia bo’ong kalau bilang dia masuk duluan (en kalo gitu silakan aza gugat doski, djangan saja). Saja sih enggak harus pertjaja BINTANG INDONESIA (kalau broer Rofiq langsung pertjaja, malah kajaknja pertjaja semua di BI ini, ehehehe). Tjuma saja djuga heran, dari kalimat mana di foto di atas bisa diklaiim bahwa Kasmuri masuk duluan? kalimat jang mana?? Menurut saja itu tulisan tabloid djuga sama aza dengan sedjarah Koes mainstream lainnja : tjeroboh soal Totok AR. Gag bener tuh latian ama dua adiknja, tapi latian sama satu adiknja (jakni Koesjono) dan Totok AR. Gitju Continue reading “Totok A.R. dan Kasmuri: Lebih Dahulu Siapa?”

Ketika Sejarah Totok A.R dalam Keanggotaan Koes Plus Dipertanyakan

Pada 20 Agustus 2013, akun FB Ade Tejenegara (AT) mengupload foto tulisan mengenai Koes Bersaudara dan Koes Plus di Group Facebook Obrolan Seputar Koes Plus (OSK). Pada intinya, tulisan milik Remy Silado yang diuploadnya itu berkisah soal sejarah terbentuknya Koes Plus yang tanpa menyebut sedikitpun soal Totok AR di dalamnya. Ia menulis :

Cuplikan tulisan tetangga saya Bung Remy Sylado dalam bukunya A-Z Musisi Indonesia yang menyinggung tentang Koes Plus. Aneh nama Totok AR kenapa tidak ditulis?

Atas upload AT tersebut, akun FB Ferry Raya menulis singkat:

Berarti Remy juga kurang teliti

Saya yang pula pernah menulis sejarah singkat Koes Bersaudara dan Koes Plus dengan meyebut nama Totok AR di dalamnya kemudian memberi komentar:

Tipikal sedjarah mainstream Koes..
Nah, mau pertjaja Remmy Sylado apa MKW? Kalo MKW ada Totok AR nja. En FYI, Remmy ini kalau saja tak silap, tercatat pernah komentar miring atas musik Koes. Betul bgitu kan mas Wasis Susilo?

AT membalas sebagai berikut:

Saya pengen melihat bukti kalau Adinda MKW pernah wawancara dengan Totok AR. Silakan aplod videonya seperti waktu wawancara dengan Lies AR. Kalau percaya kepada salah seorang atau bahkan keduanya musrik dong. Saya hanya ingin melihat bukti dulu baru bisa menentukan sikap. Continue reading “Ketika Sejarah Totok A.R dalam Keanggotaan Koes Plus Dipertanyakan”

Murry Tak Selalu “Plus”

Dalam sejarah musik Koes Bersaudara/Koes Plus, ternyata nama Koes Bersaudara pernah digunakan untuk formasi band dimana salah satu anggotanya bukanlah berasal dari dinasti Koeswoyo. Uniknya, salah satu anggota non-Koeswoyo itu adalah figur lama, yakni Kasmuri alias Murry.  Album Country Pop yang dirilis pada 1988 adalah buktinya. Di sampul depan album tersebut tertulis jelas KOES BERSAUDARA. Mengenai hal ini saya menuliskan di Group Obrolan Seputar Koes Plus (OSK) sebagai berikut:

Koes Bersaudara adalah band dengan anggotanja empat pemuda bersaudara anak-anak Koeswojo bernama depan Koes [Koestono, Koesrojo, Koesjono, Koesnomo]. Tapi, ini sebenarnja adalah Koes Bersaudara Mark II, karena Mark I ada satu lagi Koesdjono (Djon) jang kemudian keluar. Tapi (lagi-lagi tapi) sedjarah membuktikan bahwa Koes Bersaudara djuga pernah berisi anggota di luar dinasti Koes, figur jang tak asing lagi jakni Kasmuri. Anehnja, walau Kasmuri sebenarnja adalah salah satu Plus di dalam Koes Plus, namun ketika Koesnomo masuk formasi band (sepeninggal Koestono pad 1987), nama band Koes Plus djadi Koes Bersaudara. Sampul kaset ini adalah buktinja. Hemat saja, band dengan keanggotaan Koesjono, Koesrojo, Koesnomo dan Kasmuri sebagaimana dalam album COUNTRY POP ini namanja semestinja tetep Koes Plus. Ada kesan jang tertangkap dari sampul kaset ini, bahwa ada tidaknja Koesnomo djadi faktor jang amat menentukan nama band: apakah Bersaudara apakah Plus. Djadi walau ada anggota di luar Koeswojo, tetep aza nama band djadi Koes Bersaudara. Bisa djadi ini mau mereka sendiri, bisa djadi ini sekedar perkara dagangan kaset/album. Ja embuh, saja enggak tahu. Jang pasti, retorika lama pun membisik nakal: apalah arti sebuah nama???

Beberapa akun FB memberi jempol tanda suka, dan beberapa menulis singkat memuji posting saya itu. Adit DPlus menulis sebagai berikut: Continue reading “Murry Tak Selalu “Plus””

Dara Puspita dan Koes Bersaudara: Lebih Populer Siapa?

Dara Puspita kika: Susy Nander (drums), Titiek Hamzah (bass, vocal), Lies A.R. (rhythm guitar, vocal), Titiek A.R. (lead guitar, vocal). Foto ini diambil dalam kesempatan mereka tampil di aneka kelab musik di Paris 1971
Dara Puspita kika: Susy Nander (drums), Titiek Hamzah (bass, vocal), Lies A.R. (rhythm guitar, vocal), Titiek A.R. (lead guitar, vocal). Foto ini diambil dalam kesempatan mereka tampil di aneka kelab musik di Paris 1971

Melalui posting di di Group FB Obrolan Seputar Koes , group yang menjadi wadah penggemar Koes Plus/Koes Bersaudara akun FB Ade Tejanegara (AT) memposting thread yang membandingkan Koes Plus dan Dara Puspita (Darpus). Intinya, posting bertanggal 13 Agustus 2013 tersebut mengkomparasikan Dara Puspita yang seakan tenggelam tiada kabar, sementara Koes Plus tetap jaya. Padahal, klaim thread tersebut, keduanya adalah band seangkatan.   Lebih lanjut Ade mengklaim bahwa kepopuleran Darpus di  luar negeri tidak ada artinya kalau di dalam negeri tidak populer, atau dengan kata lain tenggelam di bawah nama Koes Plus. “Miris sekali”, demikian kalimat penutup thread tersebut, suatu ekspresi yang terkesan memandang rendah pada Darpus.

Perbandingan kedua band itu, Koes Plus dan Darpus buat telinga saya yang lahir jauh setelah masa jaya kedua band tersebut sebenarnya sama sekali bukan hal baru, dan nada fanatisme (terhadap Koes Plus) seperti itu pula hal usang bagi saya. Namun, sebagai pribadi yang menaruh minat atas sejarah perjalanan kedua band tersebut, klaim Ade Tejanegara tersebut layak dikritisi semata agar sejarah bisa ditelaah dan diresapi tanpa distorsi. Dan mumpung ada libur lebaran, maka inilah tanggapan yang bisa saya susun dan berikan: Continue reading “Dara Puspita dan Koes Bersaudara: Lebih Populer Siapa?”

Tentang CD Pink Floyd LP Replica dan Pengalaman Berburu CD serta PH di Luar Negeri

Pengantar: Akun FB Wira Penggemar Led Zeppelin menanyakan pada saya mengenai CD LP Replica di Group Facebook “More”. Saya mengungggah gambar CD Pink Floyd saya dimana beberapa diantaranya adalah LP replica. Terjadi dialog kemudian seperti ini:

Dalam gambar beberapa CD Floyd saya, nah kalau liat di deretan atas (Obscured by Clouds, Atom Heart Mother, Gates at the Piper kemudian di tengah (keculi Ummagumma yg paling kanan) adalah LP Replica.
Ini perjuangan dapatnya cukup lucu juga, karena waktu saya tinggal di Melbourne, saya kebetulan satu kos dengan dosen Univ Pendidikan Indonesia (namanya Dadang Sudana, bisa dicari di FB, gak begitu aktif tapi), dan dia ternyata mania classic rock & CD. Aneka CD Floyd itu kita buru, beli satu satu scr nyicil (maklum perhitungan duit). Kadang di satu rec store deket rumah, kadang dapat di kota. Tapi intinya CD Floyd Japan LP replica itu kita yang ambili. Uniknya selain ada OBI (kertas samping itu) LP replica ini kemasannya dibuat layaknya LP (Long Play, piringan hitam) aslinya. Atom Heart Mother misalnya, itu Gatefold LP, jadi cover CDnya juga pakai kertas karton superkeras seolah LP mini dan Gatefold. Cover ‘bisa dibuka’ ada gambar dan tulisan sebagaimana LP aslinya. CD bahkan dikasih plastik bunder persis sperti keping PH yang biasanya memang ada plastik atau kertas pelindungnya, dan disimpan dengan cara diselipkan di salah satu sisi cover. Memang kudu ati2 masukkannya, salah2 bisa gores. Tapi The Dark Side of The Moon, The Wall, saya enggak dapatkan, udah kebutu diambil orang, maklum album sejuta umat. Juga Meddle itu saya akhirnya beli yang Jewel. Enggak kebagian. Ummagumma juga Jewel. Sekian kisah,. Continue reading “Tentang CD Pink Floyd LP Replica dan Pengalaman Berburu CD serta PH di Luar Negeri”