Edane Tetap Edan

Tidak banyak biduan negeri ini yang bisa melantunkan lirik berbahasa Inggris dengan tak meninggalkan cengkok melayu. Edane, band yang dilahirkan oleh nama besar  gitaris Eet Sjahranie ini beruntung menemukan Ervin Nanzabakrie dan menggamitnya untuk mengisi vokal di album terbaru bertajuk “Edan”. Tak saja baik dalam pronounciation, vokal Ervin yang mampu melantunkan nada-nada tinggi a-la band-band power metal dengan teknik vibrasi dan growl sekaligus terasa amat pas mengisi musik Edane yang masih bertahan dengan corak nu metal. Continue reading “Edane Tetap Edan”

Koes Plus dan Koes Bersaudara: Sebuah Sejarah Ringkas

 

Tulisan didasarkan pada tulisan saya sebelumnya yang  dimuat dalam TREK MAGAZINE dengan judul : Koes Plus dan Koes Bersaudara: Legenda Abadi Musik Indonesia. Koreksi dan penyempurnaan di sana sini telah dilakukan 

Berdiri pada pertengahan 1969, Koes Plus sebenarnyalah merupakan metamorfosa dari band pria bernama Koes Bersaudara yang memiliki rentang karir di dunia rekaman terhitung 1962-1969. Koes Bersaudara sendiri terdiri dari Koesdjono (Djon), Koestono (Tonny), Koesyono (Yon), Koesrojo (Yok), dan Koesnomo (Nomo). Sempat memakai nama Koes Brothers, band ini menelurkan dua album di bawah label MESRA Records masing-masing Long Play 12 inchi To The So Called The Guilties (1967), dan Long Play 10 inchi Djadikan Aku Domba-MU (1968) dua album yang sebenarnya diambil dalam satu sesi rekaman. Sebelumnya di awal dan pertengahan 1960-an, Koes Bersaudara tampil dengan konsep duo vokal Yon dan Yok Koeswoyo. Duet ini melempar berbagai single dalam EP (piringan hitam mini) seperti Bis Sekolah, Harapanku, Sendja, dan Awan Putih di bawah label Irama.

piringan hitam 7
piringan hitam 7″ Koes Bersaudara Jang Mempesonakan produksi IRAMA. Foto: Ridwan Jadul, D Jadul Shop, Blok M Square, Jakarta.

Keluarnya Nomo sang drummer pada 1969 memaksa Tonny sang pimpinan yang bertekad untuk terus hidup dari bermusik untuk mencari drummer pengganti. Adalah Kasmuri, eks drummer band Patas yang sebelumnya kerap membantu banyak backing group Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin, yang kemudian terpilih menggantikan Nomo karena pukulannya dinilai begitu keras dan variatif. Bersama Kasmuri yang kemudian akrab dipanggil Murry inilah Koes Plus merekam debut mereka di bawah label Melody Records, sebuah album yang berisi antaranya lagu superkeras berjudul Kelelawar.

Murry memang menjadi Plus” diantara para “Koes, namun tak boleh diabaikan bahwa Plus di era awal bukanlah milik Murry seorang. Adalah  Adji Kartono yang pula menyandang predikat “Plus” dalam tubuh Koes Plus. Ialah orang yang tercatat dalam sejarah sebagai pemain bass pertama Koes Plus. Pria yang kerap dipanggil Totok AR ini masuk dalam formasi pertama Koes Plus dikarenakan Yok tak mau bergabung dengan band baru bentukan Tonny dengan orang luar di luar dinasti Koeswoyo. Inisial A.R di belakang nama Totolk tak lain adalah nama ayahnya, Adji Rahman. Untuk diketahui, Totok merupakan adik kandung dua gitaris Dara Puspita yakni Titiek dan Lies AR. Permainan bass Totok terekam dalam album Dheg Dheg Plas (1969). Totok tak lagi memperkuat Koes Plus ketika Yok menggantikan posisinya pada 1970.

Totok (bertopi hitam) bernyanyi bersama kakak2nya, Titiek AR (gitar) dan Lies AR (berbaju merah). Titiek dan Lies adalah dua eks personil DARA PUSPITA. Bermain keyboard adalah Kako AR, saudara Totok pula. Perempuan di ujung yang pula bernyanyi adalah Susy Nander, eks drummer Dara Puspita
Totok (bertopi hitam) bernyanyi bersama kakak2nya, Titiek AR (gitar) dan Lies AR (berbaju merah). Titiek dan Lies adalah dua eks personil DARA PUSPITA. Bermain keyboard adalah Kako AR, saudara Totok pula. Perempuan di ujung yang pula bernyanyi adalah Susy Nander, eks drummer Dara Puspita

Racikan lagu a-la The Bee Gees, The Cats, dengan sentuhan warna Indonesia membuat Koes Plus segera meraih simpati publik musik Indonesia. Piringan hitam mereka laris, kesuksesan diraih, dan mereka pun semakin produktif. Dalam kurun waktu 1969 hingga 1973 mereka berhasil menelurkan 8 volume piringan hitam, belum termasuk album non-volume seperti album Natal. Dalam sebuah surat di tahun 1973 kepada Handiyanto, mantan tehnisi Koes Bersaudara yang kala itu bermukim di Nederland setelah mengawal Dara Puspita di Eropa (1969-1971), Tonny mengisahkan bahwa walaupun di Ibukota ada sekitar 25 band, namun mereka tetap eksis. Sementara itu walau tak sesukses Koes Plus, di awal dekade 70-an Nomo pula mengibarkan bendera No Koes yang juga memiliki pasar penggemar fanatik.

DSC_0380
Piringan hitam/vinyl 12 inch Dheg Dheg Plas dengan tanda tangan Yon Koeswoyo di atasnya

Berpindah ke label Remaco pada 1973, Koes Plus semakin menuai sukses dengan lagu-lagu mereka di volume 9 seperti Muda-Mudi, Bujangan dan Kapan-Kapan. Mereka pun melebarkan spektrum bermusik dengan merekam lagu lagu berbahasa Jawa dalam album Pop Jawa Vol. 1 pada tahun 1974. Di album inilah terekam nomor-nomor abadi semisal Tul Jaenak, Ora Bisa Turu, dan Ela Elo. Sukses dengan lemparan Pop Jawa Vol. 1 ini, mereka merilis tak kurang dari tiga (3) album berbahasa Jawa. Begitu luasnya massa pendengar Koes Plus, sehingga merekapun harus memenuhi selera pasar yang pula begitu luas itu. Maka bisa jadi Koes Plus adalah satu-satunya band yang membuat album Natal namun juga merilis album Qasidah. Mereka jugalah satu-satunya band yang merilis album Pop Anak-anak, album berbahasa Inggris (bertajuk Another Song For You), album lembut Folk Song yang didominasi gitar akustik, namun juga merilis album bernada keras seperti In Hard Beat yang kemudian juga diselingi dengan rilisan album Keroncong yang mendayu dan album-album Pop Melayu (hingga 4 volume di bawah label Remaco saja) yang mengajak bergoyang. Di era 1980an mereka bahkan merekam Pop Batak dan juga Bossas. Tawaran show pun mengalir deras, dan di paruh awal 1970an, bisa dikatakan tak ada yang menandingi Koes Plus dalam soal honor manggung.

Pada 1977 Koes Plus sempat vakum dengan bergabungnya kembali Nomo sebagai drummer, yang sekaligus menghidupkan kembali Koes Bersaudara. Album yang dirilis bertajuk Kembali juga amat meledak, dan hingga kini bisa dikatakan sebagai lagu wajib para penggemar Koes Plus/Bersaudara. Di sisi lain, Murry juga tidak mau menganggur begitu saja. Ia membikin Murry’s Group yang juga menelurkan album Kursi Emas/Selamat Tinggal Saudaraku. Murry yang memang sudah terbiasa melantunkan vokal semasa di Koes Plus (antara lain lagu Pak Tani, Desember, Penyanyi Muda) tidak menemui kesukaran dalam berolah vokal dalam group dimana ia menjadi figur sentral. Ia pula merilis sebuah solo album di masa itu bertajuk Sweet Melodies, yang berisi lagu-lagu seperti Papi Mamiku, Indria, dan Kesunyian. Reunian Koes Bersaudara tak berlangsung lama, dan Koes Plus pun kembali menyatu.

Menjelang berakhirnya dasawarsa 1970an, Remaco yang pernah tercatat sebagai label rekaman terbesar se Asia Tenggara itu harus gulung tikar. Koes Plus pun ‘dipindah’ ke Purnama Records, dimana mereka kemudian merekam album-album seperti Cubit-Cubitan, Aku dan Kekasihku, Bersama Lagi, dan Melati Biru. Namun demikian, berseiring dengan munculnya trend lagu-lagu sendu a-la Iis Sugianto yang dirilis label Lolypop milik Rinto Harahap (The Mercys) dan juga Ebiet G Ade, kepopuleran Koes Plus pun menjadi surut. Era 80-an bisa dikatakan adalah era yang sukar untuk mereka jalani, karena masa emas dengan penjualan meledak dan tawaran manggung bertubi-tubi telah berakhir. Namun demikian, mereka toh masih bisa menelurkan album-album dengan materi yang terbilang dahsyat seperti Asmara (1981), Da Da Da (1983), ataupun Cinta Di Balik Kota (1987), dan tetap muncul di acara-acara TVRI. Hingga akhirnya kenyataan itu tiba: sang motor dan inspirator Tonny Koeswoyo meninggal dunia pada 1987. Tak saja rasa kehilangan yang menggayuti kalbu para personil Koes Plus dan juga para penggemarnya, ketidakyakinan akan terus berkibarnya bendera Koes Plus tanpa Tonny juga dirasakan sebagai hal yag begitu berat dijalani.

Namun karena wasiat almarhum yang menginginkan agar Koes Plus tetap berkibar, para personil Koes Plus yang tersisa tetap merekam album-album seperti AIDS (1987), Pop Melayu Amelinda (1991 walau tetap saja, penjualan album-albumnya tak semeledak di era 1970-an. Hingga akhirnya pada 1993, band ini kembali menggebrak publik tanah air dengan berbagai show- come backnya. Nyatalah bahwa band ini masih memiliki begitu banyak penggemar setia yang merindukan masa keemasan mereka terbukti dengan membludak dan suksesnya show Koes Plus walaupun tiket yang dijual begitu mahal pada awalnya. Hingga pada 1994, bersama dengan Damon Koeswoyo yang tak lain adalah putera Tonny Koeswoyo, mereka merilis album bertajuk Tak Usah Kau Sesali. Setelah itu muncullah album-album lain yang melibatkan musisi-musisi besar seperti Dedy Dores (ex Freedom of Rhapsodia), Ian Antono (God Bless), dan Abadi Soesman. Karena satu dan lain hal, pada paruh kedua dekade 90-an Yok Koeswoyo memutuskan untuk mengundurkan diri dan hingga kini lebih menekuni kehidupan sebagai petani di Banten. Murry juga lebih memilih untuk bersolo karir dengan groupnya Murry’s Group. Tinggallah Yon Koeswoyo yang dengan dibantu banyak musisi yang datang dan pergi mengibarkan bendera Koes Plus. Banyak yang percaya bahwa Koes Plus tanpa Tonny sebenarnya tak lagi terbilang Koes Plus, namun banyak pula yang meyakini selama masih ada darah Koeswoyo dalam sebuah band, maka band itu masih layak bernama Koes Plus.

Terlepas dari itu, ketulusan dan dedikasi Tonny Koeswoyo dan saudara serta rekannya dalam Koes Bersaudara dan Koes Plus terhadap musik tanah air merupakan sumbangan yang begitu besar yang tak ternilai harganya. Koes Bersaudara dan Koes Plus adalah peletak fondasi musik pop tanah air, legenda tak tergantikan. Dua band ini telah menjadi ikon musik Indonesia yang sebagaimana The Beatles teruji oleh sejarah sebagai band yang dicintai dan dilestarikan oleh generasi yang terlahir jauh sesudah masa kejayaan mereka. [Manunggal K. Wardaya]

God Bless: 36th (2009)

God BlessSaya bukan penggemar berat ataupun penggemar fanatik God Bless. Mengenal band ini beserta segala aspeknya baik yang bersifat kesejarahan, personalia para anggota, maupun diskografi karyanya secara gagap sepatah-sepatah. Saya sendiri percaya: teramat sedikit sedikit dan samar samar yang telah saya ketahui dan pelajari dari band ini. Dan justeru dalam konteks kebegituan itulah, dengan disclaimer seperti itulah saya berangkat untuk menuliskan apa yang saya amati dengan segenap panca indera mengenai album God Bless termutakhir yang bertajuk God Bless 36 th ini. Oleh karenanya satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya kesalahan dan kesilapan yang bakal tertulis dalam ulasan ini hendaklah dapat dimaklumi dan ditempatkan dalam kerangka keadaan seperti demikian saya telah utarakan.
Apa kesan pertama yang saya lontarkan mendengarkan God Bless 36 th ? Njlimet! Bagus! Luar Biasa! Mengapa? Tak lain karena dalam perjalanan karirnya yang telah mencapai tahun ke 36 mereka tetap perkasa, mampu menghasilkan musik yang bermutu tinggi, yang terkonsep baik, yang tak asal diproduksi, yang dikomposisi dengan amat baik dan sungguh-sungguh. Musik musik di dalamnya indah, dipahat tak saja dengan tajam dan keras namun detail.
Saya mengenal God Bless tidak di era 70-an, tapi di era 80-an akhir ketika masih berada di bangku SMP. God Bless yang saya kenal adalah God Bless dengan Semut Hitam dan Raksasa. Yang pertama saya sebutkan menggebrak dengan lagu yang menjadi judulnya : Semut Hitam, suatu anthem musik rock Indonesia. Raksasa, dimana gitaris adalah Eet Syahrani memperkenalkan musik God Bless dengan sentuhan gitar yang lebih metal dan menderu.
Saya bukan manusia yang menginginkan keajegan, baik disadari atau tidak. Manusia berubah, dan alam adalah salah satu faktor yang merubah manusia, selain faktor kesengajaan dan keinginan manusia itu sendiri. Oleh karenanya ketika vokal Ahmad Albar masih begitu kuat bertenaga terdokumentasi di album ini tak lain kecuali pujian yang harus saya berikan. Saya adalah penggemar YES dan merasakan betul betapa kwalitas Jon Anderson di akhir 60-an dan awal 70-an, amat sangat telah berbeda dengan Jon Anderson di era 90-an akhir dan bahkan era 2000-an. Suaranya yang bertenaga, kentara mengalami aus. Ini yang tidak dialami oleh Albar atau setidaknya dialami, namun tak begitu kentara (atau memang telinga saya yang kurang high fidelity). Ia memang tukang suara berpitasuara baja! Perubahan yang dirasakan dalam rilis termutakhir God Bless ini juga adalah kenyataan bahwa mereka juga dipengaruhi teknologi modern, baik instrumen, maupun rekam. Tidak realistis untuk meminta mereka kembali dengan sound ‘kemlonthang’ dan mixing sebagaimana melekat di rilisan mereka di tahun 1970-an atau 80-an. alih-alih demikian, saya mencoba melihat secara holistik kepada esensi bermusik yang hendak disampaikan God Bless melalui album yang diproduksi Nagaswara ini, dan juga bagaimana mereka bermusik dan atau berkesenian dengan melalui suatu proses produksi album yang tidak sekedar mencari cari celah, mengisi ruang kosong sekedar menunjukkan eksistensi atau sukarela dijual demi keuntungan pelaku industri tanpa makna yang menyertai.
Lagu Biarkan Hijau adalah lagu yang tak saja digarap dengan sinkopisasi yang unik, namun juga mengandung pesan mendalam bagi manusia untuk menyayangi alam lingkungannya. Lagu ini menegaskan God Bless sebagai band yang bersikap dan mempunyai misi. Kelestarian alam adalah pesan serius lagu ini, membuat orang merenung bahkan tercekat. Ini lagu, mengadopsi chord yang tak biasa, perpindahan chord yang tak lazim, di dalamnya terdapat anasir musik oriental dan entah musik apalagi yang di luar pemahaman saya. Kenjelimetan yang sama juga saya lihat di lagu bertajuk Sahabat yang meramu unsur unsur funk dan hard rock. Mengasyikkan. Dari funk yang menyendat nyendat masuk ke dalam hard rock yang melaju pada reffrainnya. Permainan keyboard dan guitar amat padu dan senyawa di sini, ditingkahi bass yang memang menjadi vital pada musik musik yang bercorak funk. Menyenangkan. Menghibur.
Rock N Roll Hidupku sebagai lagu penutup bercorak bluesy khas rock N roll. Di sini Albar menjerit dengan lantang setelah melantunkan lagu dengan teknik vibrasi, seolah hendak menyampaikan pesan: ia tak pernah tua atau masih menolak tua! Permainan keyboard Abadi Soesman melanjutkan solo gitar Ian Antono yang menyalak nyalak. Sungguh sebuah konspirasi yang membuat orang menghentak kaki tanpa harus berlelah lelah menggoyang badan dan menjadi tegang pikiran. Nampaknya saya menjadi semakin mengerti mengapa di kalangan pecinta dan kolektor musik Indonesia, album kedua mereka Cermin menjadi buruan. Tak lain-dugaan saya yang barangkali subjektif- karena komposisi yang melibatkan Abadi membuat Cermin menjadi salah satu mahakarya penting. Oleh karenanya, keikutsertaan kembali pemain papan kunci senior ini dalam formasi God Bless album 36th rasanya adalah suatu keberkahan tersendiri dan bahkan secara apriori telah merupakan suatu garansi dengan sendirinya.
Rasanya saya tak perlu mengulas satu persatu lagu yang ada di album ini. Penutup: Inilah album God Bless yang pertama kali saya beli, bukan di masa kejayaan mereka. Namun saya merasa puas, puas, dan puas dengan album ini. Dijual dengan harga 35 ribu untuk satu keping CD-nya (entah berapa harga kasetnya), saya kira mereka yang masih meragukan kadar gizi album ini mestilah merubah mindsetnya, untuk bisa mencerna GodBless dengan dan dalam konteks kekinian dan dinamika yang mereka percaya. Terlepas apapun pro kontra album ini, saya percaya God Bless memang diberkati untuk menjadi band besar. Buy this album!

Pringsurat, Temanggung, January 27 2010