Obrolan Soal Buku Musisiku KPMI

Foto: Widi Harrelson, diambil dari Group Facebook AKTUIL THE LEGEND
Foto: Widi Harrelson, diambil dari Group Facebook AKTUIL THE LEGEND

Akun Facebook (FB) Widi Harrelson pada Senin 17 Desember memposting foto dua buku Musisiku 1 & 2 di Group Aktuil The Legend. Foto tersebut dilengkapi dengan tulisan pendek dia:

Buku yang wajib di miliki …

Ada beberapa komentar singkat yang pada intinya memuji keberadaan buku itu. Tombol “like” pada posting tersebut bertambah banyak hingga akun FB Diens Marantika memberi komentar dengan pertanyaan sebagai berikut:

Maaf mau tanya nih…saya dengar2 bahwa buku MUSISIKU jilid 1 ini kabarnya dulu heboh ya soal gonjang ganjing ??? dan apakah buku MUSISIKU jilid 2 juga seheboh jilid 1 ??? MOHON di jelaskan barang kali ada yg tahu….

Sebetulnya tidak jelas benar apa sebetulnya yang dimaksud oleh Diens Marantika dengan “gonjang-ganjing”  dan “heboh” itu. Akun FB Roi Rahmanto memberi komentar sebagai berikut:

Mungkin sebaiknya sdr Jose Choa perlu menjelaskan masalah adanya musisi yg tdk nyaman krn ada penulisan yg tdk sesuai, bahkan musisi senior Titik Hamzah Darpus sampai naik pitam, gimana tuh ceritanya…

Karena persoalan mengenai isi buku dan kaitannya dengan naik pitamnya Titik Hamzah Darpus disebutkan sebagai respon atas pertanyaan “gonjang-ganjing”, saya merasa perlu memberikan tautan link polemik yang pernah terjadi antara saya dan akun Multiply (MP) atas nama Zay di Situs Multiply beberapa tahun silam. Hal ini karena ketidakpuasan, kemarahan, atau bahkan diistilahkan dengan “naik pitam” nya Titik Hamzah terkait langsung dengan tulisan soal Dara Puspita yang saya buat di buku Musisiku itu. Komentar saya berbunyi sebagai berikut:

Kalau minat batja, mungkin link di bawah ini bisa sekedar menjelaskan apa yang dipertanyakan di atas:https://nadatjerita.wordpress.com/2009/09/25/polemik-darpus-arsip-musik-indonesia-dan-kpmi/

Saya menyambung lagi dengan komentar:

salah satu highlight dalam tulisan itu: Kalaulah ada kesalahan baik substansial maupun redaksional, bukankah dalam dunia penerbitan segala kekurangan tersebut adalah fenomena wajar yang bisa dikoreksi dengan pembetulan, koreksi atau revisi dalam cetak ulang atau edisi revisi? Continue reading “Obrolan Soal Buku Musisiku KPMI”

Benyamin Suaeb dan Rilis Ulang Musik Indonesia Lama

Kaset Remaco Benyamin Suaeb: Foto milik Nadatjerita.comPada Maret 2009 saya memposting scan cover kaset Pop Indonesia, album dari Benyamin Suaeb, seniman Betawi yang legendaris.

Gambar cover itu tak mendapat reaksi apapun sehingga sekira November 2012 ia kembali muncul di stream Facebook (FB) karena tag saya atas gambar tersebut membuat teman FB menjadi melihatnya kembali. Salah seorang kawan FB dengan akun Andy Ramadani bertanya pada saya soal track list kaset tersebut yang secara spontan saya jawab “lupa”. Akan tetapi kemudian saya menambahkan jawaban sebagai berikut: Continue reading “Benyamin Suaeb dan Rilis Ulang Musik Indonesia Lama”

Rhoma Irama: Figur Seniman Hebat

522572_417530141651769_73402126_nPada 11 Desember 2012, akun FB Prambudi Harinto memposting di Group FB Aktuil The Legend (ATL) mengenai penyanyi dangdut Raden Haji Oma Irama. Posting itu boleh dikata merupakan biografi singkat Rhoma, pimpinan Soneta Group yang pada akhir 2012 diberitakan diusung berbagai partai politik terutama parpol Islam untuk dicalonkan menjadi Presiden RI dalam Pemilu Presiden 2014. Memberi komentar pada posting tersebut, akun FB Risdian Muhamad menanyakan sebagai berikut:

Konon kta’y sblm nyanyi dangdut,pernah ngluarin albm pop. Ap benar Maz Pram?@

Walau pertanyaan itu ditujukan pada pemosting, saya tergelitik untuk memberi jawaban segera. Begini:

Bukan konon, memang benar, dan sudah pernah dibahas di sini. Antaranya bersama Inneke Kusumawati diiringi de Galaxies dbp Jopie Reinhard Item

Prambudi Harinto menambahkan dalam komentarnya:

bang Haji adalah seorang Musisi Besar kita mulai berkarier musik sejak berusia 17 tahun, beliau sudah banyak mengeluarkan album Pop, Melayu, Dangdut… memang benar mas Risdian Muhamad.. seperti tutur kata mas Manunggal K. Wardaya..

Saya menambahkan pula:

Lepas dari kehidupan pribadi dan pandangannya tentang berkesenian yang orang boleh cinta boleh benci (kaya judul album Koes Plus nih) beliau tak terbantahkan lagi adalah figur seniman hebat, bertahan, diterima bahkan karya karya seninya digemari sedemikian luas oleh masyarakat Indonesia.

Rush dan Overekspose Legenda Rock Klasik

59353_415647371840046_1720670796_nPada Jum’at, 8 Desember 2012 akun FB Prambudi Harinto memposting tentang debut album RUSH pada Group FB AKTUIL sebagai berikut:

The Legend RUSH dengan judul album yang sama merupakan album perdana yang direlease pada tanggal 1 Maret 1974.
Inilah satu-satunya album yang melibatkan JOHN RUTSEY sebagai Drummer kemudian digantikan oleh NEIL PEART dalam tour album ini dan album sesudahnya…

Posting yang dilengkapi dengan gambar Floppy Disk 5, 25″ (saya sendiri enggak ngerti apa maknanya) itu memancing cukup banyak komentar, antaranya adalah betapa drummer pertama John Rutsey tidak banyak dikenal, dan dalam sangkaan beberapa member group tidak ada drummer lain selain Neil Peart. Saya menuliskan sebagai berikut:

DVD [bajakan] yang mengisahkan perjalanan RUSH taun taun kemarin banyak beredar. Lumayan jadi masukan mengenai band ini termasuk drummer pertamanya.

Diskusi berlangsung cukup meriah, dengan apresiasi terhadap RUSH yang bertahan lebih lama daripada supergroup lainnya (The Beatles, Led Zeppelin misalnya). Saya menambahkan sebagai berikut:

Saya tertarik dengan statemen Billy Corgan [The Smashing Pumpkins] dalam dokumenter soal RUSH tentang pembahasan musik rock yang terlalu Overekspose atas band band arus utama seperti Led Zeppelin, Deep Purple. The Beatles, dll. Mereka semua itu, jelas Corgan, sudah overexposed. Kebanyakan dibahas, diliput. Tapi mengapa sedikit yang sudi bicarakan RUSH padahal ini band luar biasa? tanya dia, gusar. Statement Corgan adalah sebuah kritik terhadap Media, Kritik pula terhadap Masyarakat pengapresiasi Musik rock. Ini yang kemudian saya gunakan mencermati wacana musik rock klasik tanah air. Kenapa yang dibicarakan itu itu aza? ada banyak band terlupa/tidak diketahui di luar nama nama besar itu. ATL moga menjadi tawarannya, sehingga orang nggak membicarakan Guruh Gipsy terus, melainkan juga Rara Ragadi, Abhama. Tidak melulu rock band yang itu aza, tapi menengok ke Dara Puspita, Teruna Ria. 

Bakso, Soto, dan Remy Sylado

374480_10151173150303285_258019738_nPada 6 Desember 2012, Denny Sakrie (kritikus musik) memposting dalam Group Facebook AKTUIL THE LEGEND (ATL) mengenai Album Folk Rock Vol. 1 milik Remy Sylado Company. Selengkapya postingnya berbunyi demikian:

Kaset Folk Rock Vol.1 dari Remy Sylado Company ini mungkin sudah sulit ditemukan.Kaset yang dirilis di tahun 1975 ini menjadi kaset yang sempat menghebohkan saat itu terutama ketika Remy Sylado menyanyikan kalimat :”Sedangkan Yesus Tuhanku juga mencintai pelacur……..”

Setelah beberapa komentar, muncul komentar dari akun FB Harry Azharry yang berbunyi sebagai berikut:

Remy Sylado,dramawan,kritikus musik (AKA aja dibabat habis dulu,karena ada Rollies di bandung),novelis dan banyak lagi kebisaannya..emang piaway,tapi setelah terjun langsung kemusik dgn keluarnya album ini dipertanyakan apakah sudah piaway juga dlm bermusik,bandingkan dgn karya Guruh Gypsi album Kesepakatan dlm Kepekatan,atau Nyanyian Fajar leo kristi,atau Alam Raya nya Abbhama…

Saya memberi tanggapan terhadap komentar itu sebagai berikut:

Bakso nggak bisa dibandingkan dengan soto. Enak soto atau enak bakso. Guruh Gipsy baik, atau bahkan lebih complicated & technical. leo Kristi dengan akustiknya semangat minimalis, namun perkasa dalam syair dan membawa suasana natural dalam segenap bebunyian yang natural maupun artifisial. Namun album Folk Rock Remy Silado ini terbilang pioneer dalam berlagu dan bersyair yang nggak harus berprosa aaaa, nggak harus pakem dalam berlirik, nggak harus pas dalam ketukan dst. Ekspresif, tak terbelenggu aturan dan anggapan umum akan harmoni dan oleh lirik dan nada. Namun ternyata very enjoyable dan menendang pantat. Spirit ini ditemukan pula dalam (misalnya) Sir Dandy, atau The Panasdalam

Atas tanggapan/komentar saya tersebut, Denny Sakrie menulis :

Waktu saya review album Sir Dandy saya memang membandingkannya dengan sang pendahulu yaitu 23761

Saya menanggapi dengan komentar:

OK Pak, sepemikiran kalau begitu. Saya sendiri belum pernah baca review Bapak soal album Sir Dandy namun saya ada memiliki CDnya, juga The Panasdalam.

Belanda dan Kiblat Musik Indonesia

Dalam Group Facebook (FB) AKTUIL THE LEGEND, pemilik akun FB Gandhi Hadiwitanto pada 1 Desember 2012 memposting tulisan tentang George Baker Selection, sebuah group musik pop Belanda yang pernah amat populer di tanah air pada era 1970-an. Tulisan tersebut dilengkapi dengan foto artikel berbahasa Indonesia mengenai group tersebut berbunyi sbb:

Didirikan oleh Hans Bouwens, grup yang namanya diambil dari cerita detektif ini menjadi grup terlaris di Belanda sejak 1969. Selama 8 tahun tiap rekaman yang dirilis grup ini selalu jadi nomer satu di tangga lagu. Pemain gitarnya, George The, kelahiran Bandung.

Atas posting tersebut saya memberi komentar:

Satu contoh kiblat sosial budaya ke Kerajaan Belanda, dimana kita pernah jadi koloninya. GBS sebenarnya hanya “another band” di sana, selain juga The Cats. Hubungan kedua negara yang masih erat paska Repatriasi lama lama menjadi jauh memasuki 80-an. Kini, setelah koneksi itu semakin memudar bisa dikatakan enggak ada band Holland yang punya gaung di tanah air. Kalaupun ada, semuanya dalam bangunan nostalgia romantisme budaya indis yang tetap membekas: Anneke Gronloh, Tante Lien, Andy Tielman & Tielman Bros, D. Sahuleka dst dst

Akun FB Adi Speed memberi tanggapan atas kometar saya:

@ Pak Manunggal K, ada pak band2 belanda yang go internasional dan cukup terkenal Di indonesia saat ini, al: Within Temptation ( dutch symphonic metal / rock ) dan AYREON ( dutch progressive metal / rock ), kalo personnel nya yang bersinar a/l: Sharon Del Adel, Arjen Lucassen bahkan yang lagi hot saat ini si Floor Jansen yg lagi jadi bintang pengganti di supergroup asal finland Nightwish..disamping itu jangan dilupakan Van Halen yg walaupun band ini resminya berasal dari pasadena, CA – USA namun para personilnya intinya sebenarnya adalah keluarga besar Van Halen ( Alex, Eddie serta Wolfgang Van Halen ) yg notabene asal londo, dimana hingga kini band tersebut tetap eksis di papan atas percaturan musik hard rock dunia…jadi tidak benar atau terlalu tergesa – gesa apabila kita meng-judge bahwa tidak ada lagi Band / musisi kumpeni londo yang eksis saat ini di blantika musik indonesia ataupun dunia, bahkan seorang Van Halen tidak malu mengakui bahwa salah seorang ortunya adalah asli pribumi indonesia…

Saya memberi komentar atas tanggapan akun Adi Speed:

Adi Speed: Iya, betul. Namun, yang saya maksud dalam konteks komentar untuk George Baker Selection (dan tak lupa The Cats) adalah band yang memilih jalur mainstream, popular music. Kalau genre metal/underground yang meminjam terma anda “segmented” (dimana saya juga bagian dari segmen itu), sudah tentu tak hendak saya pungkiri. Bahkan kalau boleh urun nama, saya bisa menambahkan setidaknya Gorefest dan Pestilence untuk itu (yang hemat saya, lebih (dulu) mengglobal dan melegenda dibandingi WT. Correct me if I’m Wrong). Saya tak hendak menyebut van Halen sebagai Dutch Band hanya karena mereka pernah tinggal di Belanda (tepatnya di Nijmegen, kota yang sama dimana saya tinggal, rumah keluarga van Halen 2,5 kilo dari kamar di mana saya berteduh) sama halnya tidak hendak menyebut mereka Indonesian Band (meski tegas pernyataan van Halen bersaudara dalam interview dengan lee Roth menyebut emak mereka dari Rangkasbitung). Mengapa? karena home base mereka sejak awal karir VH sebagai music group toh di Amerika, VH is an American band. Tapi jika berdasar kriteria di atas VH hendak dikategorikan sebagai band Belanda yang berpengaruh di Indonesia, tentu saya menghormati opini yang berbeda. Untuk memperjelas posisi saya, mungkin bisa dijawab pertanyaan: adakah kini musisi/penyanyi pop/rock Belanda, berbasis di Belanda, yang kini, atau taruhlah sejak dasawarsa 90-an, populer alias dikenal luas di Indonesia? Kalau saya jawab sih: Tidak Ada!

Tambahan Komentar saya:

Jika ada yang gemar/memerhatikan musik NAIF, maka simaklah outro pada “Jauh”. Di sana ada permainan organ Chandra (kini sudah keluar) yang mirip dengan pattern lagu I’ve Been Away Too Long nya GBS yang mega populer itu. Mungkin itu dilakukan bawah sadar juga. Tidak ada yang ngeh pula nampaknya.

Keterangan: di sela komentar-komentar tersebut ada pula komentar dari beberapa akun FB lain. Hingga tulisan ini diunggah, tidak ada balasan lagi dari Adi Speed kecuali icon “Like” pada tanggapan saya yang menjawab komentarnya.

Wilkomen en Sugeng Rawuh

Situs ini adalah wadah penampungan segala apa yang saya fikirkan berkenaan dengan fenomena alam sekitar baik yang natural maupun yang artifisial.  Di sini saya mengekspresi pengamatan dan perasaan soal film, musik, kehidupan keseharian, tempat makan minum, peristiwa sosial dan apapun banyak hal lain di alam dunia. Situs ini pula saya fungsikan sebagai wadah dokumentasi pemikiran dalam interaksi di berbagai media sosial seperti facebook, twitter, yang sayang jika harus hilang ditelan timeline. Kesemua pemikiran, renungan, maupun ketidaktahuan dalam menginderai hidup saya ungkap dalam tulisan walau saya sepenuhnya tahu: tak semua yang dirasa dan diindera dapat diungkap secara setimpal dengan kata-kata. Banyak lagi apa yang menjadi amatan dan rasaan inderawi tentang hidup menguap dari otak tanpa pernah bisa diperangkap dengan rangkaian kata karena beragam alasan. Situs ini oleh karenanya, hanyalah secuil saja dari apa yang saya rasa dan alami serta renungkan sebagai manusia.

Tulisan tulisan di blog ini berbeda dari tulisan saya yang lain yang berkadar akademik yakni tulisan di bidang ilmu hukum, suatu bidang ilmu yang saya geluti dalam kapasitas saya sebagai pengajar hukum. Untuk pemikiran di bidang hukum saya telah menampungnya secara tersendiri di situs manunggalkusumawardaya.wordpress.com

 Tegur sapa sudah barang tentu amat dinanti.

Tabik.

Manunggal Kusuma Wardaya

Kebhinnekaaan dan Idealisme Musik Indonesia

sebuah diskusi hangat terjadi di Diskusi Pluralis Lembaga Bhinneka di Group Facebook malam ini. Aku membaca thread Joshua Igo yang berbunyi sebagai berikut:
Di Indonesia, kebinekaan dalam dunia musik sangat terasa pada era 1980 sampai 1990-an. Saat itu, hampir semua genre musik berkembang dengan subur. Fanatisme berkembang secara positf, kompetisi musik sangat bergairah. Tren musik benar-benar diusung oleh insan musik. Tapi sekarang, selera musik ditentukan oleh label, dan insan musik tunduk patuh kepada produser sebagai majikannya, meski demikian tak dipungkiri masih ada beberapa grup band / penyanyi solo yang berkualitas. Ini sebuah keprihatinan nasional.
terhadap thread itu, aku menuliskan komentar:
amatan saya sih sama saja, industri 60-70-80-90-2000an juga ada partisi dari dunia musik yang bisa diatur uang. Era 70an ketika Koes Plus sukses juga banyak band dengan nada dan style yang dikendalikan supaya ke Koe Plus2an, band yang buat sebagian besar orang Indonesia asing namanya : TOPPENK, MANFILS, DEDELAN. Komersil juga sama, biar itu band besar seperti THE ROLLIES pun harus masukkan lagu keroncong dalam rekamannya. Ada yang idealistik, walau juga heavily influenced by western group, seperti GIANT STEP, RARA RAGADI, GURUH GIPSY. Era 80-an ketika Gombloh dan Ari Wibowo ngetop dengan lagu2 renyah Koes Plus juga bikin lagu kaya gitu (Pop Memble). era 60an juga sama dengan sekarang, artis ya nyanyi ya main film, diarahkan persis kaya bintang bintang idol masa kini: Rima Melati, Dicky Suprapto, semua nyanyi.
kemudian dibalas oleh Joshua Igo:
nah itu persoalannya. industri (yang didukung oleh media) zaman dulu masih menerima idealisme. sekarang minim.
Yang kemudian aku tambahkan komentar seperti ini:
perkembangan IT sekarang memungkinkan orang untuk membangun media-nya sendiri toh, dan menjadi backbone dari suatu kegiatan berseni. Kita tak melulu mengandalkan media mainstream. Death Vomit Jogja yang tour ke Australia mana diliput media mainstream kaya RCTI? Funeral Inception yang dirilis oleh label Perancis mana diliput oleh TV One? Hanya kalau agak popular saja seperti Efek Rumah Kaca [karena ‘listenable’] bisa masuk TV One. Band independen itu malah menafikan media mainstream biasanya karena media bisa mereka kelola sendiri dengan semangat do it yourself atau memang ada media yang menampung dan mengcover mereka. Dapurletter.com misalnya atau deathrockstar.com Kini, thanx to technology, kita punya media alternatif kini yang bisa menampungnya. Webzine dll itu semua juga dahsyat. Saya tak melihat perubahan media dari masa lalu ke masa kini ada yang mengabdi pada kemapanan, dan ada yang rajin mengkreasi dan menjadi agen perubahan selalu saja ada dua hal itu. Tinggal si artis mau jadi kayak apa? idealistik (tidak selalu tidak laku loh), atau moderat, atau ikut ikut arus? Saya lihat kini banyak band yang style nys ikut WALI misalnya, karena dia sukses dengan lirik dan musik yang riang, serius tapi terkesan bercanda, dan banyak yang ikut. WALI sebenarnya juga trendsetter, namun orang ikut mencemooh band ini, dianggap enggak mutu. D Massive mungkin saja tulus bermusik galau (lha di luar sana juiga banyak band galau britpop) nyatanya ya dianggap merusak dan ikut label. who knows merek memang tulus? Era 70an ada De Hands, juga supergalau lagunya, dianggap idealis. so?
Joshua Igo menimpali:
Hahahaha betul!!! kasian penikmat musik zaman sekarang. Dah dicekokin genre serupa, habis gitu minim informasi seputar kiprah musisi-musisi independen yg masih memegang idealisme…
Belum sempat aku menyelesaikan balasan, Anton Hilman, member group yang sebelumnya sudah banyak memberi sumbang pikir mengomentari:
perlahan2 saya coba baca nyimak biar gak salah pemahaman, and akhirnya saya bisa bilang SETUJU pak 🙂
Aku membalas kembali dengan rangkaian kalimat seperti ini:
penikmat musik sekarang sebenarnya dituntut untuk kreatif mencari apa yang diinginkannya. Juga seniman masa kini harus rajin mensosialisasikan karya seninya. Kita semua, entah seniman, entah apresiator diuntungkan dan dikaruniai Internet. Dulu pembajakan dianggap merugikan, kini seperti kata sebuah band indie, bicara pembajakan udah enggak relevan lagi. Download-lah lagu kami, get it free.[ini terlepas dari mindset kuno orang kaya saya yang bahkan masih suka piringan hitam ya]. akhirnya akan ketemu juga band bagus seperti Efek Rumah Kaca, akan ketemu band jazz metal seperti Cranial Incisored [wow, ini dirilis amerika lho], Total Rusak dari Padang yang dirilis oleh obliteration records. Teknologi membuat mereka mungkin untuk rekaman dengan relatif murah, dan bahkan bisa punya studio digital sendiri. Tinggal karyanya memang bisa diapresiasi atau enggak. The Upstairs rilis “Kunobatkan Jadi Fantasi” [maaf kalau salah judulnya] murni album download-an, dan dia ada massa amat banyak. JASAD Bandung juga dirilis oleh Amerika, Siksakubur oleh Belanda. Industri enggak banyak bisa kendalikan lagi. Sama halnya penulis, enggak dimuat, bikin aja blog sendiri, atau webhost yang murah, kalau memang posting anda mutu ya banyak yang baca juga. Itu tantangannya. Terimakasih ya.
Judul album The Upstairs yang sempat saya ragukan itu dbenarkan oleh Anton Hilman, dan kemudian saya menambahkan kembali:
Ya mas Anton, saya memulai koleksi kaset dari pertengahan 80an dan agak anti MP3 sebenernya. tapi karena rilisan “asli” upstairs ini memang hanya edisi download, maka ya’terpaksa’ download, termasuk desain sampulnya. Saya, penikmat musik prakarya, ngeprint covernya sendiri, dan jadilah The Upstairs itu. Ini memang revolusi media yang niscaya, dan fenomena yang tidak dinikmati mereka di era koes plus dan JK Records. Tentu banyak pula yang memasang di internet gagal mendapat apresiasi dan hati masyarakat baik yang general maupun segmented, karena memang ‘tidak menawarkan’ kebaharuan dan ‘kelainan’
Tukar pikir ini berakhir karena Joshua Igo harus beristirahat karena waktu di Indonesia memang sudah dininari. Sebuah diskusi yang hangat menjelang tengah malam di minus 7 derajat udara Belanda malam ini.
Nijmegen, 10 Februari 2012

The Shadows dan Jopie Item: Sebuah Obrolan

Sore ini, waktu Belanda tentu saja, aku melihat foto album rekaman The Shadows, entah CD entah piringan hitam aku tak begitu pasti, dalam akun Facebook Jopie Item, gitaris senior Indonesia. Di bawah foto itu telah banyak komen, yang tak kubaca satu persatu. Aku turut memberi komentar di bawah foto itu bahwa The Shadows adalah pula band kesukaanku, dan Foot Tapper sebagai salah satu lagu favoritku. Bapakku almarhum cukup mengenal band ini sebagai band instrumental gitar. Aku tak ingat benar apakah keluarga kami pernah memiliki kaset The Shadows yang dibeli oleh bapak. Hanya saja ketika pertama kali membeli album Reflection tahun 1990, aku rasa sudah cukup hafal lagu-lagu The Shadow yang ada pada lagu Shadowmix. Di Australia kudapatkan kasetnya, semacam kaset kompilasi nomor-nomor klasik terbaik mereka.

Kembali pada foto rekaman The Shadow itu, pada Jopie ku bertanya apakah ada permainan dia, Jopie Item, yang terpengaruh oleh The Shadows?

Tak berapa lama komentar balasan datang, dan singkat kata ayah dari penyanyi Audy ini mengakui bahwa sejak rekamannya di tahun 1964 pun ia banyak terpengaruh oleh The Shadows. Namun bukan menjiplak, katanya. Musik pop identik dengan suara gitar, baik akustik maupun elektrik, clean sound maupun distorsi. Katanya lagi, dalam aransemen musik pop mestinya ada gitar apakah sebagai peran utama ataupun sebagai pembantu.
Aku punya sedikit rekaman Jopie Item bersama Baby Face maupun dalam proyek solo berbagai penyanyi. Dan memang sepenemuan dan sependengaranku, permainannya tidak tercium bau Hank Marvin di sana. Jopi yang kukenal selain jazzy, permainannya lebih kepada psychedelic. Band pimpinannya De Galaxies pernah pula mengiringi Rhoma Irama dan menghasilkan-setidaknya yang kutahu dan kupunya-satu album non dangdut/melayu dari Oma Irama (waktu itu ia belum memakai nama “Rhoma”).
Yang menurutku agak mirip, atau bahkan dengan sadar ingin memiripkan diri dengan The Shadows adalah Abadi Soesman Band. Baik dari gerak maupun irama musiknya yang pernah kulihat di televisi, Abadi Soesman Band memang mirip dengan gaya Hank Marvin dan kawan-kawannya: senyum tersungging setiap saat dan gerak badan yang memikat.
Nijmegen, 8 Januari 2011

Polemik Darpus, Arsip Musik Indonesia, dan KPMI

PENGANTAR:
Tulisan di bawah ini adalah sebuah diskusi kecil mengenai Darpus antara saya (MKW) dan Zay di salah satu halaman Multiply milik Zay (sokaradio1009.multiply.com) yang kemudian bergeser seputar artikel mengenai Dara Puspita di Buku Musisiku & KPMI. Suatu dialog hangat yang cukup panjang, yang saya pikir bisa menjadi dokumentasi tersendiri yang unik untuk disendirikan dalam sebuah posting blog. Terimakasih kepada Zay.
Selengkapnya mengenai diskusi ini bisa disimak di link ini:
Zay:
Memang merupakan suatu hal yg patut disesalkan sekali, girlband sehebat Dara Puspita jebolan tanah air sudah ngga banyak dikenal lagi, bahkan yang koar2 menyebut dirinya sebagai pecinta musik Indonesiapun, banyak yang ngga tahu who is “Dara Puspita” sebenarnya?
Penyebab utamanya dan fenomenanya adalah miskinnya pendokumentasian karya musik Pop Indonesia era 50-70 an…
sampai2 di buku “musisiku” aku temukan sebagian data2 yang salah fatal ttg Dara Puspita yang seharusnya tidak perlu terjadi…
Tetapi… ya inilah kenyataannya…! too sad!
Bagaimanapun juga sebuah karya musik adalah sepenuhnya cermin budaya dan peradaban manusia dari suatu masyarakat…bangsa, negara…Bahkan boleh dibilang merupakan aset dunia….ada ngga yang peduli dengan keadaan sekarang ini?
MKW:
Ya, kalau kita cermati, sebenarnya ketidaktahuan publik akan Darpus dan banyak band masa lalu bukan salah siapa-siapa, melainkan salah sistem. Beatles, Bee Gees, The Mamas and The Papas, YES, Pink Floyd, The Rolling Stones, mereka hingga kini masih ad
a, dan katalog album2nya bisa diakses generasi sekarang dengan mudah, karena memang sistem memungkinkan demikian. Master album2 jelas storage-nya, juga hak cipta, hak edar. Ini juga ada kaitannya dengan korporasi yang menaungi mereka adalah korporasi besar dengan archiving yang baik.Di Amerika bahkan setiap karya seni berupa rekaman ada file dan arsip tersendiri yang memungkinkan bisa diakses masyarakat luas. Kembali ke artis2 tersebut, mereka ada di bawah EMI, London, Atlantic, Warner, dll yang tertib dalam hal master tapes dan kontrak kerja. Nah kita? Dimita, Irama, Media, Mesra, Remaco dll perusahaan masa lalu di kita? Seberapa tertibnya? Master-masternya telah hilang, mungkin telah dijual sebagai barang rongsokan. Jangankan artis generasi 60-an seperti Darpus dan Koes Bersaudara, artis generasi 70-80-90 saja banyak yang sistemnya masih jual putus/flat. Sekali rekaman, dibayar sekian ratus ribu/juta, sudah. Laku nggak laku, dirilis nggak dirilis ulang si artis nggak bisa banyak cingcong. Master? Jangankan disimpan, master itu seringkali dipakai lagi alias ditimpa untuk recording artis lain. Mengapa? Pertimbangan ekonomi saja, untuk mengirit biaya. Bahkan mahakarya seperti GURUH GIPSY, Koes Bersaudara, Harry Roesly dengan Ken Arock-nya saja masternya entah kemana dan hingga kini orang berburu kaset aslinya hingga ratusan ribu rupiah. Mengagumkan sekaligus menyedihkan sebenarnya. Mengapa harus begitu? Bahkan re-release album Ghede Chokras milik SHARK MOVE-nya Benny Soebardja musti ditransfer dari Piringan Hitam untuk kemudian diproduksi dalam format CD di Jerman. Apa boleh buat….masternya sudah raib entah kemana…but the show must go on!
Bandingkan dengan The Beatles dan The Rolling Stones. Jika anda sehat, punya uang, ayo pergi ke record shop, dan bawa pulang semua album-nya. Seorang teman dengan antusias menceritakan mengenai re-release The Beatles pada saya. Saya katakan: The Beatles menarik, saya penggemar dan kolektor The Beatles, tapi The Beatles itu hanya perkara uang saja. Kalau ada uang, LENGKAP lah koleksi The Beatles anda, mau album apa saja juga ada. Kalau tidak ada di local store, pergilah ke online shop. Artis Indonesia? Tunggu dulu…! Ada uang, barang belum tentu ada. Ada uang, belum tentu uangnya cukup. Nggak ada patokan pasti untuk uang. Bawa Seratus ribu mau beli JANG PERTAMA? Bisa disuruh pulang plus diketawain sama penjualnya di Jalan Surabaya. 2 PH Darpus saya (Green Green Grass dan A GO GO) dapat barter dengan enam PH Koes Plus tanpa cover. Lain dengan The Beatles. Sekian dollar atau Euro atau Yen-nya bisa diduga. Di Belanda kemarin saya liat sekitar 25 euro-an per CD The Beatles. Di Australia lima tahun lalu, satu PH The Beatles (baru) dijual 15 Dollar. Itu di toko rekaman paling murah di Melbourne, dragonflydisc.

DARA PUSPITA di buku Musisiku terbitan Komunitas Pecinta Musik Indonesia memang banyak kekurangan bahkan kesalahan. Saya katakan di sini, saya adalah penulisnya. Salah satu kesalahan saya adalah lalai dalam checking judul lagu sebelum diturunkan dalam tulisan (saya tulis dahulu yang ada di otak, dan rencananya akan saya check lagi di daftar lagu di PH pada waktu editing, namun terlupa sehingga sampai turun cetak ada lagu yang berjudul “Di Bawah Sinar Bulan”, padahal bukan itu judul aslinya). Ini masalah kelalaian belaka. Artikel mengenai DARA PUSPITA itu (dan berbagai artikel lain di buku itu, serta Buku MUSISIKU 2 yang sudah terbit) harus diakui memang mengandung banyak kesalahan baik fatal maupun tidak, baik redaksional maupun substansial. Kritik mengenai artikel DARA PUSPITA ini juga sudah saya baca di milis KPMI beberapa waktu silam. Seandainya saya sudah mengenal anda pada masa itu, atau bahkan Mbah Gambreng, tentu tulisan itu akan lain jadinya, akan lebih kaya dan minimal dalam mengandung error.
Tanpa bermaksud menepuk dada sendiri, mestilah dipahami pula bahwa tulisan itu juga berperan besar membangkitkan kembali ingatan, dan bahkan membuka mata banyak pihak tentang eksistensi Dara Puspita. Saya bisa mengatakan hal ini dari berbagai feedback yang masuk ke KPMI. Untuk diketahui, semua artikel di buku Musisiku sebelumnya dimuat dalam koran REPUBLIKA sebagai bagian dari kerjasama KPMI dan Republika. Artikel Darpus yang kemudian dimasukkan dalam MUSISIKU 1 itu memang tak akan memuaskan mereka yang tahu betul mengenai Dara Puspita, namun artikel itu telah membuka mata banyak pihak yang sama sekali tak tahu menahu-para generasi sekarang-, atau mereka yang sempat mendengar sayup-sayup di masa lalunya akan keberadaan band Dara Puspita namun sama sekali telah kehilangan jejak karena miskinnya arsip, karena ketiadaan di pasar musik. Fenomena ini juga berlaku untuk artikel lain mengenai band lain di buku kompilasi tersebut seperti Farid Hardja, Guruh Gipsy, Giant Step dll. Kalaulah ada kesalahan baik substansial maupun redaksional, bukankah dalam dunia penerbitan segala kekurangan tersebut adalah fenomena wajar yang bisa dikoreksi dengan pembetulan, koreksi atau revisi dalam cetak ulang atau edisi revisi?

Saya mengandalkan dokumentasi AKTUIL untuk tulisan itu (yang diturunkan sebelum formasi MIN PLUS dan perkembangan selanjutnya album2 Titiek Hamzah dan Susy Nander) dan analisa saya pribadi mengenai lagu2nya (misalnya ketika membandingkan lagu Ibu dengan She Said She Said-nya The Beatles, Mari Mari dengan I Cant Get No Satisfaction). Dokumen-dokumen itu saja yang saya gunakan, karena saya tak punya sumber lain kecuali berbagai copy AKTUIL dan analisa pribadi saya tersebut. Namun demikian, bahkan dokumentasi AKTUIL itu sendiri menurut Pak Handi alias Mbah Gambreng, mantan roadie Darpus selama di Eropa tidak sepenuhnya akurat. Mbah Gambreng mengatakan bahwa anak2 DARPUS sudah lupa, atau menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi sehingga apa yang diturunkan dalam laporan di AKTUIL sesungguhnya tidak mencerminkan seratus prosen keadaan sebenarnya.

Mayoritas penulis di buku itu, termasuk saya, hanyalah hobiis record (dan bukannya pengamat/penulis musik profesional) dengan pengetahuan dan data yang mungkin seringkali kurang memadai, yang di sela sela kesibukan pekerjaan sehari-hari berhimpun dalam KPMI mencoba berbuat dan memberikan sesuatu yang nyata untuk publik musik Indonesia. Ini yang saya kira perlu untuk dipertimbangkan dan diapresiasi dengan jujur. Bahwa KPMI, bisa menghasilkan karya nyata d
engan segala kekurangannya barangkali adalah hal pertama yang dilakukan komunitas penggemar musik sepanjang sejarahnya di tanah air. Jika di kalimat penutup anda menanyakan “ada nggak yang peduli dengan keadaan ini?”

Saya hendak menjawab dengan mantap: salah satunya pastilah KPMI.
Kami barangkali satu-satunya kelompok, suatu wadah, suatu organisasi yang bergerak dengan jalur mailing list, dengan jalur penerbitan di surat kabar dan buku kompilasi, dengan melakukan kunjungan ke rumah artis senior, diskusi bulanan dll. Kami benar-benar hit the road, tak sekedar hit the web, atau bercakap cakap di cafe/warung belaka. Bahwa kami cinta musik Indonesia dan bergabung dalam wadah Komunitas Pecinta Musik Indonesia, tidak lantas kami yang paling tahu dan paling cinta musik Indonesia. Jika kami memakai nama Komunitas Pecinta Musik Indonesia, itu tak lantas membuat kami adalah komunitas yang seharusnya paling tahu musik Indonesia.

September 2009, group Pandjaitan Bersaudara aka Panbers dalam kesempatan ulang tahun Benny Pandjaitan memberikan award kepada KPMI yang telah ikut melestarikan Panbers di dalam buku Musisiku. Rasa terimakasih Panbers bukanlah ungkapan ekspresi dan support yang pertama kami terima dari artis yang kami dokumentasikan. Sebelumnya, tanpa banyak ekspos media massa, kami banyak menerima respon bernada terimakasih dan dukungan baik dari artis lama yang sempat kami dokumentasikan maupun dari penggemar musik Indonesia dari segenap penjuru dunia.

Berbicara mengenai kelompok masyarakat, komunitas penikmat, pecinta, atau apapun istilahnya yang bergerak murni non-profit sebaliknya bisa kita renungkan: adakah komunitas maupun wadah serupa yang telah melakukan langkah nyata pendokumentasian musik Indonesia terutama musik dan artis masa lampau seperti KPMI? Adakah yang dengan rutin dan teratur mengadakan pertemuan dan bincang bersama artis senior/artis lama? Adakah yang telah menelurkan buku (yang sama sekali bukan urusan mudah lagi sepele) yang memuat berbagai album dan artis yang nyaris terlupakan dan terhapus dari memori publik, yang sebentar lagi memasuki edisi MUSISIKU 3 seperti KPMI? Rasa-rasanya tidak atau belum ada. Kami telah melakukannya, dan untuk itu kami tak mendapat imbalan materi apapun kecuali kepuasan dan kebahagiaan bisa melestarikan musik Indonesia sekaligus rasa terimakasih kami pada artis senior yang telah membuat hidup kami para pecinta musik lebih berwarna warni.

Salam.