Kenangan Dara Puspita

Pada awalnya, mereka hanyalah anak remaja yang mencoba bermain musik di seputaran kota asal mereka, Surabaya. Perjumpaan dengan Koes Bersaudara di Hotel Simpang ketika mereka hendak meminta tanda tangan mengubah haluan karir mereka. Atas saran pimpinan Koes Bersaudara Tonny Koeswoyo, mereka pun nekat hijrah ke Jakarta, tanpa bekal yang memadai. Di Jakarta mereka berlatih diri dengan dibantu anak-anak Koes Bersaudara yang telah lebih dahulu populer. Perlahan tapi pasti mereka pun merambah sukses dan bahkan menurut polling Majalah Aktuil pada 1968, mereka menduduki peringkat teratas sebagai artis pilihan pembaca, lebih tinggi dari Koes Bersaudara. Meluncurkan 4 piringan hitam sejak 1966 hingga 1968, mereka pun Go International dengan tampil di berbagai panggung di Eropa. Sayang  tak berapa lama setelah kembali dari perjalanan panjang di Eropa mereka resmi bubar di Makassar pada Maret 1972. 40 tahun setelah berakhirnya band perempuan paling legendaris itu, saya, Manunggal K.  Wardaya berhasil menjumpai dua diantara personil Dara Puspita di kediaman mereka di Negeri Belanda.

Pesan singkat bertahun bertahun 1967 itu tertulis dalam kartu pos bergambar sebuah band pria dengan dandanan 60-an, terselip di halaman  album foto yang kebanyakan berisi foto  hitam putih. Pengirimnya bernama Ayob, gitaris utama band itu (hasil penelusuran, Ayob telah wafat sekira 2012). Dalam tulisannya ia mengirimkan salam tersayang kepada gadis kepada siapa kartu pos itu ia tujukan dan berikut titipan salam dari rekan-rekannya kepada semua kawan gadis itu, yang tak lain adalah para personil Dara Puspita yang lain. “Saya malah nggak ingat kalau ada kartu pos itu,” ujar Lies AR sang penerima salam tertawa geli. Bisa dimaklumi, karena kartu pos itu telah 45 tahun silam ia terima. Lies yang mantan pemain gitar ritem dan ,menyumbang suara di banyak lagu band legendaris Dara Puspita (Lagu Halo Halo, Burung Kaka Tua, Bhaktiku adalah beberapa lagu dimana ia berada dalam posisi lead vocal) mengakui bahwa gitaris band yang diingatnya dari Singapura itu sempat menaruh hati padanya, tapi karena Darpus, demikian band ini biasa disebut, sibuk berkeliling tour di dalam maupun luar Indonesia, tak pernah ada hubungan istimewa diantara keduanya. 40 tahun setelah formasi Dara Puspita resmi bubar di Makassar tahun 1972, Lies menjalani hari-harinya  seorang diri di Alphen aan de Rijn sebuah kota kecil di dekat Leiden, Belanda. “Anak saya dua, perempuan semua, dan sudah tinggal sendiri-sendiri”, katanya. Suami Lies, Robby Tromp telah meninggal dunia karena kanker. “Saya tiap hari ya begini, masak. Kadang-kadang saya menemani teman yang mengelola salon. Ya menemani ngobrol saja,” tambahnya. Lies yang bermukim di Belanda sejak 1973 ini kemudian mengenang betapa ia amat sedih ketika Dara Puspita yang baru kembali dari pengembaraannya di Eropa harus resmi bubar setelah mereka klaar menggelar tour di tanah air sepulang dari Eropa. “Kalau boleh memilih, sebenarnya saat itu ya nggak mau bubar,” lanjutnya dengan wajah yang masih menyisakan kecewa. Continue reading “Kenangan Dara Puspita”

Ariesta Bhirawa

Bayangkan kita bertanya pada seratus orang yang kita jumpai secara acak apakah mereka ada mengenal nama band ini? Rasanya tak akan ada yang menjawab mengerti akan keberadaan kelompok ini, tak ada yang tahu bahwa band ini pernah ada di tanah air. Imajinasi yang sama tidak akan berlaku pada band lain seperti Koes Plus, The Mercys, atau misalnya God Bless. Generasi terkini pun bisa dipastikan mengenal nama-nama band yang disebut terakhir tadi.
Ariesta Bhirawa, nama band gemblengan penyanyi senior Mus Mulyadi ini memang bukan band besar, setidaknya dalam konteks jumlah penggemar. Album maupun lagu-lagu mereka dipastikan tak ada lagi di berbagai toko musik di tanah air. Tapi album rekaman ini menjadi buruan kolektor dalam dan luar negeri sebagai sesuatu yang dianggap harus dipunyai oleh para pengumpul rekaman. Sebagaimana album Ghede Chokra’s milik Sharkmove-nya Benny Soebardja, album ini telah dirilis ulang oleh Shadok, label yang berbasis di Jerman dalam rupa CD dan piringan hitam. Desain covernya amat sederhana dan terlalu umum: para personil yang nampang, dengan sang frontman duduk lebih tinggi dari yang lainnya. Kostum berwarna ngejreng, kerah lebar, celana cutbray dan tampang personilnya sungguh generasi bunga, seperti bukan makhluk dari bangsa Asia. Mau tak mau saya teringat pada sampul album “Are You Experienced” milik Jimi Hendrix. Satu piringan hitam asli-nya bisa berharga jutaan rupiah di tangan kolektor dan penjual rekaman antik. Yang tak mengetahui Ariesta Bhirawa akan penasaran, memangnya seperti apa permainan musik band ini? Begitu istimewakah? Continue reading “Ariesta Bhirawa”