…dan MKW pun Dibungkam Part III

Polemik penendangan saya oleh team admin group Facebook Obrolan Seputar Koes Plus (OSK)  berkembang pula di Milis KBP di Yahoo Groups. Di sana, Dhodo Cansera (DC) sang mantan ‘admin bolak balik’ OSK dan beberapa member milis yang membaca link saya di blog ini memberi aneka komentar.  DC antaranya menulis OSK sebagai group yang ‘istimewa’. Menanggapi DC, member bernama Awwaludin menulis sbb:

Istimewa karena adminnya berperan sebagai merasa memiliki sehingga anggota yg dirasa berseberangan, langsung diremove..
Istimewa karena ada admin yang tidak bisa membedakan dirinya sebagai admin dan dirinya sebagai pelaku diskusi di Obrolan tersebut.
Istimewa karena keluar sebagai admin krn nggak mampu, lalu masuk lagi dengan diam2 dan seakan terkejut dipilih, lalu bergerak sebagai admin hanya untuk sekedar meremove saingan diskusinya, setelah itu, kabur lagi dengan diam2, sehingga admin tersisa menjadi tumbal atas “lempar batu sembunyi tangan salah satu admin”..
Istimewa karena mengaku pemilik bisa diturunkan sebagai admin oleh anggotanya, dan akan membubarkan bila dianggap posisinya sudah tidak dianggap lagi..

Member milis Krisin menyarankan agar saling memaafkan antara saya dan DC. Tentu saran yang baik dan mulia. DC mengatakan ia sudah meminta maaf di OSK. Ini dia tulisan DC yang ditujukan pada Krisin: Continue reading “…dan MKW pun Dibungkam Part III”

Advertisements

..dan MKW pun Dibungkam

23 Desember dinihari waktu Utrecht, Negeri Belanda, di rumah sahabat saya. Saya baru pulang dari menyaksikan konser di Melkweg Amsterdam.  Manakala hendak mengundang kantuk sambil mengakses internet, saya menyadari bahwa saya tak bisa mengakses Group Facebook Obrolan Seputar Koes Plus (OSK) yang saya ikuti. Ketika saya pantau di panel administrasi group, terbaca salah satunya “join group”. Mahfumlah saya, bahwa saya dalam keadaan bukan anggota OSK lagi. Karena saya merasa tak pernah leave group alias keluar dari group, maka saya menarik kesimpulan: saya telah dikeluarkan dari group.

Pertanyaan awalnya adalah:  siapa yang mengeluarkan saya? mengapa saya dikeluarkan? Jawaban atas pertanyaan pertama, tentu saja admin, karena adminlah yang memiliki kewenangan untuk itu. Siapakah admin dimaksud? Saya tidak tahu, akan tetapi karena admin adalah kerja team, maka keputusan admin adalah keputusan bersama. Siapa yang menjadi admin kala itu, itulah mereka yang mengeluarkan saya. Eksekutornya tentu another discussion, yang tak relevan saya bicarakan di sini. Continue reading “..dan MKW pun Dibungkam”

The Forgotten “Plus” : Totok A.R

Koes Plus Vol. 1 Produksi Dimita Moulding Industries.
Sampul CD Koes Plus Vol. 1 yang sempat beredar di minimarket Indomaret.  Sampul ini adalah replika Piringan Hitam Koes Plus vol. 1 yang dikeluarkan oleh Dimita Moulding Industries pada 1969. Paling bawah berambut agak panjang itulah Adji Kartono alias Totok AR, bassplayer pertama Koes Plus. Ia digantikan oleh Koesroyo alias Yok Koeswoyo

Membicarakan sejarah berdirinya Koes Plus, media dan sejarah musik Indonesia pada umumnya akan menyebut hengkangnya Koesnomo (Nomo) dan masuknya drummer group Patas bernama Kasmuri (dikenal sebagai Murry) sebagai  faktor tunggal berdirinya kelompok musik legendaris tersebut. Fakta tersebut sebenarnya hanya satu fragmen dari sejarah berdirinya band yang boleh dikatakan sebagai yang terbesar di Indonesia. Murry bukanlah satu-satunya Plus dalam tubuh Koes, Selain dia, ada figur lain yang bukan bagian dari dinasti Koeswoyo akan tetapi pula turut menghiasi sampul album Dheg Dheg Plas (1969) rekaman awal sekaligus dokumentasi karya formasi Koes Plus paling awal yang pernah ada. Figur itu adalah  Adji Kartono, pemudah berusia duapuluh tahunan yang ada pada lineup pertama Koes Plus bersama dua bersaudara Koeswoyo yakni  Koestono (Tonny) dan Koesyono (Yon).

Bergabungnya Adji Kartono yang akrab dipanggil dengan nama Totok AR ke dalam Koes Plus terjadi karena lowongnya posisi bassplayer setelah Nomo dan Yok Koeswoyo hengkang dari Koes Bersaudara. Sebuah sumber menyebut terhalangnya keinginan untuk unjuk suara dalam Koes Bersaudara  sebagai sebab yang sebenarnya di balik hengkangnya Nomo, walau keinginan berbisnis adalah  satu-satunya alasan yang selalu disebut dan dikutip serta diketahui oleh publik.  Yok berhenti karena tak mau main band dengan personil di luar Koeswoyo. Totok bukanlah orang baru di kalangan personil Koes Bersaudara karena sejak akhir 60-an ia turut tinggal bersama band itu di markas mereka, Jalan Sungai Pawan No. 1. Sebelumnya, ia bermusik bersama band  Phillon yang berbasis di Bandung, memainkan musik-musik rock asing . “Jaman dulu, kalau main musik nggak lagu Barat nggak akan diterima. Bimbo aja dilemparin”, tuturnya. Continue reading “The Forgotten “Plus” : Totok A.R”