Relief Dara Puspita

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2015

Surabaya, Pantai Pattaya, Mari-mari,  A Go Go. Itulah beberapa judul lagu yang pada umumnya akan secara spontan disebutkan orang manakala diingatkan akan nama Dara Puspita. Tak salah karena kesemuanya memang lagu-lagu milik  Darpus yang direkam dan pula populer di tahun 1960-an silam. Dalam sejarahnya, empat album penuh dihasilkan oleh band perempuan ini masing-masing Jang Pertama (1965), disusul kemudian Volume II, Green Green Grass (1967) dan A Go Go (1968). Kecuali A Go Go yang diambilkan dari album yang bertajuk sama, kesemua lagu di atas berada dalam debut Jang Pertama. Lagu A Go Go yang berbeat riang itu belakangan hari kembali dikenal di  kalangan anak muda terutama setelah dicover oleh Empat Lima, band asal Melbourne Australia yang sebagaimana Darpus, keseluruhan personilnya juga perempuan. Sementara itu lagu Mari-Mari gubahan Titiek Puspa itu beberapa tahun terakhir sempat kembali muncul ke permukaan manakala dibawakan oleh David Naif. Di luar lagu-lagu itu, orang terutama generasi kini dapat dikatakan tak mengenal lagu-lagu Darpus. Mengapa demikian?

12087436_10204748802220262_25713346_nTak seperti band Indonesia lama seperti Koes Plus, Panbers, maupun Mercys, album-album Darpus yang aslinya kesemuanya dirilis dalam format piringan hitam itu tak mengalami rilis ulang seperti dalam berbagai album kompilasi. Memang pada 1970-an beberapa label seperti Disco Records maupun Akurama Records sempat merilis album campuran lagu-lagu Darpus dalam format kaset. Namun seiring dengan berlalunya waktu rilisan itu hanya menjadi barang yang dimiliki kolektor. Sementara itu rilis ulang beberapa tahun terakhir dilakukan oleh label luar negeri seperti Sublime Frequencies (Amerika) maupun Groovie Records (Portugal) yang selain diedarkan dalam jumlah yang amat terbatas juga lebih menyasar audiens di luar Indonesia. Manakala sampai di Indonesia, dapat ditebak, harga jual album-album itu cukup tinggi.   Tutup bukunya label  yang menaunginya seperti Dimita dan Elshinta membuat rilis ulang album-album Darpus menjadi persoalan tersendiri. Darpus bukan Koes Plus yang lagu-lagunya, setidaknya di era Remaco, masih dirilis dan dapat dinikmati generasi kini walau di tengah penjualan rekaman fisik yang semakin lesu. Tak heran, walau pernah begitu jaya pada masanya di paruh akhir 1960an, lagu-lagu Darpus seakan tenggelam seiring dengan berjalannya waktu. Satu-satunya hal yang membuat Darpus masih dapat terlacak oleh mereka yang meminatinya adalah teknologi internet yang memungkinkan orang berbagi file, termasuk lagu-lagu Darpus melalui kanal Youtube misalnya. Continue reading “Relief Dara Puspita”

Invasi Global Dara Puspita

12071867_10204748802140260_1217515385_nTulisan ini dimuat di Majalah ROLLING STONE INDONESIA Edisi Oktober 2015

Terhitung 16 Oktober 2015,  Tropen Museum Amsterdam, Belanda menyelenggarakan pameran bertajuk  Global Sixties. Gelaran yang berlangsung hingga 13 Maret 2016 ini bertujuan untuk mendekatkan pengunjung pada kehidupan budaya 1960-an, sebuah periode dimana terjadi perubahan budaya dan politik nan revousioner. Yang membanggakan dari event tersebut adalah adanya booth dikhususkan untuk menampilkan segala hal mengenai Dara Puspita mulai dari kostum, foto, alat musik hingga audio live performance mereka. Liza Swaving, asisten kurator Museum Tropen mengatakan bahwa keberadaan Darpus diketahuinya manakala melakukan riset terhadap band rock tahun 60-an dari seluruh dunia. “Their swinging music, dynamic performance and striking appearance are very captivating, dan saya rasa kisah perjalanan Darpus sangat berkesesuaian dengan konsep pameran kami”, paparnya. Continue reading “Invasi Global Dara Puspita”

Dara Puspita dan Koes Bersaudara: Lebih Populer Siapa?

Dara Puspita kika: Susy Nander (drums), Titiek Hamzah (bass, vocal), Lies A.R. (rhythm guitar, vocal), Titiek A.R. (lead guitar, vocal). Foto ini diambil dalam kesempatan mereka tampil di aneka kelab musik di Paris 1971
Dara Puspita kika: Susy Nander (drums), Titiek Hamzah (bass, vocal), Lies A.R. (rhythm guitar, vocal), Titiek A.R. (lead guitar, vocal). Foto ini diambil dalam kesempatan mereka tampil di aneka kelab musik di Paris 1971

Melalui posting di di Group FB Obrolan Seputar Koes , group yang menjadi wadah penggemar Koes Plus/Koes Bersaudara akun FB Ade Tejanegara (AT) memposting thread yang membandingkan Koes Plus dan Dara Puspita (Darpus). Intinya, posting bertanggal 13 Agustus 2013 tersebut mengkomparasikan Dara Puspita yang seakan tenggelam tiada kabar, sementara Koes Plus tetap jaya. Padahal, klaim thread tersebut, keduanya adalah band seangkatan.   Lebih lanjut Ade mengklaim bahwa kepopuleran Darpus di  luar negeri tidak ada artinya kalau di dalam negeri tidak populer, atau dengan kata lain tenggelam di bawah nama Koes Plus. “Miris sekali”, demikian kalimat penutup thread tersebut, suatu ekspresi yang terkesan memandang rendah pada Darpus.

Perbandingan kedua band itu, Koes Plus dan Darpus buat telinga saya yang lahir jauh setelah masa jaya kedua band tersebut sebenarnya sama sekali bukan hal baru, dan nada fanatisme (terhadap Koes Plus) seperti itu pula hal usang bagi saya. Namun, sebagai pribadi yang menaruh minat atas sejarah perjalanan kedua band tersebut, klaim Ade Tejanegara tersebut layak dikritisi semata agar sejarah bisa ditelaah dan diresapi tanpa distorsi. Dan mumpung ada libur lebaran, maka inilah tanggapan yang bisa saya susun dan berikan: Continue reading “Dara Puspita dan Koes Bersaudara: Lebih Populer Siapa?”

Kenangan Dara Puspita

Pada awalnya, mereka hanyalah anak remaja yang mencoba bermain musik di seputaran kota asal mereka, Surabaya. Perjumpaan dengan Koes Bersaudara di Hotel Simpang ketika mereka hendak meminta tanda tangan mengubah haluan karir mereka. Atas saran pimpinan Koes Bersaudara Tonny Koeswoyo, mereka pun nekat hijrah ke Jakarta, tanpa bekal yang memadai. Di Jakarta mereka berlatih diri dengan dibantu anak-anak Koes Bersaudara yang telah lebih dahulu populer. Perlahan tapi pasti mereka pun merambah sukses dan bahkan menurut polling Majalah Aktuil pada 1968, mereka menduduki peringkat teratas sebagai artis pilihan pembaca, lebih tinggi dari Koes Bersaudara. Meluncurkan 4 piringan hitam sejak 1966 hingga 1968, mereka pun Go International dengan tampil di berbagai panggung di Eropa. Sayang  tak berapa lama setelah kembali dari perjalanan panjang di Eropa mereka resmi bubar di Makassar pada Maret 1972. 40 tahun setelah berakhirnya band perempuan paling legendaris itu, saya, Manunggal K.  Wardaya berhasil menjumpai dua diantara personil Dara Puspita di kediaman mereka di Negeri Belanda.

Pesan singkat bertahun bertahun 1967 itu tertulis dalam kartu pos bergambar sebuah band pria dengan dandanan 60-an, terselip di halaman  album foto yang kebanyakan berisi foto  hitam putih. Pengirimnya bernama Ayob, gitaris utama band itu (hasil penelusuran, Ayob telah wafat sekira 2012). Dalam tulisannya ia mengirimkan salam tersayang kepada gadis kepada siapa kartu pos itu ia tujukan dan berikut titipan salam dari rekan-rekannya kepada semua kawan gadis itu, yang tak lain adalah para personil Dara Puspita yang lain. “Saya malah nggak ingat kalau ada kartu pos itu,” ujar Lies AR sang penerima salam tertawa geli. Bisa dimaklumi, karena kartu pos itu telah 45 tahun silam ia terima. Lies yang mantan pemain gitar ritem dan ,menyumbang suara di banyak lagu band legendaris Dara Puspita (Lagu Halo Halo, Burung Kaka Tua, Bhaktiku adalah beberapa lagu dimana ia berada dalam posisi lead vocal) mengakui bahwa gitaris band yang diingatnya dari Singapura itu sempat menaruh hati padanya, tapi karena Darpus, demikian band ini biasa disebut, sibuk berkeliling tour di dalam maupun luar Indonesia, tak pernah ada hubungan istimewa diantara keduanya. 40 tahun setelah formasi Dara Puspita resmi bubar di Makassar tahun 1972, Lies menjalani hari-harinya  seorang diri di Alphen aan de Rijn sebuah kota kecil di dekat Leiden, Belanda. “Anak saya dua, perempuan semua, dan sudah tinggal sendiri-sendiri”, katanya. Suami Lies, Robby Tromp telah meninggal dunia karena kanker. “Saya tiap hari ya begini, masak. Kadang-kadang saya menemani teman yang mengelola salon. Ya menemani ngobrol saja,” tambahnya. Lies yang bermukim di Belanda sejak 1973 ini kemudian mengenang betapa ia amat sedih ketika Dara Puspita yang baru kembali dari pengembaraannya di Eropa harus resmi bubar setelah mereka klaar menggelar tour di tanah air sepulang dari Eropa. “Kalau boleh memilih, sebenarnya saat itu ya nggak mau bubar,” lanjutnya dengan wajah yang masih menyisakan kecewa. Continue reading “Kenangan Dara Puspita”

Dara Puspita: Dari Surabaya Hingga Eropa

Artikel ini ditulis bersama Denny M.R. dari majalah Rolling Stone Indonesia (RSI) dan dimuat dalam majalah RSI edisi Mei 2010. Sebagian materi penulisan bersumber dari Handiyanto (1939-2012) eks roadie/tehnisi Dara Puspita. Kepadanya diucapkan terimakasih. Diucapkan pula terimakasih pada Samhan Nafi BS yang membantu menscan artikel ini.

Darpus Halaman 1

Darpus Halaman 2

Darpus Halaman 3

Darpus Halaman 4

Darpus Halaman 5

Kunjungan ke Titiek A.R Dara Puspita

Sampul Piringan Hitam Dara Puspita "Jang Pertama" (1966). Titiek A.R nomor 3 dari kiri
Sampul Piringan Hitam Dara Puspita “Jang Pertama” (1966). Titiek A.R nomor 3 dari kiri

Kunjungan beberapa pekan lalu itu bukan kunjungan bertamu biasa, melainkan kunjungan istimewa: mendatangi seorang legenda hidup musik Indonesia. Ialah Titiek Soedarmijati alias Titiek A.R, lead guitarist Dara Puspita. Tak kurang dari 2,5 jam perjalanan berkereta api harus ditempuh dari Nijmegen untuk mencapai Groningen dimana ia bermukim. Kereta api yang aku naiki hari itu, 17 Mei 2012, agak terlambat dari yang seharusnya telah tiba sekira 12:45 siang, akan tetapi baru tiba pada lebih kurang pukul 12:30.Titiek A.R., sejak awal 1980an memang menetap di negeri Belanda, menyusul adiknya Lies A.R yang telah lebih dahulu menetap di negeri kincir angin ini. Menjemputku di setasiun, Titiek A.R. ditemani menantunya Kees, yang juga mengemudikan mobil yang membawa kami ke rumah tinggalnya. Aku sendiri ditemani Rahmat Yanuar, dosen IPB yang membantu merekam wawancara dengan kamera video yang dimilikinya.

Sekitar 30 menit, kami sampai pulalah ke rumah Titiek A.R yang tenang dan hening seperti halnya perumahan di Belanda lainnya. Tentu rasa istimewa berada di kediamannya mengingat ia adalah figur besar walaupun telah terhapus dari memori publik musik Indonesia. Ialah pendiri Dara Puspita, dan pemberi sentuhan gitar pada lagu-lagu mereka yang pernah sangat dikenal di tanah air. Seringkali dalam pembicaraan dan obrolanku dengan sesama pemerhati musik lama ada ditanyakan “kemana” atau “di mana” keberadaan para bekas personnel band

Berfoto bersama di rumah Titiek AR, Groningen, Nederland
Berfoto bersama di rumah Titiek AR, Groningen, Nederland

ini. Tak banyak yang tahu, dan kalaupun tahu, hanya Belanda-lah jawaban akhirnya tanpa keterangan lebih lanjut. Dan aku kala itu berada di jantung keberadaan yang dipertanyakan itu! Akan tetapi, sungguh bisa dimaklumi ketidaktahuan publik akan keberadaan para bekas personil Darpus, atau bahkan ketidaktahuan masyarakat Indonesia akan keberadaan band ini. Lagu-lagu mereka, yang pada aslinya dirilis dalam format piringan hitam tak lagi dirilis kembali, kecuali oleh label Amerika (Sublime Frequencies) dan Portugal (Groovie Records) yang merilis kumpulan lagunya dalam format CD dan Piringan Hitam, dan amblas terjual dalam waktu singkat. Ketika aku mengunjungi Titiek A.R, Darpus telah begitu lama berlalu dari pentas musik tanah air. Mengalami masa populernya sejak sekitar 1965, pada tahun 1968 band ini menerima tawaran bermain di luar negeri yang membawa perjalanan mereka sebagai band di Eropa daratan dan Inggris Raya. Akhir 1971 mereka kembali ke Indonesia dan segera menggelar tour keliling Indonesia yang sold out di mana mana, walau akhirnya berujung pada bubarnya band ini pada 1972, tahun ketika aku sendiri belum dilahirkan!

Dalam show di Semarang Maret 1972
Dalam show di Semarang Maret 1972

Sekitar 2-3 jam aku habiskan di rumahnya dan kemudian menikmati rawon serta empal sapi yang dibuatnya sendiri. Masakannya enak, dan tak terasa sebagai rawon Belanda, persis seperti masakan di tanah Jawa.

Rawon buatan Titiek AR
Rawon buatan Titiek AR

Apalagi sambalnya yang juga sedap ditambah kerupuk udang yang lekker. Sebelum dan sesudanya, diri ini berkesempatan pula menjajal gitar Fender Stratocaster yang dulu menjadi kampak perangnya sekian lama, gitar yang dibeli di Pasar Baru, setelah kepulangan Dara Puspita dari show di Bangkok pada paruh akhir 1965. Aku memainkan lagu-lagu Darpus secara instrumental dengan gitar itu terutama lagu kesukaanku “Tinggalkan Aku Sendiri” yang merupakan gubahan Yok Koeswoyo (Koes Bersaudara). Sambil menggoreng loempia yang akan dijadikan bekalku pulang di kereta api, Bu Titiek ikut menyanyi mengikuti petikan gitarku, dan sesekali memuji permainan gitarku.

playing the legendary Fender of the legendary guitarist
playing the legendary Fender of the legendary guitarist
Fender Stratocaster milik Titiek yang dipakai sejak 1966
Fender Stratocaster milik Titiek yang dipakai sejak 1966

 

Sayangnya karena jarak yang jauh, dan keinginan pula untuk meninjau kota Groninengen untuk yang pertama kali, serta memperhitungkan Kees yang mempunyai kepentingan di hari libur itu, aku dan Rahmat harus segera berpamitan. Akan tetapi yang melegakan adalah bahwa aku berhasil melakukan obrolan singkat yang divideokan, yang telah lama ingin kulakukan. Banyak hal yang kami bincangkan mulai dari sejarah berdirinya Dara Puspita yang tadinya berawal dari Nirma Puspita, kenekatan mereka ke Jakarta atas anjuran Tonny Koeswoyo, hingga rasa kecewa karena Darpus harus bubar. Juga dikisahkannya betapa Darpus begitu sukses tiap kali main di Indonesia, dan bagaimana kenangan masa lalu itu membuatnya terharu [klik di sini untuk menyaksikan wawancara video bersama Titiek AR]. Hal yang sama telah kulakukan pada adiknya, Lies A.R ketika ku bertamu di rumahnya beberapa minggu sebelumnya [klik di sini untuk menyaksikan wawancara video bersama Lies AR]. Harapanku kelak bisa ke Groningen kembali untuk sekedar makan siang bersama, dan juga memainkan Stratocaster-nya yang masih sangat enak untuk dimainkan itu.
Nijmegen, 8 Juni 2012

Koes Plus dan Koes Bersaudara: Sebuah Sejarah Ringkas

 

Tulisan didasarkan pada tulisan saya sebelumnya yang  dimuat dalam TREK MAGAZINE dengan judul : Koes Plus dan Koes Bersaudara: Legenda Abadi Musik Indonesia. Koreksi dan penyempurnaan di sana sini telah dilakukan 

Berdiri pada pertengahan 1969, Koes Plus sebenarnyalah merupakan metamorfosa dari band pria bernama Koes Bersaudara yang memiliki rentang karir di dunia rekaman terhitung 1962-1969. Koes Bersaudara sendiri terdiri dari Koesdjono (Djon), Koestono (Tonny), Koesyono (Yon), Koesrojo (Yok), dan Koesnomo (Nomo). Sempat memakai nama Koes Brothers, band ini menelurkan dua album di bawah label MESRA Records masing-masing Long Play 12 inchi To The So Called The Guilties (1967), dan Long Play 10 inchi Djadikan Aku Domba-MU (1968) dua album yang sebenarnya diambil dalam satu sesi rekaman. Sebelumnya di awal dan pertengahan 1960-an, Koes Bersaudara tampil dengan konsep duo vokal Yon dan Yok Koeswoyo. Duet ini melempar berbagai single dalam EP (piringan hitam mini) seperti Bis Sekolah, Harapanku, Sendja, dan Awan Putih di bawah label Irama.

piringan hitam 7
piringan hitam 7″ Koes Bersaudara Jang Mempesonakan produksi IRAMA. Foto: Ridwan Jadul, D Jadul Shop, Blok M Square, Jakarta.

Keluarnya Nomo sang drummer pada 1969 memaksa Tonny sang pimpinan yang bertekad untuk terus hidup dari bermusik untuk mencari drummer pengganti. Adalah Kasmuri, eks drummer band Patas yang sebelumnya kerap membantu banyak backing group Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin, yang kemudian terpilih menggantikan Nomo karena pukulannya dinilai begitu keras dan variatif. Bersama Kasmuri yang kemudian akrab dipanggil Murry inilah Koes Plus merekam debut mereka di bawah label Melody Records, sebuah album yang berisi antaranya lagu superkeras berjudul Kelelawar.

Murry memang menjadi Plus” diantara para “Koes, namun tak boleh diabaikan bahwa Plus di era awal bukanlah milik Murry seorang. Adalah  Adji Kartono yang pula menyandang predikat “Plus” dalam tubuh Koes Plus. Ialah orang yang tercatat dalam sejarah sebagai pemain bass pertama Koes Plus. Pria yang kerap dipanggil Totok AR ini masuk dalam formasi pertama Koes Plus dikarenakan Yok tak mau bergabung dengan band baru bentukan Tonny dengan orang luar di luar dinasti Koeswoyo. Inisial A.R di belakang nama Totolk tak lain adalah nama ayahnya, Adji Rahman. Untuk diketahui, Totok merupakan adik kandung dua gitaris Dara Puspita yakni Titiek dan Lies AR. Permainan bass Totok terekam dalam album Dheg Dheg Plas (1969). Totok tak lagi memperkuat Koes Plus ketika Yok menggantikan posisinya pada 1970.

Totok (bertopi hitam) bernyanyi bersama kakak2nya, Titiek AR (gitar) dan Lies AR (berbaju merah). Titiek dan Lies adalah dua eks personil DARA PUSPITA. Bermain keyboard adalah Kako AR, saudara Totok pula. Perempuan di ujung yang pula bernyanyi adalah Susy Nander, eks drummer Dara Puspita
Totok (bertopi hitam) bernyanyi bersama kakak2nya, Titiek AR (gitar) dan Lies AR (berbaju merah). Titiek dan Lies adalah dua eks personil DARA PUSPITA. Bermain keyboard adalah Kako AR, saudara Totok pula. Perempuan di ujung yang pula bernyanyi adalah Susy Nander, eks drummer Dara Puspita

Racikan lagu a-la The Bee Gees, The Cats, dengan sentuhan warna Indonesia membuat Koes Plus segera meraih simpati publik musik Indonesia. Piringan hitam mereka laris, kesuksesan diraih, dan mereka pun semakin produktif. Dalam kurun waktu 1969 hingga 1973 mereka berhasil menelurkan 8 volume piringan hitam, belum termasuk album non-volume seperti album Natal. Dalam sebuah surat di tahun 1973 kepada Handiyanto, mantan tehnisi Koes Bersaudara yang kala itu bermukim di Nederland setelah mengawal Dara Puspita di Eropa (1969-1971), Tonny mengisahkan bahwa walaupun di Ibukota ada sekitar 25 band, namun mereka tetap eksis. Sementara itu walau tak sesukses Koes Plus, di awal dekade 70-an Nomo pula mengibarkan bendera No Koes yang juga memiliki pasar penggemar fanatik.

DSC_0380
Piringan hitam/vinyl 12 inch Dheg Dheg Plas dengan tanda tangan Yon Koeswoyo di atasnya

Berpindah ke label Remaco pada 1973, Koes Plus semakin menuai sukses dengan lagu-lagu mereka di volume 9 seperti Muda-Mudi, Bujangan dan Kapan-Kapan. Mereka pun melebarkan spektrum bermusik dengan merekam lagu lagu berbahasa Jawa dalam album Pop Jawa Vol. 1 pada tahun 1974. Di album inilah terekam nomor-nomor abadi semisal Tul Jaenak, Ora Bisa Turu, dan Ela Elo. Sukses dengan lemparan Pop Jawa Vol. 1 ini, mereka merilis tak kurang dari tiga (3) album berbahasa Jawa. Begitu luasnya massa pendengar Koes Plus, sehingga merekapun harus memenuhi selera pasar yang pula begitu luas itu. Maka bisa jadi Koes Plus adalah satu-satunya band yang membuat album Natal namun juga merilis album Qasidah. Mereka jugalah satu-satunya band yang merilis album Pop Anak-anak, album berbahasa Inggris (bertajuk Another Song For You), album lembut Folk Song yang didominasi gitar akustik, namun juga merilis album bernada keras seperti In Hard Beat yang kemudian juga diselingi dengan rilisan album Keroncong yang mendayu dan album-album Pop Melayu (hingga 4 volume di bawah label Remaco saja) yang mengajak bergoyang. Di era 1980an mereka bahkan merekam Pop Batak dan juga Bossas. Tawaran show pun mengalir deras, dan di paruh awal 1970an, bisa dikatakan tak ada yang menandingi Koes Plus dalam soal honor manggung.

Pada 1977 Koes Plus sempat vakum dengan bergabungnya kembali Nomo sebagai drummer, yang sekaligus menghidupkan kembali Koes Bersaudara. Album yang dirilis bertajuk Kembali juga amat meledak, dan hingga kini bisa dikatakan sebagai lagu wajib para penggemar Koes Plus/Bersaudara. Di sisi lain, Murry juga tidak mau menganggur begitu saja. Ia membikin Murry’s Group yang juga menelurkan album Kursi Emas/Selamat Tinggal Saudaraku. Murry yang memang sudah terbiasa melantunkan vokal semasa di Koes Plus (antara lain lagu Pak Tani, Desember, Penyanyi Muda) tidak menemui kesukaran dalam berolah vokal dalam group dimana ia menjadi figur sentral. Ia pula merilis sebuah solo album di masa itu bertajuk Sweet Melodies, yang berisi lagu-lagu seperti Papi Mamiku, Indria, dan Kesunyian. Reunian Koes Bersaudara tak berlangsung lama, dan Koes Plus pun kembali menyatu.

Menjelang berakhirnya dasawarsa 1970an, Remaco yang pernah tercatat sebagai label rekaman terbesar se Asia Tenggara itu harus gulung tikar. Koes Plus pun ‘dipindah’ ke Purnama Records, dimana mereka kemudian merekam album-album seperti Cubit-Cubitan, Aku dan Kekasihku, Bersama Lagi, dan Melati Biru. Namun demikian, berseiring dengan munculnya trend lagu-lagu sendu a-la Iis Sugianto yang dirilis label Lolypop milik Rinto Harahap (The Mercys) dan juga Ebiet G Ade, kepopuleran Koes Plus pun menjadi surut. Era 80-an bisa dikatakan adalah era yang sukar untuk mereka jalani, karena masa emas dengan penjualan meledak dan tawaran manggung bertubi-tubi telah berakhir. Namun demikian, mereka toh masih bisa menelurkan album-album dengan materi yang terbilang dahsyat seperti Asmara (1981), Da Da Da (1983), ataupun Cinta Di Balik Kota (1987), dan tetap muncul di acara-acara TVRI. Hingga akhirnya kenyataan itu tiba: sang motor dan inspirator Tonny Koeswoyo meninggal dunia pada 1987. Tak saja rasa kehilangan yang menggayuti kalbu para personil Koes Plus dan juga para penggemarnya, ketidakyakinan akan terus berkibarnya bendera Koes Plus tanpa Tonny juga dirasakan sebagai hal yag begitu berat dijalani.

Namun karena wasiat almarhum yang menginginkan agar Koes Plus tetap berkibar, para personil Koes Plus yang tersisa tetap merekam album-album seperti AIDS (1987), Pop Melayu Amelinda (1991 walau tetap saja, penjualan album-albumnya tak semeledak di era 1970-an. Hingga akhirnya pada 1993, band ini kembali menggebrak publik tanah air dengan berbagai show- come backnya. Nyatalah bahwa band ini masih memiliki begitu banyak penggemar setia yang merindukan masa keemasan mereka terbukti dengan membludak dan suksesnya show Koes Plus walaupun tiket yang dijual begitu mahal pada awalnya. Hingga pada 1994, bersama dengan Damon Koeswoyo yang tak lain adalah putera Tonny Koeswoyo, mereka merilis album bertajuk Tak Usah Kau Sesali. Setelah itu muncullah album-album lain yang melibatkan musisi-musisi besar seperti Dedy Dores (ex Freedom of Rhapsodia), Ian Antono (God Bless), dan Abadi Soesman. Karena satu dan lain hal, pada paruh kedua dekade 90-an Yok Koeswoyo memutuskan untuk mengundurkan diri dan hingga kini lebih menekuni kehidupan sebagai petani di Banten. Murry juga lebih memilih untuk bersolo karir dengan groupnya Murry’s Group. Tinggallah Yon Koeswoyo yang dengan dibantu banyak musisi yang datang dan pergi mengibarkan bendera Koes Plus. Banyak yang percaya bahwa Koes Plus tanpa Tonny sebenarnya tak lagi terbilang Koes Plus, namun banyak pula yang meyakini selama masih ada darah Koeswoyo dalam sebuah band, maka band itu masih layak bernama Koes Plus.

Terlepas dari itu, ketulusan dan dedikasi Tonny Koeswoyo dan saudara serta rekannya dalam Koes Bersaudara dan Koes Plus terhadap musik tanah air merupakan sumbangan yang begitu besar yang tak ternilai harganya. Koes Bersaudara dan Koes Plus adalah peletak fondasi musik pop tanah air, legenda tak tergantikan. Dua band ini telah menjadi ikon musik Indonesia yang sebagaimana The Beatles teruji oleh sejarah sebagai band yang dicintai dan dilestarikan oleh generasi yang terlahir jauh sesudah masa kejayaan mereka. [Manunggal K. Wardaya]

Dara Puspita, Embah Gambreng, dan Legenda Indonesian Invasion

DARA PUSPITA di Paris 1970
DARA PUSPITA di Paris 1970
Paket bersampul cokelat itu diserahkan Pak Pos padaku setelah aku menandatangani secarik kertas kecil tanda terima. Pada pojok kiri atas tertulis nama pengirimnya Handiyanto, beralamat di sebuah perumahan di kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat. Handiyanto ini kawan, tak pernah kujumpai di alam nyata setidaknya hingga tulisan ini kubuat di hari lebaran ke-dua 2009 ini. “Perjumpaanku” pertama dengannya adalah melalui sebuah artikel yang ditulisnya sendiri mengenai band Dara Puspita di majalah Aktuil terbitan 1972. Secara singkat, Handi, begitu Handiyanto biasa dipanggil (nama lainnya adalah “Mbah Gambreng”, sebuah nama panggilan yang diberikan oleh Lies A.R, rhytm guitarist Dara Puspita kala tour di Solo pada 1967) menuliskan asal muasal keterlibatannya mengikuti Dara Puspita dalam tour paling fenomenal sepanjang sejarah group musik yang ada di Indonesia selama kurang lebih 3 1/2 tahun di benua Eropa. Yang pasti, Handi menggantikan seseorang yang oleh para gadis Dara Puspita dipanggil sebagai Pak Moerdono (tak lain adalah ayahanda pengusaha otomotif Soebronto Laras) yang kala itu berperan sebagai manager, penerjemah sekaligus orang yang membantu Dara Puspita menandatangani kontrak untuk tour di Eropa. Karena satu dan lain hal (antaranya adalah situasi dan ketegangan akibat kondisi kerja yang buruk sebagai akibat dari klausul kontrak), Pak Moerdono yang usianya terpaut jauh dari gadis-gadis Dara Puspita, yang tak memahami teknis sound system (ini pula yang memaksa ‘anak-anak’ Darpus untuk pontang-panting sendiri hingga ke urusan putusnya kabel dan bongkar pasang instrumen) jatuh sakit dan kembali ke Indonesia. Hal itu mengakibatkan Dara Puspita semakin kelimpungan di negeri orang, karena benar-benar sendiri dalam mengurus segalanya, termasuk hal-hal teknis yang seharusnya tidak menjadi hitungan mereka. Untuk menyewa tehnisi di sana, jasanya amat mahal, terlebih untuk jangka waktu lama.Maka, dengan berbagai pertimbangan dan atas permintaan Dara Puspita, Handi yang kala itu masih menjadi tehnisi merangkap “seksi repot” Koes Bersaudara terbang ke Jerman menyusul Dara Puspita yang tengah berada di Hongaria dan mendampingi band yang pada awalnya bernama Irama Puspita ini menjelajah Eropa.
Perihal paket yang ternyata berisi kliping Dara Puspita dari majalah AKTUIL dan TEMPO, satu keping CD audio berisi bunga rampai lagu-lagu Darpus baik studio recording maupun live, satu keping CD berisi foto-foto Darpus maupun Irama Puspita (dan ada pula foto-foto cover album Koes Plus serta Koes Bersaudara) serta sebuah e-book tentang Dara Puspita yang ditulis sendiri oleh Handi, aku mempunyai kisahnya sendiri. Beberapa pekan sebelumnya di mailing list Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI) yang kumoderatori, ada kubaca kabar dari salah seorang member yang merupakan kenalan baikku yakni Gatot Triyono mengenai seseorang lelaki berusia kurang lebih 70 tahun bernama Handiyanto yang datang pada pertemuan KPMI di Langsat Corner, sebuah Cafe di Jakarta. Singkat cerita dikisahkan bahwa Gatot Triyono mendapatkan arsip-arsip rekaman yang telah dicakrampadatkan oleh Handi yang isinya antara lain rekaman live show Dara Puspita di Eropa. Reaksi beberapa member milis amat beragam, namun pada umumnya menunjukkan keterkejutan sekaligus apresiasi akan masih terdokumentasinya sepak terjang Dara Puspita yang legendaris itu sekaligus ungkapan kagum dan terimakasih pada Pak Handi .
Kawan, membaca kabar dari Gatot Triyono, hati ini tentu menjadi teramat penasaran, karena kebetulan beberapa tahun terakhir aku mengumpulkan album-album Dara Puspita baik dalam format kaset, piringan hitam, maupun hasil transfer dari Piringan Hitam dalam format digital. Membantuku mendapatkan album Jang Pertama, Vol.II, Green Green Grass, A Go Go, Dara Puspita Min Plus, dan Pop Melayu adalah Ali Gunawan, seorang yang dikenal sebagai kolektor kawakan dari kawasan Pasar Baru, Jakarta. Dari Ali Gunawan kudapat rekaman-rekaman tadi yang sebagian besar merupakan hasil transfer dari Piringan Hitam (PH). Beberapa kaset Dara Puspita yang ada dalam daftar koleksiku sekarang kudapat dari pedagang barang bekas atau bahkan pedagang rongsok yang sama sekali tak tahu apa isi kaset dagangannya itu. Piringan Hitam A Go Go dan Green Green Grass juga aku dapatkan dari barter dengan enam buah piringan hitam Koes Plus tanpa cover dengan Edy Kuncoro, seorang kolektor Koes Plus di Solo. Namun kesemua rekaman Dara Puspita yang kumiliki tadi adalah adalah studio recording. Sedangkan live recording atau rekaman live selama di Eropa? sungguh aku kira, aku sangka hanya tinggal legenda atau sekedar ceritera saja kawan, karena tak membayangkan bahwa ada pihak/orang yang pernah merekam penampilan mereka kurang lebih 3,5 tahun di Eropa. Dan ternyata dari posting di milis KPMI itu menjadi diketahui bahwa rekaman live Dara Puspita di Eropa ternyata ada!
Hingga suatu saat ketika sedang memeriksa mailing list KPMI, ada seseorang memperkenalkan diri untuk menjadi member mailing list bernama Handiyanto yang mengaku sebagai kolektor musik. Pikiranku langsung mengarah pada Handi yang dikisahkan dalam milis, dan tanpa ragu aku kirimi ia surat elektronik yang dibalasnya tak berapa lama kemudian. Dari sinilah kemudian Handi, alias Pak Handi, alias Mbah Gambreng, yang pada mulanya hanya kukenal lewat tulisannya di AKTUIL, sebuah tulisan yang telah terbit sekira tiga tahun sebelum kelahiranku di tahun 1975 aku kenal secara pribadi. Dan atas inisiatinya sendiri, aku mendapatkan dokumen-dokumen berharga itu.
Salah satu keping CD berupa CD audio yang dikirimkan Handi alias Mbah Gambreng, sebagaimana telah aku tulis adalah sebuah CD bunga rampai yang berisi kumpulan lagu mereka yang disusun oleh Handi sendiri. Beberapa diantaranya tentu aku sudah mengenal karena berasal dari studio recording mereka yang sudah kupunya, seperti Surabaja, Mari-mari, juga A Go Go, Apa Arti HIdup Ini. Namun yang menarik adalah track ke 12 yang berisi live recording mereka di Jerman. Juga track ke 13 yang berisi banyak lagu yang mengabadikan penampilan live mereka.
Dara Puspita mengcover lagu orang, antaranya Get Back, Obladi Oblada, dan Sgt Peppers Lonely Hearts Club Band dari The Beatles. Juga mereka membawakan lagu Tommy Roe berjudul Dizzy…serta dua buah lagu yang aku tak tahu judulnya apa. Yang jelas pada salah satu lagu yang tak kuketahui judunya itu kudengar mereka menyanyikan “Let There Be Love.” Aku telah berusaha mencari judul lagu itu dengan menuliskan “Let There Be Love” sebagai keywords-nya,namun tak kutemukan lagu era 1960-an dengan judul itu, kecuali lagu dari Nat King Cole (belakangan diketahui, Let There Be Love ini adalah milik The Bee Gees). Lepas dari semua itu, menurut ceritera yang berhasil kuhimpun dari berbagai dokumen tertulis di AKTUIL, selama konser di Eropa, bisa dibilang band yang juga dibina oleh Koestono alias Tonny Koeswojo dari Koes Bersaudara ini memang lebih banyak membawakan nomor-nomor orang. Hal ini karena mereka merasa kurang percaya diri dengan lagu berlirik Indonesia. Barangkali diantara lagu mereka sendiri hanya Sura
baja
yang kerap mereka bawakan.
Bagaimana permainan Darpus dalam live show sebagaimana terekam dalam bootleg kiriman Mbah Gambreng? Harus kukatakan bahwa empat gadis asal kota Surabaya ini benar-benar tampil hebat alias luarbiasa. Superb! Walau memainkan lagu orang, mereka bisa mendapatkan ruh setiap lagu, dan membawakan dengan penuh semangat dan penjiwaan a la mereka sendiri. Sgt Peppers dan Obladi Oblada misalnya dibawakan dengan irama yang menghentak, dengan bebunyian organ permainan Lies AR yang nyaring dan ceria dan drumming Susy Nander yang begitu keras. Yang terakhir ini, sang drummer perempuan berparas paling imut ini memang harus diacungi semua jempol. Betapa tidak, begitu keras dan sound drum yang begitu bagus. Ia memang benar perkasa, pukulannya begitu menghantam dan memberi jiwa pada lagu-lagu dengan irama keras dan riang. Hal lain yang mengagumkan adalah harmonisasi vokal mereka yang begitu padu, sesuatu yang telah menjadi kekuatan band ini sejak awal karir. Dalam Dizzy misalnya, paduan vokal yang terhitung sukar karena perpindahan chord yang termasuk sulit bisa mereka atasi. Demikian pula dalam lagu To Love Somebody-nya The Bee Gees yang ada pada LP ke-empat mereka A Go Go.
Pada sebuah liputan di AKTUIL kala masih di Eropa, mereka memang sempat berpesan pada publik Indonesia yang menunggu kehadiran mereka di tanah air bahwa mereka telah berubah. Mereka mengklaim bahwa mereka main/tampil sudah lain, dengan skill yang berbeda, dengan aliran musik heavysound suatu istilah payung era 70-an untuk genre musik keras. Tentulah kalau rekaman bootleg Darpus seperti yang dikirimkan Mbah Gambreng padaku sudah beredar luas pada saat itu, dan teknologi duplikasi dan lalulintas data sudah secanggih jaman kini, orang pada masa itu akan lebih menghayati dan membenarkan apa yang mereka sampaikan.
Apa yang disampaikan Darpus benar-benar tak berlebihan. Pada 1965 mereka sekedar girl band, yang belum memainkan musik-musik berirama keras, setidaknya dalam recordingnya. Lagu-lagu yang mereka mainkan seperti Pusdi, Minggu Jang Lalu masihlah lagu-lagu pop lembut dengan paduan vokal yang mendekati Pattie Bersaudara dan atau Koes Bersaudara. Petikan gitar yang ngepop dengan sound-nya yang sederhana, drumming yang sekedarnya saja bahkan take vocal yang terkesan tak padu dengan irama musik menjadi ciri khas debut album band ini.
Musik yang mereka mainkan mulai beranjak liar ketika memainkan Pesta Pak Lurah dan juga Mabuk Laut, dua nomor dari piringan hitam ke-dua mereka. Dan di Eropa, dokumentasi berupa rekaman bootleg yang kuterima dari Handi alias Mbah Gambreng telah bersaksi, bahwa mereka telah mematangkan diri menjadi band yang mengusung aliran heavysound dengan penampilan baik fisik maupun skill yang sama sekali berbeda.
Kawan, belum banyak yang bisa aku tulis mengenai Darpus dalam kesempatan ini. Satu file mengenai Dara Puspita tulisan Mbah Gambreng, sang teknisi/roadie Darpus legendaris setebal lebih dari 130 halaman ini belum lagi aku baca dan atau pelajari. Aku juga belum banyak menggali pertanyaan dari beliau Mbah Gambreng tentang hal-hal seputar Dara Puspita (dan juga Koes Bersaudara) yang barangkali masih luput tercatat maupun terdokumentasi atau sebaliknya yang telah beredar di masyarakat, namun mengandung cacat dan salah kaprah di sana sini. Namun setidaknya aku, dan kita semua patutlah berterimakasih pada Mbah Gambreng karena berkat ketekunannya memelihara file-file Darpus selama di Eropa, catatan sejarah itu bisa diestafetkan ke generasi penerus. Terlalu lama publik seni musik di tanah air ini melupakan kenyataan sejarah bahwa pernah ada band Indonesia yang melanglang buana di daratan Eropa atas prakarsa dan kesanggupan dan kapabilitasnya sendiri. Terlalu sering media tanah air mengatakan dan mengharapkan adanya artis Indonesia untuk go International atau terkesan berlebihan dalam menyanjung sebuah band atau artis yang manggung di negeri tetangga seolah belum pernah terjadi sebelumnya artis Indonesia menoreh prestasi di kancah antar bangsa. Media dan masyarakat kerap lupa bahwa di akhir era 1960-an hingga awal 1970-an, apa yang terbilang go International itu pernah dicapai seniman musik Indonesia yang bergabung dalam satu kelompok musik yang semua awaknya adalah perempuan, Dara Puspita. Semuanya itu karena ketidaktahuan akan sejarah, yang bagaimanapun juga sedikit banyak diakibatkan miskinnya dokumentasi musik Indonesia.
Pada Embah Gambreng, aku berterimakasih, dan berharap, masih banyak mengenai Dara Puspita yang bisa didokumentasi dan diabadikan untuk dipelajari dan dikenang sebagai bagian dari kiprah kejayaan anak bangsa di belahan bumi utara, sebagai sebuah Indonesian Invasion di penghujung era 60-an. Berbagai dokumentasi berharga yang dihimpun dan diselamatkan Embah Gambreng ini menjadi sumber pengetahuan bagi khalayak akan apa yang telah dicapai oleh Dara Puspita, sekaligus menjadi monumen musik Indonesia untuk dikenang siapa saja pemerhati dan pecinta musik Indonesia bahwa pernah dalam suatu masa gadis-gadis bangsa ini menunjukkan taringnya dalam kancah musik keras Internasional.
Pringsurat, Temanggung, 21 September 2009
Keterangan Gambar:
*Poster/Flyer DARA PUSPITA semasa tour di Belgium, 1969 (Koleksi pribadi Inge)
*Foto-foto: Handiyanto aka Embah Gambreng