If

Manunggal K. Wardaya : Six Strings

ADK : Vox

——–

If a man could be two places at one time
I’d be with you
Tomorrow and today
Beside you all the way

If the world should stop revolving
Spinning slowly down to die
I’d spend the end with you

——–

Karolina by SORE

the lyric represents my feelings these days. Karolina from SORE

——————————————–

Making love to you
is like a dream to me

Having you beside me
is a fantasy

I’ve been reaching for a star,
trying to catch that morning sun…

I long
for you,
my lady in the night…

 

 

Novel: Kidung Di Tepian Jakarta

DSC_1103Kidung Di Tepian Jakarta

Penulis: Manunggal K. Wardaya

Pengantar: Fadjroel Rachman

Penerbit: Indoliterasi, Yogyakarta

Ilustrasi: Didit P. Nugroho

Hal : 260

Dapat dibeli online di http://www.indoliterasi.com dan seluruh toko buku Gramedia & toko buku lainnya mulai minggu ke-4 Maret 2017

 

further info contact 085728456999

18056140_1356877857732066_6123676322128958877_o

Riri Riza (sutradara Ada Apa Dengan Cinta, Gie, Laskar Pelangi, dll) bersama buku Kidung di Tepian Jakarta.

Ibu

Kau hentikan tangis kecilku

hapus duka dan sedihku

dengan kelembutanmu

yang menenangkan hatiku

 

Kau berikan aku

yang terbaik selalu

untuk tumbuh kembangku

demi masa depanku

 

Dalam keterbatasanmu

Selalu Kau berikan padaku

Apa yang kuperlu

Walau tak ringan buatmu

 

Kau antar setiap pergiku

Dengan doa dan pengharapanmu

Agar aku selamat selalu

Dalam meraih segala citaku

 

Kembali engkau kini

Selamanya ke abadi

Pulanglah dengan tenang

Ibu..

Perihal Kehilangan

Hilang adalah tiada. Dan tiada adalah lawan kata dari ada. Kehilangan oleh karenanya dikaitkan dengan sesuatu  yang sebelumnya  ada, yang sebelumnya dimiliki, yang kemudian tak lagi ada dan dimiliki entah karena berpindah kepemilikan, musnah, pergi, atau alasan lainnya. Kehilangan biasanya akan mendatangkan duka, walau tak  selalunya begitu. Ada kalanya orang kehilangan sesuatu hal akan tetapi tak digayuti kesedihan. Kehilangan beberapa keping uang ratusan rupiah di masa kini tak akan mendatangkan kesedihan berkepanjangan karena nilainya yang remeh. Kehilangan pensil atau pena yang digunakan sehari-hari tak akan membuat orang dirundung duka berkepanjangan. Kehilangan sebotol air mineral dalam perjalanan tak  akan membuat orang merana bersedih hati. Semakin tak berarti suatu hal, semakin mudah ia tergantikan, maka kehilangan tak akan mendatangkan duka. Sebaliknya, semakin berarti seusuatu hal maka rasa duka yang ditimbulkannya akan semakin besar, semakin menyayat.

Sebagaimana umumnya manusia, kehilangan telah berkali kurasa dan alami dalam hidup. Sepanjang dan sejauh ingatan, kehilangan pertama terbesar yang begitu menyedihkan hatiku adalah  kehilangan sebuah peraut berbentuk kuda-kudaan. Ini terjadi  ketika aku masih kanak di awal 1980-an dahulu. Kami sekeluarga sedang dalam perjalanan yang telah aku lupa dari dan hendak kemana. Hari masih terang, bisa jadi pagi atau siang hari. Mobil kami berhenti di sebuah warung kelontong yang menjual aneka kebutuhan harian. Masih kuingat betul bayangan  warung itu; tidak besar hanya selebar sekira tiga meter saja. Barang-barang dagangan diletakkan di etalase kaca. Di samping kanan dan kiri warung adalah kebun. Umurku pada saat itu  baru sekira lima atau enam tahun, dan oleh karenanya terlalu kecil untuk mampu mengingat dimana letak warung itu dan bagaimana penjualnya. Dan peraut pensil kuda-kudaan itu sudah barang tentu bukan tujuan utama kami berhenti di warung itu. Mungkin Bapak hendak membeli rokok  Gudang Garam merah kesukaannya, atau keperluan lain. Dan  aku yang turut turun dari mobil melihat peraut dalam lemari kaca itu dan segera berkeinginan untuk memilikinya, keinginan yang diketahui Bapak.

Dibelikanlah aku oleh Bapak peraut itu, peraut yang begitu menggetarkan hati kanakku. Dari dalam etalase warung, sekejap ia berpindah di hadapanku, di atas kaca etalase. Seingatku sempatlah aku menyentuhnya, menggoyang-goyangkannya mundur dan maju, kuda-kudaan kecil milikku itu yang sudah tentu menerbitkan gembira di hati. Dan sepanjang aku masih dapat mengingat itulah terakhir kalinya kumelihatnya; peraut pinsil baru milikku yang setidaknya mengandung dua warna yang masih dapat kuingat; hijau dan putih.  Di perjalanan barulah aku tersadar bahwa peraut yang dalam perbendaharaan kataku kala itu kukenal sebagai ongotan itu terlupa dibawa. Aku mencarinya dimana-mana di dalam mobil yang telah melaju kencang melanjutkan perjalanan. Pada akhirnya harus kuterima kenyataan; aku lupa membawanya. Entah siapa yang mesti dipersalahkan atas kenyataan ini; aku si kanak yang tak segera mengambilnya begitu dibayar, ataukah Bapak atau Ibuku yang lupa membawanya untukku, atau tukang warung yang seharusnya mengingatkan dan menyerahkan setelah benda kecil itu terbayar.  Yang pasti, dalam mobil yang terus melaju itu aku menangis berurai air mata dalam hancur hati, begitu sedih dan kehilangan. Menyesali sejadinya. Ia, peraut itu, baru saja kumiliki, dan hanya dalam beberapa saat aku tak lagi memilikinya. Mobil kami telah berjalan semakin jauh, dan tak mungkin kembali. Aku lupa apa yang dikatakan oleh Ibu dan Bapak untuk membuatku berhenti dari bersedih. Kurasa mereka menenangkanku seperti aku pula akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi pada anakku; nanti beli lagi. Peristiwa dan rasa kehilangan  itu begitu membekas, hingga usiaku yang ke empatpuluh satu ketika tulisan ini kubuat. Continue reading Perihal Kehilangan

Mentjeritakan Dunia; Menduniakan Tjerita