Relief Dara Puspita

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2015

Surabaya, Pantai Pattaya, Mari-mari,  A Go Go. Itulah beberapa judul lagu yang pada umumnya akan secara spontan disebutkan orang manakala diingatkan akan nama Dara Puspita. Tak salah karena kesemuanya memang lagu-lagu milik  Darpus yang direkam dan pula populer di tahun 1960-an silam. Dalam sejarahnya, empat album penuh dihasilkan oleh band perempuan ini masing-masing Jang Pertama (1965), disusul kemudian Volume II, Green Green Grass (1967) dan A Go Go (1968). Kecuali A Go Go yang diambilkan dari album yang bertajuk sama, kesemua lagu di atas berada dalam debut Jang Pertama. Lagu A Go Go yang berbeat riang itu belakangan hari kembali dikenal di  kalangan anak muda terutama setelah dicover oleh Empat Lima, band asal Melbourne Australia yang sebagaimana Darpus, keseluruhan personilnya juga perempuan. Sementara itu lagu Mari-Mari gubahan Titiek Puspa itu beberapa tahun terakhir sempat kembali muncul ke permukaan manakala dibawakan oleh David Naif. Di luar lagu-lagu itu, orang terutama generasi kini dapat dikatakan tak mengenal lagu-lagu Darpus. Mengapa demikian?

12087436_10204748802220262_25713346_nTak seperti band Indonesia lama seperti Koes Plus, Panbers, maupun Mercys, album-album Darpus yang aslinya kesemuanya dirilis dalam format piringan hitam itu tak mengalami rilis ulang seperti dalam berbagai album kompilasi. Memang pada 1970-an beberapa label seperti Disco Records maupun Akurama Records sempat merilis album campuran lagu-lagu Darpus dalam format kaset. Namun seiring dengan berlalunya waktu rilisan itu hanya menjadi barang yang dimiliki kolektor. Sementara itu rilis ulang beberapa tahun terakhir dilakukan oleh label luar negeri seperti Sublime Frequencies (Amerika) maupun Groovie Records (Portugal) yang selain diedarkan dalam jumlah yang amat terbatas juga lebih menyasar audiens di luar Indonesia. Manakala sampai di Indonesia, dapat ditebak, harga jual album-album itu cukup tinggi.   Tutup bukunya label  yang menaunginya seperti Dimita dan Elshinta membuat rilis ulang album-album Darpus menjadi persoalan tersendiri. Darpus bukan Koes Plus yang lagu-lagunya, setidaknya di era Remaco, masih dirilis dan dapat dinikmati generasi kini walau di tengah penjualan rekaman fisik yang semakin lesu. Tak heran, walau pernah begitu jaya pada masanya di paruh akhir 1960an, lagu-lagu Darpus seakan tenggelam seiring dengan berjalannya waktu. Satu-satunya hal yang membuat Darpus masih dapat terlacak oleh mereka yang meminatinya adalah teknologi internet yang memungkinkan orang berbagi file, termasuk lagu-lagu Darpus melalui kanal Youtube misalnya. Continue reading “Relief Dara Puspita”

The Blue Diamonds dan Koes Bersaudara

Akun Krisin Chandra pada 15 Januari 2014 menuliskan pesan ditujukan pada saya, dengan isi sebagai berikut:

Mas MWK,
Era 60-an ada band terkenal di Belanda namanya Blue Diamond. BD pernah main di Indonesia, diantaranya di Bandung sepanggung dengan Koes Bersaudara. Ternyata, BD yg band utama show itu kalah dari KB karena sambuta lebih banyak ke Koes Bersaudara. Continue reading “The Blue Diamonds dan Koes Bersaudara”

Mengenal Adji Kartono, Pemain Bass Pertama Koes Plus

Koes Plus, band terbesar di Indonesia, demikian kerap disebut-sebut. Ironisnya, akurasi sejarah terbentuknya band ini secara utuh tak terawat sehingga tak banyak dipahami  bahkan oleh mTotok ARereka yang mengklaim sebagai penggemar Koes Plus paling fanatik sekalipun. Kutipan yang disalin dari group FB salah sebuah kelompok penggemar dan pelestari Koes Bersaudara dan Koes Plus di bawah ini menunjukkan bahwa tak saja miskin pengetahuan, kelompok penggemar bahkan kerap menjadi pelaku pemburaman sejarah itu sendiri. Mari disimak:

Dari kelompok Koes Bersaudara ini lahir lagu-lagu yang sangat populer hingga saat ini seperti : Bis Sekolah, Dara Manisku , Telaga Sunyi, Pagi yang Indah dan masih banyak lagi. Ketika salah satu anggota Koes Bersaudara yaitu Nomo Koeswoyo keluar lalu digantikan Murry sebagai drummer, maka nama Koes Bersaudara berubah menjadi Koes Plus.

Sebagaimana terbaca di atas, kutipan yang diambil pada April 2014 tersebut menyebut   terbentuknya Koes Plus sebagai semata karena keluarnya Koesnomo alias Nomo sang drummer yang digantikan Kasmuri alias Murry. Komunitas yang mengaku penggemar dan pelestari Koes Plus sekalipun ternyata tak paham/ tak mengetahui bahwa “Plus” pertama di tubuh Koes Plus tak saja Kasmuri, akan tetapi juga seorang pemuda duapuluh tahunan bernama Adji Kartono. Adji adalah “Plus” pertama di tubuh Koes Plus bersama Kasmuri. Bahkan menurut Adji yang lebih dikenal sebagai Totok AR ini, keberadaannya di Koes Plus mendahului masuknya Kasmuri alias Murry. Dua huruf “A.R” di depan namanya adalah nama sang Ayah, Adji Rahman, yang juga dipakai oleh kakak perempuannya, Titiek A.R., dan Lies A.R., keduanya gitaris Dara Puspita. Adji Kartono inilah bassplayer pertama supergrup ini dan bukannya Koesrojo alias Jok Koeswojo seperti yang disangka-sangka orang.

Mengapa tak banyak yang mengerti dan memahami sejarah Koes Plus sebagaimana terindikasi dari kalimat yang dibaca dari definisi group FB tersebut di atas? Bisa jadi, hal ini dikarenakan  Totok A.R  tak lama bergabung dengan Koes Plus, hanya lebih kurang selama satu tahun. Sejak album Volume 2, Totok lagi ada di dalam tubuh Koes Plus. Selain itu, bukan suatu kebiasaan baku rekaman di tanah air, terutama pada masa itu, untuk menyebut personil dan juga instrumen/peran yang dimainkan dalam band. Namun begitu, kesemua hal itu sudah tentu bukanlah alasan untuk mengingkari sejarah keanggotaan. Continue reading “Mengenal Adji Kartono, Pemain Bass Pertama Koes Plus”

Murry Tak Selalu “Plus”

Dalam sejarah musik Koes Bersaudara/Koes Plus, ternyata nama Koes Bersaudara pernah digunakan untuk formasi band dimana salah satu anggotanya bukanlah berasal dari dinasti Koeswoyo. Uniknya, salah satu anggota non-Koeswoyo itu adalah figur lama, yakni Kasmuri alias Murry.  Album Country Pop yang dirilis pada 1988 adalah buktinya. Di sampul depan album tersebut tertulis jelas KOES BERSAUDARA. Mengenai hal ini saya menuliskan di Group Obrolan Seputar Koes Plus (OSK) sebagai berikut:

Koes Bersaudara adalah band dengan anggotanja empat pemuda bersaudara anak-anak Koeswojo bernama depan Koes [Koestono, Koesrojo, Koesjono, Koesnomo]. Tapi, ini sebenarnja adalah Koes Bersaudara Mark II, karena Mark I ada satu lagi Koesdjono (Djon) jang kemudian keluar. Tapi (lagi-lagi tapi) sedjarah membuktikan bahwa Koes Bersaudara djuga pernah berisi anggota di luar dinasti Koes, figur jang tak asing lagi jakni Kasmuri. Anehnja, walau Kasmuri sebenarnja adalah salah satu Plus di dalam Koes Plus, namun ketika Koesnomo masuk formasi band (sepeninggal Koestono pad 1987), nama band Koes Plus djadi Koes Bersaudara. Sampul kaset ini adalah buktinja. Hemat saja, band dengan keanggotaan Koesjono, Koesrojo, Koesnomo dan Kasmuri sebagaimana dalam album COUNTRY POP ini namanja semestinja tetep Koes Plus. Ada kesan jang tertangkap dari sampul kaset ini, bahwa ada tidaknja Koesnomo djadi faktor jang amat menentukan nama band: apakah Bersaudara apakah Plus. Djadi walau ada anggota di luar Koeswojo, tetep aza nama band djadi Koes Bersaudara. Bisa djadi ini mau mereka sendiri, bisa djadi ini sekedar perkara dagangan kaset/album. Ja embuh, saja enggak tahu. Jang pasti, retorika lama pun membisik nakal: apalah arti sebuah nama???

Beberapa akun FB memberi jempol tanda suka, dan beberapa menulis singkat memuji posting saya itu. Adit DPlus menulis sebagai berikut: Continue reading “Murry Tak Selalu “Plus””

Dara Puspita dan Koes Bersaudara: Lebih Populer Siapa?

Dara Puspita kika: Susy Nander (drums), Titiek Hamzah (bass, vocal), Lies A.R. (rhythm guitar, vocal), Titiek A.R. (lead guitar, vocal). Foto ini diambil dalam kesempatan mereka tampil di aneka kelab musik di Paris 1971
Dara Puspita kika: Susy Nander (drums), Titiek Hamzah (bass, vocal), Lies A.R. (rhythm guitar, vocal), Titiek A.R. (lead guitar, vocal). Foto ini diambil dalam kesempatan mereka tampil di aneka kelab musik di Paris 1971

Melalui posting di di Group FB Obrolan Seputar Koes , group yang menjadi wadah penggemar Koes Plus/Koes Bersaudara akun FB Ade Tejanegara (AT) memposting thread yang membandingkan Koes Plus dan Dara Puspita (Darpus). Intinya, posting bertanggal 13 Agustus 2013 tersebut mengkomparasikan Dara Puspita yang seakan tenggelam tiada kabar, sementara Koes Plus tetap jaya. Padahal, klaim thread tersebut, keduanya adalah band seangkatan.   Lebih lanjut Ade mengklaim bahwa kepopuleran Darpus di  luar negeri tidak ada artinya kalau di dalam negeri tidak populer, atau dengan kata lain tenggelam di bawah nama Koes Plus. “Miris sekali”, demikian kalimat penutup thread tersebut, suatu ekspresi yang terkesan memandang rendah pada Darpus.

Perbandingan kedua band itu, Koes Plus dan Darpus buat telinga saya yang lahir jauh setelah masa jaya kedua band tersebut sebenarnya sama sekali bukan hal baru, dan nada fanatisme (terhadap Koes Plus) seperti itu pula hal usang bagi saya. Namun, sebagai pribadi yang menaruh minat atas sejarah perjalanan kedua band tersebut, klaim Ade Tejanegara tersebut layak dikritisi semata agar sejarah bisa ditelaah dan diresapi tanpa distorsi. Dan mumpung ada libur lebaran, maka inilah tanggapan yang bisa saya susun dan berikan: Continue reading “Dara Puspita dan Koes Bersaudara: Lebih Populer Siapa?”

The Forgotten “Plus” : Totok A.R

Koes Plus Vol. 1 Produksi Dimita Moulding Industries.
Sampul CD Koes Plus Vol. 1 yang sempat beredar di minimarket Indomaret.  Sampul ini adalah replika Piringan Hitam Koes Plus vol. 1 yang dikeluarkan oleh Dimita Moulding Industries pada 1969. Paling bawah berambut agak panjang itulah Adji Kartono alias Totok AR, bassplayer pertama Koes Plus. Ia digantikan oleh Koesroyo alias Yok Koeswoyo

Membicarakan sejarah berdirinya Koes Plus, media dan sejarah musik Indonesia pada umumnya akan menyebut hengkangnya Koesnomo (Nomo) dan masuknya drummer group Patas bernama Kasmuri (dikenal sebagai Murry) sebagai  faktor tunggal berdirinya kelompok musik legendaris tersebut. Fakta tersebut sebenarnya hanya satu fragmen dari sejarah berdirinya band yang boleh dikatakan sebagai yang terbesar di Indonesia. Murry bukanlah satu-satunya Plus dalam tubuh Koes, Selain dia, ada figur lain yang bukan bagian dari dinasti Koeswoyo akan tetapi pula turut menghiasi sampul album Dheg Dheg Plas (1969) rekaman awal sekaligus dokumentasi karya formasi Koes Plus paling awal yang pernah ada. Figur itu adalah  Adji Kartono, pemudah berusia duapuluh tahunan yang ada pada lineup pertama Koes Plus bersama dua bersaudara Koeswoyo yakni  Koestono (Tonny) dan Koesyono (Yon).

Bergabungnya Adji Kartono yang akrab dipanggil dengan nama Totok AR ke dalam Koes Plus terjadi karena lowongnya posisi bassplayer setelah Nomo dan Yok Koeswoyo hengkang dari Koes Bersaudara. Sebuah sumber menyebut terhalangnya keinginan untuk unjuk suara dalam Koes Bersaudara  sebagai sebab yang sebenarnya di balik hengkangnya Nomo, walau keinginan berbisnis adalah  satu-satunya alasan yang selalu disebut dan dikutip serta diketahui oleh publik.  Yok berhenti karena tak mau main band dengan personil di luar Koeswoyo. Totok bukanlah orang baru di kalangan personil Koes Bersaudara karena sejak akhir 60-an ia turut tinggal bersama band itu di markas mereka, Jalan Sungai Pawan No. 1. Sebelumnya, ia bermusik bersama band  Phillon yang berbasis di Bandung, memainkan musik-musik rock asing . “Jaman dulu, kalau main musik nggak lagu Barat nggak akan diterima. Bimbo aja dilemparin”, tuturnya. Continue reading “The Forgotten “Plus” : Totok A.R”

Remembering the Roadie: Handiyanto

POINS-051209-4Standing next to me is Mr Handiyanto aka Embah Gambreng, former technician of the legendary Koes Bersaudara. Mr Handi joined the band as their roadie/manager/technician since 1963 until 1969. He designed Koes Bersaudara’s legendary LP’s To The So Called The Guilties and Djadikan Aku DombaMU. Directly involved in the recording of the two albums, Mr Handiyanto left Koes Bersaudara in 1969 to help Indonesia’s most famous girl band Dara Puspita as their roadie following their European Tour from 1969 to 1971. Mr Handiyanto passed away in March 2012.

CD To The So Called The Guilties & Djadikan Aku Domba-Mu

Kiri: Piringan Hitam Guilties Mesra Record. Kanan: CD reissue Guilties produksi Sublime Frequencies, USA. Koleksi Pribadi MKW.
Kiri: Piringan Hitam Guilties Mesra Record. Kanan: CD reissue Guilties produksi Sublime Frequencies, USA. Koleksi Pribadi MKW.

Inilah album rock pribumi bersejarah yang peluncuran kembali-nya amat dinanti. Hanya muncul dalam format piringan hitam manakala di rilis di 1967 dan format kaset dengan desain cover yang berbeda pada era 70-an, kedua full album Koes Bersaudara ini dalam perjalanan waktu tak lagi didapat di pasaran. Master keduanya telah musnah, seiring dengan ditutupnya Mesra Record oleh pemiliknya, Dick Tamimi pada 1973. Konon, kesal karena pembajakan, Dick membakar semua master rekaman artis-artis yang bernaung di bawah Mesra Record termasuk tentu saja album ini.

Kini, sirkulasi album ini di kalangan penggemar hanyalah berupa CDR maupun file MP3 hasil transfer dari kaset maupun piringan hitam. Kalaupun ada Piringan Hitam maupun kaset asli yang diperdagangkan di kalangan kolektor, harganya cukup tinggi. Selain Disco Record di paruh kedua 70-an, tak ada label yang merelease kembali album ini entah karena alasan ijin yang entah ke mana, atau barangkali karena materinya dan kwalitas produksinya dianggap terlalu kuno dan oleh karenanya dipandang bakal tak menguntungkan. Continue reading “CD To The So Called The Guilties & Djadikan Aku Domba-Mu”

Tanda Tangan Koes Bersaudara

Sampul belakang Piringan Hitam: To The So Called The Guilties
Sampul belakang Piringan Hitam: To The So Called The Guilties

Berhasil juga mendapatkan tanda tangan para legenda musik Indonesia yang tergabung dalam wadah Koes Bersaudara. Nomo Koeswoyo, Yon Koeswoyo, dan Yok Koeswoyo, tiga dari Koes Bersaudara era paruh akhir 1960-an (era paruh awal diperkuat oleh Djon Koeswoyo) akhirnya membubuhkan tanda tangan pada cover piringan hitam To The So Called The Guilties, produksi Mesra Record. Pencarian tanda tangan mereka bertiga ini terbilang agak kurang mulus. Pada mulanya, mendengar rencana kedatangan mereka ke Purwokerto menggunakan Kereta Api Purwojaya, maka aku mendatangi Stasiun Besar Purwokerto. Sayangnya, sampai di sana telah lewat pukul 12:00, dan seseorang mengatakan bahwa KA Purwojaya telah datang sekitar setengah dua belas lalu. Adanya jalur double track sepanjang Cirebon Jakarta, dan pula Purwokerto-Cirebon memang mempersingkat dan memperlancar perjalanan KA. Menelpon seorang panitia, diketahui bahwa mereka langsung meluncur ke sebuah restoran untuk makan. Tentu tidak enak diri ini untuk memburu ke sana, mengganggu kenikmatan orang makan, juga barangkali membuat tidak nyaman rombongan panitia yang sedang hendak beramah tamah. Maka kuputuskan untuk memburu tandatangan di jelang malam, ketika mereka pasti dibawa rombongan panitia untuk makan malam. Maka, pergilah diri ini ke Hotel Wisata Niaga, tempat mereka menginap menjelang konser terakhir Koes Bersaudara di Purwokerto, 16 September 2011. Sesaat menjelang magrib, aku sudah tiba di hotel dan duduk menunggu di lobby. Danang, guitaris Koes Plus yang kala itu tengah duduk duduk di lobby sehabis berbelanja di Moro menemani mengobrol ringan. Tidak berapa lama keluarlah Yon dan Yok Koeswoyo. Keduanya turut duduk di lobby hotel dan dengan ramah melayani keinginan diri ini meminta tanda tangan. Yok bahkan bertanya dalam bahasa Banyumasan di mana dia harus membubuhkan tanda tangannya. Dan di sampul belakang piringan hitam itu akhirnya berturut turut Yok dan Yon membubuhkan goresan tandatangan mereka dengan sebuah spidol warna biru. Setelah itu tak ketinggalan aku mintakan tandatangan pada CD Koes Bersaudara rilisan Sublime Frequencies Seattle, Amerika, sebuah CD 2 in 1 berisi album To The So Called The Guilties dan Djadikan Aku Domba-Mu serta pada beberapa cover kaset Koes Plus yang aku bawa Terburu pergi untuk makan soto Sokaraja, mereka pun berlalu meninggalkan hotel diantar rombongan panitia.

CD Koes Bersaudara 'To The so Called The Guilties' produksi Sublime Frequencies USA
CD Koes Bersaudara ‘To The so Called The Guilties’ produksi Sublime Frequencies USA

Tinggal diri ini menunggu Nomo Koeswoyo, mantan drummer Koes Bersaudara. Tak perlu waktu lama untuk menunggu lelaki yang kini tinggal di Magelang itu untuk muncul. Nomo yang sudah berambut putih panjang ini juga tak menolak permintaan tanda tangan, walau sambil berjalan cepat.
Didapatnya tanda tangan personil dalam album karya mereka tentu sesuatu yang amat istimewa buat diri ini.Tanda tangan mewakili kehadiran mereka, kehadiran mereka, sekaligus kedekatan mereka dengan sesutu yang menjadi representasi mereka, sesuatu yang amat dekat dalam kehidupan diri ini, dan bahkan kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.

Koes Plus dan Koes Bersaudara: Sebuah Sejarah Ringkas

 

Tulisan didasarkan pada tulisan saya sebelumnya yang  dimuat dalam TREK MAGAZINE dengan judul : Koes Plus dan Koes Bersaudara: Legenda Abadi Musik Indonesia. Koreksi dan penyempurnaan di sana sini telah dilakukan 

Berdiri pada pertengahan 1969, Koes Plus sebenarnyalah merupakan metamorfosa dari band pria bernama Koes Bersaudara yang memiliki rentang karir di dunia rekaman terhitung 1962-1969. Koes Bersaudara sendiri terdiri dari Koesdjono (Djon), Koestono (Tonny), Koesyono (Yon), Koesrojo (Yok), dan Koesnomo (Nomo). Sempat memakai nama Koes Brothers, band ini menelurkan dua album di bawah label MESRA Records masing-masing Long Play 12 inchi To The So Called The Guilties (1967), dan Long Play 10 inchi Djadikan Aku Domba-MU (1968) dua album yang sebenarnya diambil dalam satu sesi rekaman. Sebelumnya di awal dan pertengahan 1960-an, Koes Bersaudara tampil dengan konsep duo vokal Yon dan Yok Koeswoyo. Duet ini melempar berbagai single dalam EP (piringan hitam mini) seperti Bis Sekolah, Harapanku, Sendja, dan Awan Putih di bawah label Irama.

piringan hitam 7
piringan hitam 7″ Koes Bersaudara Jang Mempesonakan produksi IRAMA. Foto: Ridwan Jadul, D Jadul Shop, Blok M Square, Jakarta.

Keluarnya Nomo sang drummer pada 1969 memaksa Tonny sang pimpinan yang bertekad untuk terus hidup dari bermusik untuk mencari drummer pengganti. Adalah Kasmuri, eks drummer band Patas yang sebelumnya kerap membantu banyak backing group Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin, yang kemudian terpilih menggantikan Nomo karena pukulannya dinilai begitu keras dan variatif. Bersama Kasmuri yang kemudian akrab dipanggil Murry inilah Koes Plus merekam debut mereka di bawah label Melody Records, sebuah album yang berisi antaranya lagu superkeras berjudul Kelelawar.

Murry memang menjadi Plus” diantara para “Koes, namun tak boleh diabaikan bahwa Plus di era awal bukanlah milik Murry seorang. Adalah  Adji Kartono yang pula menyandang predikat “Plus” dalam tubuh Koes Plus. Ialah orang yang tercatat dalam sejarah sebagai pemain bass pertama Koes Plus. Pria yang kerap dipanggil Totok AR ini masuk dalam formasi pertama Koes Plus dikarenakan Yok tak mau bergabung dengan band baru bentukan Tonny dengan orang luar di luar dinasti Koeswoyo. Inisial A.R di belakang nama Totolk tak lain adalah nama ayahnya, Adji Rahman. Untuk diketahui, Totok merupakan adik kandung dua gitaris Dara Puspita yakni Titiek dan Lies AR. Permainan bass Totok terekam dalam album Dheg Dheg Plas (1969). Totok tak lagi memperkuat Koes Plus ketika Yok menggantikan posisinya pada 1970.

Totok (bertopi hitam) bernyanyi bersama kakak2nya, Titiek AR (gitar) dan Lies AR (berbaju merah). Titiek dan Lies adalah dua eks personil DARA PUSPITA. Bermain keyboard adalah Kako AR, saudara Totok pula. Perempuan di ujung yang pula bernyanyi adalah Susy Nander, eks drummer Dara Puspita
Totok (bertopi hitam) bernyanyi bersama kakak2nya, Titiek AR (gitar) dan Lies AR (berbaju merah). Titiek dan Lies adalah dua eks personil DARA PUSPITA. Bermain keyboard adalah Kako AR, saudara Totok pula. Perempuan di ujung yang pula bernyanyi adalah Susy Nander, eks drummer Dara Puspita

Racikan lagu a-la The Bee Gees, The Cats, dengan sentuhan warna Indonesia membuat Koes Plus segera meraih simpati publik musik Indonesia. Piringan hitam mereka laris, kesuksesan diraih, dan mereka pun semakin produktif. Dalam kurun waktu 1969 hingga 1973 mereka berhasil menelurkan 8 volume piringan hitam, belum termasuk album non-volume seperti album Natal. Dalam sebuah surat di tahun 1973 kepada Handiyanto, mantan tehnisi Koes Bersaudara yang kala itu bermukim di Nederland setelah mengawal Dara Puspita di Eropa (1969-1971), Tonny mengisahkan bahwa walaupun di Ibukota ada sekitar 25 band, namun mereka tetap eksis. Sementara itu walau tak sesukses Koes Plus, di awal dekade 70-an Nomo pula mengibarkan bendera No Koes yang juga memiliki pasar penggemar fanatik.

DSC_0380
Piringan hitam/vinyl 12 inch Dheg Dheg Plas dengan tanda tangan Yon Koeswoyo di atasnya

Berpindah ke label Remaco pada 1973, Koes Plus semakin menuai sukses dengan lagu-lagu mereka di volume 9 seperti Muda-Mudi, Bujangan dan Kapan-Kapan. Mereka pun melebarkan spektrum bermusik dengan merekam lagu lagu berbahasa Jawa dalam album Pop Jawa Vol. 1 pada tahun 1974. Di album inilah terekam nomor-nomor abadi semisal Tul Jaenak, Ora Bisa Turu, dan Ela Elo. Sukses dengan lemparan Pop Jawa Vol. 1 ini, mereka merilis tak kurang dari tiga (3) album berbahasa Jawa. Begitu luasnya massa pendengar Koes Plus, sehingga merekapun harus memenuhi selera pasar yang pula begitu luas itu. Maka bisa jadi Koes Plus adalah satu-satunya band yang membuat album Natal namun juga merilis album Qasidah. Mereka jugalah satu-satunya band yang merilis album Pop Anak-anak, album berbahasa Inggris (bertajuk Another Song For You), album lembut Folk Song yang didominasi gitar akustik, namun juga merilis album bernada keras seperti In Hard Beat yang kemudian juga diselingi dengan rilisan album Keroncong yang mendayu dan album-album Pop Melayu (hingga 4 volume di bawah label Remaco saja) yang mengajak bergoyang. Di era 1980an mereka bahkan merekam Pop Batak dan juga Bossas. Tawaran show pun mengalir deras, dan di paruh awal 1970an, bisa dikatakan tak ada yang menandingi Koes Plus dalam soal honor manggung.

Pada 1977 Koes Plus sempat vakum dengan bergabungnya kembali Nomo sebagai drummer, yang sekaligus menghidupkan kembali Koes Bersaudara. Album yang dirilis bertajuk Kembali juga amat meledak, dan hingga kini bisa dikatakan sebagai lagu wajib para penggemar Koes Plus/Bersaudara. Di sisi lain, Murry juga tidak mau menganggur begitu saja. Ia membikin Murry’s Group yang juga menelurkan album Kursi Emas/Selamat Tinggal Saudaraku. Murry yang memang sudah terbiasa melantunkan vokal semasa di Koes Plus (antara lain lagu Pak Tani, Desember, Penyanyi Muda) tidak menemui kesukaran dalam berolah vokal dalam group dimana ia menjadi figur sentral. Ia pula merilis sebuah solo album di masa itu bertajuk Sweet Melodies, yang berisi lagu-lagu seperti Papi Mamiku, Indria, dan Kesunyian. Reunian Koes Bersaudara tak berlangsung lama, dan Koes Plus pun kembali menyatu.

Menjelang berakhirnya dasawarsa 1970an, Remaco yang pernah tercatat sebagai label rekaman terbesar se Asia Tenggara itu harus gulung tikar. Koes Plus pun ‘dipindah’ ke Purnama Records, dimana mereka kemudian merekam album-album seperti Cubit-Cubitan, Aku dan Kekasihku, Bersama Lagi, dan Melati Biru. Namun demikian, berseiring dengan munculnya trend lagu-lagu sendu a-la Iis Sugianto yang dirilis label Lolypop milik Rinto Harahap (The Mercys) dan juga Ebiet G Ade, kepopuleran Koes Plus pun menjadi surut. Era 80-an bisa dikatakan adalah era yang sukar untuk mereka jalani, karena masa emas dengan penjualan meledak dan tawaran manggung bertubi-tubi telah berakhir. Namun demikian, mereka toh masih bisa menelurkan album-album dengan materi yang terbilang dahsyat seperti Asmara (1981), Da Da Da (1983), ataupun Cinta Di Balik Kota (1987), dan tetap muncul di acara-acara TVRI. Hingga akhirnya kenyataan itu tiba: sang motor dan inspirator Tonny Koeswoyo meninggal dunia pada 1987. Tak saja rasa kehilangan yang menggayuti kalbu para personil Koes Plus dan juga para penggemarnya, ketidakyakinan akan terus berkibarnya bendera Koes Plus tanpa Tonny juga dirasakan sebagai hal yag begitu berat dijalani.

Namun karena wasiat almarhum yang menginginkan agar Koes Plus tetap berkibar, para personil Koes Plus yang tersisa tetap merekam album-album seperti AIDS (1987), Pop Melayu Amelinda (1991 walau tetap saja, penjualan album-albumnya tak semeledak di era 1970-an. Hingga akhirnya pada 1993, band ini kembali menggebrak publik tanah air dengan berbagai show- come backnya. Nyatalah bahwa band ini masih memiliki begitu banyak penggemar setia yang merindukan masa keemasan mereka terbukti dengan membludak dan suksesnya show Koes Plus walaupun tiket yang dijual begitu mahal pada awalnya. Hingga pada 1994, bersama dengan Damon Koeswoyo yang tak lain adalah putera Tonny Koeswoyo, mereka merilis album bertajuk Tak Usah Kau Sesali. Setelah itu muncullah album-album lain yang melibatkan musisi-musisi besar seperti Dedy Dores (ex Freedom of Rhapsodia), Ian Antono (God Bless), dan Abadi Soesman. Karena satu dan lain hal, pada paruh kedua dekade 90-an Yok Koeswoyo memutuskan untuk mengundurkan diri dan hingga kini lebih menekuni kehidupan sebagai petani di Banten. Murry juga lebih memilih untuk bersolo karir dengan groupnya Murry’s Group. Tinggallah Yon Koeswoyo yang dengan dibantu banyak musisi yang datang dan pergi mengibarkan bendera Koes Plus. Banyak yang percaya bahwa Koes Plus tanpa Tonny sebenarnya tak lagi terbilang Koes Plus, namun banyak pula yang meyakini selama masih ada darah Koeswoyo dalam sebuah band, maka band itu masih layak bernama Koes Plus.

Terlepas dari itu, ketulusan dan dedikasi Tonny Koeswoyo dan saudara serta rekannya dalam Koes Bersaudara dan Koes Plus terhadap musik tanah air merupakan sumbangan yang begitu besar yang tak ternilai harganya. Koes Bersaudara dan Koes Plus adalah peletak fondasi musik pop tanah air, legenda tak tergantikan. Dua band ini telah menjadi ikon musik Indonesia yang sebagaimana The Beatles teruji oleh sejarah sebagai band yang dicintai dan dilestarikan oleh generasi yang terlahir jauh sesudah masa kejayaan mereka. [Manunggal K. Wardaya]