Mengenal Adji Kartono, Pemain Bass Pertama Koes Plus

Koes Plus, band terbesar di Indonesia, demikian kerap disebut-sebut. Ironisnya, akurasi sejarah terbentuknya band ini secara utuh tak terawat sehingga tak banyak dipahami  bahkan oleh mTotok ARereka yang mengklaim sebagai penggemar Koes Plus paling fanatik sekalipun. Kutipan yang disalin dari group FB salah sebuah kelompok penggemar dan pelestari Koes Bersaudara dan Koes Plus di bawah ini menunjukkan bahwa tak saja miskin pengetahuan, kelompok penggemar bahkan kerap menjadi pelaku pemburaman sejarah itu sendiri. Mari disimak:

Dari kelompok Koes Bersaudara ini lahir lagu-lagu yang sangat populer hingga saat ini seperti : Bis Sekolah, Dara Manisku , Telaga Sunyi, Pagi yang Indah dan masih banyak lagi. Ketika salah satu anggota Koes Bersaudara yaitu Nomo Koeswoyo keluar lalu digantikan Murry sebagai drummer, maka nama Koes Bersaudara berubah menjadi Koes Plus.

Sebagaimana terbaca di atas, kutipan yang diambil pada April 2014 tersebut menyebut   terbentuknya Koes Plus sebagai semata karena keluarnya Koesnomo alias Nomo sang drummer yang digantikan Kasmuri alias Murry. Komunitas yang mengaku penggemar dan pelestari Koes Plus sekalipun ternyata tak paham/ tak mengetahui bahwa “Plus” pertama di tubuh Koes Plus tak saja Kasmuri, akan tetapi juga seorang pemuda duapuluh tahunan bernama Adji Kartono. Adji adalah “Plus” pertama di tubuh Koes Plus bersama Kasmuri. Bahkan menurut Adji yang lebih dikenal sebagai Totok AR ini, keberadaannya di Koes Plus mendahului masuknya Kasmuri alias Murry. Dua huruf “A.R” di depan namanya adalah nama sang Ayah, Adji Rahman, yang juga dipakai oleh kakak perempuannya, Titiek A.R., dan Lies A.R., keduanya gitaris Dara Puspita. Adji Kartono inilah bassplayer pertama supergrup ini dan bukannya Koesrojo alias Jok Koeswojo seperti yang disangka-sangka orang.

Mengapa tak banyak yang mengerti dan memahami sejarah Koes Plus sebagaimana terindikasi dari kalimat yang dibaca dari definisi group FB tersebut di atas? Bisa jadi, hal ini dikarenakan  Totok A.R  tak lama bergabung dengan Koes Plus, hanya lebih kurang selama satu tahun. Sejak album Volume 2, Totok lagi ada di dalam tubuh Koes Plus. Selain itu, bukan suatu kebiasaan baku rekaman di tanah air, terutama pada masa itu, untuk menyebut personil dan juga instrumen/peran yang dimainkan dalam band. Namun begitu, kesemua hal itu sudah tentu bukanlah alasan untuk mengingkari sejarah keanggotaan. Continue reading “Mengenal Adji Kartono, Pemain Bass Pertama Koes Plus”

Advertisements

Dara Puspita dan Koes Bersaudara: Lebih Populer Siapa?

Dara Puspita kika: Susy Nander (drums), Titiek Hamzah (bass, vocal), Lies A.R. (rhythm guitar, vocal), Titiek A.R. (lead guitar, vocal). Foto ini diambil dalam kesempatan mereka tampil di aneka kelab musik di Paris 1971
Dara Puspita kika: Susy Nander (drums), Titiek Hamzah (bass, vocal), Lies A.R. (rhythm guitar, vocal), Titiek A.R. (lead guitar, vocal). Foto ini diambil dalam kesempatan mereka tampil di aneka kelab musik di Paris 1971

Melalui posting di di Group FB Obrolan Seputar Koes , group yang menjadi wadah penggemar Koes Plus/Koes Bersaudara akun FB Ade Tejanegara (AT) memposting thread yang membandingkan Koes Plus dan Dara Puspita (Darpus). Intinya, posting bertanggal 13 Agustus 2013 tersebut mengkomparasikan Dara Puspita yang seakan tenggelam tiada kabar, sementara Koes Plus tetap jaya. Padahal, klaim thread tersebut, keduanya adalah band seangkatan.   Lebih lanjut Ade mengklaim bahwa kepopuleran Darpus di  luar negeri tidak ada artinya kalau di dalam negeri tidak populer, atau dengan kata lain tenggelam di bawah nama Koes Plus. “Miris sekali”, demikian kalimat penutup thread tersebut, suatu ekspresi yang terkesan memandang rendah pada Darpus.

Perbandingan kedua band itu, Koes Plus dan Darpus buat telinga saya yang lahir jauh setelah masa jaya kedua band tersebut sebenarnya sama sekali bukan hal baru, dan nada fanatisme (terhadap Koes Plus) seperti itu pula hal usang bagi saya. Namun, sebagai pribadi yang menaruh minat atas sejarah perjalanan kedua band tersebut, klaim Ade Tejanegara tersebut layak dikritisi semata agar sejarah bisa ditelaah dan diresapi tanpa distorsi. Dan mumpung ada libur lebaran, maka inilah tanggapan yang bisa saya susun dan berikan: Continue reading “Dara Puspita dan Koes Bersaudara: Lebih Populer Siapa?”

The Forgotten “Plus” : Totok A.R

Koes Plus Vol. 1 Produksi Dimita Moulding Industries.
Sampul CD Koes Plus Vol. 1 yang sempat beredar di minimarket Indomaret.  Sampul ini adalah replika Piringan Hitam Koes Plus vol. 1 yang dikeluarkan oleh Dimita Moulding Industries pada 1969. Paling bawah berambut agak panjang itulah Adji Kartono alias Totok AR, bassplayer pertama Koes Plus. Ia digantikan oleh Koesroyo alias Yok Koeswoyo

Membicarakan sejarah berdirinya Koes Plus, media dan sejarah musik Indonesia pada umumnya akan menyebut hengkangnya Koesnomo (Nomo) dan masuknya drummer group Patas bernama Kasmuri (dikenal sebagai Murry) sebagai  faktor tunggal berdirinya kelompok musik legendaris tersebut. Fakta tersebut sebenarnya hanya satu fragmen dari sejarah berdirinya band yang boleh dikatakan sebagai yang terbesar di Indonesia. Murry bukanlah satu-satunya Plus dalam tubuh Koes, Selain dia, ada figur lain yang bukan bagian dari dinasti Koeswoyo akan tetapi pula turut menghiasi sampul album Dheg Dheg Plas (1969) rekaman awal sekaligus dokumentasi karya formasi Koes Plus paling awal yang pernah ada. Figur itu adalah  Adji Kartono, pemudah berusia duapuluh tahunan yang ada pada lineup pertama Koes Plus bersama dua bersaudara Koeswoyo yakni  Koestono (Tonny) dan Koesyono (Yon).

Bergabungnya Adji Kartono yang akrab dipanggil dengan nama Totok AR ke dalam Koes Plus terjadi karena lowongnya posisi bassplayer setelah Nomo dan Yok Koeswoyo hengkang dari Koes Bersaudara. Sebuah sumber menyebut terhalangnya keinginan untuk unjuk suara dalam Koes Bersaudara  sebagai sebab yang sebenarnya di balik hengkangnya Nomo, walau keinginan berbisnis adalah  satu-satunya alasan yang selalu disebut dan dikutip serta diketahui oleh publik.  Yok berhenti karena tak mau main band dengan personil di luar Koeswoyo. Totok bukanlah orang baru di kalangan personil Koes Bersaudara karena sejak akhir 60-an ia turut tinggal bersama band itu di markas mereka, Jalan Sungai Pawan No. 1. Sebelumnya, ia bermusik bersama band  Phillon yang berbasis di Bandung, memainkan musik-musik rock asing . “Jaman dulu, kalau main musik nggak lagu Barat nggak akan diterima. Bimbo aja dilemparin”, tuturnya. Continue reading “The Forgotten “Plus” : Totok A.R”

Diskusi Lain Lagi Tentang Sejarah dan Keanggotaan Koes Plus

Formasi Koes Plus: Koesyono, Kasmuri, Jack Kasbhi, Andolin
Formasi Koes Plus: Koesyono, Kasmuri, Jack Kasbhi, Andolin

Pada Jum’at 28 Desember 2012, Akun Facebook (FB) Dhodo Cansera memposting pada Group FB Obrolan Seputar Koes Plus mengenai album Koes Plus ’98 sebagai berikut:

Koes plus dengan personil Yon koeswoyo dan Murry ϑï bantu additional player jack kasbhi dan Andolin merupakan group Чάπƍ cukup produktif juga, sejak berkibar tahun 1997 s/d 2004 telah mengeluarkan album kurang lebih 10 album salah satu ϑï antaranya album ini ..

Posting itu segera mendapat apresiasi dari akun FB Abednego T. Gumono yang menulis sebagai berikut:

Mas Dodo, trmksh infonya, kira-kira knp bisa produktif juga? Apakah karena peran Andolin yang mumpuni dari segi skill musiknya?

Dhodo Cansera menjawab pertanyaan Abednego sebagai berikut:

ßз†ûĽ, peran andolin dan jack kasbhi lah Чάπƍ membuat mereka produktif, andolin adalah musisi Чάπƍ ß¡aså mengaransir lagu lagu batak sedangkan jack kasbhi adalah musisi lagu lagu melayu ..

Setelah satu komentar dari salah seorang member group, Abednego memberi tanggapan sebagai berikut:

Trmksh mas Dodo ulasan dan infonya: setuju. Sayang, Murry ksehatannya tak prima shngg formasi itu bubar.

Menjawab pertanyaan Abednego, Dhodo Cansera memberi jawab sebagai berikut:

Bubarnya formasi ini karena pembagian honor Чάπƍ tidak merata ..

Sebagaimana akun FB Ai Azhari, Abednego kemudian membalas dengan komentar sebagai berikut:

Sayang jika demikian mslh honor yg terjadi.Mungkin ecr kualitas formasi ini bagus juga,ya?

Saya turut memberi komentar di bawah ini:

Kalau mengikuti logika berpikir bahwa kedua orang itu (Jack dan Andolin) adalah additional, argumentasi pembagian honor yang tidak merata sebagai penyebab bubarnya formasi ini menjadi aneh bin janggal. Mengapa? Karena yang namanya additional, manalah ada honornya sama dengan artis utamanya?? Ketidakmerataan ini pasti kesepakatan dari awal JIKA mereka memang benar-benar additional. Lebih jauh,jika “pembagian honor yang tidak merata” hendak dipercaya sebagai penyebab rontoknya formasi ini, maka disadari atau tidak, pernyataan itu telah menggugurkan klaim bahwa kedua mereka itu adalah additional. Saya cukup memercayai soal pembagian honor yang tidak merata ini, karena saya termasuk memercayai (terlepas suka atau tidaknya saya dengan formasi ini) bahwa mereka adalah anggota Koes Plus tanpa embel embel additional. Continue reading “Diskusi Lain Lagi Tentang Sejarah dan Keanggotaan Koes Plus”

Mengenal Handiyanto: Sang ‘Seksi Repot’ Koes Bersaudara

B41Tampak dalam gambar adalah Koes Bersaudara minus Koesnomo sang drummer (mungkinkah ia yang mengambil foto ini?). Duduk  paling kiri dan berdasi adalah Handiyanto (1939-2012), tehnisi merangkap seksi repot (motret, atur jadwal manggung) Koes Bersaudara, tangan kanan Koestono alias Tonny Koeswoyo. Kelak di tengah 1968, pria yang oleh  Koestono dipanggil Dik Handi ini bertolak ke Eropa mengikuti Darpus dan menjadi roadie mereka selama 3,5 tahun, dan hingga 1975 bermukim di Negeri Belanda. Adalah anak-anak Darpus sendiri yang berkirim surat pada Koestono memohon “pinjam” tehnisi yang sudah mereka kenal baik di tanah air karena dekatnya kedua kelompok musik itu. Sebelumnya, mereka para gadis Darpus tidak memiliki tehnisi sendiri yang membuat mereka kerepotan ketika harus tampil dari satu kota ke kota lain dan memasang sendiri alat musik yang mereka punyai.

Handiyanto, di Zwolle, Negeri Belanda pada suatu hari di bulan Juli 1971
Handiyanto, di Zwolle, Negeri Belanda pada suatu hari di bulan Juli 1971

Hubungan pribadi dan profesi antara Handi dan Koes Bersaudara berawal ketika pada suatu hari di tahun 1963 Koestono mendatangi rumah Handiyanto  di Jl. Bulungan 8 yang  dijadikan semacam bengkel darurat. Kala itu Handi sama sekali tidak/belum tahu kalau ‘Koes Bersaudara’ yang diidolakan adik-adiknya adalah Tonny dan adik-adiknya yang padahal sebenarnya telah ia kenal/tahu sejak masuk SMP XI (Kelas III) di tahun 1955. Koestono mendapat informasi mengenai bengkel Handi dari iklan di surat kabar, dan pada pria yang dilahirkan di Tegal tersebut ia minta tolong memperbaiki amplifier gitar yang mendadak rusak waktu dipakai latihan. Dari situlah hubungan Handi dan Koestono dan juga Koes Bersaudara berawal mula, hingga akhirnya lelaki dengan pembawaan easy going ini diajak bekerja sama sebagai ‘seksi repot’ mereka.

Di sampul belakang LP To The So Called The Guilties tertulis Cover Design & Photo: Handi
Di sampul belakang LP To The So Called The Guilties tertulis Cover Design & Photo: Handi

Job description, tugas pokok dan fungsi Handi di Koes Bersaudara memang ‘tidak jelas’, maklum hubungan kerja antara dia dan Koes Bersaudara lebih kepada persaudaraan dan pertemanan. Ia dipercaya tentang segala sesuatu soal sound system, namun juga mengatur jadwal manggung, hingga melakukan negoisasi dengan panitia-panitia yang hendak mengundang Koes Bersaudara untuk manggung. Ia pulalah desainer sampul To The So Called The Guilties, Long Play Koes Bersaudara di bawah label Mesra. Adalah juga Handi yang melakukan pemotretan untuk sampul album tersebut. Tak hanya Guilties,  Handi mendesain sampul album Djadikan Aku Domba-Mu, walau atas permintaannya sendiri, sampul album tersebut tidak mencantumkan namanya.

Penulis bersama Handiyanto di kediamannya, Cinere, Bogor 2010
Penulis bersama Handiyanto di kediamannya, Cinere, Bogor 2010

Handiyanto, salah seorang inner circle Koes Bersaudara ini wafat pada Maret 2012 karena komplikasi yang dideritanya.

Koes Plus dan Koes Bersaudara: Sebuah Sejarah Ringkas

 

Tulisan didasarkan pada tulisan saya sebelumnya yang  dimuat dalam TREK MAGAZINE dengan judul : Koes Plus dan Koes Bersaudara: Legenda Abadi Musik Indonesia. Koreksi dan penyempurnaan di sana sini telah dilakukan 

Berdiri pada pertengahan 1969, Koes Plus sebenarnyalah merupakan metamorfosa dari band pria bernama Koes Bersaudara yang memiliki rentang karir di dunia rekaman terhitung 1962-1969. Koes Bersaudara sendiri terdiri dari Koesdjono (Djon), Koestono (Tonny), Koesyono (Yon), Koesrojo (Yok), dan Koesnomo (Nomo). Sempat memakai nama Koes Brothers, band ini menelurkan dua album di bawah label MESRA Records masing-masing Long Play 12 inchi To The So Called The Guilties (1967), dan Long Play 10 inchi Djadikan Aku Domba-MU (1968) dua album yang sebenarnya diambil dalam satu sesi rekaman. Sebelumnya di awal dan pertengahan 1960-an, Koes Bersaudara tampil dengan konsep duo vokal Yon dan Yok Koeswoyo. Duet ini melempar berbagai single dalam EP (piringan hitam mini) seperti Bis Sekolah, Harapanku, Sendja, dan Awan Putih di bawah label Irama.

piringan hitam 7
piringan hitam 7″ Koes Bersaudara Jang Mempesonakan produksi IRAMA. Foto: Ridwan Jadul, D Jadul Shop, Blok M Square, Jakarta.

Keluarnya Nomo sang drummer pada 1969 memaksa Tonny sang pimpinan yang bertekad untuk terus hidup dari bermusik untuk mencari drummer pengganti. Adalah Kasmuri, eks drummer band Patas yang sebelumnya kerap membantu banyak backing group Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin, yang kemudian terpilih menggantikan Nomo karena pukulannya dinilai begitu keras dan variatif. Bersama Kasmuri yang kemudian akrab dipanggil Murry inilah Koes Plus merekam debut mereka di bawah label Melody Records, sebuah album yang berisi antaranya lagu superkeras berjudul Kelelawar.

Murry memang menjadi Plus” diantara para “Koes, namun tak boleh diabaikan bahwa Plus di era awal bukanlah milik Murry seorang. Adalah  Adji Kartono yang pula menyandang predikat “Plus” dalam tubuh Koes Plus. Ialah orang yang tercatat dalam sejarah sebagai pemain bass pertama Koes Plus. Pria yang kerap dipanggil Totok AR ini masuk dalam formasi pertama Koes Plus dikarenakan Yok tak mau bergabung dengan band baru bentukan Tonny dengan orang luar di luar dinasti Koeswoyo. Inisial A.R di belakang nama Totolk tak lain adalah nama ayahnya, Adji Rahman. Untuk diketahui, Totok merupakan adik kandung dua gitaris Dara Puspita yakni Titiek dan Lies AR. Permainan bass Totok terekam dalam album Dheg Dheg Plas (1969). Totok tak lagi memperkuat Koes Plus ketika Yok menggantikan posisinya pada 1970.

Totok (bertopi hitam) bernyanyi bersama kakak2nya, Titiek AR (gitar) dan Lies AR (berbaju merah). Titiek dan Lies adalah dua eks personil DARA PUSPITA. Bermain keyboard adalah Kako AR, saudara Totok pula. Perempuan di ujung yang pula bernyanyi adalah Susy Nander, eks drummer Dara Puspita
Totok (bertopi hitam) bernyanyi bersama kakak2nya, Titiek AR (gitar) dan Lies AR (berbaju merah). Titiek dan Lies adalah dua eks personil DARA PUSPITA. Bermain keyboard adalah Kako AR, saudara Totok pula. Perempuan di ujung yang pula bernyanyi adalah Susy Nander, eks drummer Dara Puspita

Racikan lagu a-la The Bee Gees, The Cats, dengan sentuhan warna Indonesia membuat Koes Plus segera meraih simpati publik musik Indonesia. Piringan hitam mereka laris, kesuksesan diraih, dan mereka pun semakin produktif. Dalam kurun waktu 1969 hingga 1973 mereka berhasil menelurkan 8 volume piringan hitam, belum termasuk album non-volume seperti album Natal. Dalam sebuah surat di tahun 1973 kepada Handiyanto, mantan tehnisi Koes Bersaudara yang kala itu bermukim di Nederland setelah mengawal Dara Puspita di Eropa (1969-1971), Tonny mengisahkan bahwa walaupun di Ibukota ada sekitar 25 band, namun mereka tetap eksis. Sementara itu walau tak sesukses Koes Plus, di awal dekade 70-an Nomo pula mengibarkan bendera No Koes yang juga memiliki pasar penggemar fanatik.

DSC_0380
Piringan hitam/vinyl 12 inch Dheg Dheg Plas dengan tanda tangan Yon Koeswoyo di atasnya

Berpindah ke label Remaco pada 1973, Koes Plus semakin menuai sukses dengan lagu-lagu mereka di volume 9 seperti Muda-Mudi, Bujangan dan Kapan-Kapan. Mereka pun melebarkan spektrum bermusik dengan merekam lagu lagu berbahasa Jawa dalam album Pop Jawa Vol. 1 pada tahun 1974. Di album inilah terekam nomor-nomor abadi semisal Tul Jaenak, Ora Bisa Turu, dan Ela Elo. Sukses dengan lemparan Pop Jawa Vol. 1 ini, mereka merilis tak kurang dari tiga (3) album berbahasa Jawa. Begitu luasnya massa pendengar Koes Plus, sehingga merekapun harus memenuhi selera pasar yang pula begitu luas itu. Maka bisa jadi Koes Plus adalah satu-satunya band yang membuat album Natal namun juga merilis album Qasidah. Mereka jugalah satu-satunya band yang merilis album Pop Anak-anak, album berbahasa Inggris (bertajuk Another Song For You), album lembut Folk Song yang didominasi gitar akustik, namun juga merilis album bernada keras seperti In Hard Beat yang kemudian juga diselingi dengan rilisan album Keroncong yang mendayu dan album-album Pop Melayu (hingga 4 volume di bawah label Remaco saja) yang mengajak bergoyang. Di era 1980an mereka bahkan merekam Pop Batak dan juga Bossas. Tawaran show pun mengalir deras, dan di paruh awal 1970an, bisa dikatakan tak ada yang menandingi Koes Plus dalam soal honor manggung.

Pada 1977 Koes Plus sempat vakum dengan bergabungnya kembali Nomo sebagai drummer, yang sekaligus menghidupkan kembali Koes Bersaudara. Album yang dirilis bertajuk Kembali juga amat meledak, dan hingga kini bisa dikatakan sebagai lagu wajib para penggemar Koes Plus/Bersaudara. Di sisi lain, Murry juga tidak mau menganggur begitu saja. Ia membikin Murry’s Group yang juga menelurkan album Kursi Emas/Selamat Tinggal Saudaraku. Murry yang memang sudah terbiasa melantunkan vokal semasa di Koes Plus (antara lain lagu Pak Tani, Desember, Penyanyi Muda) tidak menemui kesukaran dalam berolah vokal dalam group dimana ia menjadi figur sentral. Ia pula merilis sebuah solo album di masa itu bertajuk Sweet Melodies, yang berisi lagu-lagu seperti Papi Mamiku, Indria, dan Kesunyian. Reunian Koes Bersaudara tak berlangsung lama, dan Koes Plus pun kembali menyatu.

Menjelang berakhirnya dasawarsa 1970an, Remaco yang pernah tercatat sebagai label rekaman terbesar se Asia Tenggara itu harus gulung tikar. Koes Plus pun ‘dipindah’ ke Purnama Records, dimana mereka kemudian merekam album-album seperti Cubit-Cubitan, Aku dan Kekasihku, Bersama Lagi, dan Melati Biru. Namun demikian, berseiring dengan munculnya trend lagu-lagu sendu a-la Iis Sugianto yang dirilis label Lolypop milik Rinto Harahap (The Mercys) dan juga Ebiet G Ade, kepopuleran Koes Plus pun menjadi surut. Era 80-an bisa dikatakan adalah era yang sukar untuk mereka jalani, karena masa emas dengan penjualan meledak dan tawaran manggung bertubi-tubi telah berakhir. Namun demikian, mereka toh masih bisa menelurkan album-album dengan materi yang terbilang dahsyat seperti Asmara (1981), Da Da Da (1983), ataupun Cinta Di Balik Kota (1987), dan tetap muncul di acara-acara TVRI. Hingga akhirnya kenyataan itu tiba: sang motor dan inspirator Tonny Koeswoyo meninggal dunia pada 1987. Tak saja rasa kehilangan yang menggayuti kalbu para personil Koes Plus dan juga para penggemarnya, ketidakyakinan akan terus berkibarnya bendera Koes Plus tanpa Tonny juga dirasakan sebagai hal yag begitu berat dijalani.

Namun karena wasiat almarhum yang menginginkan agar Koes Plus tetap berkibar, para personil Koes Plus yang tersisa tetap merekam album-album seperti AIDS (1987), Pop Melayu Amelinda (1991 walau tetap saja, penjualan album-albumnya tak semeledak di era 1970-an. Hingga akhirnya pada 1993, band ini kembali menggebrak publik tanah air dengan berbagai show- come backnya. Nyatalah bahwa band ini masih memiliki begitu banyak penggemar setia yang merindukan masa keemasan mereka terbukti dengan membludak dan suksesnya show Koes Plus walaupun tiket yang dijual begitu mahal pada awalnya. Hingga pada 1994, bersama dengan Damon Koeswoyo yang tak lain adalah putera Tonny Koeswoyo, mereka merilis album bertajuk Tak Usah Kau Sesali. Setelah itu muncullah album-album lain yang melibatkan musisi-musisi besar seperti Dedy Dores (ex Freedom of Rhapsodia), Ian Antono (God Bless), dan Abadi Soesman. Karena satu dan lain hal, pada paruh kedua dekade 90-an Yok Koeswoyo memutuskan untuk mengundurkan diri dan hingga kini lebih menekuni kehidupan sebagai petani di Banten. Murry juga lebih memilih untuk bersolo karir dengan groupnya Murry’s Group. Tinggallah Yon Koeswoyo yang dengan dibantu banyak musisi yang datang dan pergi mengibarkan bendera Koes Plus. Banyak yang percaya bahwa Koes Plus tanpa Tonny sebenarnya tak lagi terbilang Koes Plus, namun banyak pula yang meyakini selama masih ada darah Koeswoyo dalam sebuah band, maka band itu masih layak bernama Koes Plus.

Terlepas dari itu, ketulusan dan dedikasi Tonny Koeswoyo dan saudara serta rekannya dalam Koes Bersaudara dan Koes Plus terhadap musik tanah air merupakan sumbangan yang begitu besar yang tak ternilai harganya. Koes Bersaudara dan Koes Plus adalah peletak fondasi musik pop tanah air, legenda tak tergantikan. Dua band ini telah menjadi ikon musik Indonesia yang sebagaimana The Beatles teruji oleh sejarah sebagai band yang dicintai dan dilestarikan oleh generasi yang terlahir jauh sesudah masa kejayaan mereka. [Manunggal K. Wardaya]

Koes Plus dan Keanggotaan Koes Plus: Sebuah Polemik

Setelah sekian lama tidak pernah membuka mailing list Koes Plus, diri ini membaca sebuah posting yang isinya cukup menggelitik. Inti posting itu (yang juga mendapat tanggapan bernada setuju) adalah bahwa selain formasi Koes Plus yang legendaris yakni Tonny, Yon, Yok, dan Murry, figur-figur yang lain yang pernah mengisi Koes Plus adalah semata additional player. Dalam pendapat itu juga disebutkan bahwa yang bernama Koes Plus adalah empat formasi tersebut, dan sebaiknya formasi lain selain 4 orang tersebut tidak berhak dan tidak pantas menyandang nama Koes Plus atau berganti nama.

Membaca diskusi demikian, saya merasa perlu untuk berkomentar, yang kemudian disambut dengan respon-respon hangat, terutama dari peserta milis bernama Dodo Cansera. Saya kira, ada baiknya polemik ini diabadikan, sebagai dokumentasi adu argumentasi tentang benarkah hanya empat orang tersebut yang layak disebut Koes Plus? Apakah benar klaim yang menyatakan bahwa selain empat orang tersebut, maka siapapun yang pernah mampir dalam formasi Koes Plus tak lain dan tak lebih hanyalah additional player? Semuanya dapat dibaca dalam diskusi yang saya copy pastekan di blog ini dan kesimpulan akhirnya terpulanglah pada siapapun yang mengikuti diskusi ini. Berikut cuplikannya:

QUOTE:

From: Dodo Cansera <dodocansera@ ymail.com>
To: koesplus@yahoogroup s.com
Sent: Fri, January 29, 2010 7:08:20 PM
Subject: Bls: [koesplus] Berita Mas Murry

yang menarik dalam berita tersebut adalah wartawan menjelaskan dengan jelas bahwa Murry di tulis sebagai drumer koes plus begitu juga Yok koeswoyo di tulis sebagai pemain bass koes plus, padahal pada umumnya bila suatu band berdiri dengan formasi terbaru maka para penggantinya di sebut sebagai MANTAN, tetapi hal ini tidak berlaku bagi KOES PLUS, jelas sudah formasi KOES PLUS hanyalah : Tonny koeswoyo, Yon koeswoyo, Yok koeswoyo dan Murry, maka tidak berlaku koes plus dengan formasi selain ke 4 legenda tersebut.

END QUOTE

Terhadap posting ini, Sdr anggota milis Krisin memuji apa yang disebutnya sebagai kejelian Sdr Dodo Cansera. Sedangkan anggota lain Sdr Tato pada 4 Februari menanggapi sebagai berikut:

QUOTE:

Saya setuju dg Mas Dodo dan mas Krisin. Memang seharusnyalah demikian. Tanpa mengurangi rasa hormat ke Mas Yon, sebaiknya “Koes Plus” yang sekarang diberi nama New Koes Plus atau yang lain. Sejak Mas Ton wafat tidak ada lagi Koes Plus, yang ada Koes Plus dengan formasi baru yang seharusnya bernama BUKAN Koes Plus.
Demikian pendapat saya.
Tatok

END QUOTE

Membaca posting di atas, saya tergelitik untuk ikut berpendapat lain. Posting saya yang dikirimkan pada hari yang sama Sdr Tato mengirim postingnya berbunyi sebagai berikut:

QUOTE:

Bahwa formasi Tonny, Yon, Yok, dan Murry adalah Koes Plus yang paling Koes Plus,
saya kira ini adalah pendapat mayoritas penggemar.
Namun bahwa Koes Plus adalah hanya dimiliki oleh formasi empat itu, saya tidak
hendak menolaknya, namun mengajak untuk berfikir juga, bahwa kesejarahannya,
yang menjadikan KOES itu menjadi KOES PLUS sungguh-sungguh BUKAN hanya Murry di
album Vol 1 (deg Deg Plas) namun juga TOTOK AR, bassplayer yang juga adik
kandung Titiek AR dan Lies AR dari DARA PUSPITA.
Jika hendak konsisten mengatakan bahwa Koes Plus hanya line up solid
Ton_Yon_Yok_Murry, katakanlah dengan lantang bahwa PH Volume 1, atau album yang
berisi Deg Deg Plas, kelelawar, Tiba-tiba Kumenangis BUKANLAH Koes PLUS. katakan
dan tolak dengan lantang.
Saya sendiri tidak dalam posisi menolak Koes Plus yang sekarang tinggal YON
seorang. Sebagai penggemar, saya memang kurang tertarik lagi, namun toh masih
ada KOESWOYO di situ, walaupun sekarang 1 Koeswoyo (yakni YON) plus beberapa non
Koeswoyo.
Saya kira sejarah Volume 1 juga harus diterima dengan lapang, karena terlalu
banyak diantara kita lupa, terlalu banyak media tidak tahu, bahwa PLUS di tahun
1969 adalah semata karena hadirnya drummer bernama Kasmuri yang kita kenal
dengan nama Pak Murry. PLUS 1969 juga adalah Totok AR, yang kemudian dengan rela
mengundurkan diri ketika YOK Koeswoyo tidak lagi ngambek dengan bubarnya Koes
Bersaudara.
Salam
END QUOTE

Terhadap diskusi yang mulai menghangat itu datang satu dua respon yang menurut saya tak begitu penting dan mengena, antara lain anjuran untuk bijaksana. Saya kira anjuran seperti itu tidak perlu, karena setidaknya saya sendiri tidak sedang berbuat tidak bijaksana. Mailing list adalah wadah komunikasi dan bertukar bahkan beradu argumen secara sehat. Saya menduga, anjuran bernada bijak itu justeru keluar dari kepala yang tak pernah beradu pikir dan menganggap bahwa polemik adalah masalah kengototan dan egoisme belaka. Oleh karenanya saya tak hendak mengutip komentar-komentar dan saran nan bijak namun konyol tersebut. Tanggapan bernada setuju atas posting saya dilontarkan Sdr Demmy Ellen, yang saya rasa tak perlulah dicopy paste di sini. Saya akan melanjutkan dengan posting Sdr Dodo Cansera pada tanggal 4 Februari 2010 yang menulis kembali dengan huruf besar dan tebal sebagai berikut:

QUOTE:

Sebenarnya tulisan saya hanya sekedar meluruskan bahwa sampai saat ini memang hanya : Tonny koeswoyo, Yon koeswoyo, Yok koeswoyo dan Murry yang di akui sebagai Formasi Koes Plus, sedangkan para additional player sejak dari Totok AR hingga yg sekarang tidak pernah di akui sebagai formasi koes plus dan sudah terbukti dengan berita yang di muat di kompas tertanggal 29 Januari 2010 serta juga dengan penghargaan2 yang di terima koes plus yang penerimanya hanya ke 4 legenda tersebut.

jadi menurut saya penggunaan nama Koes Plus setelah wafatnya Tonny koeswoyo hanya sekedar untuk menjual nilai history koes plus yang sudah melegenda.

demikian, semoga jelas.

END QUOTE

Tulisan Sdr Dodo Cansera di atas saya copy paste apa adanya, dengan font dan ketebalan seperti demikian. Warna aslinya adalah biru, namun agar terbaca di Blog ini maka telah saya rubah menjadi putih dan saya cetak miring untuk memudahkan dalam membedakan mana tulisan saya dan mana yang menjadi diskusi dalam mailing list. Nampak di atas Sdr Dodo menutup dengan kalimat “demikian, semoga jelas”, seolah polemik yang terjadi semata karena kurang jelas akan penjelasannya. Terhadap posting Sdr Dodo Cansera ini saya membalas sebagai berikut:

QUOTE:

Totok AR adalah permanent member dari Ko
es Plus, karena Yok memang tidak mau
bergabung dengan band Koes Plus. Drummer sebelum Kasmuri adalah Tommy yang
mohon maaf, permainannya setelah dievaluasi dinilai kurang. Atas rekomendasi
Totok AR juga, direkrut Kasmuri alias Murry. Totok AR dicantumkan dalam volume
satu terang terangan sebagai Koes Plus, juga fotonya ditampilkan dalam cover
piringan hitam.

saya tidak sepakat bahwa hanya formasi Tonny-Yon-Yok_Murry yang diakui sebagai
koes Plus. Benar itu pengakuan sebagian penggemar, tapi tidak bisa diklaim
sebagai generalisasi sehingga menafikan penggemar lain. Jangan salah, saya juga
kurang suka dengan Koes Plus sekarang, tapi saya (dan tak kurang banyak fans
lainnya) tetap menerima itu sebagai Koes plus. Tidak suka dengan tidak mengakui
lain perkaranya.

Merunut logika berfikir sebagian rekan di sini, kalau mau konsisten, sebenarnya
Koes Plus mulai volume ke dua juga harus ganti nama dengan masuknya ‘anggota
baru’ Koes Plus yakni Koesrojo alias Yok Koeswoyo di volume kedua. Saya katakan
Yok sebagai anggota baru Koes Plus, karena dia tidak bergabung ketika Koes Plus
baru terbentuk!! Suka atau tidak ini adalah fact, fakta dalam bahasa kita,
kasunyatan dalam Jawa. Totok AR kemudian bergabung dengan band Pertamina. Sampai
sekarang beliau masih hidup.

Saya tidak mengenal Pak Tonny secara pribadi, namun saya bisa membayangkan,
seandainya beliau masih hidup, dan kendati sudah tak mampu berkarya, tak akan
keluar penolakan dari beliau seperti lantang ada terdengar di sini, dan beliau
akan tetap ridho bendera Koes plus dikibarkan selama darah Koeswoyo masih ada di
dalamnya.

Salam
END QUOTE

Menanggapi polemik yang berkembang antara saya dan Sdr Dodo Cansera, datanglah komentar dari Mulyadi. Saya rasa perlu kiranya saya copy paste di sini sebagai berikut:

QUOTE

yaelah ………….. gini lagi deh…… cape deh………
kita tidak bisa merubah ‘prinsip’ seseorang, begitu juga seseorang tidak akan bisa merubah ‘prinsip’ kita….. gitu aja deh…… ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya ya

bosan lama kelamaan bosan………………………………………..

END QUOTE

Terhadap Sdr Mulyadi ini pada awalnya saya tak hendak menanggapi, namun saya pikir hal demikian tak bisa dibiarkan. Maka terhadapnya saya merespon dengan posting sebagai berikut:

QUOTE:

Maaf, Sdr Mulyadi,
Saya rasa antara saya dan Sdr Dodo tidak ada adu prinsip atau saling hendak
merubah prinsip. Kami sekedar tukar pikiran, saling asah bukannya saling
kalahkan. Tidak ada emosi dalam perbincangan kami via tulisan. Saya antara lain
menitikberatkan kesejarahan volume satu dimana PLUS bukan saja Murry, oleh
karenanya ketika sekarang ini ada PLUS di luar Murry, dan bahkan Murry bukan
lagi bagian PLUS, atau YOK, TONNY bukan bagian KOES dari entitas bernama Koes
Plus, maka hemat saya itu tetap Koes Plus. Dengan kerangka berfikir seperti itu
saya menyambut pemikiran Mas Dodo dkk lain mengenai Koes Plus formasi legendaris
Tonny-Yon-Yok-Murry.

Baik saya dan Mas Dodo menuliskan dengan ketulusan dan kerendahan hati. Tentu
ada yang banyak saya ambil dari pendpat Mas Dodo dkk, juga saya harap masukan
informasi mengenai kesejarahan Volume satu dengan keterlibatan seorang Totok AR
akan menjadi info berguna bagi yang kebetulan belum memahami dan mengetahui.
Atau bagi yang sudah mengetahui menjadi pengingat kembali.

Maaf, justeru komentar tanpa tanpa masukan masukan baru yang mengisi itulah
yang kerap menyakitkan hati.
Mohon maaf. Salam

END QUOTE:

Setelah posting itu, Mulyadi tak lagi bersuara. Bisa jadi ia tertidur atau entah faktor lainnya. Selanjutnya, polemik antara saya dengan Sdr Dodo berlanjut dengan sebuah posting yang senada dengan saya yang asalnya dari Sdr Demmy. Sdr Demmy menulis sebagai berikut:

QUOTE:

Dear mas Dodo.
Kenapa vol.1 juga di sebut Koes Plus oleh mas Tonny, bahkan gambarnya mas Totok ada di covernya, juga di salah satu lagunya Bergembira juga ditulis cip. Tonny K, Vocal : Tonny/Jon/Totok/Murry. Kenapa waktu itu mas Tonny tidak menulis KOES PLUS dengan bintang tamu/add.player TOTOK AR.

Bergembira, bernyanyi bersama
Jangan lupa kepada saya ….

Thanks.
DE

END QUOTE

Terhadap posting di atas, Sdr Dodo membalas sebagai berikut:

QUOTE:

mohon maaf bukan bermaksud memperpanjang perdebatan, tetapi perlu saya jelaskan sekali lagi bahwa yang saya maksud adalah bahwa dari sekian banyaknya yang mengisi group band koes plus, ternyata cuma : Tonny, Yon, Yok dan Murry saja yg sampai saat ini di akui sebagai formasi / personil Koes Plus sehingga penghargaan2 yang di terimapun hanya mereka saja yg selalu menerimanya ! mengapa Toto AR yang berjasa membantu album vol.1 tidak dapat penghargaan ? begitu pula dengan yang lainnya ? kalaupun di tanyakan langsung ke Toto AR saya yakin beliau tidak akan mengaku sebagai personil koes plus walaupun beliau pernah terlibat langsung dalam album vol.1

jadi kesimpulannya adalah : Tonny koeswoyo, Yon koeswoyo, Yok koeswoyo dan Murry adalah Formasi / Personil Koes Plus yang syah dan legal sedangkan mereka antara lain :

1. Toto AR ( Bass) koes plus Vol.1
2. Abadi Soesman (lead gitar / keyboard) koes plus era 1993 – 1994
3. Jely Tobing ( Drumer ) Koes plus JAB era tahun 1992
4. Damon Koeswoyo (anak dr Tonny koeswoyo) album “tak usah kau sesali”
5. Bambang Tondo ( lead gitar / keyboard ) koes plus era 1995 – 1996
6. Najib Oesman (mantan personil Nokoes) koes plus era 1996 – 1997
7. Dedy dores (komposer) koes plus dores album ” Rindu kamu “
8. Hans ( Joko ) B-Flat – koes plus era 1996 – 1997
9. Jack Kasbhi ( Bass ) – koes plus era 1997 – 2003
10. Andolin (lead gitar / keyboard) – koes plus era 1998 – 2003
(11.) Sonny B-Plus sebelumnya bersama : hery, acil, eko membentuk band Eka bers specialis lagu2 KBP dan Beatles
(12.) Danang B-Plus sebelumnya bersama : Pak Gatot, Sudi Prakoso dan Fais membentuk band Planet Koes
(13.) Seno – drumer spesialis untuk pertunjukan di kafe2 (klub malam)

END QUOTE

Terhadap pendapat Sdr Dodo Cansera tersebut saya membalas dengan posting sebagai berikut:

QUOTE:

Mas Dodo yang baik, to the point
Perlu juga dihayati, bahwasanya asumsi umum, asumsi media termasuk asumsi
pemberi penghargaan bukanlah dengan sendirinya menjadi penentu kebenaran itu
sendiri. Bahwa kemudian penghargaan diberikan kepada Koes Plus yang 4 personil
sebagaimana anda maksud itu bukanlah dengan sendirinya kemudian menjadikan hal
itu sebagai pembenar bahwa Koes Plus memang 4 orang itu.

Ada faktor faktor kepraktisan (terutama dalam konteks award dll) yang membuat
simplifikasi demikian. Tanpa bermaksud merendahkan, belum tentu juga diantara
masyarakat, diantara pemberi award ada melek sejarah bahwa Koes Plus bukan saja
empat personil solid dimaksud.

Jika benar bahwa mereka additional, adakah bukti bahwa mereka additional? Saya
yakin, janga
nkan Totok AR yang ‘entah siapa tak dikenal’, banyak diantara
penggemar atau mereka yang awam Koes Plus akan terperanjat mengetahui figur
seterkenal Abadi Soesman pernah juga bergabung dengan Koes Plus (karena Abadi
lebih dikenal lewat God Bless atau Bharata Band (kalau tak salah), dll band
sessionnnya). Akan banyak yang bertanya bahwa ada Damon dll.

Mari kita lihat, betapa dan betapa banyak media termasuk kalangan penggemar
membedakan Koes Bersaudara HANYA semata mata keluarnya Nomo dan masuknya Murry.
Teramat sering, teramat banyak diantara kita lupa atau tak tahu kesejarahan,
bahwa Koes Bersaudara berevolusi menjadi Koes Plus karena Totok AR. Saya memilih
tidak ikut media, tidak ikut anggapan mainstream bahwa PLUS adalah Murry. Fakta
pertama PLUS adalah Totok AR dan Murry. Bahwa Totok, Abadi, dll tidak atau
kurang dikenal biarlah mereka tidak dikenal, namun tak bisa digeneralisir bahwa
mereka tidak diakui. Mungkin mainstream tidak mengakui, namun dengan kerendahan
hati saya hendak katakan tak sedikit pula yang mengakui dan tak menafikan bahwa
mereka juga Koes Plus.

Penutup, saya rasa ini bukan soal jelas tidak jelas sebagaimana anda menutup
posting , karena saya dapat pula menjelaskan bahwasanya apa yang jelas belum
tentu tepat (saya menggunakan istilah “tepat”, bukan “benar”). What is clear is
not necessarily what is correct.

Justeru kita yang berkeinginan melestarikan Koes, tidak saja dari musik,
ideologi namun juga kesejarahan, dituntut pula untuk mencari ketepatan itu,
sekalipun, sekali lagi SEKALIPUN berlawanan dengan anggapan umum alias
mainstream.

Salam_

END QUOTE

Rupanya Sdr Dodo mengira bahwa keberatan saya akan predikat additional player terhadap para personil di luar 4 orang legendaris adalah karena predikat tersebut tidak baik/jelek. Terbukti Sdr Dodo kemudian menuliskan balasannya sebagai berikut:

QUOTE:

terima kasih tanggapannya, yang pasti menjadi additional player tidaklah jelek walapun mereka tidak masuk sebagai personil koes plus, mereka juga pasti bangga karena ikut membesarkan nama koes plus.

END QUOTE

Terhadap posting Sdr Dodo yang demikian, yang terkesan mengira saya menganggap additional player adalah jelek tentu saya harus saya luruskan dengan menjelaskan bahwa bukan itu perkaranya. Saya membalas sebagai berikut:

QUOTE:

Terimakasih pula responnya.
Tentu menjadi additional player tidak jelek, dan memang sama sekali bukan karena
anggapan additional jelek itu saya menolak anggapan bahwa Koes Plus hanya 4
orang tersebut sebagaimana coba diklaim sebagai satu-satunya line-up yang
diakui. Sama sekali Bukan.

Namun lebih karena bagi saya mereka memang BUKAN additional player, melainkan
anggota tetap. Lama atau singkat, dikenal atau tidak keanggotaan mereka tentu
tidak hendak diperdebatkan. Barangkali sebagian dari mereka memang benar-benar
pernah jadi additional player dan di luar pengetahuan saya yang kemarin sore
mengenal Koes Plus, namun saya menolak bahwa mereka yang diluar Koes Plus Mark
II (atau bahkan sesungguhnya Mark III karena pengganti pertama Koesnomo alias
Nomo adalah Tommy dan bukannya Kasmuri alias Murry!) digeneralisir, digebyah
uyah sebagai sekedar semata Additional Player, yang (meminjam istilah anda
sendiri) “tidak pernah di catat dalam sejarah musik sebagai personil koes plus”.

Sejarah Koes Plus yang mana yang anda maksud saya tidak tahu, namun saya patut
menduga pastilah sejarah dan asumsi mainstream di mana anda berada di dalamnya.
Saya berada pada sejarah minor yang mendudukkan mereka (Abadi Soesman, Totok AR,
Damon Koeswoyo) pula sebagai personil Koes Plus, sebagai musisi yang pernah
dicatat sebagai personil tetap terlepas diakui atau tidak dan terlepas dari
populer atau tidak, sukses atau tidaknya Koes Plus manakala diperkuat oleh
mereka.
Salam

END QUOTE

Setelah membaca posting saya, rupanya Sdr Dodo Cansera telah pada suatu kesimpulan dengan tetap mempertahankan pendapatnya, seraya menganggap saya memaksakan pendapat bahwa para musisi di luar 4 musisi legendaris Koes Plus bukanlah additional player melainkan pemain tetap. Sdr Dodo pada 5 Februari malam menulis demikian:

QUOTE:

silahkan anda berpendapat seperti itu, pada kenyataannya dan fakta yang ada hanya ke 4 legenda itulah Personil Koes Plus yang tercatat dalam sejarah musik, sehingga di luar ke 4 legenda tersebut saya lebih tepat menggunakan istilah ” additional player ”

END QUOTE

Terhadap posting Sdr Dodo tersebut saya membalas dengan menulis sebagai berikut:

QUOTE:

Sdr Dodo yang baik.
Karena anda telah sampai pada konklusi, maka saya pula hendak mengakhiri
perbincangan kita dengan konklusi.

Tidak seperti yang anda tulis dalam kalimat penutup anda, saya tidak dalam
posisi memaksakan pendapat bahwa di luar 4 personil yakni Tonny, Yon Yok dan
Murry adalah bukan additional player dan merupakan pemain tetap. Alih-alih
memaksakan pendapat seperti yang anda sangkakan (tuduhkan?) atau bahkan waton
suloyo (asal ribut-Jawa), selama diskusi saya telah memaparkan fakta untuk
mendukung argumen bahwa ada musisi2 lain di luar 4 orang itu yang pernah mengisi
formasi Koes Plus sebagai personil tetap, tanpa embel2 additional.

Saya harus mengatakan bahwa selama diskusi, anda justeru gagal untuk membuktikan
dan meyakinkan saya dan siapapun pembaca milis ini bahwa para musisi yang pernah
bergabung di luar 4 musisi yang kita kenal tadi hanyalah dan tidak lebih sebagai
additional player. Terkesan justeru anda yang memaksakan Totok AR, Abadi
Soesman, Damon Koeswoyo dan lain-lainnya ke dalam kelompok additional player
padahal fakta berupa pernyataan eksplisit dalam cover album baik Piringan Hitam
(Long Play), Kaset, maupun CD yang menyatakan mereka sebagai additional player
sebagaimana anda yakini tidak pernah anda.

Mahfumlah saya, bahwa ke-additional player-an para musisi itu ternyata
semata-mata murni berdasarkan asumsi anda saja. Hanya karena mereka tak begitu
dikenal (less popular) dan atau bahkan sama sekali tak dikenal oleh
publik/khalayak, maka dengan mudahnya anda klasifikasikan mereka sebagai
additional player. Hal ini tentu sangat berbahaya dan fatal, karena menyangkut
status hukum seseorang dalam sebuah entitas bernama Koes Plus. Patut diketahui,
status sebagai additional player atau bukan tidaklah sekali-sekali ditentukan
oleh asumsi, namun sungguh-sungguh berdasarkan kontrak keperdataan yang
menyangkut hak dan kewajiban, yang dalam konteks keanggotaan suatu band dapat
dilihat antaranya dalam pernyataan eksplisit dalam sebuah produksi
album/penampilan live.

Ambil contoh kasus Deep Purple. Bahwa formasi yang paling solid dari Deep Purple
adalah Ian Gillan, Ritchie Blackmore, Ian Paice, dan Jon Lord saya kira hal itu
juga fenomena yang sama sebagaimana 4 formasi Koes Plus Ton Yok Yon Mur adalah
formasi yang paling popular. Namun akan menjadi sangat gegabah untuk mengambil
konklusi bahwa karena Deep Purple Mark II adalah formasi yang pali
ng fenomenal,
maka David Coverdale, Joe Lynn Turner, Glenn Hughes, Tommy Bolin, Steve Morse
adalah sekedar additional player. Coverdale adalah vokalis yang direkrut sebagai
vokalis tetap, demikian juga Turner. Demikian juga kini Steve Morse adalah
gitaris tetap Purple.

Apa yang hendak saya sampaikan melalui analogi Deep Purple di atas adalah bahwa
dikenal atau tidaknya seseorang, disukai atau tidak karyanya tidaklah lantas
menjadi penentu status keanggotaan seseorang dalam kelompok musik.

Bersama saya dalam mengetik posting Sdr Dodo Cansera sekarang ini ada piringan
hitam Koes Plus Volume 1, Dheg Dheg Plas terbitan Melody Records dengan nomor
seri LP 23 yang direkam DIMITA Moulding Industries. Di PH yang saya miliki ini
yang bercover depan empat kepala TERMASUK Totok AR, dan bercover belakang Murry
menjadi Guru 3 personil lainnya TERMASUK Totok AR, tak ada keterangan yang
menyatakan Totok AR sebagai additional player. Bersama saya sekarang ini juga
ada Kaset Koes Plus 1994 New Product, dimana Damon Koeswoyo di situ tidak
sekali-kali disebutkan Damon sebagai additional player.

Saya tidak memiliki katalog Koes Plus selengkap seperti rekan rekan lain di
sini, dan MUNGKIN saja, ada beberapa anggota di luar 4 orang tersebut (Entah
Najib, Entah Jack Kasbi entah siapapun) yang memang benar benar secara resmi
dicantumkan sebagai additional player. Saya TIDAK memungkiri kemungkinan itu.
Namun saya MENOLAK generalisasi, penggebyah uyahan dan penyederhanaan
(simplifikasi) bahwa semua musisi di luar 4 orang tadi tak lebih dari additional
player apalagi tidak pernah dicatat di dalam sejarah Koes Plus.

Jika Sdr Dodo mengatakan sejarah Koes Plus, maka dengan kerendahan hati saya
menyampaikan pada Sdr Dodo bahwa sejarah apapun termasuk sejarah Koes Plus
selalu terbuka akan koreksi. Apa yang diyakini sebagai yang benar, yang tepat
belumlah tentu memang itu kebenaran yang sejati. Namun demikian, koreksi atas
sejarah haruslah berdasarkan fakta, dan bukan asumsi belaka. Sejarah hendaknya
tidak dibentuk oleh keberpihakan, apalagi kefanatikan agar sejarah bisa benar2
jernih apa adanya, terlepas kita menyukai atau tidak kenyataan sejarah. Bahwa
karena kita tidak senang

Jika hal di atas bisa kita terima dan sikapi, maka akan banyak hal-hal baru yang
bisa dicatat dalam sejarah Koes Plus seperti kenyataan bahwa sesungguhnya Yok
Koeswoyo adalah personil ‘baru’ di dalam tubuh Koes Plus (bukankah ia tak
bergabung ketika Koes Plus terbentuk dan mulai tercatat ketika dirilis Koes Plus
volume 2?). Bahwa sesungguhnya seseorang bernama Tommy-lah yang menggantikan
Koesnomo alias Nomo sebelum Kasmuri alias Murry, bahwa Koes Plus juga
menyanyikan lagu orang, bahwa Koes Plus juga ikut trend/komersil (Pop Memble
misalnya) dll.

Don’t get me wrong, saya juga mengidolakan formasi paling solid Koes Plus
sebagaimana anda, namun kekaguman saya pada formasi ini tidak membuat saya
menutup mata, bahwa formasi ini bukanlah yang pertama, formasi ini bukan
satu-satunya yang pernah ada, dan bahwa ada person person lain yang pernah
direkrut bukan sekedar additional player mengisi keanggotaan Koes Plus yang
lowong.

Jika selama ini mindset kita tentang Koes Plus dari Sejarah MAINSTREAM terbentuk
dari berbagai mitos (hanya 4 orang personil, hanya di Remaco, dll dst), adalah
menjadi tugas organisasi seperti Milis KBP atau Organisasi Jiwa Nusantara untuk
menyumbangkan hasil kajian dan pemikirannya sehingga sejarah menjadi lebih
jernih. Hal sederhana dapat dilakukan dalam berbagai jalan, semisal moderator
milis ini perlulah kiranya sekali-kali mengganti gambar milis ini dengan mencoba
mencari gambar Koes Plus dalam formasi bersama Totok AR atau Damon.

Kita tak selalu harus bersama asumsi umum atau kebenaran umum kalau itu adalah
kesalahkaprahan. Vox Populi tidak selalu Vox Dei.

Salam_

END QUOTE

saya kemudian juga menanggapi respon seorang anggota milis bernama Dian sebagai berikut:

QUOTE:

Sdr Dian Yth
Pendapat, apapun pendapat itu sudah barang tentu menjadi hak setiap orang,
merupakan hak dasar manusia. Tak ada yang hendak menyanggah. Sebagaimana anda
tulis, “yang saya rasakan”, pendapat anda adalah subjektifitas anda. Tentu ada
pihak lain yang mempunyai subjektifitas yang lain pula. Tidak menjadi masalah.

Namun menjadi berbeda, manakala pendapat hendak dijadikan kebenaran, atau
setidak tidaknya semakin mendekati kebenaran, pendapat itu mestilah memenuhi dan
memuaskan syarat-syarat objektif kebenaran, antaranya berdasarkan fakta dan
realita.Subjektifitas harus disingkirkan menjadi objektifitas.

Namun justeru seringkali, fakta dan realita itu tidak terlihat, sengaja dibuat
tidak terlihat, dan ditutup tutupi, baik sengaja maupun tidak oleh berbagai hal
termasuk mitos-mitos yang lambat laun dipercaya sebagai kebenaran itu sendiri.
Fakta menjadi tak terlihat karena subjektifitas, fanatisme membuat kita enggan
dan tak mau melihat fakta yang ada. Kita lebih senang di alam ide yang
indah-indah dan tak hendak melihat ke alam realita yang ada.

Kembali kepada pendapat untuk mencari kebenaran, maka tidak ada jalan lain
kecuali melalui proses dialektika melalui proses thesis-antithesis-Sinthesis.
Sinthesis ini kemudian menjadi thesis baru yang bisa dilawankan lagi dengan
antitesis lainnya sehingga ditemukan Sintesis baru lagi, DEMIKIAN seterusnya,
sampai tercapai kebenaran atau mendekati kebenaran. Satu hal penting manakala
kebenaran itu hendak diterima di ranah publik (dan bukannya di ranah pribadi
benak masing2 insan) adalah bahwa dalam menemukan kebenaran, Subjektifitas tidak
boleh bicara.

Salam_

END QUOTE

Bung Tonsco yang pada beberapa kesempatan bersependapat dengan saya memberikan respon sebagai berikut:

QUOTE:

Bung Manunggal,
Terima kasih atas pencerahannya.

Pantun ini buat semua:

Markisa Medan terung Belanda,
Dari Medan, bawalah teri.
Berpendapat boleh berbeda-beda,
Jangan paksa kehendak sendiri.

Dari Medan, bawalah teri,
Pokok Kina jadikan obat.
Jangan paksa kehendak sendiri,
Hilang kawan, rendah martabat.

Tabik JN,
TONSCO

Koes Plus Never Die
Hidup Dalam Jiwa Nusantara

END QUOTE

Pada Sabtu, 6 Februari 2010, Dodo Cansera kembali menegaskan lagi pendapatnya sebagai berikut:

QUOTE:

ya..ya..ya… itu konklusi anda, biarkan pendapat saya berbeda dengan anda, tapi konklusi yang saya ambil justru berdasarkan fakta yang ada.

Fakta yang saya ambil adalah :

Sejak wafatnya Tonny koeswoyo, di mulai Agustus 1992 Koes Plus mendapat penghargaan BASF AWARD dan yang menerima adalah : Tonny, Yon, Yok, Murry padahal sebelumnya ada Toto AR, tetapi tidak di anggap, kemudian berturut2 setiap tahunnya Koes Plus mendapat penghargaan tetapi tetap saja yang dapat hanya : Tonny, Yon, Yok dan Murry padahal sudah berkali-kali formasi koes plus berubah hingga yang terakhir tahun 2009 ketika Koes Plus mendapat penghargaan dari Archipelago siapa yang menerima penghargaan tersebut ? tetap saja : Tonny, Yon, Yok, Murry, ingat anda tahu siapa yang tetap mengibarkan bendera Koes Plus hingga sekarang ? Yon koeswoyo, danang, seno dan sonny, mengapa hanya Yon koeswoyo saja, mengapa ke 3 formasi tersebut gak dapat ? padahal seharusnya formasi inilah yang berhak mendapatkannya, tetapi ke 3 (tiga) formasi tetap saja gak di anggap, ini adal
ah fakta !

kemudian ketika ada event2 pertunjukan koes plus yang di selenggarakan komunitas penggemar koes plus icon yang di tampilkan selalu : Tonny, Yon, Yok dan Murry kadang hanya Tonny koeswoyo saja yang di tampilkan, ini adalah fakta !

sehingga gak salah dong formasi yang 12 orang atau lebih tersebut saya anggap sebagai ” ADDITIONAL PLAYER ” dan inilah perbedaan group legendaris Koes Plus dengan group2 band indonesia atau group band dunia lainnya. seharusnya masuk GUINNESS WORLD OF RECORD.

END QUOTE:

Demikianlah, karena nampaknya belum usai juga, terpaksalah saya kembali mengemukakan argumentasi saya sebagai berikut:

QUOTE:

Sdr Dodo dan rekan-rekan milis yth.
Pertama, Semakin jelas bahwa status additional player para personil dalam
keyakinan Sdr Dodo memang bukan dari fakta objektif, namun semata dari asumsi
dan atau anggapan Sdr Dodo Cansera sendiri.
Saya quote dari kalimat Sdr Dodo :

Start Quote
sehingga gak salah dong formasi yang 12 orang atau lebih tersebut saya anggap
sebagai ” ADDITIONAL PLAYER “
End Quote

Nampak jelas pada kalimat “saya anggap” di atas, bahwa ke additional player-an
para member spt Totok AR memang semata adalah berangkat dari anggapan Sdr Dodo,
dan bukan dari fakta objektif bahwa mereka mereka di luar 4 personil itu memang
dinyatakan sebagai additional player. Saya katakan hanya asumsi, karena dari
contoh mudah PH Koes Plus Volume 1 saja tidak ada bukti yang menguatkan argumen
Sdr Dodo bahwa Totok adalah additional player.

‘Fakta’ yang diajukan Sdr Dodo adalah anggapan umum, klaim-klaim bahwa mereka
tidak diakui dll. Mungkin yang berpendapat seperti saya tidak banyak, namun toh
suara yang tidak banyak ini cukup menjadi penolak klaim Sdr Dodo tentang tidak
diakuinya Totok AR dll sebagai personil tetap Koes Plus. Jika Sdr Dodo
berkeyakinan bahwa mereka tidak diakui, pada Sdr Dodo dengan hormat saya
sampaikan saya adalah orang yang menolak klaim tersebut dan mengakui bahwa LP
Koes Plus Vol.1 adalah formasi Koes Plus sepenuhnya.

Kalau saja Sdr Dodo bisa menunjukkan bukti empirik pernyataan dalam cover album
bahwa mereka adalah additional player( dan bukan sekedar
anggapan/kesalahkaprahan/ketidakmengertian umum termasuk anggapan Sdr Dodo
sendiri), saya kira semuanya menjadi terang dengan sendirinya dan saya amat
senang mengakui ke additional-an mereka.

Sebenarnya mengenai anggapan umum yang menjadi argumen utama Sdr Dodo inipun
sudah pernah saya bahas, yang barangkali lewat dari pembacaan Sdr Dodo. Sekali
lagi saya bertanya pada Sdr Dodo (termasuk pada diri saya sendiri) apakah
parameter additional tidaknya seseorang adalah pengakuan umum?? Lebih lanjut
apakah yang “umum” itu selalu tepat? selalu benar? Saya mengingatkan Vox Populi
tak selalu Vox Dei.

Kedua, Sdr Dodo mengulang mengenai award dll yang hanya menyinggung atau
memberikan kepada empat orang saja. Sebenarnya inipun sudah saya jawab dengan
panjang lebar bahwa bisa jadi itu demi kepraktisan saja. Simbolik saja. Atau
bahkan belum tentu para pemberi award melek sejarah. Pertanyaan saya adalah:
haruskah kita ikuti anggapan umum kalau memang itu tidak benar? Kalau memang ada
yang ahistoris, haruskah kita ikut yang ahistoris itu?

yayayaya (menirukan Sdr Dodo), bahwa ikon ikon yang ditampilkan adalah keempat
orang itu (misalnya dalam show atau award). namun sekali lagi pertanyaannya
apakah relevan ikon-ikon dan popularitas itu untuk diajukan sebagai argumen
untuk menilai additional atau tidaknya seorang member? Terlebih dalam show biz,
termasuk ‘bisnis award’ yang melibatkan sponsor (capital) kita semua mengerti
ada logika ekonomi juga di balik ini. Namun bukankah kita tidak sedang
membicarakan popularitas, akan tetapi status.

Saya khawatir, kalau klaim bahwa member yang di luar 4 orang itu dinyatakan
sebagai-meminjam istilah Sdr Dodo- illegal dan tidak pernah dicatat oleh
Sejarah (mainstream), maka sejarah Koes Plus yang sebenarnya tak akan pernah
terang. Kita akan dininabobokan oleh sejarah periodisasi tertentu, sembari
menutup mata akan adanya fase fase tertentu dalam perjalanan Koes Plus
sebagaimana telah dipaparkan. Mengikuti alur pikir Sdr Dodo, karena Pak Becak
dan Bang Ojek tahunya hanya lagu Kisah Sedih Di Hari Minggu, Kembali Ke Jakarta
serta Why Do You Love Me, atau Bujangan, maka bisa jadi lagu Galaxi Sang
Matahari, Dadada, atau Memble adalah illegal sebagai lagu Koes Plus karena tidak
dikenal oleh umum.

Terakhir, sebagaimana saya tulis menanggapi posting Sdr Dian Raharja, bahwa
pendapat boleh boleh saja berbeda, selama dalam ranah subjektifitas pribadi
pribadi. Namun, dengan kerendahan hati saya mengingatkan, bahwa jika pendapat
itu hendak dijadikan sebagai pendapat yang berlaku umum apalagi hendak menjadi
bagian dari teks sejarah, maka pendapat tersebut mestilah disingkirkan sembarang
konsepsi-konsepsi yang subjektif sifatnya SEKALIPUN subjektifitas itu telah
dipercaya sebagai kebenaran oleh umum.

Selama sejarah ditentukan oleh anggapan-anggapan umum sebagaimana tanpa bukti
dan data empirik, maka sejarah seperti demikian (tak terkecuali Sejarah Koes
Plus) tak lebih dari sekedar Mitos. Selama kebenaran ditentukan semata oleh
anggapan dan asumsi termasuk asumsi orang banyak , maka akan terus ada orang
seperti Galileo yang dihukum karena meyakini bumi itu bulat karena keyakinannya
itu berlawanan dengan asumsi umum kala itu yang amat sangat meyakini bahwa bahwa
bumi itu datar!!

Terlepas banyak yang setuju atau tidak, saya memilih menjadi Galileo.
Salam

END QUOTE:

Atas diskusi yang masih berkelanjutan tersebut, Bung Tonsco kembali memberi komentar sebagai berikut:

QUOTE:

Mas Manunggal, saya sungguh bangga dengan Anda.
Mas Manunggal telah memberikan pencerahan yg sangat cerah ttg sejarah per KP an. Salut.

Mas Manunggal, Isi, dan argumen yang terangkum dlm tulisan anda, menunjukan Siapa Anda sebenarnya!

Bung Dodo, saya senang karena Anda berani menulis sesuatu yg akhirnya menjadikan diskusi ini menjadi menarik, dengan sedikit dibumbui rasa ‘benci’, ‘gerah’, ‘muak’, tentunya juga rasa senang dan bangga. Tetaplah menulis!

Bung Dodo, isi dan argumen yg terangkum dalam tulisan anda, menunjukan bagaimana anda susungguhnya.

Selamat untuk semua!

Kerasnya besi, ditipis godam,
Kulit dijalin, jadikan rami.
Tak ada benci, tak pula dendam,
Itulah guna silaturahmi

Tabik JN
TONSCO

Koes Plus Never Die
Hidup Dalam Jiwa Nusantara

END QUOTE: