Dalam Rengkuh Cerah Mentari

Dalam rengkuh cerah mentari

Di sejuk hawa yang tak lagi pagi

Dua jiwa kunyahi hari

Bersama selami rasa dan hati

 

Sepenuh gairah bertukar tanya

di antara kecap pekatnya kopi

tentang perih yang pernah dirasa

akan makna cinta sejati

 

terbit kasih tiada rencana

sebagai gugurnya daun dan datangnya senja

Sama rasai yang tak terkata

Ingin bersama yang lebih lama

Perihal Memaafkan

Pukul 10 pagi lewat hari ini, dan deru sepedamotor matic terdengar datang dan tak lama kemudian pergi menjauh meninggalkan rumah.  Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki kecil bersepatu yang berlari memasuki rumah terdengar, memasuki pintu samping rumah rumah.  Ia berseragam hijau, lengan panjang putih dengan celana panjang hijau. Ia adalah anakku yang tiap hari diantar jemput oleh seorang warga desa. Namanya Deva, dan usianya baru berjalan lima tahun dua bulan. Hijau, warna seragam yang dipakainya identik dengan warna keagamaan Islam. Dan memanglah ia bersekolah di taman kanak-kanak Islam di dusun sebelah.

Sambil melepaskan bajunya satu persatu dan mengganti pakaiannya, padanya kubertanya hal yang dipelajarinya di sekolah hari  ini. Sudah tentu pertanyaan yang kesekian kali kusampaikan padanya di saat pulang sekolah seperti ini. Dan pertanyaan itupun tak kutunggu jawab darinya, karena aku segera menanyakan jawabnya: “Menyanyi?” dan Deva mengangguk demi mendengar pertanyaanku itu.Aku sendiri merenung singkat kemudian, bukankah tiada hari di taman kanak tanpa menyanyi? Setidaknya tiga lagu di sekolahnya tiap hari yang kutahu benar; Sayonara, Anak Ayam, Rasa Sayange, kesemuanya dinyanyikan secara bersambungan tatkala hendak pulang sekolah. Selain menyanyi, jawaban lain yang sering kudapati adalah mewarnai, atau menggambar dan melatih menulis huruf maupun angka. Kusadari aku memang tak ingin benar-benar bertanya, dan hanya ingin menjaga kedekatan dengannya mengingat sangat kurangnya waktu bersamanya setiap harinya. Continue reading

Kemanapun

Diantara hijau cokelat daun di pepohonan

dan hamparan gunung, sawah dan pemukiman

Kemanapun pandang mata tertuju dan tertahan

hanya engkau di dalam angan

Diantara lalu lalang orang berjalan bepergian

dan aneka kendaraan dan debu beterbangan

Kemanapun pandang mata ini terdampar

hanya engkau dalam bayangan

diantara saling silang bincang pembicaraan

dan senda gurau tawa dan keluh kesah orang

apapun telinga ini mendengar

kata sayangmu lembut terngiang

Merindumu kini tiada tertahan

Bagai kemarau memohon belas kasih hujan

Menangis hati kais harapan

Menggapai dirimu yang kian menghilang

 

Syair Itu

Terbangun di tengah sunyi dan perih rindu

Kutemukan penggalan syair yang kau tulis itu

Syair yang kau sampaikan tatkala sekejap dekat denganku

tanpa sempat bertemu

dan ku tahu itu adalah pesanmu untukku

Tentang rasa hati yang kau sampaikan kala itu

Tentang harapan kelabu

dan tentang linang air mata dan rasa yang menyesak di dadamu

Ingin memelukmu dan katakan

Aku menyayangimu

Sesungguh hatiku