Funk de Java: From Java To The World

covercd-0002Mendengarkan FunkDeJava adalah mendengarkan komposisi musik dan lagu berbahasa Jawa tanpa harus terjebak dalam irama musik/genre tradisional Jawa. Dikemas dalam album perdana bertajuk From Java To The World yang dirilis pada November 2007, keseluruhan lirik kelompok musik asal Malang, Jawa Timur ini memang ditulis dalam bahasa Jawa dengan iringan musik yang penuh dengan hentakan drum bertenaga ditingkahi suara gitar nan distortif nyaris di seluruh track layaknya rock album pada umumnya. Bukan sesuatu yang bisa dibilang pertama memang. Group musik thrashmetal Rotor dalam debut mereka Behind the 8th Ball (1992) mengusung satu lagu berbahasa Jawa berjudul Gatholoco. Demikian juga kelompok deathmetal Tengkorak membawakan Gaweyan Reget dalam album mereka Konsentrasi Massa (1999).
Menawarkan sesuatu yang berbeda di tengah hiruk pikuknya persaingan di blantika musik Indonesia dengan meluncurikan album musik berbahasa Jawa yang dirilis lewat jalur indie bagaimanapun adalah langkah berani yang patut diacungi jempol. Hal ini karena keputusan tersebut tak pelak adalah tawaran take it or leave it bagi penikmat musik. Keputusan untuk membawakan lagu berbahasa Jawa memang bukan main-main dan disadar penuh oleh FunkDeJava. Group yang digawangi oleh Tika (Vocal), Wulan (Drums), Juken (Guitar), dan Tommy (Bass) ini berkeyakinan bahwa lirik berbahasa Jawa akan mampu diterima di dalam khasanah musik nasional maupun internasional sebagaimana musik yang menggunakan lirik Mandarin, Latin, maupun Western. Bisa jadi mereka benar, tapi patut pula diingat bahwa musik berlirik Mandarin ataupun Latin sedikit banyak diterima karena juga menyodorkan warna musik yang khas dengan lokalitasnya,dan tidak semata-mata mengandalkan liriknya yang lokal. Continue reading “Funk de Java: From Java To The World”

Advertisements

Eternal Madness: Abad Kegilaan

eternal-madnessMendengarkan Eternal Madness (selanjutnya disebut EM) adalah mendengarkan kemurkaan ala Bali. Ramuan musik dan lirik adalah ungkapan kejijikan, kecaman, kemarahan akan nafsu tamak, aksi tipu-tipu dan kelicikan dan keserakahan manusia dalam mengeksploitasi tidak saja alam, namun ajaran agama yang dijadikan pembenar penindasan terhadap sesama. Semangat perlawanan dan protes ini masih tercium kencang dalam album ketiga sekaligus album teranyar mereka Abad Kegilaan. Dirilis di bawah label Rottrevore Records yang berbasis di Jakarta pada akhir 2007 lalu, keseluruhan musik dan lirik band yang berbasis di Denpasar Bali yang kini digawangi oleh Moel (bass, vox), Agung Putra (guitar), Adith (guitar) dan Ghebes (additional drummer) ini adalah pengobat rindu fans deathmetal atas kegarangan EM seperti yang telah mereka suguhkan dalam dua album mereka terdahulu Offering To Rangda (1997) dan Bongkar Batas (2000). Continue reading “Eternal Madness: Abad Kegilaan”

Bukan Anak Pertama

Cerita pendek ini dimuat di Buletin Jejak Edisi 23, Februari 2013 yang diterbitkan oleh Forum Sastra Bekasi.

Download Buletin Jejak Februari 2013

Sudah dua hari ini rumah besar yang terletak hanya beberapa ratus meter dari keramaian jalan raya itu dikunjungi tamu. Ia masih belum kuat benar, dan menyambuti tamu sambil berbaring di samping bayinya. Beberapa yang datang adalah kawan-kawannya sekantor, kawannya sendiri dan kawan suaminya.

Yang datang menyalami dan mengucap selamat. Tidak hanya itu, mereka membawa uang atau barang bagi si bayi yang baru dilahirkannya empat hari lalu. Dan ia mengucap terimakasih atas apa yang mereka berikan. Pula ia dan suaminya mengamini doa setiap yang terucap dari mulut para tamu dan kerabat. Doa dengan kalimat yang sama: ‘Semoga menjadi anak yang sholeh, dan berbakti pada orang tua dan agama’. Hampir semua kartu ucapan yang terselip di antara uang sumbangan dan kado yang diterima berbunyi demikian. Dan ia menjadi teringatlah pada kata-kata Titin, salah seorang pegawainya yang menengoknya kemarin hari:
‘Anak adalah rejeki dan karunia, bu. Anak pertama akan merubah hidup Ibu. Anak pertama akan membuat Ibu lupa segala rasa lelah berkerja, sekaligus menyemangati hidup ini’.
“Sungguhkah itu Titin?” ia bertanya pada bawahannya itu. Biasanya Titinlah yang bertanya dengan nada yang penuh ingin tahu dan mata membelalak.
“Ya, bu. Anak pertama akan menjadi pendorong yang luarbiasa. Ibu akan lupa segala lelah bekerja, dan penatnya hidup.”
Anak pertama! Ya anak pertama yang akan menyemangati hidup! Anak pertama yang akan merubah segalanya. Ia mengingati baik-baik kata-kata Titin itu dan membenarkannya. Maka ketika doa orang-orang yang datang menjenguk terngiang kembali dalam benaknya, ia pun kembali mengamini dengan sungguh. Pada Tuhan mendoa agar anaknya itu kelak menjadi manusia sebaik baiknya, bernasib lebih baik dari diri dan para pendahulunya. Matanya memejam dan memejam, menghaturkan doa, dalam bahasa Jawa seperti pernah diajarkan Ibunya semasa ia kecil. Ia kemudian mendoa dalam Arab seperti yang diajarkan ustad waktu ia belajar mengaji duapuluh lima tahun yang lalu semasa ia masih kanak. Pipinya terkembang, tertarik atas kebahagiaan yang baru ia rasakan. Matanya yang terpejam membasah. Sedetik dua hal itu terjadi. Membuka lagi kini matanya. Berkata ia, tidak pada siapapun, bahkan tidak pada dirinya sendiri:
“Bukan!,” ia terhenyak oleh kata-katanya sendiri. Urat pipinya menegang, bibirnya bergerak-gerak. Dipandanginya wajah bayinya terkasih. Gemuk dan sehat, tertidur dengan selimut hijau berbeludru yang tebal dan hangat. Limabelas juta untuk mengeluarkan manusia kecil itu dari perutnya secara caesar. Alis wajahnya adalah dari dirinya, alis yang diwarisinya dari ayahnya, seorang Jawa, pegawai rendah kecamatan: tebal, mendatar, hitam dan tegas. Sedangkan matanya mewarisi mata suaminya, yang diwarisi pula dari ayah mertuanya, kakek si bayi. Baru tiga hari umurnya, buah hatinya itu. Dan ia menjadi lemas. Fikirannya melayang ke tempat yang jauh dari tempatnya kini mendoa di timur Jakarta, dan ke waktu yang lampau, yang telah lama dilaluinya. Dan di hatinya terbangun kembali bayangan-bayangan apa yang pernah dialaminya sendiri, yang pernah dirasakannya sendiri. Dan bayangan-bayangan dari cerita yang masuk ke dalam benaknya. Ia mulai mengenang…

Almarhum ibunya pernah bercerita bahwa sudah sejak ia masih bayi, orang-orang telah memuji kecantikannya. Wajahnya bersih bersinaran dengan tubuh gemuk menggemaskan dan mata yang membelalak-belalak cerah. Tertawa-tawa saja tingkah polahnya, membuat gembira hati siapapun yang memandang. Perlu tujuh tahun menanti kehadirannya semenjak orangtuanya kawin. Dan suami isteri pegawai rendahan tata usaha kecamatan di mana dirinya dilahirkan memimpi dan mendoa agar kelak ia dapat menjadi kebanggaan keluarga dan membawa harum bagi kebaikan agama kelak di hari kemudian. Sang nenek yang datang menengok dari Purworejo dengan kewibawaan dan keyakinannya berkata: “anak ini akan menjadi orang yang berhasil.” Semua saja yang mendengar sabda sang nenek tertawalah sepuas dan sekerasnya. Kecuali sang ayah yang bekerja di kecamatan, tak pernah dalam silsilah keluarga itu ada keturunan yang mempunyai peran penting bahkan pada tingkat dusun. Nenek dan kakeknya adalah petani. Dan hampir semua keluarganya adalah petani, bahkan petani penggarap, bekerja di sawah namun tak memiliki sawah. Sang Nenek tak peduli pada semua tawa, berpegang kukuh pada keyakinannya. Dan tanpa ada yang meminta, pula tanpa ada yang kuasa menolak, ia memberi nama pada cucunya itu: Retnoningrum. “Ia akan seharum bunga, ia akan mengharumkan nama keluarga kita! Retno, artinya bunga. Ningrum, wening arum, bening dan harum. Ia akan mengharumkan. Sungguh aku tak mengada-ada. Aku bisa merasakannya.” Siapapun yang mendengar kala itu terdiam. Tiada guna melawan perempuan tua.

Beranjak dewasa ia, Retnoningrum, menjadi semakin megar dan ranum. Tubuhnya tinggi, lebih tinggi daripada rata-rata kawannya. Badannya padat, tidak gemuk, tapi tak pula kurus. Pantatnya mulai mengembang, menonjolkan keperempuanannya. Tulang-tulang tubuhnya besar, membuat ia nampak kokoh. Kulitnya kuning, tak seperti kulit Bapaknya yang menghitam. Alis matanya datar tegas. Dan sudah sejak saat SMP teman-teman lelaki menawarkan cinta padanya melalui surat-surat, melalui salam-salam. Dan ia tetap bersikukuh pada nasihat ayahnya : “Sekolah sing bener, nanti kalau kau sudah besar, kalau kau sudah bekerja, baru kau boleh punya teman pria.” Dan ia pun semakin beranjak dewasa. Surat cinta bukan sekali dua lagi diterimanya. Tapi ia belum mau berkasih-kasihan. Sepulang sekolah, ia selalu kembali ke rumah. Menyapu halaman, mengepel lantai rumah, dan pergi tidur. Sore ia bangun, membantu memasak untuk makan malam. Lewat pukul empat sore, ia akan mencari ayam-ayamnya yang berkeliaran di kebun dan halaman, menghalau mereka agar kembali ke kandang. Hingga menyelesaikan SMA-nya, ia masih saja menjadi anak rumahan. Dalam benaknya ia bertekad, ia harus melanjutkan sampai sarjana. Dan tekadnya itu mendapat dukungan sepenuhnya dari ayahnya. Ramalan sang nenek telah sering ia dengar dari mulut ayahnya: “Engkau kelak akan mengharumkan nama keluarga kita, Retno. Engkau akan mengharumkan seperti bunga, seperti namamu. Aku akan bekerja sekerasnya, kalau perlu hutang untuk sekolahmu hingga sarjana…”

Tiba giliran diterima di perguruan tinggi yang jauh dari tempatnya tinggal, sang ayah dan ibu menjadi bersedihlah. Kata orang tuanya pada ia suatu sore menjelang keberangkatannya menuju Purwokerto:
“Hati-hati, nak. Pandai kiranya kau menjaga diri.”
“Pasti, Mak.”
“Jaga dirimu baik-baik. Kamu perempuan, mesti tahu…” suara ayahnya bergetar menahan haru. Lelaki itu kemudian menasihati anaknya agar selalu ingat Yang Maha Kuasa, agar jangan melupakan kewajiban lima waktu.
Ia memandangi wajah ayahnya dengan penuh kasih, kemudian berkata:
“Wis Pak, jangan kuatir..” Diciumnya tangan ayahnya dengan kasih. Ia berpesan agar sang ayah menjaga ayam-ayam peliharaannya. Agar ayam-ayam itu jangan sampai dijual. Ayahnya mengangguk-angguk menyanggupi, dan berkata lagi kemudian sambil menyorongkan uang pada genggaman puterinya:
“Jangan lupa menulis surat pada kami sering-sering..”
“Ah Bapak ini. Kebumen dan Purwokerto kan dekat saja. Dalam satu setengah jam naik bus juga sampailah aku.” Dan sang ayah menjadi lega mendengarnya. Lelaki tua itu tertawa, mengusir pilu hatinya sendiri. Dan malam itu mereka makan bersama, mengobrol hingga larut malam. Sebelum tidur ia memandangi segenap penjuru rumahnya: lukisan gambar gunung dan sungai, foto hitam putih dirinya semasa SD yang dipigura besar, dan foto keluarga ketika piknik ke Borobudur bersama seluruh pegawai kecamatan. Dipandanginya baik-baik dan lekat-lekat semua yang ada dan disimpannya dalam hatinya rumahnya
yang terkasih.

Dan pagi sekali esok harinya, ia, si anak tunggal itu pergilah menjemput masa depannya, menuju Purwokerto. Rumah sederhana berkebun luas itu kembali sepi, sepi seperti sebelum kehadirannya di dunia. Sepi, karena tiadanya anak perempuan yang biasa membantu bekerja…


Masa orientasi mahasiswa baru dilewatinya dengan mudah. Dan karena kecantikan dan lugu wajahnya, ia hampir tak kena bentak para senior. Sekali dua memang ia kena murka dan menjadikannya yang tak pernah terbiasa dengan kata-kata kasar dan cacian menjadi takut dan tertekan. Namun lambat laun, ia menjadi mengerti: para panitia itu, para lelaki kakak kelasnya itu hanya ingin mencari perhatiannya saja. Sekaligus ia mendapat pelajaran yang dipahaminya dengan sangat baik: ia memancarkan pesona bagi mata lelaki.

Maka kini, tidak saja udara segar Purwokerto yang dihirupnya, bentuk pertemanan dan perkawanan yang sama sekali barupun dikecapnya. Kini ia menjadi anak kos, tinggal dalam pemondokan. Dan ini sungguh menggembirakan baginya. Memanglah pada awalnya tinggal jauh dari orang tua adalah siksaan. Ia tak bisa lagi lari dan tertidur di ketiak ibunya, namun lambat laun ia mulai menikmati dunianya yang baru: dunia mahasiswa. Bebas menentukan kehendak diri sendiri. Ia mulai melihat ke kanan dan ke kiri, pada teman-temannya. Sadarlah ia, cara berdandannya sangat tertinggal. Sadarlah ia bahwa cara bicaranya sangat kaku, tidak luwes dan kurang modern. Ia mulai menyadari, penampilannya dan pembawaannya jauh dari menarik. Ia mulai bisa membandingkan dan merasakan. Pada ujungnya ia menyesali takdir menjadi anak desa. Ia mencoba dan mencoba merubah. Dan ia gembira, karena bisa lebih kelihatan menarik di depan cermin, dan di depan lawan jenis. Bulan demi bulan berlalu, dan ia semakin sadar, sadar akan kemilau dirinya dan magnet yang ada di jiwa raganya. Dan ia menjadi semakin faham: nikmat dan menyenangkan ketika mampu mengendalikan semua yang ada di dirinya untuk kesenangannya…

Maka ketika ia telah mengubah dirinya, tak hanya satu lelaki, namun tiga sekaligus memperebutkan kasih sayangnya. Yang pertama, Bagus, berwajah tampan dengan dua anting monel di telinga kiri. Penampilannya rapi, badannya selalu berbau wangi, walau prestasi studi tak sebagus namanya. Akan tetapi ia ada memiliki kekayaan, kekayaan bapak ibunya yang melimpah. Dari tubuhnya yang tinggi terawat dan bersih orang akan mudah menyimpulkan: ia bukan dari golongan paria, bukan dari golongan atasan ayah Ratna sekalipun. Dan memanglah demikian adanya, setidaknya orang tuanya adalah orang yang berada dan berkedudukan. Yang kedua, Galih, anak seorang guru sekolah dasar. Seperti halnya Bagus, Galih juga berwajah tampan dan selalu rapi. Hanya ia tak pandai berkata-kata. Ia ada mempunyai pesona harta, akan tetapi jika diperbandingkan dengan Bagus ia seperti seekor kelinci tolol yang bersanding di sebelah gajah. Yang ketiga adalah Suyanto alias Yanto, mahasiswa biasa, berwajah biasa-biasa saja yang pula tak punya pengalaman bercinta kasih dengan perempuan. Hingga mudah ditebaklah, hanya Bagus dan Galih yang benar-benar bersaing mendapatkan cintanya.

Mulanya ia ragu, apakah akan memulai babak baru dalam hidupnya, berkasih-kasihan dengan lelaki. Masih jelas betul di telinga dan benaknya suara ayahnya penuh harap menasihati: “Aja dhisit cerak karo wong lanang . Selesaikan belajarmu, nanti setelah kau bekerja, barulah kau boleh berteman dekat dengan laki-laki.” Setelah itu kembali berdengungan nasihat ayahnya yang mengingatkan akan harapan sang nenek. Kemudian ia terkenang wajah ayah ibunya. Wajah yang ia rasai sangat berbeda dengan kebanyakan para pengajarnya yang berpendidikan. Ia menimbang-nimbang dan berfikir: Orang-orang tua, mengapa mereka hendak mengendalikan hidupku? Mengapa pula aku mesti tunduk pada cita-cita nenekku? Ia sendiri tidak mengalami kehidupan yang kualami. Ia sendiri tak pernah mengalami nikmatnya jaman ini. Dan Ibu Bapakku, mengapa pula aku mesti turutkan? Apa salahnya berkasih-kasihan dengan lelaki. Jaman sudah berubah. Apa yang perlu ditakutkan? Semua pertanyaan itu terus menderu dalam benaknya, dalam pemikirannya. Hingga pada suatu titik ia berkeputusan: Hidupnya, haruslah ia sendiri yang tentukan!

Kedua orang pecintanya, Bagus dan Galih sering datang di tempat ia mondok. Ini adalah pencapaian tersendiri baginya, karena sementara kawan-kawannya belum ada yang didatangi lelaki, ia telah membuat dua orang mengantri, dan satu orang mundur teratur tahu diri. Dan ia pun menjadi sering digoda oleh kawan-kawannya agar memilih satu yang paling sesuai di hatinya. Ia menjadi bimbang. Dalam renungannya, keduanya memiliki kebaikan kebaikan tersendiri. Bagus berwajah tampan, Galih pun demikian. Namun kalau ditimbang, nilai paling banyak dikumpulkan oleh Bagus. Ia santun berkata dan pandai mengambil hatinya. Ada saja yang dibawa sebelum berkunjung: cokleat silverqueen, atau sebungkus nasi goreng hangat untuk makan malam. Pula, Bagus pandai mencari pendukung. Ia selalu membawa sebungkus martabak untuk kawan-kawannya satu kos. Dan atas perhatian lelaki itu, dan dorongan kawan-kawannya, ia pun menjadi jatuh hati pada Bagus. Tak sampai dua bulan, remaja kaya itu berhasil mendapatkan cintanya. Galih, sebagaimana Suyanto, menjadi pecundang, tersungkur tanpa pernah ditengok lagi.

Dunia baru benar-benar ditemukan olehnya kini. Dan kebahagiaan baru satu demi satu mulai ia kunyah. Bagus anak orang kaya. Untuk yang satu ini ia sering tak percaya pada dirinya sendiri: ia bisa bersanding dengan anak orang kaya, orang terhormat!. Ia merenungi asal dirinya: keluarga pegawai rendahan, keturunan petani penggarap.
Kini bersama Bagus dan uangnya, ia bisa membelikan apa yang ia inginkan. Lipstik, pakaian, makan siang dan malam. Keasyikan bermesra dan berkasih-kasihan dengan Bagus membuatnya jarang kembali pulang ke desanya di pinggir timur Kebumen. Akhir pekan yang biasanya ia rasai rindu pada ayah dan ibu serta ayam-ayam peliharaannya di rumah menjadi sirna. Kini rindunya hanya untuk Bagus saja. Ketika ia membayangkan ayahnya yang sedang tersenyum menuntun sepeda pulang dari kecamatan, bayangan itu cepat tergantikan dengan bayangan Bagus yang juga tersenyum dengan jaket kulit dan mobilnya yang bersinaran. Tiap malam minggu ia lewatkan waku bersama Bagus, di dalam mobil yang selalu mengkilap dan wangi. Alun-alun Purwokerto menjadi tempat mereka menikmati jagung bakar sambil duduk berdempetan menggeser-geserkan punggung tangan. Dan gairah demi gairah meletup letup dan bermekaran, berlompatan di hati , benak, dan dalam kelenjar mereka masing-masing. Dan tak hanya tulus cinta darinya, Bagus mendapatkan nikmat suci sari madu tubuhnya kurang dari dua bulan lebih satu minggu setelah mereka resmi berkasihan…

Dan sesuatu yang sering didengarnya, pernah dibacanya, dan berulangkali dikutukinya dengan angkuh mengenai pergaulan muda mudi terjadilah padanya, dirinya sendiri: Ia hamil. Hamil! Sudah lebih dua bulan ia tidak mendapat haidnya. Dan suatu malam, selembar alat pengetes kehamilan yang dibawa Bagus dengan wajah was-was memberi pesan bisu padanya, pesan yang ia amat takuti yang ia sendiri tak dapat membantah: ia telah berbadan dua. Satu kepanikan baru tecipta kini di hatinya, di dalam hati kekasihnya Bagus. Mendadak ia merasa berdosa dan terlaknat. Ia mengucap ampun pada Tuhan dan menyesali sejadinya apa yang telah dilakukan. Beberapa jam ia menyesali mengapa dahulu ia pergi merantau untuk kuliah dan bukannya bekerja seadanya saja di Kebumen. Kemudian disesalinya perkenalan dengan Bagus. Teringat kembali ia akan nasihat ayah dan ibunya terkasih, nasihat yang ia remehkan. Nasihat dari para lugu dan tak pandai itu. Ia mengandaikan lagi wajah neneknya yang tak pernah diingatnya. Dan wajah nenek rekaannya terlihat murka dalam bayangannya sendiri. Ia menggigil takut. Dan di depannya kini, sang kekasih tak menunjukkan kewibawaan dan keterusterangan.
“Bagaimana Gus, aku takut…”
Pemuda itu terdiam. Badannya besar, tubuhnya tinggi. Namun ia adalah anak ingusan yang tak pernah jauh dari sentuhan dan kendali induknya. Bagus tak juga berkata-kata yang bisa
menenangkannya. Si tampan berbadan besar itu berhati kecil, berhati ciut.
Ia mengulangi lagi, kata-kata yang sudah diketahui kekasihnya:
“Aku hamil, Gus..”
Ia kemudian menyalahkan kekasihnya itu. Si tampan tetap terdiam dalam wajahnya yang semakin memucat, bisu tak berkata-kata. Ia hanya memainkan anak kuncinya mobilnya. Dalam benaknya membayang jelas wajah lonjong berambut separuh botak. Wajah Bapaknya, wajah yang menjanjikannya pekerjaan di kantornya di Jakarta begitu ia lulus sarjana. Namun ia tahu, Bapaknya itu tak akan pernah menyetujui perjodohannya dengan anak orang biasa seperti Ratna.
“Kita harus kawin secepatnya, Gus.” Diremasnya telapak tangan lelaki itu keras-keras dengan telapak tangannya sendiri yang telah membasah oleh keringat dingin, memaksa Bagus untuk berkata-kata.
“Aku tak tahu, Ratna,” Bagus akhirnya menjawabi.
“Kau harus bertanggung jawab Gus, yang ada di perutku ini adalah bakal anakmu sendiri…”
“Aku takut..”
“Apa yang kau takutkan Gus?”, ia menanyakan sesuatu yang ia sendiri tahu jawabannya. Bagus, kekasihnya itu takut akan masa depan yang terampas. Takut akan murka orang tuanya, Takut akan karir yang kandas. Takut akan berkeluarga Ratna yang biasa-biasa saja. Tiba-tiba saja ia menjadi semakin lemas.Dipandanginya wajah lelaki tercintanya. Akan tetapi mulut lelaki itu tetap terkunci.
Bagus tetap tak menjawab. Ratna pun terdiam, merenungi kata-katadalam pikirannya barusan. Ia pun takut. Kawin? Tidak semudah itu. Bagaimana ia akan memberitahu Ayah dan Ibu di desa? Apa kata mereka nantinya: ‘Baru setahun kuliah kok sudah mau kawin?’ atau kutukan yang akan dihujankan padanya jikalau mereka tahu ia telah menjadi pezinah. Ia sepenuhnya sadar, kawin di desa tak bisa selaksa ayam. Mestilah ada perayaan, mestilah ada kenduri dan persiapan sebelumnya. Kalaupun ia harus kawin dengan Bagus sekarang, maka akan menimbulkan tanda tanya dan curiga tetangga. Dan kecurigaan tetangga di desa adalah siksa rajam bagi siapapun yang dicurigai. Tiba-tiba ia merasa sedang menyorongkan ayah ibunya di bawah cambuk berduri masyarakat desa. Badannya melemas, hatinya melunglai.
Ia terus berfikir, sekaligus menjadi semakin cemas. Gugup ia berkata lagi:
“Bagaimana Gus?”
“Aku tidak bisa, Ratna”
Ia menukas cepat:
“Tidak bisa apa?”
“Aku tak mungkin mengatakannya.”
Sejenak keduanya terdiam. Beberapa mahasiswi penghuni kos datang, menyapa mereka berdua dan menggoda. Terpaksa ia dan Bagus bersandiwara, tersenyum dan melambaikan tangan. Senyum dalam tangis di hati. Ketika suasana kembali sunyi, kembali ia berkata:
“Kau tak peduli padaku Gus, kau..”
“Aku sayang pada kau, Ratna”
“Kalau kau sayang padaku, mengapa kau diam saja?”, ia memburu. Tangannya membelai pipi Bagus. Matanya menatap wajah kekasihnya itu dengan segenap rasa di hatinya. Dengan segenap harap.
Dalam hatinya Bagus membenarkan. Apakah ia benar-benar menyayangi gadis itu? Sesungguhnya dan sepenuhnya?
“Kau pikir orang tuaku tak marah Gus?, mereka pasti akan marah dan malu.”
“Gus, kita harus kawin. Kau harus bilang pada Bapak Ibumu, Gus..” Ratna berkata. Diggenggamnya tangan Bagus erat. Ditatapnya wajah lelaki itu, lelaki yang telah menikmati cinta dan tubuhnya.
Tak ada suara kini. Hanya desau angin malam yang menderu. Suara denting mangkuk penjual bakso terdengar keras mencoba mencari rezeki.
“Baiklah. Aku akan mencoba mengatakan pada orang tuaku”
Ratna terdiam. Terisak ia kini, menangis dalam duka dan bingungnya sendiri. Ketakutan mulai muncul berganda-ganda dalam benak: ia hanya sekedar pemuas nafsu Bagus saja. Namun ia berhenti dari kekhawatirannya, berbalik menuduh dirinya sendiri: ia merasa bahwa ia pun menjadikan Bagus sebagai pemuas nafsunya pula. Ya bukankah ia sendiri memiliki nafsu itu?
Dan malam itu Bagus pulang dengan lesu meninggalkannya yang terduduk lunglai. Biasanya kedua bibir mereka berpagutan di pojok ruang tamu kos yang sepi ketika saat perpisahan tiba, namun malam itu semua kehendak untuk melakukan itu sirna sudah. Ratna mengunci kamar, tangisnya semakin menjadi. Dijambakinya rambutnya sendiri. Namun ia sadar, hal itu tak akan merubah keadaan. Ia beringsut bangkit dan menuju meja riasnya. Dipandanginya wajahnya sendiri. Dan ia mengutuki dirinya sendiri: perempuan tak perawan, perempuan murahan!. Dan ia kembali menangis, merebahkan badan ke tempat tidur dan tersedu sejadinya. Hujan turun dengan deras mengalahkan deru airmatanya. Airmata yang tak mempunyai keampuhan untuk dicurahkan. Dalam tangisnya ia mendoa, mendoa agar Bagus mau mengawininya. Mengawininya dengan segera, sebelum perutnya semakin membesar detik demi detik. Pula ia mendoa agar Tuhan mengampuni dosanya, sesuatu yang ia sendiri tak yakin. Terbayang kini hukuman bagi pezina, sesuatu yang belum pernah dilihatnya, namun dapat dibayangkannya dari pelajaran-pelajaran agama. Ia merinding dan semakin bersedih. Dipandanginya perutnya. Dibelai-belainya. Pikirannya melayang-layang membayangkan wajah si anak kelak. Ia menangis dan terus menangis, dan jari-jari tangannya yang halus lembut membelai-belai perutnya lagi hingga tertidur.

Belaiannya pada perutnya sendiri, pada anak dalam rahimnya tak sampai satu minggu. Bagus datang dengan wajah suramnya, mengabarkan tiadanya jalan bagi mereka menikah. Sebaliknya, ia membawa uang dari orang tuanya untuk menggugurkan kandungannya. Dan sekali lagi ia menangis sejadinya di kamar itu. Tangis yang sia-sia, karena tak sampai duapuluh jam kemudian ia telah berada di pinggir utara kota Cilacap, mengenyahkan gumpal daging dari rahimnya. Dan ia menangis merasakan sakit, sakit pada tubuh dan hatinya. Dan saat ia telentang di kamar itu ia merasa betapa hari itu adalah hari yang paling celaka dalam hidupnya. Ia merasa menyesal dan tak berguna. Ia merasa telah khianat pada ayahnya, pada ibunya. Dan kesedihannya bertambah penuh, setelah dua bulan kemudian Bagus pergi, meninggalkan kuliahnya, meninggalkan dirinya dan tak pernah kembali.

Pintu kamar terbuka. Seorang lelaki berperawakan tinggi tegap berambut menyentuh kerah masuk. Suaminya sendiri. Ia masih memakai baju kerja. Wajahnya terlihat lelah, namun tetap cerah. Perlahan ia berkata:
“Kau belum tidur, bagaimana anak kita?”
“Ia tidur.”
“Ia sungguh lucu. Alisnya sungguh indah, mirip kau.”
“Semoga keras kepalanya tidak seperti dirimu,” ia melirik pada suaminya tersenyum.
“Juga tidak sepertimu yang bandel,” suaminya mencubit ujung hidungnya, kemudian berbalik keluar menuju pintu, hendak mandi.
Ia tersenyum. Suami yang baik, pikirnya dalam hati. Dipandanginya wajah punggung suaminya itu. Dan ia berterimakasih, karena ada lelaki yang menerima dirinya. Ia tahu, suaminya pasti mengerti bahwa ia telah tak utuh lagi. Dan penerimaaan itu dikarenakan suaminya pun jujur, bahwa ia juga tak utuh lagi. Ketidakutuhan bertemu ketidakutuhan. Dan itu dirasakan paling adil baginya. Ia tak menuntut seorang perjaka untuk menemaninya. Dan ia tak ingin menanyakan lebih jauh masa lalu suaminya, seperti ia pun ingin memendam masa lalunya. Ditengoknya anaknya itu. Kulitnya masih tipis dan kemerahan. Ia nampak nyenyak dengan pakaian bayi bergambar jerapah yang bagus dan bersih, di kamar yang bersih, dan rumah yang bersih pula. Pada dirinya sendiri ia berjanji, tak akan mengatakan pada siapapun, tak terkecuali Titien karyawannya, bahwa anaknya yang baru tiga hari terlahir itu, bukanlah anak pertama…

Purwokerto, Mei 2006

Mewujudkan POLRI Yang Dimiliki, Dicintai, dan Dibanggakan oleh Masyarakat

Dimanakah Polisi ketika lampu lalu lintas mati di Purwokerto akhir-akhir ini? 085625786xx

SMS di atas adalah salah satu pesan pendek yang dimuat di kolom Suara Warga Harian Kompas Edisi Jawa Tengah, Sabtu 14 Juni 2008 halaman L. Isinya begitu menggelitik. Sang pengirim seolah gusar dan mempertanyakan polisi yang tak ada di saat ia seharusnya ada. Secara tersirat pengirim SMS menggugat polisi yang selalu ada manakala kehadirannya justeru tidak lebih dibutuhkan (dalam konteks SMS di atas adalah ketika lampu lalulintas berfungsi normal). SMS tersebut terbaca begitu singkat namun begitu kaya makna. Ia merefleksikan citra Polisi sebagai sosok yang kehadirannya begitu dinanti dan ditunggu, namun pada kesempatan yang lain acapkali menjadi sosok yang dibenci. Polisi yang dikenal dengan seragam cokelat dan sepatu hitamnya ternyata mempunyai citra yang beragam dalam benak masyarakat. Justeru karena itulah polisi selalu menarik untuk diperbincangkan. Saya hendak mendiskusikan citra polisi melalui sebuah kisah yang benar-benar pernah terjadi di bawah ini.

Pada suatu hari di paruh akhir 2007, di sebuah titik di tengah sebuah kota di Jawa Tengah, sebuah bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) berhenti di tempat di mana jelas-jelas terpasang tanda larangan berhenti. Tentu saja bus tersebut bukanlah yang pertama kali berhenti dan mencari penumpang di sana. Ada puluhan bus yang melakukan hal yang sama setiap harinya dari pagi, petang hingga larut malam. Dari arah Purwokerto, puluhan bus baik besar maupun kecil berlomba mempertaruhkan keselamatan diri maupun orang lain berkejaran mencapai tempat itu terlebih dahulu. Tujuannya satu; meraup penumpang yang begitu banyak menunggu di situ. Tempat itu memang dikenal sebagai terminal bayangan, karena memang sesungguhnya ia tak diperuntukkan untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang. Badan jalan yang sempit membuat laju kendaraan lain terhambat karena separuh badan jalan dipakai oleh bus-bus berbadan besar yang berhenti di sana.

Tak jauh dari tanda larangan dimana bus itu berhenti, terdapat pos polisi walau tak terlihat karena tertutup jalan menikung. Polisi tak selalu mengawasi daerah itu, dan oleh karenanya tak heran jika para pengemudi selalu membandel menghentikan kendaraannya di terminal bayangan itu. Namun hari itu bukan hari yang baik bagi sang pengemudi bus AKAP dan awaknya. Seorang polisi muda, berbadan besar tegap menghampiri ketika bus tengah diparkir tepat di depan tanda larangan berhenti. Polisi itu menegur sopir. Nada bicaranya tinggi, murka kepada seorang yang seusia dengan ayahnya sendiri.

Sang sopir berusaha menjelaskan, dan mengakui bahwa ia bersalah telah berhenti di tempat yang tak seharusnya. Polisi muda tersebut tak ambil peduli. Ia terus marah dan berkata-kata dengan nada tinggi walau kondektur turut turun tangan dan berusaha meminta maaf seraya berjanji tak akan mengulangi hal itu lagi. Polisi muda itu meminta keduanya, sopir dan kondektur untuk menuju ke pos. Surat-surat kendaraan ia bawa. Sampai di sini, seluruh penumpang bergumam. Gumam yang satu menyatakan: “paling-paling minta duit”. Gumam yang lain “kasih uang aja, nanti kan selesai.” Berbagai gumam para penumpang bukannya tanpa dasar. Pengalaman membimbing mereka kepada cara pikir seperti itu. Dan setiap mata penumpang kembali mengawasi dari dalam bis AKAP tersebut, ada yang melongokkan kepalanya, dan beberapa bahkan ikut turun menyaksikan jalannya peristiwa.

Sampai di depan pos penjagaan, sang polisi kembali menumpahkan kekesalannya pada sopir dan kondektur. Dalam bahasa Jawa ia berkata kira-kira seperti ini “Anda sudah tahu bahwa di sini ada tanda larangan untuk berhenti, tapi anda masih saja ngetem di tempat itu.” Ia kemudian menegaskan bahwa bus-bus yang berhenti di situ benar-benar mengganggu kelancaran berlalu lintas.Barangkali merasa dikejar waktu karena perjalanan masih jauh, kondektur mengeluarkan uang duapuluh ribu untuk kemudian disodorkannya pada polisi tersebut. Pemandangan ini terlihat oleh semua saja para penumpang yang sedari awal menyaksikan dari dalam bus. Para penumpang kembali bergumam, dan berharap permasalahan ini akan selesai sehingga perjalanan kembali dapat dilanjutkan. Namun di luar dugaan, polisi muda yang wajahnya memerah itu menampik uang yang disodorkan sang kondektur. Para penumpang yang menyaksikan menjadi terkejut dan menyangka bahwa uang sejumlah itu kurang. Namun dugaan penumpang salah. Polisi muda itu dengan cepat memasukkan uang kertas itu kembali pada saku baju sang kondektur sambil berkata: “Saya butuh uang, namun saya bukan polisi yang bisa dibeli Pak.” Ia memandang wajah sang kondektur dengan tajam. Kepada kondektur itu ia berkata keras bahwa menyuap petugas adalah pula pelanggaran hukum dan ia bisa memperkarakan hal ini. Menyadari kesalahannya kondektur menghiba minta ampun serta berjanji tak akan mengulangi lagi. Sang sopir juga memohon maaf, karena belakangan diketahui setelah diperiksa surat-suratnya, ternyata SIM yang ia miliki sudah lampau waktu. Pada sang polisi keduanya memohon maaf dan kebijakan atas kesalahannya. Walaupun kemarahannya kemudian bertambah karena usaha penyuapan, polisi muda itu kemudian kemudian mempersilakan sopir dan kondektur melanjutkan perjalanan setelah mencatat nama dan nomor kendaraan bus itu serta mengancam jika suatu saat terbukti membandel lagi ia akan mengambil tindakan tegas. Semua penumpang yang menyaksikan peristiwa itu menarik nafas lega karena permasalahan bisa diselesaikan. Tak henti-henti para penumpang memuji sang polisi muda, kendati bus telah semakin jauh berlalu meninggalkan tempat itu. Peristiwa itu, kejadian singkat itu memang hanya sebuah peristiwa kecil, namun begitu membekas di benak mereka yang menyaksikan termasuk saya, salah satu penumpang bus AKAP tersebut.

®

Tindakan polisi yang menunjukkan kemarahannya pada masyarakat sebagaimana ditunjukkan dalam kasus di atas tentunya amat disayangkan. Sebagai abdi masyarakat, ia mestinya memahami paradigma polisi sebagai pelayan dan pengayom masyarakat dan bukan sebaliknya minta dilayani dan dihormati masyarakat. Etika dan sopan santun harus dikedepankan dalam melaksanakan tugas. Akan lebih baik jika polisi tadi mendekati awak bus dan melakukan tindakan persuasif sekalipun ia menengarai adanya dugaan pelanggaran hukum. Ini berkesesuaian dengan Code of Conduct for Law Enforcement Official[2] yang menyebutkan bahwa in the performance of their duty, law enforcement officials shall respect and protect human dignity and maintain and uphold the human rights of all persons. Namun demikian terlepas dari kelemahan yang manusiawi sifatnya itu, peristiwa di atas memiliki arti yang tidak kecil dalam pembentukan citra polisi di masyarakat. Peristiwa di atas telah menggugurkan generalisasi yang selama ini melekat di benak bahwa semua polisi berperilaku tidak profesional dan tidak bersih dari KKN. Sisi kelemahan sang polisi muda tertutup dengan profesionalitas yang ditunjukannya. Tidak ada satu penumpangpun yang memprotes tindakannya memarahi sopir dan kondektur. Sebaliknya semua orang memuji sang polisi muda tadi. Sosok polisi muda yang tak mau menerima uang suap itu seolah sosok yang selama ini dirindukan kehadirannya yang selama ini dinanti-nanti.

®

Dari kasus di atas menarik dipertanyakan adalah mengapa ada polisi yang mampu menjaga profesionalisme dengan tidak menerima suap seperti sang polisi muda tadi, dan mengapa ada kalanya banyak polisi yang justeru mengambil kesempatan untuk keuntungannya sendiri? Tulisan ini meyakini setidaknya ada tiga (3) faktor yang berperan dalam menentukan profesionalisme seorang polisi.

Pertama, adalah faktor human resources atau sumber daya manusia (SDM). Membicarakan SDM kita tak bisa melepaskan diri dari proses rekrutmen anggota polisi. Hanya melalui rekrutmen yang baik dan transparant lah dapat diharapkan dihasilkannya anggota polisi yang baik. Sayangnya, seakan telah menjadi rahasia umum di masyarakat bahwa jika ingin menjadi polisi, orang haruslah menyetor sejumlah uang tertentu kepada para pengambil kebijakan rekrutmen. Jika tidak, niscaya akan sangat sulit memasuki dunia kepolisian. Memang selalu ada tempat bagi polisi yang benar-benar direkrut berdasar prestasi, namun tempat untuk itu begitu terbatasnya. Selebihnya rekrutmen lebih didasarkan pada kemampuan finansial. Model seperti ini mau tak mau menyingkirkan mereka yang sesungguhnya ingin benar-benar menjadi abdi masyarakat dengan sebaik-baiknya namun tak memiliki biaya yang cukup. Di sisi lain, rekrutmen yang masih berbau uang seperti ini memaksa para polisi junior untuk berfikir secara ekonomis manakala ia telah bertugas. Ia akan berupaya untuk mengembalikan modal yang telah digunakannya secepat mungkin. Memasuki dunia kepolisian bagi polisi yang memasuki karir melalui cara demikian menjadi tak ubahnya memasuki dunia dagang. Ini tentu bukan sesuatu yang baik, karena polisi bekerja bukan berdasar logika untung rugi, akan tetapi tugas dan tanggung jawab sesuai dengan Visi Misinya.

Kedua, adalah faktor keteladanan. Pendidikan dan latihan di bidang kepolisian telah dirancang sedemikian rupa untuk membentuk seorang warga negara menjadi polisi yang mampu menjalankan tugasnya sebagai abdi masyarakat. Namun demikian, apa yang sudah diterima dalam tahap pendidikan dan latihan itu tidaklah dengan serta merta akan membentuk karakter seorang polisi yang diidealkan. Seorang polisi terikat oleh hirarki komando yang ketat. Dalam konteks relasi bawahan dan atasan ini, keteladanan memegang peranan penting dalam pembentukan watak seorang polisi. Jika sang atasan tak mampu memberikan teladan yang baik, ia akan ditiru oleh anak buah, atau setidaknya menjadi justifikasi bagi polisi muda bahwa senior mereka pun melakukan hal yang sama. Masyarakat mempunyai caranya sendiri yang unik untuk mengidentifikasi profesionalisme polisi terkait dengan keteladanan ini. Manakala terjadi pergantian pimpinan namun penyakit masyarakat seperti judi, miras dan prostitusi tetap marak, masyarakat akan menyimpulkan bahwa jajaran pimpinan di kepolisian pastilah bermain mata dengan pelaku penyakit masyarakat. Namun sebaliknya jika penyakit masyarakat tidak banyak berkembang atau setidaknya dapat diminimalisir akan disimpulkan bahwa pimpinan polisi pastilah mempunyai profesionalitas yang tinggi.

Ketiga adalah berkaitan dengan faktor kedisiplinan. Membicarakan kedisiplinan polisi akan terkait erat dengan prosedur dan mekanisme pemberian sanksi kepada mereka yang terbukti tidak profesional dalam menjalankan tugasnya. Pemberian sanksi tentunya disesuaikan dengan berat ringannya kesalahan dan memperhatikan tujuan pemberian sanksi, yakni efek jera bagi yang melanggar maupun sebagai peringatan bagi anggota
polisi yang lain. Kejadian dimana polisi mengonsumsi narkoba, perselingkuhan dua (2) Kapolsek sebagaimana terjadi di Sleman, Yogyakarta, bahkan polisi menjadi otak kriminalitas sebagaimana terjadi di Surabaya dimana polisi menjadi otak uang palsu[3] ditengarai karena selama ini tidak ada penegakan disiplin yang memadai. Berkaitan dengan disiplin, polisi tidak bisa melepaskan diri dari partisipasi masyarakat. Pengaduan masyarakat harus dibuka sehingga pengawasan tidak saja bersifat internal, melainkan eksternal.

·

Sebagai suatu institusi penegak hukum dalam negara yang demokratik, lembaga kepolisian termasuk jajaran Polwil Banyumas dituntut untuk terus menegaskan dirinya sebagai abdi masyarakat. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat, memperluas partisipasi masyarakat, dan meningkatkan akuntabilitas terhadap publik. Untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme terkait mutu pelayanan, pembenahan dalam hal rekrutmen dan pengawasan mutlak dilakukan. Dalam hal rekrutmen, perlulah diperhatikan hak atas akses yang sama dari warga negara untuk memasuki sektor pelayanan publik (right of equal access to public service). Sebagaimana ditegaskan oleh High Commissioner for Human Rights[4], rekrutmen, tidak boleh melibatkan pembedaan berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin dan agama. Komisioner Tinggi HAM PBB juga menyatakan bahwa dalam rekrutmen polisi, satu-satunya hal yang menjadi pertimbangan haruslah kualitas dan kualifikasi calon polisi dan jumlah lowongan yang tersedia.

Sementara itu dalam rangka meningkatkan disiplin, tak boleh dilupakan pula untuk membuka seluas-luasnya askses bagi masyarakat yang hendak menyampaikan pengaduan terkait disiplin anggota. Ini akan menjadi penyelaras dan penyeimbang pengawasan dalam rangka penegakan disiplin yang yang internal sifatnya. Polisi harus terbuka dengan pengaduan masyarakat dan menghilangkan kesan bahwa kepolisian adalah suatu lembaga yang menyeramkan yang tidak bisa dikritisi.

Polisi juga harus memiliki sikap proaktif (proactive policing) dalam menghadapi situasi kamtibmas tertentu. Pengamatan penulis, setelah dimuatnya SMS warga di Harian Kompas Edisi Jawa Tengah pada hari Sabtu 14 Juni 2008 yang mengeluhkan ketiadaan polisi di berbagai persimpangan jalan, baru pada hari Senin 16 Juni 2008 terlihat polisi yang berjaga dan mengatur lalu lintas di seputar kota Purwokerto. Bahwa polisi berjaga ketika lampu lalu lintas mati adalah sesuatu yang patut kita apresiasi, namun disayangkan bahwa tindakan polisi yang mengatur lalu lintas ketika listrik padam lebih terkesan sebagai tindakan yang reaktif, yakni setelah adanya kritik masyarakat melalui media massa terlebih dahulu. Bukankah sudah sangat jelas bahwa ketiadaan lampu lalu lintas berpotensi menimbulkan ketidaktertiban dan seharusnya polisi proaktif berjaga di persimpangan jalan sebagaimana dilakukan ketika situasi normal?

Terkait dengan pengawasan dan dalam rangka community policing, di era kebebasan informasi seperti sekarang, sudah saatnya pula polisi membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat baik bagi mereka yang membutuhkan pelayanan maupun, mereka yang hendak mencari atau menyampaikan informasi. Era teknologi informasi yang memungkinkan manusia untuk saling berinteraksi tanpa hambatan fisik semestinya benar-benar dimanfatkan bagi Polwil Banyumas untuk meningkatkan kinerja dan profesionalitasnya. Sayangnya hal ini belum dilakukan secara optimal oleh Polwil Banyumas, setidaknya hingga tulisan ini dibuat tidak ada situs resmi Polwil Banyumas ketika penulis melakukan pencarian (searching) melalui media internet. Ini komunikasi dengan polisi baik yang terkait dengan kamtibmas maupun yang pengaduan masih harus dilakukan secara konvensional. Ini tentunya tidak menguntungkan karena warga masyarakat menemui kesukaran untuk mengakses informasi atau bahkan memberi informasi yang bisa jadi amat berguna bagi polisi itu sendiri. Di era keterbukaan ini hal tersebut nampaknya sudah tak lagi relevan dan sudah semestinya segera dilakukan perbaikan.

Pada akhirnya, bagaimanapun masyarakat mengharapkan polisi yang semakin profesional dan mumpuni dalam melaksanakan tugasnya. Telah disadari bahwa sebagai salah satu pilar penegakan hukum, polisi tidaklah dapat berdiri dan bekerja sendiri, namun akan senantiasa membutuhkan peran serta masyarakat. Oleh karenanya, polisi, khususnya Polwil Banyumas tidak saja harus terus menjaga hubungan dengan masyarakat sebagai basis dari kinerja yang optimal, akan tetapi membuka akses yang seluas-luasnya bagi keikutsertaan warga masyarakat. Hanya dengan keterbukaan dan dan paradigma sebagai pelayan masyarakatlah Polisi akan selalu dimiliki, dicintai, dan dibanggakan oleh masyarakat. S
elamat Ulang Tahun!


[1] Alumnus Monash University Law School, Melbourne Australia, Dosen Hukum dan Hak Asasi Manusia Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto.

[2] Annexed to General Assembly resolution 34/169 of 17 December 1979

[3] Lihat Antara News, Dibekuk Oknum Polisi Jateng “Otak” Sindikat Uang Palsu, http://www.antara.co.id/arc/2007/12/5/dibekuk-oknum-polisi-jateng-otak-sindikat-upal/, diakses pada 15 Juni 2008

[4] Human Rights and law Enforcement: A Manual on Human Rights Training for The Police, New York & Geneva: United Nations, 1997 hal. 158

Naif: Let’s Go

This review is written in Bahasa by myself, and is taken from Naif’s official forum Naiffunclub.com

NAIF Let's GoSekira satu dasawarsa setelah merilis debutnya (Naif, Bulletin, 1998), Naif kembali meluncurkan album bertajuk Let’s Go. Inilah album ke-setengah enam (istilah yang dipilih para begundal sendiri) setelah setahun sebelumnya melempar Televisi ke pasaran. Distribusi Let’s Go secara bundling dengan Rolling Stone Indonesia (RSI) edisi Mei 2008 adalah suatu pencapaian tersendiri mengingat RSI adalah bagian dari pohon besar Rolling Stone; sebuah majalah musik kelas dunia.
Ini pulalah album Naif pertama yang menggunakan bahasa Inggris sebagai judulnya, yang membuat para penggemar yang ingin memilikinya tak punya pilihan lain kecuali harus mendapatkan (bagaimanapun caranya) RSI mengingat Let’s Go tak dipasarkan di record stores. Oleh karenanya saya hendak mengatakan bahwa setakat ini Let’s Go adalah album Naif yang paling menguji kesetiaan para fans. Butuh atau tidak butuh majalahnya, anda mesti mengeluarkan uang empat puluh sembilan ribu koma sekian rupiah, suatu nominal yang tak kecil terlebih dalam suasana perekonomian nasional yang dihantam inflasi sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak. Saya sendiri mensiasati hal ini dengan membelinya secara patungan dengan kawan penggemar RSI (jangan tanya siapa diantara kami yang mesti jadi patung!). Masing-masing kami mengeluarkan duapuluh lima ribu. Saya mendapat CD, kawan saya mendapat majalahnya. Simbiose mutualisme bukan?
Lebih jauh, karena menjadi bonus RSI (sebenarnya saya tidak setuju dengan klaim bahwa Let’s Go adalah bonus RSI, apalagi yang dikatakan sementara orang sebagai CD gratisan. Bukankah harga RSI edisi Mei 2008 lebih tinggi dari biasanya yang berkisar tigapuluh lima ribu rupiah?!), dalam amatan saya sebagai pengumpul records, suatu saat kelak album ini menjadi album yang langka dan mempunyai nilai ekonomi dan prestis yang tinggi bagi pemiliknya. Sementara itu karena dirilis dalam format CD bisa jadi inilah album yang dalam sejarah Naif tidak akan dijumpai dalam format pita/tape alias kaset. Entah kalau suatu saat nanti semua album Naif dirilis dalam format CD, karena kita tahu, teknologi tape/kaset kini sudah mulai ditinggalkan, nasib yang juga dialami piringan hitam pada akhir 70-an. Continue reading “Naif: Let’s Go”

Naif: Let’s Go

Sekira satu dasawarsa setelah merilis debutnya (Naif, Bulletin, 1998), Naif kembali meluncurkan album bertajuk Let’s Go. Inilah album ke-setengah enam (istilah yang dipilih para begundal sendiri) setelah setahun sebelumnya melempar Televisi ke pasaran. Distribusi Let’s Go secara bundling dengan Rolling Stone Indonesia (RSI) edisi Mei 2008 adalah suatu pencapaian tersendiri mengingat RSI adalah bagian dari pohon besar Rolling Stone; sebuah majalah musik kelas dunia.
Ini pulalah album Naif pertama yang menggunakan bahasa Inggris sebagai judulnya, yang membuat para penggemar yang ingin memilikinya tak punya pilihan lain kecuali harus mendapatkan (bagaimanapun caranya) RSI mengingat Let’s Go tak dipasarkan di record stores. Oleh karenanya saya hendak mengatakan bahwa setakat ini Let’s Go adalah album Naif yang paling menguji kesetiaan para fans. Butuh atau tidak butuh majalahnya, anda mesti mengeluarkan uang empat puluh sembilan ribu koma sekian rupiah, suatu nominal yang tak kecil terlebih dalam suasana perekonomian nasional yang dihantam inflasi sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak. Saya sendiri mensiasati hal ini dengan membelinya secara patungan dengan kawan penggemar RSI (jangan tanya siapa diantara kami yang mesti jadi patung!). Masing-masing kami mengeluarkan duapuluh lima ribu. Saya mendapat CD, kawan saya mendapat majalahnya. Simbiose mutualisme bukan?
Lebih jauh, karena menjadi bonus RSI (sebenarnya saya tidak setuju dengan klaim bahwa Let’s Go adalah bonus RSI, apalagi yang dikatakan sementara orang sebagai CD gratisan. Bukankah harga RSI edisi Mei 2008 lebih tinggi dari biasanya yang berkisar tigapuluh lima ribu rupiah?!), dalam amatan saya sebagai pengumpul records, suatu saat kelak album ini menjadi album yang langka dan mempunyai nilai ekonomi dan prestis yang tinggi bagi pemiliknya. Sementara itu karena dirilis dalam format CD bisa jadi inilah album yang dalam sejarah Naif tidak akan dijumpai dalam format pita/tape alias kaset. Entah kalau suatu saat nanti semua album Naif dirilis dalam format CD, karena kita tahu, teknologi tape/kaset kini sudah mulai ditinggalkan, nasib yang juga dialami piringan hitam pada akhir 70-an.
Sepuluh tahun sejak Mobil Balap, Piknik 72, dan Puspa Indah orang akan bertanya: apakah Naif masih seperti dulu? Adakah yang baru? Perubahan apa saja yang terlihat? Adakah yang masih tetap dipertahankan? Adakah revolusi dalam bermusik mereka? Apakah yang tak lagi ditemukan dan seterusnya dan selanjutnya. Semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang sewajarnya dilontarkan terhadap Naif sebagai sebuah band yang secara objektif masih produktif, masih bertahan lebih dari satu dasawarsa terhitung sejak debutnya.
Mari kita coba mengurai dan memberi jawab. Naif terus berubah. Liat saja, semua personilnya sudah jadi bapak pula telah beranak pinak. Gambar Lego pada CD case album ini saja mencitrakan empat personil Naif dengan ukuran badan yang melar, sesuatu yang telah teridentifikasi dari foto para begundal di album sebelumnya, Televisi. Mungkin ini adalah pokok bahasan yang tidak esensial lagi tak penting. Namun point yang hendak saya ketengahkan di sini adalah walaupun suasana kebatinan yang melingkupi Naif amat berbeda dengan ketika mereka masih sekedar bujangan pada paruh kedua 90-an mereka toh masih mampu menggubah lagu yang bertema permasalahan klasik anak muda. Perhatikan lirik Ooh Yeah yang berkisah tentang pergulatan batin seseorang yang hasrat biologiknya menggejolak, namun pada saat bersamaan ia mesti pandai meredam keinginannya itu karena terhalang rupa-rupa pagar norma kemasyarakatan. Ini adalah common sense bagi siapa saja remaja pra-kawin yang belum boleh melakukan ini dan itu terkait aktifitas seksual karena konstruksi sosial menjadikan apa yang ada di benaknya itu menjadi sesuatu hal yang terlarang. Menggelitik memang. Bertitik tolak dari ini, saya berandai-andai (untuk tidak mengatakan “menyarankan”) jika di album yang ke setengah tujuh nanti (bukankah setengah enam ditambah satu jadi setengah tujuh?) Naif membuat lagu seputar permasalahan keluarga muda, permasalahan yang saya kira telah dialami sendiri oleh para begundal karena mereka semua kini adalah family man. Kalau hal itu direalisasikan tentu akan menjadi sesuatu yang unik karena tema keluarga muda amat jarang (untuk tidak mengatakan “tidak pernah”) diangkat dalam jagad perlirikan di tanah air. Tanya: Bukankah Ooh Yeah bisa jadi suatu lagu tentang seseorang yang telah berkeluarga pula? Jawab: Bisa juga sih..
Masih di lagu Ooh Yeah kita ‘melihat’ masing-masing instrumentalis seakan-akan bermain dengan egonya sendiri-sendiri. Emil memainkan bassnya tidak dengan rumit, nyaris diulang-ulang begitu saja sepanjang lagu, seolah gitar dan drum bukan hal yang penting. Dan memang dalam lagu ini, bass-lah yang memimpin menjadi jiwa dari semua instrumen di lagu ini. Bayangkan lagu ini tanpa permainan bass seperti itu. Akan menjadi sangat lain bukan? Ini sama halnya lagu Ya Fatimah dan Jemu (keduanya milik Koes Plus) atau Suara Alam (Dewa 19) tanpa bass-pattern yang berkarakter. Tak terbayangkan. Bass silih berganti dengan dengan kocokan rhythm guitar yang dimainkan dengan progresi chord yang juga monoton berulang serta drumming yang pula monoton dengan sound-nya (entah sengaja entah tidak) yang (setidaknya pada lagu ini) mendekati sound drum John Bonham. Pendeknya ketiga instrumentalis Naif: Emil, Jarwo, dan Pepeng bagai bermain dengan egoismenya sendiri namun secara simultan menghasilkan bebunyian yang komplementer.Menggemaskan!
Bagaimana dengan kwalitas musikalitas? Mesti dikatakan Naif bukanlah The Beatles yang pada awal 60-an masih membawakan rock n roll, termasuk cover songs dari berbagai komposer masyhur, dan empat lima tahun kemudian membuat cetak biru psychedelic rock dengan Revolver dan Sgt Peppers-nya (untuk kemudian bubar jalan pada 1970, tak sampai satu dasawarsa sejak debutnya). Memang ada perubahan, namun perubahan Naif dalam berkarya adalah perubahan yang terhitung evolusioner. Kalaulah ada yang relatif baru tentu adalah diintroduksinya unsur-unsur elektronik yang nampak jelas dalam Ajojing. Namun tetap saja hal demikian bukanlah hal yang samasekali baru. Setidaknya band Rumahsakit telah melakukan hal serupa ketika me-remake lagu Datang dan Hilang dalam nuansa elektronik dalam CD kompilasi mereka Rumahsakit: 1994-2004 (yang sayangnya beredar terbatas).
Perkembangan di bidang teknologi rekam maupun music instruments yang tak terlalu signifikan juga membuat apa yang dihasilkan sepuluh tahun lalu tak jauh berbeda dengan yang kita nikmati di 2008 ini. Namun yang membuat pas di hati saya adalah bahwa mixing Let’s Go ini seolah mendekati seperti apa yang dihasilkan oleh para teknisi rekaman era 60-70-an. Mendengarkan materi-materi album Naif seolah mendengarkan Naif secara langsung dari sebuah gedung atau ruangan tempat mereka rehearsal. Ada semacam gema di sana. Nuansa seperti ini akan mudah ditemukan pada banyak rekaman produksi Remaco, Irama Mas, Purnama di awal dan pertengahan 1970-an. Ini mungkin subjektifitas kuping saya saja. Entahlah.
Ideologi retro masih dipertahankan, dan justeru inilah hal yang paling krusial yang sepanjang perjalanan karir Naif dalam bermusik selalu dicetak tebal, miring, dan diberi underline sekaligus. Barangkali saya dan anda sekalian telah mahfum, jika ada band negeri ini yang mencoba ber-retro ria, ia akan dikenai tuduhan subversif: mengekor Naif! Masa lalu, masa silam yang berkonotasi kesederhanaan, kepolosan, keluguan, dan seringkali kekonyolan tidak lantas menjadikan Naif sebagai band lawak, sesuatu yang sayangnya justeru menjadi racun mematikan bagi band lain yang mencoba ‘memasuki mesin waktu’. You know what i mean?
Bagaimana dengan pengaruh musisi lain dalam album ini? Bukankah Naif dalam berkarya tak lepas dari dialektika, sehingga amat dibentuk oleh musik yang telah ada sejak saat mereka baik secara pribadi maupun grup mulai ada di dunia? Di forum ini maupun berbagai wadah, saya sering membaca dan melihat dikaitkannya Naif dengan The Beatles atau Koes Plus. Saya tidak begitu happy dengan klaim tersebut. Bukan karena saya memandang Naif lebih rendah dari keduanya, namun memang karena Naif tidak selalu bermusik seperti apa yang pernah dilakukan the Beatles maupun Koes Plus. Benar bahwa ada beberapa lagu Naif yang mempunyai kemiripan dengan The Beatles. Sebutlah Posesif yang (setidaknya) drum patternnya berkemiripan dengan In My Life atau Hidup itu Indah yang mengingatkan orang pada All You Need Is Love. Di album Let’s Go lagu Musnah Tinggal Debu yang bertemakan “petuah terhadap kawan” mengingatkan kita pula akan All You Need Is Love dan This Boy (Ringo’s Theme). Guitar riff dalam Johan dan Enny juga mengingatkan kita pada Mr.Moonlight. Iya kan? Di lain sisi agak sukar bagi saya menginventarisirlagu Naif yang mempunyai kesamaan ruh dengan Koes Plus. Electrified (Titik Cerah, 2002) bisa jadi salah satunya, juga reffrain lagu Posesif. Namun dalam kalkulasi saya, Naif lebih banyak mendekati Favorite Group ketimbang Koes Plus. Dalam hal lirik jenaka, Favorite Group adalah biangnya. Mungkin karena band masa lalu yang paling masyhur adalah Koes Plus, dan kebetulan Koes Plus (antara lain) begitu khas dengan potongan celana cutbray-nya yang juga pernah dilakoni Naif maka orang dengan begitu saja mengkaitkan antara keduanya dengan melupakan band-band lain seperti Zaenal Group (pimpinan Zaenal Arifin)De Hands, The Steps, atau mungkin band De Meicy.
Hemat saya, retro a la Naif tidaklah terdefinisi pada satu genre, periodisasi waktu, dan grup musik tertentu saja. Kita masih ingat betapa Pepeng dan kawan-kawan (sekedar alternatif dari media yang kerap menulis “David dan kawan-kawan”) sangat berhasil membawakan lagu khas Sir Elton John dalam Elton John (Titik Cerah, Bulletin, 2003) tanpa perlu (garis bawah) meng-cover lagu dari Sir Elton John. Elton John jelas gubahan Naif sendiri, namun seakan-akan itu adalah benar-benar lagu Sir Elton John yang unreleased atau rare track. Saya kira ‘Pak Botak’ (bukan bhotax yang ada di sini) akan sangat senang jika mendengar lagu itu, untuk kemudian menghujamkan tuduhannya bahwa itu adalah lagu yang masih ada dalam alam idenya. Keberhasilan serupa ditunjukkan lewat Ajojing (Televisi,2007) dimana band ini amat berhasil menangkap semangat disko yang mewabah pada paruh akhir 1970-an sebagaimana dikampanyekan oleh The Bee Gees tanpa harus membawakan cover song mereka. Dalam lagu Kuda Besi (Televisi, EMI, 2007) kita memasuki atmosfir hard rock 70-an awal ala Highway Star-nya Deep Purple. Masih kurang? Pengaruh lagu I’ve Been Away Too Long-nya George Baker Selection (ini bukan nama asli sesungguhnya) terdengar dalam permainan keyboard Chandra yang mengakhiri lagu Just B (Naif, Bulletin, 1998) .
Nah, di album Let’s Go ini, eksplorasi masa lalu merata dalam setiap lagu. Genjrengan akustik dan petikan elektrik dua tiga senar yang diterapkan Jarwo pada Janji Setia misalnya mengingatkan saya pada pola permainan Roger McGuinn, gitaris supergroup Amerika The Byrds akhir 1960-an. Solo gitar yang sederhana, drumming yang ‘sekedar mengiringi’ serta harmonisasi vokal latar menjadi kekuatan nomor yang berlirik, bernuansa, dan berirama ‘tentram dan damai’ ini. Sekedar mengingatkan, ruh Thye Byrds (dan bukan semata the Beatles) ini jugalah yang –disadari atau tidak- mewarnai nomor klasik Piknik 72. Instrumen pengiring dimainkan sekedarnya dan seperlunya saja menemani alunan vokal. Namun mesti dan harus diingat: untuk meramu sesuai dengan keperluan dan kebutuhan sama sekali bukan perkara mudah. Sederhana tidak selalu identik dengan gampang, apalagi remeh. Inilah tantangan abadi yang pernah dilontarkan Tonny Koeswoyo (Alm.) pada setiap musisi yang underestimate terhadap “musik tiga jurus”.
Mari meninjau lagu lain. Let’s Go Disco yang menjadi judul album membuat saya garuk kepala. Saya menemukan kemiripan progresi chord dan lagu ini dengan progresi chord Walking Contradiction-nya Green Day (Insomniac, Reprise, 1995). Silakan putar berulang-ulang kedua lagu itu dan komparasikan. Anda akan mengerti yang saya maksud, sekaligus saya tak perlu memeras otak untuk mendeskripsikannya dalam ulasan ini bukan? Jika anda tidak mengenal musik-musik Green Day, ini menjadi saat yang tepat bagi anda untuk mempelajarinya. Nantinya penilaian anda akan memberi jawaban abstrak atas tulisan saya ini. Tentu anda boleh bersetuju, boleh pula tidak. Sesuai dengan keterangan dalam sampul CD, lagu Let’s Go Disco digubah oleh Pepeng, David, dan Emil, oleh karenanya dari ketiga begundal itu pulalah setidaknya pula kita mengharapkan respon.
Masih bersinggungan dengan Green Day, ada yang mengatakan bahwa lagu Nah Lo! ber-genre Punk Rock. Saya sepenuhnya setuju, dengan catatan: ini adalah punk rock minus distorsi. Genre Rock N Roll bisa juga diterakan pada lagu ini.
Akan halnya beberapa lagu lama yang dihadirkan dengan aransemen baru dalam pandangan saya sebagian memang berhasil menawarkan sesuatu yang lain. Towal towel (najis version) yang di versi aslinya (Jangan Terlalu Naif, Bulletin, 2000) lebih mengedepankan suasana Hindustan dengan instrumen tabla-nya, kali lebih bernuansa campur-campur antara funk dan hard rock, atau yang pada 70-an awal sering disebut heavy sound. Solo gitar dalam lagu ini menarik untuk disimak. Licking dan bending-nya mengingatkan saya akan solo Hendrix pada lagu Voodo Child (Slight Return) atau Machine Gun dalam beberapa versi live-nya. Pula kalau dalam versi aslinya lagu ini bernuansa jenaka, Towal Towel dalam Let’s Go menawarkan aura yang justeru serius dan gagah. Ending lagu yang diisi dengan permainan perkusi, bass, dan ringikan gitar yang fading away adalah penyebabnya. Pada lagu inilah dalam pengamatan saya semua personil mengeluarkan kemampuan terbaiknya! Perbedaan aura inilah yang tidak (atau setidaknya kurang) saya tangkap dalam Ajojing versi Let’s Go manakala dikomparasi dengan versi aslinya. Tidak begitu jelas garis demarkasinya. Mungkin hanya lebih kering saja, lebih didehumanisasi, lebih dimesinkan, dielektroniskan. Saya tidak begitu menyukai musik elektronik, jadi saya tidak menggemari Ajojing dengan aransemen model ini.
Bagaimana dengan Naif (Jarwo iseng version)? Seperti juga Towal Towel, lagu ini juga menampilkan kesegaran baru. Naif dalam album ini menjadi anthem yang berwibawa, berbeda dengan Naif dalam album Jangan Terlalu Naif yang kental kesan jenakanya. Akan halnya Gula-gula saya tidak bisa memberi banyak komentar, karena saya tidak memiliki album Retropolis, album dimana lagu itu terdapat. Begini ceritanya; pada waktu album tersebut direlease, saya berniat membeli versi CDnya. Namun sayang beribu sayang, walau sudah berulang kali dipesan, apa yang saya inginkan itu tak kunjung hadir di toko musik langganan saya, sementara pada saat yang bersamaan saya bersikukuh tidak mau membeli versi kaset. Ya sudah, hingga hari ini saya tidak memiliki album tersebut, sehingga tak bisa memberikan perbandingan. Namun kalau boleh saya memberi komentar, lagu itu mempunyai nilai tersendiri karena Gula-gula bukan lagu yang sengaja dibuat untuk mereka yang terbiasa dengan lagu easy listening.
Lagu lain lagi untuk diulas: Ceriakan Dunia. Ini lagu menarik, saya berusaha mengingat band apa yang membawakan lagu senada dan semacam ini, namun tak jua berhasil. Yang pasti aransemen vokal latarnya mengingatkan saya akan nuansa yang dibangun oleh the Beatles dalam Blue Jay Way dan juga aneka vokal latar yang dikenal dalam rekaman-rekama awal nan memabukkan dari Pink Floyd. Pada lagu ini, vokal latar yang ‘aneh’ berbau psychedelic justeru ditempelkan pada lagu yang ringan, riang, tidak njelimet apalagi tulalit. Keunikan lain dari lagu ini adalah atmosfir lain yang dihasilkan oleh gitar akustik, terutama pada saat solo (yang kebetulan sangat bluesy, agak lumayan njelimet dan tulalit).
Pertanyaan penting: apa yang semakin tidak ada di album ini? Tak lain dalam catatan saya adalah peran instrumen keyboard dalam komposisi. Semenjak pamitnya Chandra setelah Titik Cerah, nyaris tiada lagi lagu-lagu Naif yang bernuansa khas instrumen papan kunci ini. Naif dalam era early days-nya adalah Naif yang sedikit banyak dibentuk oleh keyboardisasi Chandra. Ingat lagu Benci Libur, Mobil Balap, Aku Rela? Kesemuanya takkan menyala tanpa keyboard. Naif paska Titik Cerah sampai dengan Let’s Go adalah Naif yang menegaskan diri sebagai four piece band dan ini memanglah konsekwensi keluarnya Chandra pada satu sisi dan keputusan mereka untuk tinggal berempat. Walaupun unsur keyboard dan piano elektrik tetap dimasukkan dalam album yang ke enam setengah ini (dan juga beberapa lagu Televisi), namun kesan sebagai sekedar penambah lengkap musik yang hendak dihasilkan, dan tidak sekali-kali leading tak bisa dihindarkan. Simaklah Bunga Hati misalnya. Tapi tak mengapa.
Saya tak hendak menggunakan metode kwalitatif berupa jumlah angka atau bintang untuk memberikan penilaian terhadap album ini. Tidak. Namun mestilah saya katakan, album ini bagi saya belum mampu menandingi hebatnya debut Naif (1998). Bagaimana dibanding album-album lain setelah album Naif? bagi saya kesemua album setelah debut relatif memiliki keseimbangan kwalitas, namun tetap sebagai nomor dua setelah debutnya. Saya ingatkan: anda boleh saja tak bersepakatan kata dengan saya mengenai hal ini.
Demikianlah, sebagai orang yang selalu memantau setiap keluaran Naif sejak awalnya, hadirnya album ke-setengah enam ini tentu saya sambut tidak saja dengan sukacita dan apresiasi namun juga support (dengan membelinya walau secara patungan!). Satu dasawarsa dalam berproduksi dan belasan tahun dalam berkarya bukanlah hal yang mudah dijalani terlebih bagi sebuah kelompok musik. Benturan ide dan aspirasi, baik dalam bermusik maupun bersatu tentulah sering terjadi. Sepanjang tesis dilawankan dengan antitesis untuk kemudian menghasilkan sintesa yang indah (dan seterusnya berulang dengan skema yang sama) tentu tidak mengapa. Untuk itu saya mengucapkan selamat pada para begundal dan semua saja para crew atas pencapaian yang dicapai hingga saat ini. Naif adalah band dengan massa penggemar yang loyal, solid dan cenderung segmented, bukannya massal. Akan tetapi selama Naif tetap “naive”, saya berkeyakinan para penggemar tak akan meninggalkan.Walaupu era digital merajalela, penggemar seperti saya tak akan membeli Naif bajakan di emperan toko atau mencari-cari gratisan di internet. Tidak, percayalah.
Lebih jauh lagi untuk album selanjutnya nanti, bolehlah saya menyumbang sebuah pemikiran (Dua sesungguhnya, yang satu adalah usulan mengenai lagu yang bertemakan keluarga muda sebagaimana telah saya tulis di atas) yakni Naif mengadakan collaboration dengan musisi senior negeri ini senyampang mereka masih berkarya. Pak Yon Koeswoyo dari Koes Plus, Pak Jopie Item (Baby Face, Jopie Item Combo dll. Kalau jadi, ini tugas Pak Emil untuk merayu), Pak Utjok Harahap (ex AKA, UHISGA, dan Love Sweet & Gentle) dan lain-lain bisa diajak berduet. Di sini konsepnya bukan seperti Chrisye atau Iwan Fals yang mengundang musisi yunior untuk membantu mereka dalam berkarya, melainkan Naif (yang relatif lebih muda) meminta musisi senior untuk berduet bersama. Pengejawantahannya nanti bisa dalam bentuk penulisan lirik, bisa pula dalam hal duet maupun instrumentisasi. Asik kan kalau Pak Jopie Item bisa menjadi guest star dan menyumbang satu dua lead-nya di album Naif atau Pak Utjok Harahap ikut bernyanyi? Pokoknya ada satu lagu yang melibatkan musisi hebat negeri ini. Masukan dari kawan-kawan Naif dalam usulan ini tentu dinantikan hal ini karena inspirasi dari fans terbukti bisa menggerakkan sebuah kelompok musik dalam berkreativitas. TestAmenT misalnya merilis First Strike Still Deadly, setelah para penggemar di seluruh dunia melalui situs Testamentlegions.com meminta band yang sekampung dengan Metallica itu merekam ulang classic tunes mereka.
Akhirnya, review yang menghabiskan tak kurang dari sepuluh jam waktu dalam hidup saya ini saya akhiri sampai di sini. Tentu saja teriring salam hormat untuk para begundal dan segenap awak Naif baik para crew maupun awak perusahaan. Pada kesempatan ini pula ijinkan saya untuk mendedikasikan review ini untuk Bung Nyoman Suardhita. Beliaulah yang dalam banyak kesempatan selalu meminta saya memberikan komentar dan catatan kritis tiap kali Naif mengeluarkan karya baru. Permintaan beliau selalu saya sanggupi namun apa daya ke(sok)sibukan bekerja kerap membuat saya tidak mampu menyelesaikan dengan tuntas apa yang telah saya mulai. Tulisan-tulisan saya tentang Naif selama ini pada akhirnya hanya menjadi file-file setengah matang di komputer saya. Kepadanya saya memohon maaf, dan harapan saya beliau bersenang hati dengan ulasan ini. Tanggapan dan penyempurnaan dari segenap Kawan Naif saya nantikan.